
Devano dan Meyra yang menghirup aroma Neroli bunga jeruk, mereka berdua segera pergi mendekati pintu kamar. Karena mereka berdua ingin ke luar dari dalam kamar. Agar tidak terlalu lama menghirup aroma Neroli bunga jeruk.
"Aaah sial. Kenapa pintunya malah di kunci sama Bi Asih," gerutu Devano yang tidak bisa membuka pintu kamarnya.
"Bi, Bi Asih ... buka pintu kamarnya," teriak Devano yang mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Bi Asih. Agar Bi Asih membukakan pintu kamar.
"Huuuh, seharusnya aku tidak mengijinkan kamu beristirahat di sini," sambung Devano yang melampiaskan kekesalannya pada Meyra.
"Aku juga sudah menolak untuk beristirahat di sini. Jadi jangan salahkan aku. Karena tadi kamu menyuruhku untuk masuk ke dalam kamar," bantah Meyra yang tidak mau di salahkan oleh Devano.
"Aaah ..." Devano menjambak rambutnya. Karena ia menyadari kalau dirinya mengijinkan Meyra beristirahat di dalam satu kamar dengannya.
Devano yang tidak mau berlama-lama di dalam kamar, ia pun mencari cara. Agar ia bisa keluar dari dalam kamar, dengan membuka jendela kamar. Akan tetapi, jendela kamar tidak bisa di buka. Karena jendela kamar sulit untuk di buka, apalagi jendela kamarnya menggunakan teralis. Sehingga membuat Devano dan Meyra tidak bisa keluar dari dalam kamar.
"Huuuh, kenapa jendela kamar juga tidak bisa di buka sih?" kesal Devano yang kesulitan membuka jendela kamar.
"Terus bagaimana cara kita keluar dari dalam kamar ini? Kepalaku pusing banget," lirih Meyra sambil memijat pelipisnya. Karena ia sudah mulai merasakan aroma Neroli bunga jeruk, yang membuat dirinya pusing dan ingin pergi ke luar dari dalam kamar. Agar tidak terlalu lama menghirup aroma Neroli bunga jeruk, yang akan membangkitkan hasratnya.
"Aku juga tidak tahu," jawabnya yang bingung dengan keadaan ini. Apalagi ia juga sudah mulai merasakan sensasi dari aroma Neroli bunga jeruk, yang membuat juniornya bangun.
Meyra dan Devano yang tidak bisa keluar dari dalam kamar, lama-lama mereka berdua mulai merasakan sensasi dari aroma Neroli bunga jeruk.
Kini mereka berdua yang mau beristirahat di dalam kamar, tidak bisa mereka berdua lakukan. Karena hasrat mereka berdua sudah tidak bisa terkontrol lagi. Sehingga membuat mereka berdua ingin menuntaskannya, dengan melakukan One night stand.
Meyra pun mulai merasakan sentuhan lembut dari tangan Devano, yang menyentuh bagian tubuhnya. Meyra juga membiarkan Devano melakukan, apa yang ingin mereka berdua rasakan.
Kejadian dua bulan yang lalu pun terulang kembali. Tapi untuk kali ini, mereka berdua melakukannya dengan suka sama suka. Sebab aroma Neroli bunga jeruk, sudah membangkitkan gairah hasrat mereka berdua yang mau bercinta.
Devano dan Meyra pun melakukan One night stand. Sebab pikiran mereka berdua sudah tidak bisa terkendali dan terkontrol lagi, mereka berdua hanya ingin menuntaskan gairah hasratnya yang sudah menggebu. Dan tidak memikirkan hal yang lainnya, yang mereka pikirkan hanyalah sebuah kenikmatan dalam kehangatan berbulan madu.
________
Keesokan paginya.
"Aaah ..." Devano dan Meyra berteriak histeris secara bersamaan. Karena mereka berdua yang baru bangun dari tidurnya, kaget melihat dirinya sendiri yang tidak memakai sehelai pakaian yang menutupi tubuhnya. Apalagi pakaian yang mereka berdua kenakan, berserakan di bawah lantai.
"Apa yang kamu lakukan kepadaku?" tanya Devano.
"Seharusnya, yang bertanya seperti itu adalah aku. Kamu sudah merebut kesucianku dua..."
"Diam kau! Pasti ini semua perbuatan Mama dan Papa, yang bekerja sama dengan Bi Asih dan mang Nurdin. Sehingga membuat aku dan kamu melakukan itu." Devano yang baru mengingat kejadian kemarin malam, ia segera menyela ucapan Meyra.
