
"Kamu mengadakan acara pesta, kok gak ngundang aku sih? Padahal tadi siang, kita baru saja bertemu," ucap Devano yang mempertanyakan tentang acara pesta yang di adakan Naumi, yang tidak mengundangnya.
"Tadi itu, aku mau mengajak kamu pergi ke acara pesta yang aku adakan malam ini. Tapi Mamamu datang, jadinya aku lupa mengabari kamu. Tapi kok, kamu dan Randy bisa ada di sini?" jawab Naumi sambil bertanya balik pada Devano, yang datang ke acara pesta yang diadakannya bersama Randy.
"Alasan saja, aku sudah muak mendengar omong kosong mu! Mulai hari ini kita putus, dan aku tidak akan pernah menepati janjiku yang akan menikah denganmu." Devano yang terbawa emosi, ia langsung memutuskan Naumi di depan teman-temannya Naumi, yang datang ke acara pesta yang diadakannya
"Kamu jangan memutuskan aku seperti ini, Van. Aku mencintaimu, dan ingin hidup bahagia bersamamu. Tadi itu, aku sudah bilang sama kamu. Kalau aku tidak memberitahukan tentang acara malam ini, sebab Mamamu datang ke apartemen. Sehingga aku lupa memberitahukan tentang acara malam ini kepadamu. Aku mengatakan yang sebenarnya, Van. Kamu harus percaya dengan ucapanku." Naumi tetap berusaha membuat Devano percaya dengan apa yang ia ucapkan.
"Kamu masih saja, mengelak. Tapi kali ini! Aku tidak akan percaya dengan yang kamu katakan," batin Devano yang mendengar ucapan Naumi, sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum miring.
Sedangkan Randy segera mengeluarkan handphonenya, untuk memutar rekaman suara percakapan antara Naumi dan Vivian.
"Sebaiknya aku putar saja rekaman suara ini. Agar Naumi tidak bisa mengelak lagi," batin Randy yang kesal mendengar ucapan Naumi, ia pun segera memutar rekaman suara percakapan antara Naumi dan Vivian.
Mereka semua pun bisa mendengar suara percakapan antara Naumi dan Vivian, yang sedang di putar oleh Randy. Karena alunan musik di Club Malam sudah di matikan oleh Randy.
"Kenapa Randy bisa merekam pembicaraanku dengan Vivian?" batin Naumi yang kaget mendengar rekaman suara, yang di putar oleh Randy.
Naumi juga mendengar suara cibiran dan lirikan mata teman-teman Naumi ke arahnya, yang mendengar suara rekaman yang di putar oleh Randy.
"Itu ... tidak benar, Van. Aku tidak pernah mengatakan itu semua," ucap Naumi yang segera mendekati Devano, dan berusaha membuat Devano percaya dengan ucapannya.
"Kamu masih saja. Mengelak dan menyangkalnya, Mi. Asal kamu tahu! Tanpa mengunakan hasil rekaman suara itu, aku sudah mendengar sendiri pembicaraan kamu dan Vivian," sahut Devano menjelaskan pada Naumi. Ketika rekaman suara yang di putar Randy sudah berhenti.
"A____aku ..."
"Kamu tidak perlu membela diri lagi, Mi. Karena keputusanku sudah bulat, untuk mengakhiri hubungan denganmu." Devano segera menyela ucapan Naumi, yang akan membela dirinya sendiri. Setelah selesai mengatakan itu. Devano langsung pergi meninggalkan Naumi, dan menghiraukan Naumi yang berusaha mencegah kepergiannya.
"Devano ... kamu jangan pergi ..." Naumi berteriak memanggil nama Devano, yang pergi meninggalkan acara pestanya bersama Randy.
Naumi yang berusaha mengejar Devano, ia di hadang oleh Randy.
"Sebaiknya, kamu pergi dari kehidupan bosku. Karena sekarang ini, kamu dan bosku sudah tidak ada hubungan apapun lagi."
"Lepaskan aku, kamu jangan ikut campur dengan urusanku," geram Naumi yang kesal dengan Randy yang mencegahnya, yang akan datang menghampiri Devano.
Randy yang juga kesal dengan Naumi, ia mendorong tubuh Naumi sampai jatuh ke bawah lantai.
Bugh!
"Jangan pernah, kau ganggu bosku lagi." Randy memberi peringatan kepada Naumi, dan setelah mengatakan itu. Randy segera pergi mengejar Devano.
Naumi yang kesal dengan Randy, dan di tambah ia juga kesal di putuskan oleh Devano. Naumi segera membubarkan teman-temannya, yang datang ke acara pesta yang diadakannya.
"Bubar kalian semua!" teriak Naumi yang mengusir teman-temannya.
"Huuuh ... huuuh ..." suara sorakan teman-temannya Naumi, yang kecewa di usir oleh Naumi.
