Unloved Wife

Unloved Wife
Bab 37 Menuduh



"Aku tidak tahu Meyra pergi ke mana? Karena saat Meyra mau pulang, dia bilang padaku. Kalau dia mau langsung pulang ke apartemen," ucap Amelia yang tidak mengetahui kepergian Meyra, yang tidak pulang ke apartemen Devano.


"Kenapa Meyra pergi dari apartemen Devano? Bukannya, dia mau membuat Devano mencintainya?" gumam Amelia di dalam hatinya, yang menanyakan kepergian Meyra pada dirinya sendiri.


"Jadi kamu, beneran tidak tahu Meyra pergi ke mana?" Devano kembali bertanya sekali lagi pada Amelia.


"Iya, aku beneran tidak tahu ke mana Meyra pergi. Setelah bertemu denganku," jelas Amelia yang mengatakan apa adanya.


Devano yang mendengar ucapan Amelia, ia berdecak kesal. Karena Amelia tidak mengetahui keberadaan Meyra.


"Coba kamu hubungi nomor telepon Meyra, dan tanyakan di mana dia sekarang ini?" Randy menyuruh Amelia menghubungi nomor telepon Meyra.


"Yang kamu katakan benar, aku sampai tidak kepikiran sampai ke situ," timpal Amelia yang baru kepikiran menghubungi Meyra.


"Kamu tunggu apalagi, cepat hubungi Meyra sekarang!" Devano yang tidak sabar, ia segera menyuruh Amelia. Untuk segera menghubungi Meyra.


"Iya," balas Amelia yang segera mengambil handphonenya, dan ia pun langsung menghubungi nomor telepon Meyra.


"Kenapa nomor telepon Meyra tidak bisa di hubungi?" batin Amelia yang sudah beberapa kali, mencoba menghubungi nomor telepon Meyra. Tapi nomor telepon Meyra masih tidak bisa di hubungi.


"Bagaimana? Apakah Meyra belum menerima panggilan telepon dari kamu?" tanya Devano yang melihat Amelia, yang masih terus menghubungi Meyra.


"Nomor telepon Meyra tidak aktif," jawabnya.


"Aaakh, ke mana sih kamu perginya?" gerutu Devano yang kesal. Karena mendengar jawaban Amelia, yang tidak bisa menghubungi nomor telepon Meyra.


Prang!


Suara pecahan vas bunga yang di lempar oleh Devano, membuat para pengunjung dan pelayan kafe melihat ke arah mereka bertiga.


"Bos, tenang bos. Jangan buat berantakan kafe ini." Randy berusaha menenangkan Devano, yang melampiaskan kekesalannya dengan cara melempar benda yang ada di sekitarnya.


"Ada apa ini? Kenapa kamu buat kekacauan di kafe ini?" tanya Ronald yang baru datang ke Garden Cafe Gemilang, dan ia melihat Devano memecahkan hiasan vas bunga kecil yang di taruh di atas meja kafe.


"Pa___pak Ronald." Amelia kaget melihat kedatangan Ronald, yang baru datang ke kafe dengan keadaan kafe yang di buat berantakan oleh Devano.


"Aku yakin sekali. Kalau dia pasti mengetahui keberadaan Meyra," batin Devano yang menuduh Ronald mengetahui keberadaan Meyra.


"Ada masalah apa ini? Sampai kamu, membuat buat kafe ini. Jadi berantakan, seperti ini?" tanya Ronald sekali lagi, sambil datang menghampiri mereka bertiga.


"Aku ke sini, mau mencari keberadaan istriku. Pasti kamu tahu di mana istriku, sekarang ini?" jawab Devano sambil bertanya balik pada Ronald.


"Pertanyaanmu aneh sekali, bukannya kamu itu suaminya Meyra. Kenapa kamu bisa menuduhku, mengetahui keberadaan istrimu," sahut Ronald dengan tersenyum kecut, dan menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja, aku yakin. Jika kamu mengetahui kepergian Meyra. Karena aku tahu! Kalau kamu itu, mencintai istriku. Jadi katakan padaku! Di mana Meyra sekarang ini?" Devano tetap dengan pendiriannya, yang menuduh Ronald mengetahui keberadaan Meyra.


"Kamu menuduhku! Apakah kamu punya bukti? Kalau aku yang membawa Meyra pergi?" Ronald mempertanyakan bukti tuduhan Devano, yang menuduhnya membawa Meyra pergi dari apartemen Devano.


"Kamu ..."


"Bos, ayo kita pergi dari sini." Randy segera menyela ucapan Devano, dan mencegah Devano yang akan menghampiri Ronald.


