
Devano yang sudah beberapa kali mengetuk pintu kamar Meyra, ia memutuskan untuk mendobrak pintu kamar Meyra. Karena ia mengkhawatirkan keadaan Meyra, yang baru ia ketahui. Kalau Meyra baru saja di rawat di rumah sakit.
Bruk.
"Meyra ..." Devano berteriak memanggil Meyra. Karena ia melihat keadaan Meyra, yang merintih kesakitan menahan rasa sakit yang dirasakannya.
"Kamu kenapa Mey?" tanya Devano yang sudah berada di dekat Meyra.
"Perutku tiba-tiba saja kram. Saat aku akan bangun, untuk membuka pintu kamar,'' jawabnya sambil meringis menahan rasa sakit di bagian perutnya yang kram.
"Ayo kita pergi ke rumah sakit," ajak Devano yang panik dan mengkhawatirkan keadaan Meyra dan kandungannya.
Meyra menanggapi ajakan Devano, dengan mengagukkan kepala. Devano yang melihat itu, ia pun segera menggendong Meyra yang masih terbaring di tempat tidur. Karena ia akan membawa Meyra pergi ke rumah sakit.
"Ternyata Devano mengkhawatirkan keadaanku," batin Meyra sambil menatap ke arah wajah Devano, yang tengah menggendongnya menuju pintu keluar apartemen.
Devano yang sudah keluar dari apartemen, ia menunggu di depan pintu lift sambil terus menggendong Meyra. Karena ia mengkhawatirkan keadaan Meyra yang merasa kram di bagian perutnya, saat pintu lift terbuka Devano segera masuk ke dalam lift.
"Istrinya, kenapa Mas?" tanya seorang lelaki yang akan keluar dari pintu lift, tapi ia melihat Devano yang sedang menggendong Meyra.
"Istri saya tiba-tiba saja, perutnya kram. Apalagi kondisinya sedang hamil muda, dan kemarin baru saja di rawat di rumah sakit," jawab Devano menjelaskan.
Degh!
"Dari mana Devano bisa mengetahui keadaanku, yang kemarin di rawat di rumah sakit?" batin Meyra yang kaget mendengar jawaban Devano, yang mengetahui tentang dirinya yang kemarin di rawat di rumah sakit.
"Semoga istri dan bayinya tidak kenapa-kenapa," ucap lelaki itu mendoakan.
"Aamiin. Terima kasih atas doanya, Mas." Devano mengamini doa dari lelaki itu. Sebelum ia menekan tombol lift.
Di dalam lift hanya ada mereka berdua, kesempatan itu Meyra gunakan dengan baik. Untuk bertanya pada Devano yang mengetahui keadaannya, yang di rawat di rumah sakit.
"Kenapa kamu bisa mengetahui keadaanku, yang kemarin di rawat di rumah sakit?"
"Aku menemukan surat dari rumah sakit, yang terjatuh di dekat sofa ruang televisi. Kenapa kamu tidak memberitahukan kepadaku, kalau kemarin itu kamu sedang di rawat di rumah sakit?" jawab Devano sambil bertanya balik pada Meyra.
"Bagaimana aku mau memberitahukan kepadamu, aku tidak tahu nomor telepon mu," jelas Meyra.
"Yang Meyra katakan benar, aku pun sama tidak mempunyai nomor teleponnya," batin Devano yang membenarkan penjelasan Meyra.
Keadaan di dalam lift pun kembali hening, mereka berdua tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun lagi. Hingga mereka berdua keluar dari dalam lift, dan masuk ke dalam mobil Devano.
Sebelum Devano menyalakan mesin mobilnya, ia memberikan handphonenya pada Meyra.
"Tolong masukkan nomor telepon kamu ke dalam handphoneku,"
"Iya," sahut Meyra yang menerima handphone milik Devano, dan ia pun segera mengetik nomor teleponnya di handphone milik Devano.
"Terdengar lucu bukan? Kita sepasang suami istri, tapi tidak mengetahui nomor telepon pasangan sendiri." Devano mengatakan itu, ketika Meyra sudah memberikan handphone kepadanya.
"Bisakah, kamu segera membawaku pergi ke rumah sakit, perutku masih merasakan kram," pinta Meyra yang mengalihkan ucapan Devano. Karena ia takut terjadi sesuatu pada bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Baiklah." Devano pun segera menyalakan mesin mobilnya, dan membawa Meyra pergi ke rumah sakit.
___________
Di kediaman Belinda dan Rajendra.
Mereka berdua sedang bersiap-siap, untuk pergi ke apartemen Devano. Karena Belinda ingin memastikan, kalau Meyra berada di dalam apartemen Devano. Sebab Devano dan Randy kemarin datang ke rumahnya, tanpa mengajak Meyra.
"Iya Mah," balasnya.
Mereka berdua pun segera pergi meninggalkan rumah, dan masuk ke dalam mobil. Untuk pergi ke apartemen Devano.
"Perasaan Mama jadi cemas seperti ini, Pah. Mama takut terjadi sesuatu pada Meyra," ucap Belinda yang tiba-tiba saja, ia mengkhawatirkan keadaan Meyra.
