
Devano yang sudah berpamitan dengan Randy, ia segera mengejar suster yang mendorong seorang wanita yang mirip dengan Meyra.
"Suster berhenti ..." Devano berteriak menghentikan langkah kaki suster, yang akan membawa pasien masuk ke dalam kamar rawat inap pasien.
"Iya ada apa pak?" tanya suster sambil menengok ke arah Devano.
"Jangan dulu pergi sus, saya mau menemui istri saya dulu," jawab Devano yang berlari menuju suster. Untuk bertemu dengan seorang wanita, yang mirip dengan Meyra.
"Iya," balasnya.
"Kita berhenti sebentar ya," sambung suster yang memberitahukan pada wanita itu. Untuk menunggu kedatangan Devano, yang akan datang menghampiri mereka berdua.
Wanita itu pun mengagukkan kepalanya, dan mereka berdua menunggu kedatangan Devano.
"Meyra ..." Devano memanggil nama Meyra, pada wanita yang duduk di kursi roda. Sehingga membuat wanita itu menengok ke arah Devano.
"Namaku bukan Meyra," sahut wanita itu menjelaskan. Karena Devano mengira dirinya adalah Meyra.
"Maaf, aku kira kamu itu Meyra istriku. Sekali lagi, saya mengucapkan minta maaf sama suster dan juga Mbak." Devano pun meminta maaf kepada suster dan wanita itu. Sebab wanita yang ia kira Meyra, tidak mirip dengan Meyra. Hanya penampilan rambut dan badannya, yang mirip seperti Meyra.
"Oh iya, tidak apa-apa pak. Saya permisi pergi dulu," timpal suster yang berpamitan pergi pada Devano.
"Iya sus, silahkan." Devano pun mempersilahkan suster, yang akan pergi membawa wanita itu masuk ke dalam ruang rawat inap pasien.
"Aku kira wanita itu adalah Meyra, tapi ternyata bukan. Ke mana aku harus mencarimu, Mey?" batin Devano yang tidak tahu, harus mencari Meyra ke mana lagi.
Devano pun segera pergi menghampiri Randy, yang sedang berobat di rumah sakit. Karena Randy sakit perut, dan dari tadi Randy terus bulak balik ke toilet untuk buang air besar.
"Bos tadi habis dari mana?" tanya Randy yang melihat Devano baru datang menghampirinya lagi.
"Aku tadi melihat wanita yang mirip dengan Meyra, aku kira wanita itu Meyra. Tapi ternyata hanya rambut dan badannya saja, yang mirip dengan Meyra," jawab Devano sambil menundukkan kepalanya. Karena ia tidak bisa menemukan keberadaan Meyra.
"Bos, maaf yah. Sepertinya, aku tidak bisa menemani bos pergi mencari Meyra. Soalnya, perutku masih sakit," ucap Randy yang meminta maaf pada Devano. Karena ia tidak bisa menemani Devano, dalam mencari keberadaan Meyra yang tidak pulang ke apartemen.
"Iya tidak apa-apa, kamu sudah di periksa oleh dokter belum?" tanya Devano.
"Sudah bos, ini obatnya juga sudah ada." Randy menjawab pertanyaan dari Devano, sambil memperlihatkan bungkusan plastik yang berisi obat dari dokter pada Devano.
"Kalau begitu. Ayo kita pergi dari sini, aku akan mengantarkan kamu pulang ke rumahmu," ajak Devano pada Randy. Untuk pergi meninggalkan rumah sakit.
Randy menimpali ajakan Devano, dengan cara mengagukkan kepalanya.
Mereka berdua pun segera pergi meninggalkan rumah sakit, dan pergi ke rumah Randy.
Sesampainya di rumah Randy.
"Semoga kamu cepat sembuh," ucap Devano. Sebelum Randy turun dari mobilnya.
"Aamiin, terima kasih atas doanya bos. Aku mau masuk ke dalam rumah dulu," sahut Randy yang mengamini doa dari Devano, dan ia langsung masuk ke dalam rumahnya. Tanpa mempersilahkan Devano, untuk mampir ke rumahnya. Sebab ia masih merasakan perutnya yang masih sakit, dan ia juga butuh istirahat.
"Iya sama-sama," balasnya.
Devano yang sudah mengantarkan Randy pulang ke rumahnya, ia pun segera menyalakan mesin mobilnya dan bergegas pergi meninggalkan rumah Randy.
Saat Devano masuk ke dalam apartemennya, ia melihat Meyra yang duduk di ruang televisi.
