Unloved Wife

Unloved Wife
Bab 26 Mengetahui Kebenarannya



"Jangan tinggalkan aku," ucap Devano yang baru bangun dari tidurnya, ia langsung memeluk Meyra. Karena ia mengira Meyra adalah Naumi Clarissa kekasihnya. Sebab Devano baru saja bermimpi tentang Naumi, yang akan pergi meninggalkannya.


"Hanya kamu wanita yang aku cintai. Jadi aku mohon, jangan pernah kau tinggalkan aku. Karena aku, ingin hidup bahagia bersamamu," sambungnya.


"Sungguh!" timpal Meyra yang ingin memastikan kebenarannya. Karena tiba-tiba saja, Devano mengungkapkan rasa cinta kepadanya.


"Iya," sahut Devano yang masih memeluk Meyra, dan tidak menyadari orang yang tengah ia peluk adalah Meyra.


"Khmmmz," suara deheman membuat Devano melepaskan pelukannya, yang masih memeluk Meyra.


"Ternyata yang aku peluk barusan adalah Meyra, pasti tadi dia mengira. Aku mengungkapkan perasaan cinta kepadanya," batin Devano yang kaget. Karena ia baru menyadari. Kalau wanita yang ia peluk adalah Meyra, bukanlah Naumi Clarissa kekasihnya.


"Bagaimana penampilan Meyra sekarang ini, Van?" tanyanya pada Devano yang belum menengok ke arahnya.


Saat Devano dan Meyra menengok ke arah orang yang bertanya, mereka berdua kaget melihat kedatangan Belinda yang sudah masuk ke dalam apartemen.


"Mama ..." Devano dan Meyra memanggil Belinda secara bersamaan.


"Mama senang melihat kalian berdua seperti ini," ucap Belinda sambil tersenyum senang. Karena ia mendengar pengakuan Devano yang mengungkapkan rasa cintanya kepada Meyra, dan usaha Belinda yang merubah penampilan Meyra tidak sia-sia. Sehingga membuahkan hasil yang membuatnya bahagia, yaitu dengan mendengar pengakuan Devano yang akhirnya jatuh cinta pada Meyra.


"Bukannya Mama tadi mau langsung pulang?" tanya Meyra yang mengalihkan ucapan Belinda.


"Ini barang belanjaan kamu ketinggalan, Mey. Makanya Mama memutuskan pergi ke apartemen, untuk memberikan ini kepadamu," jawab Belinda menjelaskan.


"Ini barang belanjaan mu," sambung Belinda yang memberikan barang belanjaan yang ia beli kepada Meyra.


"Iya Mah." Meyra pun menerima barang belanjaan itu.


"Pasti kamu suka melihat penampilan Meyra, yang sekarang ini. Iyakan?" tanya Belinda sambil mendekati Devano.


"Aduh ..., pasti Mama dan Meyra sudah salah sangka. Dengan apa yang aku ucapkan barusan. Kenapa juga, tadi aku langsung memeluk Meyra, dan mengucapkan itu tanpa melihat Meyra terlebih dahulu," gerutu Devano di dalam hatinya, yang menyesal telah mengatakan itu di depan Meyra dan Belinda. Karena di hatinya sekarang ini, ia masih mencintai Naumi Clarissa kekasihnya.


"Kok kamu diam saja, Van? Menurutmu bagaimana penampilan Meyra sekarang ini?" tanya Belinda lagi. Karena ia ingin mendengar jawaban dari Devano, yang belum menjawab pertanyaannya.


Devano menghembuskan nafas secara kasar. Sebelum ia memperhatikan penampilan Meyra, yang berada tidak jauh di dekatnya.


"Kenapa dia bisa berubah secantik ini?" jawab Devano di dalam hatinya. Karena ia baru menyadari penampilan Meyra, yang sudah merubah penampilannya. Sehingga membuat Devano terkesima dengan kecantikan Meyra, yang sekarang ini bak artis Korea.


"Ada apa dengan Devano? Kenapa dia tidak menjawab pertanyaanku? Apa jangan-jangan! Devano malu menjawabnya. Karena tadi itu aku mendengar pengakuannya, yang mengatakan cinta kepada Meyra. Sebaiknya aku langsung pulang saja, dan membiarkan mereka berdua di sini," batin Belinda yang akan memutuskan pergi dari apartemen. Karena ia mengira Devano malu mengakui yang sebenarnya, sehingga membuat Devano tidak menjawab pertanyaannya. Meski Belinda sudah beberapa kali menanyakan pada Devano, tentang penampilan Meyra yang sudah merubah penampilannya.


"Mama pamit pulang dulu ya," ucap Belinda yang memutuskan berpamitan pergi kepada Devano dan Meyra, ia pun segera pergi meninggalkan apartemen.


"Iya Mah," sahut Meyra yang mengikuti jejak langkah kaki Belinda, yang akan pergi meninggalkan apartemen. Karena Meyra mau mengantarkan Belinda, sampai pintu apartemen.


