
"Naumi ..." lirih Devano yang kaget melihat Naumi berada di depan pintu apartemennya.
"Devano ... " ucap Naumi sambil berlari kecil menghampiri Devano yang sedang bersama Meyra.
"Aku kangen sama kamu," sambung Naumi yang langsung memeluk Devano. Ketika ia sudah berada di dekatnya.
Devano hanya berdiam diri, dan tidak membalas pelukan dari Naumi. Ia pun tidak menimpali ucapan Naumi yang merindukan dirinya.
"Kenapa kamu diam saja? Apakah kamu tidak merindukanku?" tanya Naumi sambil melepaskan pelukannya, yang memeluk Devano.
"A__ku ... tentu saja, merindukanmu." Devano menjawab pertanyaan Naumi dengan gugup. Karena baru saja, ia akan memulai hubungan baru dengan Meyra, yang tengah mengandung anaknya. Tapi Naumi hadir dalam kehidupannya lagi.
"Wanita yang bersamamu siapa?" tanya Naumi lagi. Sebab Naumi tidak mengenal Meyra, wanita yang berada di samping Devano.
"Aku belum siap memberitahukan yang sebenarnya pada Naumi," batin Devano yang bingung menjawab pertanyaan Naumi.
"Kenapa kamu diam saja, Van. Siapa wanita itu?" Naumi kembali bertanya pada Devano, sambil menunjuk ke arah Meyra yang berada di samping Devano.
"Perkenalkan, nama saya Meyra," ucap Meyra yang memperkenalkan dirinya pada Naumi, sambil mengulurkan tangannya ke arah Naumi.
"Meyra, sebaiknya kamu cepat masuk ke dalam apartemen. Aku mau berbicara dengan Naumi." Devano menyuruh Meyra, untuk segera masuk ke dalam apartemen.
"Iya," balas Meyra yang menuruti perintah Devano, yang menyuruhnya masuk ke dalam apartemen.
"Siapa wanita itu?" gumam Meyra yang belum sempat berkenalan dengan Naumi Clarissa kekasihnya Devano. Karena Devano langsung menarik tangan Naumi, dan pergi meninggalkan Meyra di depan pintu apartemen.
_________
Di luar gedung apartemen.
"Siapa wanita itu?" tanya Naumi sambil melepaskan tangannya, yang di pegang oleh Devano.
"Nanti akan aku jelaskan semuanya, Mi. Ayo kita pergi dari sini," jawab Devano yang mengajak Naumi pergi menuju mobilnya.
"Jawab dulu pertanyaanku! Apa susahnya sih?" ucap Naumi yang menolak ajakan Devano, yang mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Wanita yang bersamaku adalah Meyra, dia istriku ..."
Degh!
"Apa ...! Wanita itu adalah istrimu, terus kamu anggap aku ini apa?" Naumi langsung memotong ucapan Devano yang belum selesai berbicara. Karena ia tidak terima mendengar ucapan Devano, yang sudah memiliki istri. Di saat ia pergi mengejar karirnya sebagai model di negara Prancis.
"Mana janjimu dulu, yang akan setia menunggu kepulanganku. Belum sempat aku meninggalkanmu sampai enam bulan, tapi kamu sudah mempunyai istri," sambung Naumi yang melampiaskan kekesalannya pada Devano, ia pun memukul bagian tubuh Devano dengan tangannya.
"Dengarkan aku dulu, Mi." Devano memegang kedua tangan Naumi, yang terus memukulnya.
"Maafkan aku, Mi. Kita bicarakan ini di dalam mobilku, tidak enak di lihat dan di dengar oleh orang lain." Devano menghapus air mata Naumi, dan mengajaknya pergi ke arah mobilnya. Karena ia melihat orang-orang tengah memperhatikan dirinya dan Naumi, yang sedang bertengkar di depan gedung apartemen.
Naumi mengagukkan kepalanya, dan ia mengikuti Devano yang menuju ke arah mobilnya. Devano pun membukakan pintu mobil untuk Naumi terlebih dahulu, sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.
"Sepertinya ... aku harus mengatakan yang sebenarnya terjadi pada Naumi. Semoga saja Naumi bisa memaafkanku, yang tidak bisa menepati janjiku padanya," batin Devano. Sebelum ia masuk ke dalam mobilnya. Untuk membicarakan semuanya pada Naumi.