"Kalian semua. Sebaiknya cepat pergi dari sini!" Vivian pun ikut mengusir teman-teman Naumi, dan setelah membubarkan teman-teman Naumi. Vivian segera datang menghampiri Naumi, yang bersedih di putuskan oleh Devano.
"Vi, aku tidak terima Devano memutuskan aku di depan teman-temanku. Aku malu ..." Naumi menceritakan isi hatinya pada Vivian, sambil menjambak rambutnya. Sehingga membuat rambut panjangnya berantakan.
"Naumi, kamu tenangkan dirimu." Vivian berusaha menenangkan hati Naumi, sambil memeluk Naumi.
"Kamu harus bantu aku, Vi. Agar Devano bercerai dengan istrinya, dan membuat Devano bisa kembali bersamaku," ucap Naumi yang meminta bantuan pada Vivian.
"Apa! Devano sudah menikah?" Vivian yang belum mengetahui tentang pernikahan Devano dan Meyra, ia kaget mendengar ucapan Naumi yang mengatakan itu.
"Kamu itukan, tinggal di Indonesia. Masa kamu tidak tahu tentang pernikahan Devano, sih?" tanya Naumi yang heran dengan Vivian, yang tidak mengetahui tentang pernikahan Devano dan Meyra.
"Aku benar-benar tidak tahu, kabar pernikahan Devano. Karena tidak ada surat undangan pernikahannya," jawab Vivian berterus terang. Karena ia tidak mendapat surat undangan pernikahan Devano, yang menikah dengan Meyra secara sederhana tanpa pesta yang meriah.
"Apa jangan-jangan! Wanita yang bersama Devano hari itu adalah istrinya," sambung Vivian, yang mengingat kejadian pertemuannya dengan Devano dan Meyra.
"Iya, Vi. Wanita yang kamu katakan barusan, memanglah benar istrinya Devano," timpal Naumi yang membenarkan ucapan Vivian.
"Kamu harus membantuku, membuat Devano bercerai dengan istrinya. Karena aku mau membuat Devano kembali ke padaku," lanjut Naumi yang meminta bantuan kepada Vivian.
"Aku pasti, akan membantumu," sahut Vivian yang akan berusaha membantu Naumi.
"Jika aku tidak bisa menikah denganmu, aku akan membuat pernikahanmu hancur!" batin Naumi sambil menyunggingkan senyuman. Karena ia akan merusak pernikahan Devano dan Meyra.
________________
Sementara itu.
Di luar Club Malam.
Randy yang berada di belakang Devano, ia segera menyusul Devano yang sudah jalan lebih dulu. Karena ia tidak mau sampai terjadi sesuatu pada Devano, jika mengendarai mobil dalam keadaan emosi.
"Bos, biar aku saja yang menyetir mobilnya," ucap Randy yang mencegah Devano, yang mau masuk ke dalam mobil.
"Tidak usah, aku butuh waktu sendiri." Devano menolak tawaran Randy, yang ingin mengantarkannya pulang ke apartemen.
"Tapi bos ..."
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku." Devano dengan cepat memotong ucapan Randy, dan ia segera masuk ke dalam mobilnya.
"Bos, bos." Randy memanggil Devano sambil mengetuk pintu mobil, berharap Devano mendengar ucapannya, yang mengkhawatirkan Devano.
Devano menghiraukan teriakan Randy, ia segera pergi meninggalkan Randy di tempat parkir Club Malam.
"Aku harus mengikuti bos Devano," gumam Randy yang segera masuk ke dalam mobilnya. Untuk mengejar mobil Devano yang sudah pergi meninggalkannya.
Devano melajukan mobilnya, dengan kecepatan tinggi. Sehingga ia cepat sampai di gedung apartemen.
"Syukurlah, kalau bos Devano sudah sampai di apartemen." Randy menghembuskan nafas lega, melihat Devano sudah sampai di apartemen.
Randy juga mengikuti Devano, yang keluar dari dalam mobilnya. Karena Devano mau masuk ke dalam apartemen. Setelah melihat itu, ia segera pergi meninggalkan apartemen Devano.
"Aaakh ... Naumi kau menorehkan luka di hatiku, yang tulus mencintaimu." Devano melampiaskan kekesalannya, dengan membuat seisi apartemennya jadi berantakan.
"Aku tidak pernah percaya dengan ucapan Mama. Karena aku sangat yakin, kalau kamu tidak seperti itu. Tapi baru aku ketahui sekarang ini! Bahwa kamu itu tidak pernah tulus mencintaiku, dan hanya memanfaatkan ku saja," sambung Devano yang meluapkan kekesalannya, ia melemparkan semua benda yang ada di hadapannya.
Setelah puas melakukan itu, ia memutuskan pergi ke dalam kamar Meyra. Karena ia ingin berbicara dengan Meyra.
"Kok Meyra belum juga pulang ke apartemen?" lirih Devano yang tidak melihat keberadaan Meyra di dalam kamarnya.