Unloved Wife

Unloved Wife
Bab 31 Berbicara Empat Mata



Devano mengkerutkan keningnya, mendengar ucapan Naumi yang ingin berbicara dengan Meyra.


"Mau apa kamu berbicara dengan Meyra, Mi?" tanyanya.


"Aku ingin membicarakan sesuatu dengan istrimu, dan sekalian berkenalan dengannya," jawab Naumi sambil membuka pintu mobil Devano. Karena Devano mengajaknya berbicara di dalam mobil, tanpa menyalakan mesin mobilnya dan tidak pergi meninggalkan gedung apartemen. Maka dari itu, Naumi memutuskan menghampiri Meyra yang berada di dalam apartemen Devano.


"Mi, Mimi ..." Devano pun segera keluar dari dalam mobilnya. Untuk menyusul Naumi, yang sudah lebih dulu keluar dari mobilnya.


"Mimi, kamu tidak perlu berbicara dengan Meyra. Biarkan aku saja, yang memberitahukan tentang hubungan kita kepadanya," sambung Devano yang mencegah Naumi, sambil menarik satu tangannya.


"Kamu, kenapa melarangku pergi menemuinya? Padahal aku itu,  hanya ingin berbicara dan berkenalan dengannya. Kenapa kamu larang sih?" tanya Naumi sambil melepaskan tangannya yang di pegang oleh Devano.


"Sepertinya, kamu itu beneran sudah jatuh cinta dengannya? Sehingga kamu melarangku berbicara dengannya," lanjut Naumi yang menatap tajam ke arah Devano yang berada di hadapannya.


"Aku tidak mencintainya, Mi. Cuman kamu wanita yang aku cintai, tapi berikan aku waktu. Untuk menepati janjiku, yang akan menikahimu," sahut Devano.


"Alasan saja. Jika kamu memang benar-benar mencintaiku, seharusnya kamu bisa dengan mudah menepati janjimu yang mau menikahiku. Jadi tidak perlu kamu meminta waktu untuk memikirkan semuanya. Apalagi aku sudah bersedia menjadi istri kedua mu, dan apa alasanmu meminta waktu untuk memikirkan semuanya terlebih dahulu?" timpal Naumi yang mempertanyakan tentang alasan Devano, yang meminta waktu padanya.


"A___aku harus mempersiapkan segala keperluan pernikahan kita terlebih dahulu, Mi. Apalagi ..."


"Sudahlah, Devano. Aku tidak mau mendengar omong kosong mu, aku akan tetap pergi menemui Meyra dan berbicara dengannya." Naumi segera menyela ucapan Devano. Karena ia tidak mau mendengar alasan Devano, yang sudah ia yakini. Kalau Devano tidak bisa menepati janjinya.


"Aku akan membiarkan kamu berbicara dengan Meyra secara empat mata. Agar Meyra bisa mengetahui, tentang hubunganku denganmu," batin Devano yang membiarkan Naumi pergi, menemui Meyra yang berada di dalam apartemennya, tanpa mengikuti Naumi dari belakang.


_________


Saat Naumi sampai di depan pintu apartemen Devano, ia melihat Meyra yang akan keluar dari dalam apartemen.


"Kamu mau pergi ke mana?" tanya Naumi yang datang menghampiri Meyra, yang akan mengunci pintu apartemen.


"Aku mau bertemu dengan temanku, ada apa kamu menemuiku? Bukannya tadi itu, kamu dan Devano pamit pergi. Karena ada hal yang akan kalian berdua bicarakan?" jawab Meyra sambil bertanya balik pada Naumi, yang datang menghampirinya.


"Aku ingin berbicara denganmu, bisakah kita membicarakan ini di dalam apartemen. Sebelum kamu pergi menemui temanmu," sahut Naumi berterus terang, tentang tujuannya yang ingin berbicara dengan Meyra.


"Baiklah," balas Meyra sambil membuka pintu apartemen, yang sudah ia kunci. Karena ia setuju dengan ajakan Naumi, yang ingin berbicara dengannya.


"Silahkan duduk, aku akan mengambil air minum untukmu dulu," ucap Meyra yang mempersilahkan Naumi duduk di ruang televisi. Ketika ia dan Naumi sudah masuk ke dalam apartemen Devano.


"Kamu tidak perlu mengambil air minum untukku. Aku bisa mengambilnya sendiri, dan aku masih ingat dengan semua tempat yang berada di dalam apartemen ini." Naumi mencegah Meyra, yang akan pergi ke dapur. Untuk mengambil air minum.


