
"Yang kamu katakan benar, dan aku setuju dengan itu," ucap Meyra yang menanggapi ucapan Devano, yang ingin memulai hubungan yang baik dengannya.
"Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur. Kamu mau tidur di kamarku, apa di kamarmu?" tanya Devano.
"Kita tidur di kamar masing-masing saja," jawabnya.
"Baru saja kamu bilang setuju dengan ajakanku, yang mau memulai hubungan ini dengan baik. Tapi kenapa malah memilih tidur di kamar masing-masing?" tanya Devano sambil menggelengkan kepalanya.
"Kita mulai hubungan ini dengan berteman baik, seperti ajakanku saat kita resmi menikah. Tapi untuk tidur satu kamar lagi, maaf aku tidak mau," sahut Meyra yang menolak tidur satu kamar dengan Devano.
"Ya sudahlah, terserah kamu saja." Devano segera bangun dari tempat duduknya, dan pergi meninggalkan Meyra yang masih duduk di ruang televisi.
"Maaf Devano, bukannya aku tidak mau tidur satu kamar denganmu. Aku hanya ingin, di saat kita tidur satu kamar lagi. Kamu dan aku sudah saling jatuh cinta," lirih Meyra. Ketika Devano sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Semoga kamu bisa membuat Bunda dan Papamu saling jatuh cinta," sambung Meyra sambil mengusap perutnya, yang belum terlihat membesar seperti orang hamil. Setelah mengatakan itu, Meyra pun memutuskan masuk ke dalam kamarnya.
___________
Sementara itu.
Di dalam kamar Devano.
Devano masih sulit untuk memejamkan matanya. Karena di dalam pikirannya, ia masih tidak menyangka dengan apa yang ia perbuat kepada Meyra. Sehingga membuat Meyra hamil.
"Apakah dengan satu kali berhubungan di malam itu, bisa membuat Meyra bisa cepat hamil?" lirih Devano yang bertanya pada dirinya sendiri. Karena ia belum yakin dengan hasil perbuatannya, yang membuat Meyra bisa cepat hamil.
"Sebaiknya aku browsing di internet tentang masalah itu, dan kondisi wanita hamil," sambung Devano yang segera membuka Mbah Google. Agar ia bisa mengetahui tentang semua yang ingin ia ketahui.
"Aaah, aku tidak mengerti dengan semua ini. Lebih baik aku browsing tentang kondisi wanita hamil saja," ucap Devano yang tidak mengerti dengan hasil browsing di internet, tentang melakukan hubungan suami istri yang cepat hamil.
Devano yang sudah menemukan gejala wanita hamil, yang ia baca di Mbah Google. Ia mulai teringat dengan kejadian, di saat Meyra mual dan mau muntah di dalam mobilnya.
"Pantas saja, saat itu Meyra mual dan mau muntah di dalam mobilku. Apa jangan-jangan! Waktu itu Meyra sudah hamil? Dan kemarin malam juga dia pun seperti itu. Jadi itu berarti...! Tandanya Meyra itu beneran hamil anakku?" lirih Devano yang mengingat semua kejadian, di saat kondisi Meyra sedang Morning Sickness.
"Apakah Meyra itu beneran hamil anakku?" Devano bermonolog pada dirinya sendiri. Karena ia tidak mengerti dengan kondisi Meyra, yang begitu cepat hamil. Meski ia dan Meyra melakukan itu cuman sekali, dan kejadiannya sudah dua bulan yang lalu.
"Sebaiknya, besok pagi aku akan menanyakan tentang ini semua pada Meyra. Dan untuk memastikan lebih akurat lagi, aku akan mengajak Meyra pergi ke dokter," sambungnya. Sebelum ia tidur.
________
Keesokan paginya.
"Mey, ada yang mau aku bicarakan lagi denganmu," ucap Devano. Ketika ia dan Meyra sudah selesai sarapan pagi bersama.
"Silahkan saja," balasnya.
"Kamu pikir aku ini wanita panggilan, yang mau melayani orang yang tidak aku kenal dan tidak aku cintai. Aku benar-benar menyesal, mengantar kamu pulang ke apartemen ini dua bulan yang lalu. Sehingga kamu menuduhku seperti itu," geram Meyra dengan pertanyaan Devano.
