
"Ya sudah. Kalau kamu tidak jadi pergi, temani Mama dan Papa yang mau sarapan pagi di sini," ucap Belinda yang memutuskan sarapan pagi di apartemennya Devano.
"Mama dan Papa silahkan duduk, biar Meyra yang menyiapkan makanannya." Meyra mengambil makanan yang di bawa oleh Belinda. Karena ia mau menyiapkan makanan, untuk kedua mertuanya yang akan sarapan pagi di apartemen. Karena masakan yang Meyra masak hanya cukup untuk Meyra dan Devano, dan itupun sudah habis oleh mereka berdua.
"Meyra ini wanita yang baik. Devano sangat beruntung sekali bisa menikah dengannya, dan semoga saja. Pernikahan mereka berdua bisa sampai selamanya. Aamiin," batin Belinda yang penuh harap, dan mengamini doanya.
Meyra yang sudah selesai menyiapkan makanan, yang di bawa Belinda. Ia mempersilahkan Belinda dan Rajendra untuk sarapan pagi.
"Silahkan di makan Mah, Pah."
"Iya," balasnya.
Belinda dan Rajendra pun segera memakan, makanan yang mereka berdua bawa. Sedangkan Devano dan Meyra hanya menemani kedua orang tuanya Devano, yang sedang sarapan pagi di dalam apartemen.
"Kalau kamu mau pergi ke luar, pergi saja Van. Mama dan Papa mau mengajak Meyra pergi," ucap Belinda. Ketika ia dan Rajendra suaminya, sudah selesai makan.
"Kalau tahu, Mama dan Papa mau mengajak Meyra pergi ke luar. Kenapa tidak dari tadi bilangnya? Jadi aku tidak perlu menunggu Mama dan Papa selesai sarapan pagi, dan aku bisa pergi ke luar dari apartemen,'' gerutu Devano di dalam hatinya.
"Kamu tidak jadi perginya, Van?" tanya Belinda pada Devano. Karena Devano tidak menimpali ucapannya.
"Iya Mah, ini Devano mau pergi kok." Devano segera bangun dari tempat duduknya, dan berpamitan pergi pada kedua orang tuanya dan juga Meyra.
Setelah Devano pergi, Belinda dan Rajendra mengajak Meyra keluar dari apartemen.
"Kalau Papa mau langsung pergi ke kantor. Mama dan Meyra perginya menggunakan taksi," ucap Belinda. Ketika mereka bertiga sudah berada di luar gedung apartemen.
"Iya Mah, Papa mau langsung pergi ke kantor. Mama dan Meyra hati-hati di jalannya," balas Rajendra yang segera masuk ke dalam mobilnya. Karena ia mau pergi ke perusahaannya.
Sedangkan Belinda dan Meyra masuk ke dalam taksi, yang sudah Belinda pesan. Ketika ia masih berada di dalam apartemen Devano.
"Kita mau pergi kemana, Mah?" tanya Meyra yang ingin mengetahui tujuan Belinda, yang mengajaknya pergi ke luar apartemen.
"Nanti kamu juga akan tahu," jawabnya sambil tersenyum.
Meyra yang mendengar jawaban dari ibu mertuanya, ia hanya bisa mengikuti ajakannya. Tanpa bertanya lebih lanjut lagi.
Beberapa menit kemudian.
Meyra dan Belinda sudah berada di sebuah salon kecantikan, yang terkenal di kota Jakarta. Karena Belinda ingin membuat Meyra menantunya cantik di hadapan Devano putranya. Agar Devano bisa mencintai Meyra, dan melupakan Naumi Clarissa kekasihnya Devano.
"Ini kita mau nyalon Mah?" tanya Meyra yang terus memperhatikan tempat salon kecantikan, yang terkenal di kota Jakarta.
"Iya sayang. Mama ingin membuat penampilan kamu biar semakin fresh, dan yang pastinya bisa membuat Devano mencintai kamu. Yuk kita masuk ke dalam," jawab Belinda menjelaskan tentang tujuannya, yang mengajak Meyra ke sebuah salon kecantikan. Belinda juga langsung mengajak Meyra masuk ke dalam salon kecantikan.
"Aku tidak mengharapkan Devano bisa mencintaiku Mah. Cukup dia mengakui anak yang ada di dalam kandunganku, itu sudah lebih dari cukup. Tapi sampai sekarang, aku belum memberitahukan soal ini pada dia," batin Meyra sambil melangkahkan kakinya, yang akan masuk ke dalam salon.
"Hey jeng Bel, sama siapa ini?" tanya pemilik salon kecantikan bernama Lolita, yang melihat kedatangan Belinda dan Meyra yang sudah masuk ke dalam salon kecantikan miliknya.
