Unloved Wife

Unloved Wife
Bab 40 Keputusan Meyra.



POV Meyra.


Aku memutuskan pergi meninggalkan apartemen, tanpa berpamitan dengan Devano. Karena untuk sekarang ini, aku tidak ingin bertemu dengannya yang membuat aku jadi sedih seperti ini.


Entah mengapa? Aku jadi merasa sedih seperti ini. Ketika aku mendengar ucapan Devano yang akan menjadikan Naumi istri keduanya, dan hanya Naumi wanita yang ia cintai.


Baru saja aku akan berusaha membuat Devano mencintaiku. Tapi mendengar ucapannya itu, aku mengurungkan niatku.


Aku tidak mau membuat Devano dan Naumi yang saling mencintai, harus mengakhiri hubungan di antara mereka berdua gara-gara kehadiranku. Lebih baik, aku yang mengalah dan pergi meninggalkannya.


Karena aku tahu rasanya, jika tidak bisa hidup bersama dengan orang yang kita cintai. Seperti perasaan cintaku kepada pak Ronald, yang tidak bisa bersatu. Karena aku telah menikah dengan Devano, dan kini aku sedang mengandung anaknya Devano. Tapi nyatanya, hubunganku dengan Devano pun akan berakhir.


Dan alasan lain yang membuatku, memilih mengakhiri pernikahanku dengan Devano. Sebab aku tidak mau di madu. Mendengar Devano akan menikah dengan Naumi saja, sudah membuatku sedih. Apalagi aku sudah tahu. Kalau perasaan cinta Devano hanya untuk Naumi saja.


Aku yang tidak tahu dengan arah tujuanku, yang akan pergi ke mana? Aku pun memutuskan berjalan kaki, pergi meninggalkan apartemen Devano.


Karena tidak mungkin, aku pergi ke rumah Amelia yang baru saja aku temui. Apalagi, jika Amelia mengetahui tujuan kepergian ku, yang memilih untuk berpisah dengan Devano.


Pergi ke rumah Mama Belinda dan Papa Rajendra, itu sudah pasti tidak mungkin. Aku hanya mengikuti langkah kakiku ini, yang akan membawaku pergi menjauh dari apartemen Devano.


Akan tetapi, saat aku sudah jauh dari apartemen Devano. Aku bertemu dengan seorang ibu penjual kerupuk, yang sedang berjualan sambil duduk di atas tikar. Ibu itu mengingatkan aku dengan almarhum ibuku. Karena ibu itu, raut wajahnya sedikit mirip dengan almarhum ibuku.


"Ibu, Bapak. Aku merindukan kalian berdua," batinku yang merindukan kedua orang tuaku. Sebelum aku memutuskan pergi, menghampiri ibu penjual kerupuk.


"Bu, aku mau beli kerupuknya. Ini uangnya," ucapku sambil memberikan sejumlah uang pada ibu penjual kerupuk.


"Iya Neng," balasnya sambil tersenyum senang, dan ia segera memasukkan kerupuk itu ke dalam plastik. Sebelum memberikannya kepadaku.


"Ini Neng kerupuknya."


"Iya Bu, bolehkah aku beristirahat di sini sebentar?" tanyaku sambil mengambil kerupuk itu.


"Tentu saja boleh, Neng. Silahkan duduk," jawabnya.


Aku pun segera duduk di dekat ibu Farida sambil memakan kerupuknya, dan terlibat obrolan ringan dengan ibu Farida penjual kerupuk. Hingga pada akhirnya, ibu Farida berpamitan pergi meninggalkanku di tempat jualannya.


"Neng ibu pamit pulang duluan, ini sudah sore."


"Iya Bu. Kalau begitu, aku juga pergi," ujarku yang segera bangun dari tempat duduk, dan pergi dari tempat itu.


"Ke mana aku harus pergi?" lirihku yang bingung dengan tujuanku, yang tidak tahu mau pergi ke mana.


Aku yang kembali berjalan kaki tanpa arah tujuan, mendengar suara adzan magrib yang berkumandang. Aku pun segera pergi ke masjid, untuk menjalankan shalat magrib di dalam masjid.


Aku yang sudah selesai menjalankan shalat magrib. Tiba-tiba saja, ada orang yang menepuk pundak ku dari belakang. Aku pun segera menengok ke belakang.


"Neng Meyra, ternyata beneran ini Neng Meyra," ucap ibu Farida, yang ternyata ada di dalam masjid ini juga.


"Iya Bu," sahutku sambil tersenyum dan segera mencium punggung tangannya.


"Ibu kira, Neng Meyra akan langsung pulang ke rumah. Gak taunya, ketemu di masjid ini."


"Iya Bu, aku mampir sholat magrib dulu di sini."