"Security ... bawa dua orang itu pergi dari sini!" Ronald berteriak memanggil satpam yang bekerja di kafe, dan menyuruhnya mengusir Devano dan Randy yang membuat keributan di dalam Garden Cafe Gemilang.


"Siap bos,'' balasnya yang segera mengusir Devano dan Randy pergi dari Garden Cafe Gemilang.


Randy segera mengajak Devano pergi dari Garden Cafe Gemilang.


___________


Di dalam mobil.


"Seharusnya, bos jangan seperti itu. Apalagi, sampai menuduh orang membawa Meyra pergi," ucap Randy yang kesal dengan perbuatan yang di lakukan Devano di Garden Cafe Gemilang.


"Aku tidak menuduh, tapi aku yakin. Kalau dia itu mengetahui keberadaan Meyra," sahut Devano yang tidak mau di salahkan, dan ia tetap percaya dengan pendiriannya sendiri. Kalau Ronald telah membawa Meyra pergi dari apartemennya.


"Dari pada bos menuduh tanpa bukti, kita lihat rekaman cctv di depan pintu apartemen bos yang aku pasang," tutur Randy memberi saran. Agar Devano tidak menuduh Ronald terus menerus.


"Kamu berani sekali memasang cctv di depan pintu apartemenku, tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Kapan kamu memasangnya?" Devano yang baru mengetahui itu, ia langsung mempertanyakan tentang Randy yang memasang cctv di apartemennya.


"A___aku di suruh Bu Belinda, untuk memasang cctv di depan pintu apartemen. Saat bos Devano dan Meyra tinggal di apartemen, a___aku hanya memasang di depan pintu apartemen bos saja," jawab Randy dengan gugup.


"Ya sudah, cepat kamu buka handphonemu. Pasti rekaman cctv itu terpasang ke handphonemu," ucap Devano yang menyuruh Randy membuka handphonenya, untuk melihat rekaman cctv di depan pintu apartemennya.


"Maaf bos. Rekaman cctv nya, hanya bisa terpasang ke handphone Bu Belinda saja," ungkap Randy berterus terang.


"Huuuh," gerutu Devano yang kesal mendengar itu.


"Ya sudah. Ayo kita pergi ke rumah Mama, sekalian mengecek keadaan Meyra. Siapa tahu, Meyra ada di sana," sambung Devano yang mengajak Randy pergi ke rumah kedua orang tuanya.


"Ba____baik bos," balasnya.


Mereka berdua pun segera pergi ke rumah kedua orang tuanya Devano, dan sesampainya di sana.


Devano dan Randy segera masuk ke dalam rumah, dan ia tidak melihat keberadaan kedua orang tuanya di dalam rumah.


"Bi .... Bi Inah," teriak Devano yang memanggil Bi Inah pembantunya.


"Iya Tuan muda, ada apa?" tanya Bi Inah yang sudah datang menghampiri Devano dan Randy.


"Mama dan Papa ke mana?" jawab Devano yang mempertanyakan kedua orang tuanya, yang tidak ada di rumah.


"Tadi Tuan dan Nyonya baru saja pergi ke luar, tapi saya tidak tahu mau pergi kemana nya," sahut Bi Inah menjelaskan.


"Apakah Meyra kemarin datang ke rumah ini?" tanyanya lagi pada Bi Inah.


"Non Meyra kemarin tidak ke sini, Tuan muda. Saya permisi ke belakang, mau buat minuman dulu," jawab Bi Inah sambil berpamitan pergi ke dapur.


Devano tidak menanggapi Bi Inah, yang berpamitan pergi ke dapur.


"Sebaiknya, aku masuk ke dalam kamar Mama dan Papa. Siapa tahu, Mama meninggalkan handphonenya. Sehingga aku bisa melihat rekaman cctv di depan pintu apartemen, yang hanya terakses ke dalam handphone Mama," batin Devano yang memutuskan pergi ke dalam kamar kedua orang tuanya, berharap handphone milik Belinda tertinggal di dalam kamar.


"Bos mau pergi ke mana?" tanya Randy yang melihat Devano pergi meninggalkannya.


"Kamu diam saja di situ, dan beritahu aku. Jika Mama dan Papa pulang ke rumah," jawabnya. Setelah mengatakan itu pada Randy, ia segera pergi meninggalkan Randy dan masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya.


"Itu bukannya, handphone milik Mama. Pasti ini kebiasaan Mama, yang suka lupa membawa handphone," ucap Devano yang tersenyum senang. Karena ia menemukan handphone milik Belinda, yang tertinggal di dalam kamar.


Devano pun segera mengambil handphone milik Belinda, untuk melihat rekaman cctv yang terpasang ke handphone milik Belinda.