
"Meyra ... kamu pergi ke mana, sih?" gerutu Devano yang kesal dengan Meyra, yang belum pulang ke apartemennya.
"Kemana, aku harus pergi mencarinya? Ini sudah larut malam, tidak mungkin aku pergi mencari Meyra di rumah Mama dan Papa. Nanti bisa-bisa, aku yang kena marah Papa dan Mama. Andai saja, aku punya nomor telepon Meyra. Pasti dari tadi, aku bisa mengetahui keberadaannya," sambung Devano yang bingung mencari keberadaan Meyra. Karena ia tidak mempunyai nomor telepon Meyra.
"Aaakh, semua wanita yang aku temui hari ini membuatku kesal saja." Devano yang kesal, ia memutuskan pergi meninggalkan kamar Meyra dan pergi ke dalam kamarnya.
Brak.
Devano membanting pintu kamar Meyra dengan kasar, dan ia segera masuk ke dalam kamarnya.
"Semoga saja. Sebentar lagi, Meyra pulang ke apartemen," lirih Devano yang berharap, Meyra pulang ke apartemennya.
"Sepertinya, keputusan pertamaku memang sangat tepat. Aku harus tetap mempertahankan pernikahanku dengan Meyra, dan aku juga harus bisa melupakan Naumi," batin Devano yang sudah yakin dengan keputusan yang ia pilih.
Setelah mengatakan itu. Devano merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan tidak lama kemudian ia terlelap dalam tidurnya.
__________________
Keesokan paginya.
Randy yang sudah sampai di depan pintu apartemen Devano, ia memutuskan masuk ke dalam apartemen Devano. Karena dari tadi, Randy mengetuk pintu apartemen Devano, tapi tidak ada orang yang membukakan pintu untuknya.
"Astaghfirullah ... ini apartemen bos Devano kenapa berantakan seperti ini? Apa yang terjadi semalam di apartemen ini? Sebaiknya, aku mengecek keadaan bos Devano." Randy yang kaget melihat keadaan apartemen Devano yang berantakan, ia pun segera masuk ke dalam kamar Devano. Untuk mengecek keadaan Devano.
Randy segera membuka pintu kamar Devano yang tidak di kunci, ia menghembuskan nafas lega. Ketika ia mengecek keadaan Devano, yang tidak memiliki luka di tubuhnya. Saat Devano masih tidur nyenyak di tempat tidurnya.
"Syukurlah, tidak terjadi sesuatu yang membuat bos Devano terluka," lirih Randy yang melihat Devano masih terlelap di tempat tidur, ia pun memutuskan membangunkan Devano.
"Bos, bangun bos."
"Iya," sahut Devano yang segera bangun dari tempat tidurnya.
"Kamu, ada apa pagi-pagi begini datang ke apartemenku?" sambung Devano yang bertanya pada Randy, yang datang ke apartemennya.
"Aku ingin memastikan keadaan bos, sebelum aku pergi ke kantor. Karena semalam itu, bos Devano habis memutuskan Naumi. Jadi aku ke sini ..."
"Kamu jangan mengatakan nama wanita itu, di depanku lagi!" sahut Devano yang tidak mau mendengar nama Naumi. Karena itu semuanya, membuat Devano teringat dengan kejadian semalam. Di sebuah Club Malam, tempat Naumi mengadakan acara pesta bersama teman-temannya. Karena di tempat itu, ia akhirnya mengetahui kelakuan Naumi di belakangnya.
"Apakah kamu sudah melihat Meyra keluar dari kamarnya?" sambung Devano yang bertanya pada Randy.
"Saya tidak melihat Meyra, Bos. Yang saya lihat, cuman seisi apartemen bos yang sangat berantakan sekali. Makanya tadi itu, saya langsung masuk ke dalam kamar bos. Saya khawatir dengan keadaan bos," jawab Randy berterus terang.
"Biasanya, jam segini apartemenku sudah rapih dan bersih. Karena Meyra selalu membersihkannya. Apa jangan-jangan! Meyra semalam tidak pulang ke apartemen?" ucap Devano pelan.
"Apa! Meyra tidak pulang ke apartemen?" Randy kaget mendengar ucapan Devano barusan.
"Iya, Randy. Meyra kemarin siang itu, dia berpamitan pergi kepadaku. Saat ia dan Naumi sudah selesai berbicara empat mata di dalam apartemen. Tapi ... saat aku pulang semalam, aku juga tidak melihat Meyra pulang ke apartemen sampai sekarang ini," tutur Devano menceritakan sedikit kejadian kemarin.
"Kamu harus membantuku mencari keberadaan Meyra, dan kamu harus merahasiakan hal ini pada kedua orang tuaku. Jangan sampai kedua orang tuaku mengetahui hal ini," sambung Devano yang meminta bantuan kepada Randy, dan ia juga menyuruh Randy merahasiakan tentang Meyra yang tidak pulang ke apartemennya.
