
"Aaah tidak mungkin Meyra hamil," batin Devano sambil menggelengkan kepalanya.
"Pasti dia itu cuman masuk angin. Sebaiknya aku pergi menghampirinya," sambung Devano yang memutuskan untuk datang menghampiri Meyra.
"Kamu kenapa?" tanya Devano yang sudah berada di dekat Meyra.
"Perutku terasa mual sekali," jawab Meyra pelan.
"Kalau begitu, ayo kita pergi ke rumah sakit. Aku tidak mau, sampai Mama dan Papa memarihi ku. Gara-gara aku tidak mengurus kamu, yang sedang sakit," ucap Devano yang mengajak Meyra pergi ke rumah sakit.
"Tapi ini sudah malam," tolak Meyra.
"Ya sudah, besok pagi kita pergi ke rumah sakitnya. Aku akan mengambil air minum untukmu," ujar Devano yang tiba-tiba saja, ia merasa tidak tega melihat keadaan Meyra seperti itu.
Devano pun segera pergi ke dapur, dan mengambil air minum untuk Meyra.
"Kenapa hatiku jadi seperti ini? Padahal rencana awal ku mengajak Meyra tinggal di apartemen, mau membuat dia tidak betah tinggal di sini. Sampai dia meminta cerai kepadaku, dan kedua orang tuaku. Sehingga aku bisa menikah dengan Naumi. Tapi kenapa? Aku jadi mengkhawatirkan keadaannya yang sedang sakit, dan aku juga jadi tidak tega menyakitinya," batin Devano yang tidak mengerti dengan perasaannya. Di saat ia mau mengambil air minum di dapur, untuk Meyra yang sedang mual.
"Ini air minumnya." Devano menyodorkan segelas air putih kepada Meyra. Ketika ia sudah mengambil air minum di dapur.
"Terima kasih," balas Meyra yang mengambil air minum sambil tersenyum manis, dan ia langsung meminumnya.
"Manis sekali," lirih Devano yang melihat senyuman Meyra.
"Air minumnya tidak manis kok," ucap Meyra yang mendengar ucapan Devano barusan.
"Maksudku itu, tadinya aku mau membuat teh manis. Tapi karena aku tidak tahu cara membuatnya, ya sudah aku ambil air putih saja." Devano yang tidak sengaja memuji Meyra, ia menyangkal ucapannya itu.
"Aku mau masuk ke dalam kamar," sambungnya yang segera pergi meninggalkan Meyra, dan masuk ke dalam kamarnya.
Devano yang sudah berada di dalam kamarnya, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Aaakh, ada apa dengan diriku ini? Kenapa aku jadi mengkhawatirkan keadaan dia? Apa jangan-jangan! Karena aku dan dia pernah melakukan itu, jadi membuatku seperti ini?" gumam Devano sambil menjambak rambutnya, dan bermonolog pada dirinya sendiri.
"Aku tidak boleh seperti ini, rencanaku harus sesuai dengan rencana awal. Agar aku bisa terlepas dengan Meyra, dan bisa menikah dengan Naumi," sambung Devano sambil bangun dari tempat tidurnya. Karena ia mendengar suara deringan ponsel miliknya, yang terus berdering. Di saat Devano sedang berbicara pada dirinya sendiri.
"Siapa sih? Malam-malam begini menghubungiku?" gerutu Devano yang kesal mendengar suara deringan ponsel miliknya.
"Naumi ..." lirih Devano yang sudah mengambil handphonenya, dan ia melihat nama Naumi yang tertera di layar handphone miliknya.
"Ada apa Mimiku sayang?" tanya Devano yang sudah menerima panggilan telepon dari Naumi Clarissa kekasihnya.
"Tadi Vivian menghubungiku, dan mengatakan tentang pertemuan kalian berdua. Aku cuman mau tahu! Siapa wanita yang sedang bersamamu?" tanya Naumi yang berterus terang. Karena ia ingin mengetahui kebenarannya.
"Dia itu cuman partner kerjaku Mi, kamu jangan cemburu seperti itu. Karena yang aku cintai dan sayangi, hanyalah kamu, Mimiku sayang." Devano membohongi Naumi. Karena ia belum siap mengatakan yang sebenarnya pada Naumi.
"Yakin cuman partner kerja?" tanyanya lagi.
"Iya Mimi, kamu harus percaya dengan ucapanku. Aku di sini setia menunggu kepulanganmu, Mi." Devano berusaha meyakinkan Naumi. Agar percaya dengan ucapannya.
"Baiklah, aku akan mencoba percaya dengan ucapanmu tapi ..."