"Kita doakan saja, Mah. Semoga Meyra tidak kenapa-kenapa, dan Papa sangat berharap. Semoga Devano dan Meyra bisa tetap bersama. Meski sekarang ini, Naumi sudah pulang ke Indonesia," sahut Rajendra sambil mengusap punggung tangan Belinda, yang duduk di dekatnya.
"Aamiin. Semoga saja Pah, itu juga yang Mama harapkan," timpal Belinda yang mengamini doa dari suaminya, dan harapan yang di katakan suaminya sesuai dengan harapannya juga.
Sesampainya di apartemen.
Belinda dan Rajendra yang sudah sampai di apartemen Devano, mereka berdua langsung masuk ke dalam apartemen. Karena Belinda memiliki kunci cadangan apartemen Devano.
Saat Belinda dan Rajendra sudah berada di dalam apartemen, mereka berdua tidak menemukan keberadaan Devano dan Meyra.
"Kemana perginya, Devano dan Meyra?" lirih Belinda yang mempertanyakan Devano dan Meyra, yang tidak ada di dalam apartemen. Apalagi ia dan suaminya melihat apartemen Devano, yang masih berantakan. Sebab Devano belum selesai merapikan apartemennya.
"Mah, ini ada surat dari rumah sakit yang tergeletak di bawah lantai,'' teriak Rajendra yang memberitahukan kepada Belinda, tentang penemuan surat rawat inap Meyra yang dirawat di rumah sakit.
"Apa yang terjadi dengan Meyra? Kenapa Devano tidak memberitahukan keadaan Meyra pada Mamah, Pah?" cemas Belinda yang baru mengetahui tentang Meyra, yang kemarin dirawat di rumah sakit.
"Ayo kita pergi ke rumah sakit itu, Mah. Nanti kita tanyakan semuanya pada Devano di sana," ajak Rajendra pada istrinya.
"Tapi, Pah. Meyra baru saja keluar dari rumah sakit, masa Devano dan Meyra ada di rumah sakit itu lagi." Belinda menolak ajakan suaminya, yang mengajaknya pergi ke rumah sakit.
"Tapi Papa sangat yakin sekali. Kalau Devano dan Meyra itu pergi ke rumah sakit, coba deh Mama periksa rekaman cctv di depan pintu apartemen Devano." Rajendra menyuruh Belinda. Untuk melihat rekaman cctv yang terhubung di handphonenya.
"Iya Pah." Belinda pun segera mengambil handphonenya, dan langsung membuka rekaman cctv.
"Yang Papa katakan benar, di sini terlihat jelas sekali. Kalau Devano sedang menggendong Meyra. Ayo Pah, kita pergi ke rumah sakit." Belinda yang sudah melihat rekaman cctv yang terhubung ke handphonenya, ia langsung mengajak Rajendra pergi ke rumah sakit.
Rajendra menanggapi ajakan dari istrinya, dengan mengagukkan kepala. Mereka berdua pun segera keluar dari dalam apartemen, dan pergi ke rumah sakit.
__________
Sementara itu.
Devano dan Meyra yang sudah tiba di rumah sakit. Kini Meyra sedang di periksa oleh Dokter Sandi SpOG. Setelah Devano memberitahukan tentang yang di rasakan Meyra, yang kram dan terasa sakit di bagian bawah perutnya.
"Semoga kamu dan anak kita baik-baik saja," batin Devano yang mengkhawatirkan keadaan Meyra, dan bayi yang ada di dalam kandungan Meyra. Karena ia tidak mau sampai terjadi sesuatu pada keduanya.
"Bagaimana keadaan istri dan kandungannya, Dok?" tanya Devano. Ketika ia melihat Dokter Sandi sudah selesai memeriksa kandungan Meyra, dengan melakukan USG.
"Kandungan Bu Meyra. Alhamdulillah tidak kenapa-kenapa, dan sakit kram yang Bu Meyra rasakan itu di sebabkan. Karena rahim yang membesar, sebab proses janin yang tumbuh di dalam rahim Bu Meyra. Sakit kram itu biasanya ringan dan hanya sementara, tapi sekarang ini. Saya sarankan Bu Meyra harus melakukan bed rest, sebab kemarin Bu Meyra sempat keluar darah," jawab Dokter Sandi.
Devano yang sudah mendapat jawaban dari Dokter Sandi, ia dan Meyra langsung berpamitan pergi. Ketika Dokter Sandi sudah memberikan resep obat, untuk di minum oleh Meyra.
Saat Devano dan Meyra akan keluar dari rumah sakit, mereka berdua bertemu dengan Belinda dan Rajendra yang baru datang ke rumah sakit.
"Kenapa Mama dan Papa bisa berada di rumah sakit ini?" batin Devano yang kaget melihat kedatangan kedua orang tuanya, yang ada di depan rumah sakit.
"Apa yang terjadi dengan Meyra, Van? Sampai kamu tidak memberitahukan keadaan Meyra yang di rawat di rumah sakit?" tanya Belinda yang sudah datang menghampiri Devano dan Meyra.
"Apa aku harus menceritakan keadaan Meyra, yang sedang hamil anakku pada Mama dan Papa?" gumam Devano di dalam hatinya, yang bingung menjawab pertanyaan dari Belinda mamanya.