"Huuuh, bodohnya aku. Kenapa bisa aku dan dia melakukan hal seperti itu lagi?" batin Meyra yang menyalahkan dirinya sendiri.
"Hey, kamu jangan diam saja di situ. Sebaiknya kamu cepat masuk ke dalam kamar mandi, dan jangan mengingat kejadian semalam," ujar Devano yang melihat Meyra masih duduk di tempat tidur, dan ia langsung menyuruh Meyra masuk ke dalam kamar mandi. Agar Devano bisa menghubungi kedua orang tuanya, tanpa Meyra mendengar pembicaraan antara ia dan orang tuanya.
Ketika Meyra sudah pergi ke kamar mandi. Devano segera menghubungi nomor telepon Belinda mamanya, dan tidak lama kemudian. Belinda menerima panggilan telepon dari Devano.
"Ada apa Devano? Kamu menghubungi Mama pagi-pagi begini?" tanyanya.
"Ini semua pasti perbuatan Mama dan Papa, iyakan?"
"Maksud kamu apa sih, Van?" ucap Belinda yang berpura-pura tidak mengerti, dengan pertanyaan Devano barusan.
"Mamah jangan pura-pura tidak tahu deh, aku sudah tahu. Kalau yang terjadi denganku dan Meyra semalam, itu semuanya terjadi. Karena perbuatan Mama dan Papa, yang menyuruh Bi Asih dan mang Nurdin. Iyakan?" tanya Devano yang ingin memastikan kebenarannya. Kalau yang terjadi dengannya dan Meyra semalam adalah perbuatan kedua orang tuanya, yang menyuruh Bi Asih dan mang Nurdin. Untuk menaruh Neroli bunga jeruk di dalam kamarnya.
"Emangnya apa yang terjadi denganmu dan Meyra?" goda Belinda pada Devano. Karena rencananya berjalan dengan lancar.
"Aaah, Mama ..." Devano yang kesal dan malu mengatakannya, ia langsung mematikan panggilan telepon.
"Seharusnya aku tidak perlu menanyakan hal itu pada Mama. Karena ini semuanya, pasti sudah di rencanakan oleh Mama dan Papa," ucap Devano sambil mengepalkan tangannya.
"Semoga saja, apa yang aku lakukan dengan Meyra semalam tidak membuatnya hamil," batin Devano.
Devano yang melihat Meyra sudah keluar dari dalam kamar mandi, ia segera beranjak dari tempat tidur. Untuk membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.
___________
Sementara itu.
Belinda tengah tersenyum senang. Setelah Devano mematikan panggilan teleponnya. Karena ia sangat yakin sekali. Kalau rencananya, yang ingin membuat Devano dan Meyra berbulan madu di villa berjalan dengan lancar.
"Mama kenapa senyum, senyum sendiri begitu?" tanya Rajendra yang melihat istrinya tersenyum sendirian di dalam kamar.
"Bagaimana Mama tidak senang Pah. Kalau rencana kita berjalan dengan lancar," jawabnya.
"Bagaimana Mama bisa seyakin itu?" tanyanya lagi.
"Tadi Devano menghubungi Mama, Pah. Terus dia langsung marah-marah sama Mama, dan menuduh Mama yang membuat dia dan Meyra melakukan yang kita rencanakan itu loh, Pah." Belinda pun menceritakan tentang ucapan Devano, yang menghubunginya di telepon.
"Kalau memang benar begitu, tidak lama lagi kita akan mempunyai cucu dari Devano dan Meyra," timpal Rajendra sambil tersenyum senang. Karena mendengar ucapan Belinda istrinya.
"Ya semoga saja, Pah. Kalau menunggu Devano dan Meyra melakukan itu pasti akan lama. Apalagi mereka berdua belum lama berkenalan, dan tidak saling jatuh cinta. Tapi ... kalau sudah ada anak di antara mereka berdua. Pasti benih-benih cinta akan ada, dan bisa menyatukan mereka berdua," sahut Belinda.
"Iya benar Mah." Rajendra membenarkan ucapan istrinya.
"Semoga saja Meyra bisa cepat hamil. Sehingga Devano tidak jadi menikah dengan Naumi," batin Belinda yang sudah mengetahui rencana Devano yang akan menikah dengan Naumi. Ketika Naumi sudah pulang ke Indonesia.