Unloved Wife

Unloved Wife
Bab 12 Penyelidikan



"Randy kenapa kamu berdiam diri di dekat dengan dia?" ucap Devano yang melihat Randy berdekatan dengan Meyra. Saat ia dan Dina baru selesai melakukan fitting baju pengantin.


"Cie... ternyata bos Devano cemburu," sahut Randy sambil tersenyum.


"Wajar dong. Kalau Devano cemburu melihat kamu berdekatan dengan calon istrinya. Iyakan, Van?" timpal Dina yang ikut menggoda Devano.


"Ayo kita pergi ke kantor sekarang!" ajak Devano pada Randy, yang mengalihkan pertanyaan Dina. Karena ia malas menimpali ucapannya Dina, jadi ia memilih pergi meninggalkan Meyra di butik Ladyna Wedding organizer.


"Memangnya bos sudah selesai, melakukan fitting baju pengantinnya?" tanya Randy.


"Iya sudah, ayo cepat kita pergi dari sini," jawabnya.


"Kamu mau kemana sih, Van? Buru-buru banget," tanya Dina. Saat Devano dan Randy akan pergi meninggalkan butik Ladyna Wedding organizer.


"Devano banyak pekerjaan di kantor, Tan. Jadi Devano dan Randy harus pergi sekarang," sahutnya.


"Emangnya kamu tidak mau melihat gaun pengantin yang akan di pakai oleh calon istrimu?" tanya Dina lagi.


"Tidak Tan, toh dua hari lagi juga Devano akan melihat dia memakai gaun pengantin pilihannya," jawab Devano yang tidak mau melihat Meyra menggunakan gaun pengantin.


"Oh iya, yah. Dua hari lagi kamu dan Meyra akan melangsungkan pernikahan," timpal Dina sambil tersenyum senang. Karena Devano dan Meyra akan menikah dua hari lagi.


Degh!


Meyra yang mendengar itu semua, ia benar-benar kaget dan tidak mengetahui tentang pernikahannya, yang akan di adakan dua hari lagi.


"Kenapa Paman dan Bibi tidak memberitahukan tentang masalah pernikahan kepadaku? Pantas saja tadi Mama Belinda dan Papa Rajendra mengijinkanku pergi ke Garden cafe gemilang. Karena setelah pergi dari kafe, Mama Belinda dan Papa Rajendra menyuruhku pergi ke butik Tante Dina. Untuk melakukan fitting baju pengantin, sebab dua hari lagi aku akan menikah dengan Devano," batin Meyra yang berdecak kesal. Karena tidak ada yang memberitahukan kepadanya, tentang hari pernikahan Meyra dan Devano yang akan di adakan dua hari lagi.


"Aku dan Randy pamit dulu, Tan." Devano berpamitan pergi kepada Dina. Sebelum ia pergi meninggalkan butik Ladyna Wedding organizer.


"Terus calon istri kamu nanti pulangnya sama siapa? Kalau kamu pulang duluan?" tanya Dina lagi.


"Dia datang ke sini sama pak Agus, Tan. Devano pamit," jawab Devano yang segera pergi meninggalkan Meyra di butik Ladyna Wedding organizer.


Dina yang melihat kelakuan keponakannya, hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Kamu sudah menemukan gaun pengantin yang kamu sukai?" tanya Dina pada Meyra.


"Sudah Tan," sahutnya.


"Kalau begitu, kita fitting dulu." Dina mengajak Meyra. Untuk melakukan fitting baju pengantin.


Dan setelah selesai melakukan fitting baju pengantin. Meyra segera pergi meninggalkan butik Ladyna Wedding organizer, dan pulang ke rumah Belinda bersama pak Agus.


Sesampainya di rumah Belinda.


Meyra segera masuk ke dalam rumah, dan pergi menemui Ijat dan Leni yang berada di dalam kamarnya.


Tok-tok.


Meyra mengetuk pintu kamar Paman dan bibinya, dan tidak lama kemudian. Leni membukakan pintu kamarnya.


"Kamu sudah selesai melakukan fitting baju pengantinnya, Mey?" tanya Leni yang melihat Meyra di depan pintu kamarnya.


"Kita bicaranya di dalam kamar saja," ajak Leni sambil menarik tangannya Meyra. Agar Meyra masuk ke dalam kamarnya.


"Jawab pertanyaanku, Bi?" tanya Meyra lagi. Saat ia sudah berada di dalam kamar, dan ia tidak melihat keberadaan Ijat pamannya.


"Bibi tidak bisa lama-lama tinggal di sini, Mey. Karena ada ketiga anak Bibi di kampung, yang sedang menunggu kepulangan Bibi dan Paman. Maka dari itu, Bibi dan Paman meminta pada Belinda dan Rajendra. Agar mempercepat pernikahan kamu dengan Devano," jawabnya.


"Tapi Bibi dan Paman. Seharusnya memberitahukan kepadaku terlebih dahulu, bukan seperti ini." Meyra sangat kecewa dengan apa yang di lakukan oleh Leni dan Ijat, yang bertindak semaunya atas pernikahan yang akan ia jalani.