"Oh begitu, mau mampir ke rumah ibu dulu tidak Neng? Rumah ibu tidak jauh dari sini,"


"Boleh Bu," aku menerima ajakan ibu Farida, yang mengajakku pergi ke rumahnya.


"Ya sudah, ayo kita pergi ke rumah ibu."


"Iya Bu,"


Aku yang memutuskan menerima ajakan dari Bu Farida, segera pergi dari masjid. Untuk pergi ke rumah ibu Farida, yang jaraknya tidak jauh dari masjid. Aku di rumah ibu Farida, hanya sampai adzan isya. Dan langsung berpamitan pulang pada ibu Farida dan anak-anaknya.


Udara malam yang dingin, membuatku memutuskan pergi dengan menggunakan taksi online. Untuk mencari tempat penginapan.


Akan tetapi, saat aku akan masuk ke dalam mobil taksi online yang sudah aku pesan. Aku melihat mobil Devano, yang melaju sangat kencang.


"Pak, tolong ikuti mobil yang baru saja lewat." aku menyuruh supir taksi online. Untuk mengikuti mobil Devano, yang sudah berjalan lebih dulu.


"Iya Mbak," balasnya yang segera mengikuti perintahku.


Aku bingung dengan perasaanku ini, entah mengapa hati kecilku ingin pergi mengikuti mobil Devano.


"Ini bukannya sebuah Club Malam? Mau apa Devano datang ke sini?" gumamku dalam hati, yang melihat mobil Devano berhenti di sebuah Club Malam.


Aku yang penasaran, segera mengikuti Devano tanpa sepengetahuannya. Aku juga mendengar semua pembicaraan Devano, yang memutuskan Naumi yang tidak tulus mencintainya.


"Pantas saja. Naumi menyuruhku untuk menggugat cerai Devano, ternyata seperti ini kelakuannya," batinku yang mencibir sikap Naumi, yang sudah di ketahui oleh Devano dan teman-temannya.


Saat Devano dan Randy pergi dari acara pesta yang di adakan Naumi, aku memutuskan pergi menghampiri Naumi yang sudah selesai berbicara dengan Vivian temannya.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Naumi yang mengetahui kehadiranku, yang datang menghampirinya.


"Aku cuman, mau mengucapkan prihatin sama kamu. Karena malam ini, kamu dan Devano sudah putus. Padahal, tadi siang aku ingin membuktikan kepadamu. Tentang Devano yang akan memilih wanita yang dia cintai, atau istri yang tidak di cintai. Tapi nyatanya, malam ini aku sudah mengetahui jawabanku tadi siang." aku menjawab pertanyaan dari Naumi sambil menyunggingkan senyuman mengejek. Karena ucapan Naumi, yang akan menikah dengan Devano tidak jadi.


"Kamu jangan merasa menang dan senang dulu, aku akan membuat kamu merasakan apa yang aku rasakan malam ini." Naumi memberikan ancaman kepadaku.


"Di sini, aku tidak merasa senang dan menang. Tapi mungkin saja, ini semua terjadi. Karena aku dan Devano itu memang berjodoh, dan kamu cuman di tugaskan menjaga jodohku," timpalku yang sengaja memanasi perasaan Naumi, yang bersedih di putuskan oleh Devano.


"Jika aku tidak bisa memiliki Devano, kamu juga tidak akan bisa," geram Naumi yang datang menghampiriku.


Bruk.


Naumi mendorong tubuhku, hingga aku jatuh ke bawah lantai. Aku yang tidak terima, dengan perlakuan Naumi segera bangun dan berusaha melawan Naumi.


"Aaawww," jeritku yang merasa kram di bagian perutku. Ketika aku akan bangun, untuk memberi pelajaran pada Naumi.


"Hahaha, rasain tuh." Naumi tertawa bahagia melihat aku meringis kesakitan di bagian perutku, yang tiba-tiba saja merasa kram.


"Kalian semua, jangan ada yang menolong dia. Ayo Vi, kita pergi dari sini," sambung Naumi yang mengancam pelayan yang bekerja di Club Malam, dan mengajak pergi Vivian dari tempat ini.


"Iya," balasnya singkat.


"To____tolong," lirihku yang meminta tolong, berharap salah satu dari pelayan itu ada yang mau membantuku.


"Ayo Mbak, kita pergi dari sini," ucap salah satu pelayan, yang datang menghampiriku. Ketika Naumi dan Vivian sudah pergi jauh dari tempat ini.


"Te____terima kasih," sahutku.


"Sama-sama," balasnya.


Pelayan itupun, membawaku pergi ke rumah sakit. Dan sesampainya di rumah sakit, dokter menyarankan ku. Untuk di rawat, karena ada sedikit darah yang keluar di bagian bawah perutku. Apalagi kondisiku tengah hamil muda, aku hanya berharap. Semoga bayi yang ada di dalam perutku, tidak kenapa-kenapa.