
POV Meyra.
"Apakah kondisi kandunganku baik-baik saja, Dok?" tanyaku penasaran pada Dokter Sandi yang menangani ku.
"Alhamdulillah. Kandungan Bu Meyra tidak kenapa-kenapa, tapi Bu Meyra untuk beberapa hari ke depan harus melakukan bed rest. Agar tidak terjadi sesuatu pada kandungan Bu Meyra, sebab kehamilan Bu Meyra masih muda. Apalagi tadi ada sedikit darah yang keluar di bagian bawah perut Bu Meyra," jawab Dokter menjelaskan kondisi kandunganku.
"Ini Bu Meyra, di minum obat penguat kandungannya," suster memberikan obat dan juga air minum kepadaku.
Aku pun menerima obat dan juga langsung meminumnya. Karena aku ingin cepat sembuh, dan aku bersyukur sekali. Karena bayi yang ada di dalam kandunganku baik-baik saja, meski tadi keluar sedikit darah di bagian bawah perutku.
"Semoga Bu Meyra cepat sembuh," ucap Dokter Sandi. Sebelum Dokter Sandi dan suster pergi dari ruang rawat ku.
"Aamiin," aku mengamini doa dari Dokter Sandi.
Dokter Sandi dan suster pun pergi meninggalkanku di ruang rawat, bersama pelayan yang bekerja di Club Malam yang bernama Laras.
"Mbak saya mau pamit pulang," ucap Laras yang sudah dari tadi menungguku.
"Iya silahkan, terima kasih Laras. Kamu sudah mengantarkan aku ke sini," sahutku yang mengucapkan rasa terima kasih kepadanya.
Karena cuman dia, orang yang mau membantuku. Para pelayan lain, hanya melihat tanpa membantuku. Sebab Naumi mengancam mereka semua, untuk tidak membantuku.
"Sama-sama Mbak, tapi Mbak di sini jadi sendirian."
"Iya, tidak apa-apa. Kamu tidak perlu khawatir, di sini ada suster yang akan membantuku."
"Memangnya, Mbak tidak menghubungi suami, Mbak?" tanyanya padaku.
Mendengar pertanyaan Laras barusan, membuatku jadi teringat dengan Devano yang baru saja putus dengan Naumi. Apakah dia akan peduli dengan kondisiku seperti ini? Di saat keadaan dia seperti itu.
"Mbak Meyra kok diam saja, Mbak sudah menghubungi suami Mbak belum?" tanya Laras sekali lagi. Karena aku tidak langsung menjawab pertanyaannya.
"Iya sudah. Sebentar lagi suamiku akan datang ke sini," jawabku yang membohongi Laras. Karena aku tidak mau dia mengetahui permasalahan rumah tanggaku.
"Kalau begitu. Saya pamit pulang yah, Mbak."
Aku mengagukkan kepala sambil tersenyum. Saat Laras berpamitan pulang kepadaku.
Setelah kepergian Laras. Aku yang sendirian di dalam kamar rawat, tidak lama kemudian aku pun tidur.
____________
Keesokan harinya.
Keadaanku sudah lebih baik, dan aku pun sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter Sandi. Tapi aku bingung mau pergi ke mana? Setelah aku keluar dari rumah sakit ini. Apalagi kondisiku, yang mengharuskan bed rest. Agar bayi di dalam kandunganku baik-baik saja.
"Ayo Bu Meyra, silahkan duduk di sini. Nanti akan saya antarkan sampai depan pintu rumah sakit," ucap suster yang baru datang ke dalam kamar rawatku, dan ia menyuruhku untuk duduk di kursi roda.
"Iya sus," balasku yang segera duduk di kursi roda.
Suster pun mendorong kursi roda yang sudah aku duduki, menuju pintu keluar rumah sakit.
Saat aku akan memesan taksi online, sambil di dorong oleh suster. Aku tidak sengaja bertemu dengan pak Ronald, yang akan keluar dari rumah sakit ini juga.
"Meyra ..." pak Ronald memanggilku, dan ia segera datang menghampiriku yang sedang bersama suster.
"Apakah ini ..."
"Iya sus, terima kasih sudah mengantarkan saya sampai sini." aku segera menyela ucapan suster. Agar ia tidak terlalu lama menungguku di sini. Karena aku belum sempat memesan taksi online, yang baru akan aku pesan.
"Iya sama-sama. Kalau begitu, saya permisi pergi dulu," sahutnya.
Ku anggukan kepala sambil tersenyum manis ke arah suster, yang akan masuk ke dalam rumah sakit.
"Aku baik-baik saja, pak. Sebentar lagi, suamiku akan datang menjemput ku di sini," jawabku, yang lagi-lagi aku terpaksa harus berbohong. Agar pak Ronald tidak mengetahui permasalahan rumah tanggaku dengan Devano.