"Meyra, kamu habis dari mana saja? Dari kemarin, kamu tidak pulang ke apartemen. Aku dari tadi terus mencari keberadaanmu," cerca Devano pada Meyra, yang baru ia temui di dalam apartemennya.
"Mau apa kamu mencariku?" Meyra tidak menjawab pertanyaan Devano. Tapi ia malah mempertanyakan tentang Devano, yang mencari keberadaannya.
"Aku mengkhawatirkan kamu dan anak kita ..."
"Aku rasa, bukan itu yang kamu khawatirkan. Tapi kamu itu takut, jika kedua orang tuamu mengetahui aku tidak tinggal di sini lagi. Bukan begitu?" Meyra menyela ucapan Devano, sambil menyunggingkan senyuman.
"Aku memang mengkhawatirkan kamu, memangnya tidak boleh? Jika seorang suami mengkhawatirkan istrinya, yang tengah hamil?"
"Ya boleh saja, tapi bagi pasangan suami istri pada umumnya. Sedangkan aku itu, hanyalah seorang wanita yang cuman berstatus sebagai istrimu dan tidak lebih dari itu. Toh sebentar lagi, akan ada wanita yang mengganti posisiku.''
"Kamu cemburu?" tanya Devano yang mendengar ucapan Meyra barusan.
"Untuk apa aku cemburu? Aku rasa, kamu sudah tahu! Kalau aku dan kamu itu, tidak saling mencintai. Jadi tidak ada alasan untukku, cemburu." Meyra menjawab pertanyaan Devano, sambil bangun dari tempat duduknya. Karena ia akan masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu mau pergi ke mana? Jawab dulu pertanyaanku, kemarin kamu pergi ke mana?" tanya Devano sambil memegang tangan Meyra. Karena ia mau mencegah Meyra, yang akan pergi meninggalkannya di ruang televisi.
"Bukan urusanmu, dan kamu tidak perlu tahu. Urus saja masalah pernikahan kamu dengan kekasihmu itu," jawab Meyra sambil melepaskan tangannya, yang di pegang Devano.
"Aku dan Naumi sudah putus, Mey. Meski saat ini, aku belum mencintaimu. Tapi aku memutuskan, untuk mempertahankan pernikahan ini. Aku akan berusaha mencintaimu dan anak kita." Devano pun menceritakan hubungannya dengan Naumi, yang sudah putus.
Meyra menghiraukan ucapan Devano, yang mengatakan itu kepadanya. Meyra segera masuk ke dalam kamarnya, dan meninggalkan Devano seorang diri di ruang televisi.
Tok-tok.
"Mey, buka pintunya. Aku masih ingin berbicara denganmu," teriak Devano sambil mengetuk pintu kamar Meyra.
Cek lek.
Meyra membuka pintu kamarnya. Karena mendengar suara ketukan pintu, yang terus di ketuk oleh Devano.
"Kalau kamu masih saja berisik, aku benar-benar akan pergi meninggalkanmu. Dan tidak mau tinggal di sini lagi bersamamu," ucap Meyra yang mengancam Devano.
"Kamu mau mengancamku?" tanya Devano sambil mengkerutkan keningnya. Karena melihat perubahan sikap Meyra, yang berubah.
"Bukan ancaman. Tapi pilihan," tegas Meyra.
"Tapi ada hal, yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisakah, kita berbicara sebentar?" pinta Devano, yang ingin berbicara dengan Meyra.
"Aku mau istirahat, dan tidak mau di ganggu. Jadi ..., aku harap! Kamu tidak menggangu kenyamanan ku, yang mau beristirahat," jawab Meyra yang menolak ajakan Devano, yang ingin berbicara dengannya.
"Berikan aku waktu. Untuk berbicara denganmu, Mey. Walaupun hanya sebentar saja." Devano berusaha meminta waktu pada Meyra. Agar mau berbicara dengannya.
"Kalau kamu seperti ini terus. Berarti itu pilihanmu, yang ingin aku pergi dari sini," sahut Meyra.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Tetaplah tinggal di sini, dan jangan pergi meninggalkanku lagi." Devano memilih mengalah, dan ia pun segera pergi meninggalkan Meyra yang mau beristirahat di dalam kamarnya.
"Kenapa sikap Meyra jadi berubah seperti ini?" batin Devano yang bertanya pada dirinya sendiri, tentang perubahan sikap Meyra. Ketika ia sudah masuk ke dalam kamarnya.