"Iya bos, aku pasti akan membantu bos mencari Meyra," sahutnya.
"Kita harus mencari Meyra sampai ketemu, dan sebaiknya hari ini kamu ijin tidak masuk kerja di kantor dulu. Kita pergi mencari Meyra, aku mau membersihkan diriku terlebih dahulu," ujar Devano yang menyuruh Randy tidak bekerja di kantor, dan ia pamit pergi ke kamar mandi. Sebelum ia dan Randy pergi mencari keberadaan Meyra.
Beberapa menit kemudian.
"Ayo, kita pergi sekarang!" ajak Devano pada Randy.
"Iya bos, kira-kira kita mau pergi ke mana dulu?" tanya Randy.
"Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, kita harus segera menemukan keberadaan Meyra," jawabnya.
"Bagaimana? Kalau kita pergi ke Garden Cafe Gemilang. Pasti di sana ada teman-temannya Meyra, yang mungkin saja mengetahui keberadaannya," ujar Randy yang memberi usul pada Devano.
"Aku setuju, ayo kita segera pergi ke sana." Devano langsung mengajak Randy pergi dari apartemennya.
"Tapi .... bos, jam segini kafe belum buka." Randy mencegah ajakan Devano, yang mengajaknya pergi ke Garden Cafe Gemilang.
"Huuuh," gerutu Devano yang kesal. Karena ia belum bisa pergi ke Garden Cafe Gemilang, sebab kafe nya belum buka.
"Sebaiknya, kita pergi dari sini. Aku tidak mau sampai kedua orang tuaku datang ke sini, dalam keadaan Meyra belum pulang ke apartemen," lanjut Devano yang mengajak Randy pergi meninggalkan apartemennya.
Randy mengagukkan kepalanya, dan ia segera mengikuti langkah kaki Devano yang akan keluar dari apartemen.
___________
Saat Garden Cafe Gemilang sudah di buka. Devano dan Randy segera datang menghampiri para pelayan kafe, yang mengenal Meyra. Karena Randy mengingat wajah beberapa pelayan kafe, yang datang ke acara pernikahan Meyra dan Devano.
"Apakah, Mbak kemarin bertemu dengan Meyra?" tanya Randy pada pelayan kafe yang bernama Saskia.
"Tidak, bukannya lelaki itu suaminya Meyra." Saskia menjawab pertanyaan Randy, sambil menunjuk ke arah Devano yang sedang duduk menunggu informasi dari Randy.
"Iya benar itu suaminya. Mbak punya nomor telepon Meyra tidak?" tanyanya lagi.
"Ya tentu saja, punya. Memangnya, suami Meyra tidak punya nomor teleponnya?" Saskia mempertanyakan, pertanyaan Randy yang meminta nomor telepon Meyra. Karena ia merasa heran dengan pertanyaan Randy.
"Aduh, aku harus menjawab apa?" batin Randy yang bingung menjawab pertanyaan Saskia.
"Devano, kok kamu ada di sini?" tanya Amelia yang baru saja datang ke Garden Cafe Gemilang, dan ia melihat Devano yang duduk di kafe.
"Kamu mengenalku?" Devano yang tidak mengingat raut wajah Amelia, ia tidak menjawab pertanyaan Amelia. Tapi malah bertanya balik pada Amelia, yang datang menghampirinya.
"Sepertinya. Devano benar-benar tidak mengingatku," batin Amelia. Sebelum menjawab pertanyaan dari Devano, yang tidak mengingatnya.
"Perkenalkan, namaku Amelia temannya Meyra." Amelia mengulurkan tangannya ke arah Devano.
Devano pun menerima uluran tangan dari Amelia. Randy yang melihat itu, ia segera pergi menghampiri Devano dan Amelia. Dan tidak jadi meminta nomor telepon Meyra kepada Saskia
"Mbak, apakah kemarin itu. Mbak bertemu dengan Meyra?" Randy langsung bertanya pada Amelia, yang datang menghampiri Devano.
"Iya. Kemarin itu, aku dan Meyra memang bertemu. Karena aku mau memberikan hadiah pernikahan untuknya, sebab aku tidak bisa datang ke acara pernikahannya," jawab Amelia.
"Apakah kamu mengetahui kepergian Meyra? Karena dari kemarin, sampai sekarang Meyra belum pulang?" tanya Devano pada Amelia, ia berharap sekali. Kalau Amelia mengetahui kepergian Meyra.
"Apa! Meyra dari kemarin belum pulang?" Amelia kaget mendengar pertanyaan Devano, yang menanyakan tentang kepergian Meyra kepadanya.
"Iya, Apakah, setelah Meyra bertemu denganmu? Dia pamit pergi ke mana?" tanya Devano lagi.