"Maafkan Paman dan Bibi, Mey." Leni yang merasa bersalah pada Meyra, ia langsung meminta maaf sambil memeluk Meyra.


Saat Leni dan Meyra sedang berpelukan. Ijat yang masuk ke dalam kamarnya, segera pergi menghampiri istri dan keponakannya yang sedang berpelukan.


"Kamu kenapa?" tanya Ijat pada istri dan keponakannya, yang berpelukan sambil menangis.


Leni tidak menjawab pertanyaan dari suaminya, yang masuk ke dalam kamar. Akan tetapi, Meyra bangun dari tempat duduknya dan pergi menghampiri pamannya yang baru masuk ke dalam kamar.


"Aku mau Paman dan Bibi menjawab pertanyaanku!" Meyra menghentikan ucapannya sejenak, dan menatap ke arah Leni dan Ijat dengan secara bergantian.


"Tadi, sebelum aku pamit pergi ke Garden cafe gemilang. Aku mendengar pembicaraan antara Paman dan Bibi, yang meminta pertanggung jawaban pada Mama Belinda dan Papa Rajendra, itu maksudnya apa?" Sambung Meyra, yang menanyakan tentang maksud pembicaraan antara Paman dan bibinya.


Karena saat Meyra memberitahukan pada Randy, soal pembicaraan Paman dan bibinya yang meminta pertanggung jawaban pada kedua orang tuanya Devano. Meyra mulai merasa tidak yakin, kalau Paman dan bibinya mengetahui tentang dirinya yang tengah mengandung anaknya Devano. Sebab Meyra melihat raut wajah Randy, yang tidak percaya dengan ucapannya.


Leni dan Ijat kaget mendengar pertanyaan dari Meyra, yang mendengar pembicaraan antara mereka berdua di dalam kamar.


Ijat dan Leni saling lirik. Sebelum menjawab pertanyaan dari Meyra.


Meyra yang melihat itu, ia segera bertanya sekali lagi pada paman dan bibinya. "Jawab pertanyaanku!"


"Be... begini Mey. Paman itu mau meminta pertanggung jawaban pada Rajendra dan Belinda. Karena mereka berdua sudah berjanji pada Paman, kalau mereka berdua mau menjodohkan anaknya dengan kamu Mey," jawab Ijat.


"Itu bukan pertanggung jawaban. Tapi menagih janji, Paman." Meyra menggelengkan kepalanya, mendengar jawaban dari pamannya yang seperti itu.


"Maksud Paman itu, ya... menagih janji pada Rajendra dan Belinda. Hanya saja Paman salah dalam mengatakannya," sahut Leni yang meluruskan ucapan suaminya, yang salah berbicara.


"Yang di katakan oleh bibimu, benar Mey. Kamu tahu sendirilah, pamanmu ini dari kampung. Jadi suka salah bicaranya," timpal Ijat yang membenarkan ucapan dari istrinya.


Meyra yang mendengar ucapan Paman dan bibinya, bisa menghembuskan nafas lega.


"Berarti dugaanku itu benar. Kalau Paman dan Bibi memang tidak mengetahui tentang diriku, yang tengah mengandung anaknya Devano," batin Meyra yang menghembuskan nafas lega. Karena Paman dan bibinya tidak mengetahui tentang kehamilannya.


"Sebaiknya, kamu pergi istirahat ke dalam kamarmu," ucap Leni yang menyuruh Meyra pergi ke dalam kamarnya.


"Iya Bi, tapi bolehkah Meyra besok pergi ke Garden cafe gemilang lagi. Soalnya Meyra mau mengundang teman-teman Meyra, yang bekerja di sana." Meyra meminta ijin pada Leni dan Ijat. Karena ia ingin pergi ke Garden cafe gemilang. Untuk memberitahukan kepada Amelia dan teman-temannya, yang bekerja di Garden cafe gemilang tentang pernikahannya. Dan sekaligus ia ingin melihat rekaman cctv, seorang lelaki yang mencarinya. Saat ia pulang ke kampung halamannya.


"Sebaiknya besok kamu di rumah saja, dan soal kamu yang mau memberitahukan teman-temanmu. Kamu bisa memberitahukan pada teman-temanmu dengan menggunakan panggilan telepon atau pesan. Jadi kamu tidak perlu pergi ke Garden cafe gemilang lagi," ujar Ijat yang tidak mengijinkan Meyra pergi ke Garden cafe gemilang.


"Yang di katakan Pamanmu benar, Mey. Sebaiknya, kamu itu jangan keluar rumah. Karena sebentar lagi kamu akan menikah dengan Devano." Leni pun ikut melarang Meyra, yang akan berpamitan pergi ke Garden cafe gemilang lagi.


Meyra berdecak kesal, dengan ucapan Paman dan bibinya. Ia pun segera pergi meninggalkan kamar Paman dan bibinya, dan pergi masuk ke dalam kamarnya.