"Hati-hati di jalannya Mah," sambungnya. Ketika Belinda akan pergi meninggalkan apartemen.


Belinda mengagukkan kepalanya, sambil tersenyum manis ke arah Meyra.


* * *


"Kamu sudah makan belum?" tanya Meyra pada Devano. Ketika Meyra sudah masuk ke dalam apartemen. Karena tadi itu, Meyra mengantarkan Belinda, sampai depan pintu apartemen.


Devano beranjak dari tempat duduknya dan langsung masuk ke dalam kamarnya, tanpa menjawab pertanyaan Meyra.


"Kenapa Devano tidak menjawab pertanyaanku?" batin Meyra yang bertanya pada dirinya sendiri, tentang sikap Devano yang langsung masuk ke dalam kamarnya, tanpa menjawab pertanyaannya.


"Huuuh, kenapa ini semua harus terjadi padaku?" lirih Devano yang mengingat kejadian tadi siang. Di saat ia mau bertemu dengan Randy sekertaris sekaligus asisten pribadinya, tapi ia tidak sengaja bertemu dengan Vivian temannya Naumi Clarissa.


_________


Flashback.


"Kamu mau pergi kemana, Van?" tanya Vivian yang datang menghampiri Devano, yang akan masuk ke dalam sebuah restoran. Karena Devano mau bertemu dengan Randy di sana.


"Aku mau bertemu dengan Randy," jawabnya.


"Wanita yang bersamamu kemarin itu siapa?" tanya Vivian yang masih penasaran dengan Meyra, yang ikut pergi bersama Devano.


"Itu rekan bisnisku. Aku pamit pergi, mau menemui Randy." Devano langsung berpamitan pergi kepada Vivian. Karena ia mau menghindari pertanyaan Vivian, yang ingin mengetahui tentang Meyra.


"Oh iya, silahkan Van. Tapi aku cuman mau bilang sama kamu. Kalau Naumi itu, seharusnya tidak pulang bulan depan. Karena ia masih terikat kontrak selama enam bulan, tapi dia sengaja pulang cepat. Karena dia ingin menikah denganmu, dan ingin memastikan janjimu yang akan menikahinya," sahut Vivian menjelaskan. Sebelum Devano masuk ke dalam restoran, untuk menemui Randy yang sudah menunggu kedatangan Devano.


Vivian yang sudah mengatakan itu, ia langsung pergi meninggalkan Devano.


"Bagaimanapun caranya, aku harus menepati janjiku. Karena wanita yang aku cintai cuman Naumi," gumam Devano sambil berjalan kaki menuju tempat duduk Randy, yang sedang menunggu kedatangannya.


"Silahkan duduk bos, sebentar lagi pesanan makanannya akan datang," ucap Randy yang mempersilahkan Devano untuk duduk, dan memberitahukan kepada Devano. Kalau ia sudah memesan makanan untuk Devano.


"Iya," balasnya.


"Apakah bos sudah membaca email yang aku kirimkan?" tanya Randy. Ketika Devano sudah duduk.


"Belum, aku sudah tidak perduli lagi dengan wanita itu. Karena yang terpenting sekarang ini, rencana pernikahanku dengan Naumi harus bisa terlaksana bulan depan," jawab Devano yang tidak memperdulikan lagi, tentang wanita yang tidur bersamanya dua bulan yang lalu.


"Sebaiknya bos baca dulu email-nya, sebentar ... saja." Randy berusaha membujuk Devano. Agar ia bisa mengetahui kebenarannya.


"Baiklah," timpal Devano, yang segera membuka pesan email yang dikirim oleh Randy.


Saat Devano sudah membaca pesan email dari Randy, ia kaget dengan isi pesan email itu. Sehingga membuat ia tidak sengaja menjatuhkan handphone miliknya.


Brak.


"Pasti bos Devano kaget. Karena ia baru mengetahui kebenarannya," batin Randy yang melihat sikap Devano seperti itu, ia pun segera mengambil handphone Devano yang jatuh ke bawah lantai.


"Ja___jadi, Meyra adalah wanita dua bulan yang lalu?" lirih Devano yang baru mengetahui kebenarannya.


"Iya benar bos, ini handphonenya." Randy membenarkan ucapan Devano, sambil memberikan handphone milik Devano yang terjatuh.


Devano segera mengambil handphonenya, dan langsung pergi meninggalkan Randy tanpa berpamitan. Karena kondisinya sekarang ini, sedang dalam keadaan bingung.


Di dalam keadaan seperti itu, Devano memutuskan pergi ke apartemennya. Dan sesampainya di apartemen, tidak lama kemudian. Devano terlelap dalam tidur, sampai ia bermimpi bertemu dengan Naumi.


Flashback off.


_______________


"Bagaimana ini? Janji mana yang harus aku tepati?" batin Devano yang bingung memilih antara Meyra dan Naumi.