"Baru saja semalam ingin memulai hubungan ini dengan baik, tapi pertanyaanmu barusan membuatku sakit hati," sambung Meyra yang kecewa dengan sikap Devano, yang meragukan dirinya yang sedang hamil anak Devano.
"Maaf Mey, sebelum aku bertanya tentang itu. Aku meminta maaf terlebih dahulu, maafkan aku Mey." Devano berusaha meminta maaf kepada Meyra, dan ia menyesali pertanyaannya yang membuat Meyra sakit hati.
Meyra memutar bola matanya, mendengar ucapan Devano yang berusaha meminta maaf kepadanya.
"Mengucapkan kata maaf dan memaafkan itu mudah diucapkannya. Tapi ucapanmu yang meragukan ku, itu semua akan teringat dalam ..."
"Meyra, aku hanya ingin memastikan saja. Jadi tolong maafkan ucapanku barusan, yang membuatmu sakit hati." Devano segera menyela ucapan Meyra yang belum selesai berbicara, ia terus berusaha membuat Meyra memaafkannya.
Meyra menarik nafas, dan membuangnya secara pelan-pelan. Sebelum ia menimpali ucapan Devano, yang terus meminta maaf kepadanya.
"Aku akan berusaha memaafkanmu. Apakah ada pertanyaan lain lagi? Yang ingin kamu tanyakan kepadaku?"
"Iya, masih ada yang ingin aku tanyakan padamu. Apakah kamu sudah pernah mengecek kandunganmu ke dokter?" tanya Devano.
"Aku belum pernah sama sekali mengecek kandunganku ke dokter apalagi ke bidan, aku menutupi kehamilan ini dari keluargaku. Karena aku tidak mau sampai Bibi dan Paman mengetahui kondisiku, yang hamil di luar nikah," jawab Meyra berterus terang.
"Kalau kamu belum pernah mengecek kandunganmu ke dokter atau bidan, dari mana kamu bisa tahu! Kalau sekarang ini kamu sedang hamil?" tanyanya lagi.
"Aku menggunakan testpack milik Mbak Dewi putri sulung Paman dan Bibiku, yang saat itu tertinggal di dalam kamar mandi. Dan hasil testpack itu sama persis dengan milik Mbak Dewi, yaitu muncul dua garis. Apalagi saat itu, aku sudah dua bulan tidak datang bulan." Meyra pun menjelaskan kejadian, di saat ia menggunakan testpack milik Dewi. Untuk mengetahui kondisinya, yang sedang hamil.
"Untuk memastikan kebenarannya, hari ini aku mau mengajak kamu pergi ke dokter. Agar aku bisa yakin dengan kondisimu, yang sedang hamil," ujar Devano yang mau mengajak Meyra pergi ke rumah sakit. Untuk mengecek kandungannya ke dokter.
"Baiklah, aku sama sekali tidak keberatan. Karena aku juga ingin memastikan kebenarannya. Apakah gejala yang sering aku rasakan itu adalah kondisi wanita hamil?" sahutnya sambil bangun dari tempat duduknya. Karena ia mau membersihkan piring dan gelas yang kotor, sebelum ia dan Devano pergi ke rumah sakit.
"Kamu tidak perlu membersihkan itu, ada orang yang biasa membersihkan apartemenku. Jadi lebih baik sekarang ini, kita segera pergi ke rumah sakit." Devano melarang Meyra yang akan mencuci piring dan gelas yang kotor.
"Ini cuman sedikit Devano, aku mau mencuci piring dulu. Setelah selesai semuanya, barulah kita pergi ke rumah sakit," timpal Meyra yang bersikeras ingin tetap mencuci piring terlebih dahulu.
"Terserah kamu sajalah," ujar Devano.
Meyra pun segera membersihkan piring dan gelas yang kotor, dan beberapa menit kemudian. Meyra sudah selesai mencuci piringnya, dan ia segera menghampiri Devano yang menunggunya di ruang televisi.
"Yuk kita pergi sekarang," ajak Meyra pada Devano.
"Iya," balas Devano singkat.
Devano dan Meyra pun segera pergi meninggalkan apartemen, dan pergi menuju mobil Devano yang terparkir di gedung apartemen. Karena mereka berdua akan pergi ke rumah sakit, untuk mengecek kandungan Meyra.