"Oh syukurlah. Kalau kamu baik-baik saja, tapi kamu yakin! Suamimu akan datang ke sini? Soalnya tadi pagi dia datang ke kafe, sambil marah-marah dan menuduhku mengetahui keberadaanmu. Apakah kamu dan suamimu baik-baik saja?"
Degh!
"Apa! Devano tadi pagi mencariku di kafe, sambil marah-marah dan menuduh pak Ronald. Sepertinya, tidak ada pilihan lain lagi. Aku harus pulang ke apartemennya," batinku yang geram pada Devano. Karena ia datang ke Garden Cafe Gemilang sambil marah-marah, dan menuduh pak Ronald.
"Aku dan suamiku baik-baik saja, pak. Mungkin suamiku seperti itu, karena dia ..."
"Jika memang benar kamu dan suamimu baik-baik saja, aku akan mengantarmu pulang. Ayo kita pergi dari sini," pak Ronald segera menyela ucapanku, dan ia memaksaku untuk ikut pergi bersamanya.
"Kalau aku boleh tahu! Pak Ronald bisa berada di rumah sakit ini, sedang apa?" tanyaku yang mengalihkan ajakan pak Ronald. Karena aku juga ingin mengetahui tujuannya, yang berada di rumah sakit ini.
"Aku habis menjenguk temanku yang di rawat di rumah sakit ini. Yuk Mey, kita pergi dari sini," jawab pak Ronald, yang mengajakku pergi dari rumah sakit ini. Karena ia ingin mengantar aku pulang.
Aku pun memutuskan pergi bersama pak Ronald. Agar ia percaya dengan hubunganku dan Devano, yang baik-baik saja. Meski yang sebenarnya terjadi, hubunganku dengan Devano tidak baik.
Pak Ronald pun mengantarkan aku pulang sampai di depan pintu apartemen Devano. Setelah kepergian pak Ronald, aku segera masuk ke dalam apartemen dan duduk sebentar di ruang televisi.
Tidak lama kemudian.
Aku mendengar suara pintu apartemen yang terbuka, dan aku sudah tahu. Kalau itu, pasti Devano.
Aku juga sudah tahu. Kalau Devano akan mencerca banyak pertanyaan kepadaku. Tapi aku tidak mau memberitahukan kepadanya, tentang keadaanku yang baru pulang dari rumah sakit. Karena aku rasa, dia pergi mencariku bukan berarti dia peduli kepadaku. Tapi karena dia takut, jika kedua orang tuanya mengetahui aku tidak tinggal bersamanya.
Apalagi saat Devano memberitahukan kepadaku, tentang hubungannya dengan Naumi yang sudah berakhir. Aku hanya diam, dan tidak menanggapi ucapannya itu. Toh aku sudah mengetahui hal itu, dan aku memilih masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Tapi ketukan pintu yang terus menerus aku dengar, aku terpaksa membuka pintu kamar dan memberi ancaman serta pilihan pada Devano. Agar dia tidak menggangguku, yang ingin beristirahat. Karena Dokter Sandi menyuruhku, untuk melakukan bed rest sampai beberapa hari ke depan.
Saat ini, aku tidak mau berbicara dengannya terlebih dahulu. Aku ingin menenangkan hati dan juga keadaanku ini.
________________
POV Devano.
Aku yang sudah bangun lebih pagi, segera keluar dari kamarku. Berharap aku bisa bertemu dengan Meyra, dan bisa berbicara dengannya.
Akan tetapi, saat aku sudah berada di ruang televisi. Aku melihat apartemenku masih berantakan.
"Tumben sekali, Meyra belum bangun. Biasanya jam segini, dia sudah bangun dan merapikan apartemenku," lirihku yang tidak melihat keberadaan Meyra, yang keluar dari dalam kamarnya.
Aku pun memutuskan, untuk merapikan apartemen yang berantakan oleh perbuatanku sendiri. Saat aku sedang menyapu lantai apartemen, aku menemukan sebuah surat yang terjatuh di bawah sofa.
"Surat apa ini?" batinku yang bertanya-tanya pada diri sendiri. Aku yang penasaran, segera membuka isi surat itu.
Degh!
Ini surat rawat inap pasien di rumah sakit. Apakah itu berarti! Kemarin Meyra tidak pulang ke apartemen. Karena dia di rawat di rumah sakit, apa yang terjadi dengannya? Kenapa Meyra bisa sampai di rawat di rumah sakit? Dan kenapa dia tidak memberitahukan itu semuanya kepadaku? Aku harus menanyakan ini semua kepadanya.
Tok-tok
"Mey, bangun ini sudah pagi."
"Meyra, kamu sudah bangun belum?"
Aku yang terus mengetuk pintu kamar sambil memanggil nama Meyra, tidak mendengar suara jawaban dari Meyra. Aku yang takut terjadi sesuatu kepadanya, memutuskan mendobrak pintu kamarnya.
Bruk.
"Meyra ..."