Devano yang sudah masuk ke dalam mobil, ia menghela nafas panjang dan membuangnya secara kasar. Sebelum menceritakan semuanya pada Naumi.
"Aku dan Meyra itu di jodohkan ..."
"Kamu itu lelaki, Devano. Kamu bisa menolak perjodohan itu pada kedua orang tuamu, jika kamu memang benar mencintaiku." Naumi memotong ucapan Devano, yang ingin memberitahukan yang sebenarnya terjadi padanya.
"Tolong dengarkan aku dulu, Mi. Jangan di potong dulu," pinta Devano.
"Ya sudah, cepat katakan yang sebenarnya terjadi. Jangan ada yang tidak kamu ceritakan padaku," sahut Naumi.
"Iya, Mi. Aku akan mengatakan yang sebenarnya," timpal Devano sambil memegang tangan Naumi yang duduk di sampingnya.
"Aku sudah berusaha menolak perjodohan itu, tapi kedua orang tuaku mengatakan. Jika aku menolak perjodohan itu. Maka seluruh harta warisan miliki kedua orang tuaku akan menjadi milik Meyra, dan aku tidak rela. Jika sampai harta warisan kedua orang tuaku jatuh kepadanya, jadi aku ini terpaksa menikah dengan Meyra. Karena wanita yang aku cintai hanya kamu, Mi. Tapi ..."
Devano menghentikan sejenak ucapannya. Sebelum melanjutkan kembali, apa yang ingin ia katakan pada Naumi.
"Sebuah kejadian, membuat aku harus menentukan pilihan hidupku. Untuk melanjutkan pernikahanku dengan Meyra, dan aku minta maaf tidak bisa menepati janjiku padamu." Devano menjelaskan yang sebenarnya pada Naumi, dan ia juga meminta maaf kepada Naumi.
"Apakah kejadian yang kamu maksud itu, kamu dan dia sudah melakukan hubungan ..."
"Yah, aku sudah melakukan hal itu dengannya. Sebelum aku dan dia menikah, itu semuanya terjadi gara-gara Naufal dan teman-teman yang lainnya, yang memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku. Sehingga terjadilah kejadian seperti itu dengan dia, sampai dia hamil anakku." Devano segera menyela pertanyaan Naumi, dan menceritakan sedikit kejadian dua bulan yang lalu pada Naumi.
"Apa! Wanita itu hamil anakmu?" tanya Naumi yang menatap tajam ke arah Devano, dan ia ingin memastikan kebenarannya.
"Iya benar, Mi. Aku dan dia baru saja pulang dari rumah sakit, untuk mengecek kandungannya," jawab Devano berterus terang pada Naumi. Karena ia sudah memiliki ikatan dengan Meyra, dan ia tidak bisa menceraikan Meyra begitu saja.
"Maafkan aku, yang tidak bisa menepati janjiku padamu. Karena sekarang ini aku sudah menikah, dan sebentar lagi akan mempunyai anak. Semoga kamu bisa mengerti dengan keadaanku ini, maafkan aku. Mi," sambung Devano yang berusaha meminta maaf kepada Naumi.
"Aku akan memaafkan kamu. Asalkan kamu menepati janjimu, yang akan menikahiku. Aku tidak perduli sama sekali, jika harus menjadi istri kedua. Karena aku sudah tahu, yang kamu cintai cuman aku. Jadi ... aku akan tetap menagih janjimu, yang mau menikahiku," ujar Naumi yang tetap dengan pendiriannya, yang ingin Devano menikahinya.
"Aku akan memikirkan itu terlebih dahulu," balas Devano yang tidak bisa memutuskan permintaan Naumi dengan cepat.
"Kenapa kamu jadi ragu seperti ini? Apa jangan-jangan! Kamu sudah jatuh cinta pada wanita itu?" tanya Naumi yang menuduh Devano, yang sudah jatuh cinta pada Meyra.
"Wanita yang aku cintai cuman kamu, Mi. Hanya saja, aku ..."
"Ijinkan aku berbicara dengan istrimu secara empat mata," pinta Naumi yang menyela ucapan Devano. Karena ia ingin berbicara dengan Meyra, yang sekarang ini berada di dalam apartemen.