"Sebaiknya kamu duduk. Karena ada hal yang mesti kamu ketahui!" sambung Naumi yang menyuruh Meyra, untuk duduk di ruang televisi.


"Kamu mau membicarakan soal apa?" tanya Meyra penasaran.


"Sebelum aku membicarakan tentang hal, yang harus kamu ketahui. Aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Perkenalkan, namaku Naumi Clarissa. Aku ini adalah kekasihnya Devano, dan cuman aku wanita yang ia cintai," ucap Naumi yang memberitahukan tentang statusnya pada Meyra.


"Jadi sebaiknya kamu harus tahu diri, dengan posisimu yang tidak akan pernah mendapatkan cinta dari Devano. Walaupun aku sudah mengetahui tentang statusmu saat ini, yang sudah resmi menjadi istrinya Devano. Tapi aku lebih unggul darimu, sebab Devano mencintaiku. Kamu itu hanya mendapat statusnya saja sebagai seorang istri Devano, tapi tidak di cintai olehnya," lanjut Naumi, yang di akhir ucapannya. Ia menyunggingkan senyuman mengejek ke arah Meyra.


"Oh, ternyata kamu itu adalah kekasihnya Devano. Jadi tujuan kedatanganmu ke sini, cuman mau membicarakan soal itu?" tanya Meyra sambil tersenyum tipis dan memutar bola matanya.


"Ya iyalah, pasti Devano belum menceritakan tentangku padamu kan? Karena kamu dan Devano baru beberapa hari ini menikah, dan aku juga baru pulang ke Indonesia. Jadi Devano belum sempat memberitahukan tentangku padamu," jawab Naumi dengan sengit.


"Memang benar, Devano belum memberitahukan tentang kamu kepadaku. Dan asal kamu tahu! Aku tidak perduli dengan statusmu yang merupakan kekasihnya Devano, dan aku juga tidak mengharapkan Devano bisa mencintaiku. Kita buktikan saja, Devano akan memilih wanita yang ia cintai, atau istri yang tidak ia cintai." Meyra membenarkan jawaban Naumi, dan ia segera bangun dari tempat duduknya. Karena ia akan pergi menemui Amelia, yang meminta bertemu dengannya.


"Kamu jangan dulu pergi," cegah Naumi.


"Kamu mau membicarakan soal apalagi, sih? Apakah ucapanku barusan membuatmu takut? Jika Devano mencintai istrinya?" tanya Meyra, yang kesal dengan Naumi. Karena ia terus mencegahnya, yang akan pergi meninggalkan apartemen. Untuk bertemu dengan Amelia.


"Ha-ha-ha, kamu percaya diri sekali jadi orang. Devano tidak akan pernah mencintai kamu, sebab cuman aku wanita yang dia cintai. Apalagi Devano akan segera menikahiku. Jadi tidak lama lagi, status kita sama. Tapi ... cuman aku istri yang mendapatkan cinta darinya." Naumi menjawab pertanyaan Meyra dengan tertawa, dan ia juga memberitahukan tentang rencana pernikahannya dengan Devano.


Degh!


"Apa...! Devano akan menikah dengannya, baru saja semalam dia mau memulai hubungan baik denganku. Tapi sekarang ini, ia malah mau menikah dengan kekasihnya, tanpa memberitahukan semuanya kepadaku," batin Meyra yang baru mengetahui tentang rencana pernikahan Devano dan Naumi.


"Kenapa kamu diam? Kaget yah?" tanya Naumi sambil tersenyum miring ke arah Meyra.


"Sebaiknya kamu menggugat cerai Devano, dan membiarkan aku menjadi istri Devano satu-satunya," sambungnya.


"Kenapa kamu menyuruhku menggugat cerai Devano? Kamu suruh saja Devano yang menceraikan aku," timpal Meyra yang merasa aneh dengan ucapan Naumi barusan, ia pun berusaha tegar dan sabar menghadapi Naumi. Meski tidak bisa ia pungkiri di dalam hatinya, ada rasa kecewa terhadap sikap Devano. Tapi ia lakukan itu semua, agar bayi yang berada di dalam kandungannya memiliki ayah.


"Kamu ..."


"Sudah tidak ada yang mau kamu bicarakan lagi denganku, kan? Jadi biarkan aku pergi." Meyra segera menyela ucapan Naumi, dan setelah mengatakan itu. Ia langsung pergi meninggalkan Naumi di dalam apartemen.


Naumi menghentakkan kakinya, melihat Meyra sudah keluar dari dalam apartemen.


"Bagaimanapun caranya! Aku harus membuat Devano menikahiku, dan meninggalkan wanita itu," batinnya.