"Kalau kamu mengatakan seperti itu, berarti kamu tidak percaya dengan ucapanku." Devano segera menyela ucapan Naumi, yang belum selesai berbicara.
"Iya Van, aku percaya dengan ucapanmu. Aku cuman mau memastikan saja. Kalau kamu itu, benar-benar setia menunggu kepulanganku,'' ujar Naumi.
"I ... iya tentu saja. A... aku setia menunggu kepulanganmu, Mi." Devano mengatakan itu dengan suara gugup.
"Aku akan menagih janjimu, yang akan menikahiku. Ketika aku sudah pulang ke Indonesia." Naumi mengingatkan janji Devano, yang akan menikah dengannya. Ketika ia sudah pulang ke Indonesia.
"Good night," ucap Naumi yang mengakhiri panggilan teleponnya.
Setelah selesai berbicara dengan Naumi. Devano kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan tidak lama kemudian ia tidur.
__________
Keesokan harinya.
Meyra yang sudah merasa lebih baik, ia sudah bangun dari tidurnya dan mulai merapikan apartemen Devano. Dan sekarang ini, Meyra tengah memasak di dapur.
Sementara itu.
Devano yang baru bangun dari tidurnya, ia segera membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Setelah selesai mandi, ia segera keluar dari dalam kamarnya.
"Bukannya dia sedang sakit, kenapa mengerjakan semua ini?" lirih Devano yang melihat apartemennya sudah rapih dan bersih, ia pun sangat yakin sekali. Kalau yang mengerjakan semua ini adalah Meyra.
"Itu di dapur, pasti Meyra yang sedang masak," sambung Devano yang mendengar suara spatula dan wajan yang beradu, ia pun segera pergi ke dapur.
"Kamu sudah sembuh, Mey? tanya Devano yang sudah berada di dapur.
"Alhamdulillah sudah. Kebetulan sekali kamu sudah bangun, ini masakan yang aku buat sudah matang. Yuk kita makan bersama," jawab Meyra yang mengajak Devano, untuk sarapan pagi bersamanya.
"Iya,'' timpalnya singkat.
Meyra dan Devano pun sarapan pagi bersama, dan setelah selesai sarapan pagi. Devano segera pergi dari apartemennya. Akan tetapi, saat Devano membuka pintu apartemennya. Devano melihat kedua orang tuanya, yang sudah berada di hadapannya.
"Mama dan Papa tumben pagi-pagi begini sudah datang ke apartemenku?" tanya Devano pada kedua orang tuanya.
"Mama dan Papa bawa makanan untuk kalian berdua," jawab Belinda yang memperlihatkan makanan yang ia bawa.
"Yuk kita makan bersama," sambungnya.
"Tapi Mah ..."
"Ayo masuk, Emangnya kamu mau pergi ke mana sih?" Belinda langsung memotong ucapan Devano, dan menanyakan tujuan Devano yang akan pergi meninggalkan Meyra di dalam apartemennya.
"Aku mau pergi ke kantor Mah," jawabnya.
"Papa kan sudah memberi kamu ijin cuti selama seminggu, kenapa kamu mau pergi bekerja?" Rajendra mempertanyakan Devano, yang mau pergi bekerja di perusahaannya.
"Anu .... itu ..." sahut Devano yang bingung mencari alasan.
"Kamu jangan mencari alasan, Van. Ayo kita masuk ke dalam, pasti kalian berdua belum sarapan pagi." Belinda menarik tangannya Devano, dan mengajaknya masuk ke dalam apartemen.
Saat Belinda dan Rajendra serta Devano sudah masuk ke dalam apartemen, mereka bertiga melihat Meyra yang sedang merapikan meja makan.
"Kamu sudah sarapan pagi, Mey?" tanya Belinda pada Meyra.
"Sudah Mah," jawab Meyra yang kaget melihat kedatangan kedua mertuanya, yang datang ke apartemen. Sehingga membuat ia menghentikan aktivitasnya, yang sedang membersihkan meja makan.
"Tadinya Mama dan Papa mau mengajak kalian berdua sarapan pagi, tapi ternyata Mama dan Papa telat datangnya," ucap Belinda.
"Meyra akan menemani Mama dan Papa sarapan pagi, tapi sepertinya Devano tidak bisa menemani. Karena ia mau..."
"Kata siapa aku tidak mau menemani kedua orang tuaku, yang mau sarapan pagi bersama kita." Devano segera menyela ucapan Meyra, yang ingin mengatakan yang sebenarnya pada kedua orang tuanya. Karena ia tidak mau kedua orang tuanya, mengetahui tujuannya.