Unloved Wife

Unloved Wife
Bab 22 Kembali Ke Jakarta



Meyra yang sudah keluar dari dalam kamar mandi, ia mencari pakaian ganti yang ada di dalam lemari. Ketika Devano sudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Ternyata di dalam lemari ini ada beberapa setel pakaian wanita, dan ukurannya juga pas di tubuhku," ucap Meyra sambil memilih salah satu pakaian yang ada di dalam lemari, untuk ia kenakan.


Setelah mendapatkan pakaian yang cocok dengannya, ia segera memakai pakaian itu, dan keluar dari dalam kamarnya. Untuk menemui Bi Asih, yang sedang memasak di dapur.


"Selamat pagi Non," sapa ramah Bi Asih yang melihat Meyra, yang datang ke dapur. Saat ia sudah selesai masak.


"Pagi juga Bi," balasnya.


"Alhamdulillah, rencana Nyonya Belinda dan Tuan Rajendra berjalan dengan lancar," batin Bi Asih yang melihat rambut Meyra basah, ia pun jadi tersenyum senang. Karena ia sangat yakin sekali, kalau rencana majikannya berjalan dengan lancar.


"Bibi kenapa senyum-senyum seperti itu? Apa ada yang salah dengan pakaian yang aku kenakan?" tanya Meyra, yang melihat Bi Asih tersenyum senang, sambil memperhatikan penampilannya.


"Pakaian yang Non Meyra kenakan, sangat cocok sekali dengan Non. Pasti Den Devano akan senang, melihat penampilan istrinya yang cantik ini," jawab Bi Asih yang memuji kecantikan Meyra dan penampilannya.


Meyra yang mendengar itu, menanggapinya dengan tersenyum simpul.


"Non Meyra mau makan duluan, apa menunggu Den Devano keluar dari dalam kamar?" tanya Bi Asih.


"Saya makan duluan saja Bi," jawabnya.


"Kalau begitu. Saya bawa semua makanannya ke atas meja makan dulu ya Non," ujar Bi Asih yang mau mengambil makanan yang sudah ia masak, dan menaruhnya di atas meja makan.


"Iya Bi," balasnya sambil ikut membantu Bi Asih, yang akan membawa semua makanan yang di masak oleh Bi Asih.


"Non, duduk saja di meja makan. Biar Bibi saja, yang membawa semua makanannya." Bi Asih melarang Meyra yang mau membantunya, membawa makanan ke atas meja makan.


"Gak apa-apa Bi, biar cepat selesai. Jadi kita bisa sarapan pagi bersama," sahut Meyra yang bersikeras ingin membantu Bi Asih, yang akan membawa semua hasil masakan Bi Asih ke atas meja makan.


"Ya sudahlah, terserah Non Meyra saja. Tapi maaf Non, Bibi tidak bisa makan bersama Non Meyra. Karena Bibi sudah makan duluan," kilah Bi Asih yang mencari alasan. Karena ia merasa tidak enak, jika makan bersama majikannya.


"Oh gitu, jadi aku makannya sendirian dong," timpalnya.


Bi Asih menanggapinya, dengan cara mengagukkan kepalanya.


Setelah mereka berdua selesai menaruh makanan di atas meja makan. Meyra langsung mengambil makanan, yang di masak oleh Bi Asih. Sedangkan Bi Asih menuangkan air minum untuk Meyra, sebelum ia pergi meninggalkan Meyra seorang diri di meja makan.


Saat Meyra tengah menikmati makanan yang di masak oleh Bi Asih. Devano datang menghampirinya.


"Cepat habiskan makananmu itu. Karena kita akan pulang ke Jakarta," ucap Devano.


"Iya," sahut Meyra tanpa mengajak Devano sarapan pagi bersamanya.


"Aku kira dia menyuruhku, untuk cepat menghabiskan makananku. Karena dia ingin cepat pulang ke Jakarta, tapi ternyata dia malah ikut makan juga di sini," batin Meyra yang melihat Devano mengambil makanan yang berada di atas meja makan.


Meyra dan Devano pun makan bersama di meja makan, dan tidak ada ucapan sepatah katapun yang keluar dari dalam mulut mereka berdua, yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok dan piring yang beradu.


Meyra yang sudah selesai makan, ia menunggu Devano yang belum menghabiskan makanannya.


"Ngapain kamu lihatin aku makan?" tanya Devano yang melihat Meyra, yang terus memperhatikan dirinya yang sedang makan.


"Jangan geer deh, siapa juga yang lihatin kamu. Aku itu sedang lihat Bi Asih sama mang Nurdin di sana," jawab Meyra sambil menunjuk ke arah Bi Asih dan mang Nurdin, yang tengah mengintip mereka berdua yang sedang makan di meja makan.