"Ini Meyra menantuku Lol, tolong kamu buat menantuku secantik mungkin," jawab Belinda yang memperkenalkan Meyra, dan langsung menyuruh Lolita. Untuk membuat Meyra tampak cantik, dan merubah penampilannya.
"Siap jeng Bel, ayo cantik ikut dengan Miss Lolita,'' balas Lolita yang langsung menarik tangannya Meyra, dan mengajak Meyra duduk di kursi. Karena Lolita akan merubah penampilan Meyra, sebelum memberikan riasan di wajah cantik Meyra.
"Mey, kamu di sini dulu ya. Mama mau mencari beberapa dress dan pakaian untukmu," ucap Belinda yang akan berpamitan pergi pada Meyra.
"Iya Mah," balasnya.
"Lihatlah jeng Bel, menantu mu cantik kan?" ucap Lolita yang memuji kecantikan Meyra.
"Iya Lol, aku sampai pangling lihatnya," jawab Belinda yang terus memperhatikan penampilan Meyra.
Meyra yang mendengar itu, ia hanya tersipu malu sambil tersenyum manis. Karena ia sendiri pun merasa penampilannya sudah berubah menjadi sosok wanita yang feminim dan bak artis Korea.
"Penampilannya sudah oke, jeng Bel. Kita tinggal mengganti pakaiannya saja, mana pakaian yang kamu beli?" tanya Lolita yang meminta pakaian yang sudah di beli oleh Belinda. Karena ia akan menyesuaikan pakaian yang cocok dengan penampilan Meyra saat ini.
"Nih." Belinda pun memberikan pakaian yang ia beli pada Lolita.
Beberapa menit kemudian.
Meyra yang sudah selesai mengganti pakaiannya, membuat para pengunjung yang datang ke salon terus memperhatikan dirinya. Karena mereka semua kagum melihat penampilan Meyra, yang bukan menjadi wanita kampung yang mengenakan pakaian sederhana lagi. Tapi sekarang ini, Meyra sudah berubah penampilannya, yang menjadi wanita kota yang berpenampilan seperti artis Korea.
"Terima kasih Lol, kamu sudah merubah penampilan menantuku. Ini untukmu, aku langsung pamit pulang yah," ucap Belinda.
"Iya sama-sama jeng Bel," timpal Lolita sambil tersenyum senang. Karena mendengar ucapan pelanggannya, yang puas dengan hasil pelayanannya.
Belinda pun mengajak Meyra pergi meninggalkan salon kecantikan milik Lolita, dan Belinda langsung membawa Meyra pulang ke apartemennya Devano.
Sesampainya di apartemen Devano.
"Mey, maaf Mama tidak bisa mengantarkan kamu masuk ke dalam apartemen. Mama mau langsung pulang ke rumah," ujar Belinda yang berpamitan pergi pada Meyra. Ketika mereka berdua sudah berada di depan gedung apartemen.
"Iya Mah," balasnya.
Belinda pun langsung pergi meninggalkan Meyra di depan gedung apartemen. Setelah kepergian Belinda, Meyra langsung masuk ke dalam kamar apartemen Devano.
Saat Meyra sudah sampai di apartemen Devano, ia melihat Devano yang tengah tidur sambil menonton televisi.
"Dasar Devano, ini mah bukannya dia yang menonton TV. Tapi TV yang menonton dia," lirih Meyra sambil menggelengkan kepalanya.
Meyra pun segera mengambil remote televisi, yang berada tidak jauh di dekat Devano yang tengah tidur. Saat Meyra sudah berhasil mengambil remote televisi, tangan Devano menyentuh tangan Meyra dan menggenggam tangannya.
"Jangan tinggalkan aku," ucap Devano yang tengah mengigau.
Meyra yang mendengar ucapan Devano yang tengah mengigau, ia berusaha melepaskan tangannya yang di pegang oleh Devano.
"Iiikh susah sekali," batin Meyra yang kesulitan melepaskan genggaman tangan Devano, yang tidak mau melepaskan tangannya.
"Devano bangun ..." Meyra pun memutuskan untuk membangunkan Devano. Agar Devano bisa melepaskan genggaman tangannya.
"Bangun Devano," sambung Meyra yang berusaha membangunkan Devano.
"Aaakh, berisik banget sih," gerutu Devano yang akhirnya bangun dari tidurnya, dan melepaskan genggaman tangan Meyra yang ia pegang.
"Aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku." Devano mengucapkan itu, sambil memeluk Meyra yang berada di hadapannya.
"Ini Devano kenapa?" batin Meyra yang kaget mendapat pelukan dari Devano secara tiba-tiba.