Devano yang ingin memastikan kebenarannya, ia segera menengok ke arah yang di tunjuk oleh Meyra.


"Ngapain mang Nurdin dan Bi Asih mengintip aku dan Meyra, yang sedang makan di sini. Apa jangan-jangan! Mereka berdua sedang memberi laporan pada Mama dan Papa?" batin Devano.


"Ayo kita pergi dari sini," ajak Devano pada Meyra.


"Iya," sahutnya.


Meyra yang melihat Devano sudah berjalan terlebih dahulu, ia segera mendekati Devano.


"Tidak usah," jawabnya.


Devano dan Meyra pun segera keluar dari dalam villa milik keluarganya Devano, tanpa berpamitan kepada Bi Asih dan mang Nurdin.


Bi Asih dan mang Nurdin yang melihat kepergian Devano dan Meyra, mereka berdua segera pergi menghampiri Devano dan Meyra yang akan masuk ke dalam mobil.


"Den Devano dan Non Meyra mau kemana?" tanya mang Nurdin.


"Mau pulang ke Jakarta," jawab Devano dengan ketus.


"Tapi Den..."


"Jangan larangan aku pergi dari sini, terserah kalian berdua. Jika mau melaporkan sama Mama dan Papa, aku tidak perduli." Devano segera memotong ucapan mang Nurdin yang mau menghalangi kepergiannya.


"Cepat masuk," perintah Devano pada Meyra, yang masih berdiam diri di depan pintu mobil.


"I___iya," sahutnya yang segera masuk ke dalam mobil Devano.


Devano pun segera masuk ke dalam mobilnya, dan langsung menyalakan mesin mobilnya. Untuk pergi ke Jakarta, dan meninggalkan villa milik keluarganya yang berada di kota Bandung.


Suasana di dalam mobil, masih sama seperti sebelumnya. Mereka berdua tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun, hingga mereka berdua sampai di kota Jakarta.


Meyra yang ingat dengan arah jalan menuju apartemen Devano, ia segera menanyakan itu pada Devano.


"Kamu mau mengajak aku pergi ke apartemen mu?"


"Dari mana kamu tahu arah jalan ke apartemenku?" Devano tidak menjawab pertanyaan dari Meyra, tapi ia malah menanyakan pada Meyra yang mengetahui arah jalan menuju apartemennya.


"Ya jelas aku tahulah, soalnya..."


Bugh!


"Ugh, sial! ban mobilku malah kempes," ucap Devano yang mendengar suara gemuruh mobilnya yang kempes. Sehingga membuat Meyra tidak meneruskan ucapannya.


Devano segera mengaktifkan kembali handphonenya, yang sejak tadi ia nonaktifkan.


Akan tetapi, di saat Devano akan menghubungi nomor telepon montir langganannya. Belinda mamanya sudah lebih dulu menghubungi, sehingga membuat Devano tidak jadi menghubungi nomor telepon montir langganannya.


"Kamu dan Meyra lagi di mana?" tanya Belinda. Ketika Devano tidak sengaja menerima panggilan telepon dari mamanya.


"Aku dan Meyra lagi di jalan arah pulang Mah," jawabnya.


"Ya sudah, hati-hati di jalannya. Mama dan Papa menunggu kamu dan Meyra sampai di rumah," ujar Belinda yang menunggu kedatangan Devano dan Meyra di rumahnya.


"Devano dan Meyra tidak akan pulang ke rumah. Karena Devano mau mengajak Meyra tinggal di apartemen," sahut Devano yang tidak mau pulang ke rumahnya.


"Tapi Van..."


"Maaf Mah, kali ini Devano tidak bisa menuruti perintah dari Mama dan Papa." Devano segera menyela ucapan Belinda, dan langsung mematikan panggilan telepon dari Belinda mamanya. Karena ia mau menghubungi nomor telepon montir langganannya.


"Ugh, kenapa sih nomor teleponnya tidak aktif?" gerutu Devano yang kesal. Karena ia tidak bisa menghubungi nomor telepon montir langganannya.


"Kamu lagi menghubungi siapa?" tanya Meyra yang melihat Devano sedang kesal.


"Lagi menghubungi nomor telepon montir langgananku, tapi nomor teleponnya tidak aktif," jawabnya.


"Devano ... ini cuman perkara ban kempes. Jadi tidak usah menghubungi montir, kita tinggal mengganti ban saja. Pasti di mobilmu ini ada ban serepnya kan?" tanyanya lagi.


"Iya ada," sahutnya yang segera pergi meninggalkan Meyra. Karena ia mau mengambil ban serep mobilnya, yang berada di dalam bagasi mobilnya.


Di saat Devano dan Meyra akan memasang ban serep mobil, ada seseorang yang datang menghampiri mereka berdua.