
Sementara itu.
Di kediaman Belinda dan Rajendra.
Meyra yang merasa bosan di dalam kamar, ia memutuskan untuk ke luar dari kamar dan tidak sengaja bertemu dengan Bi Inah.
"Bi, mau di bawa ke mana itu?" tanya Meyra yang melihat Bi Inah membawa minuman dan juga camilan di atas nampan.
"Bibi mau mengantarkan ini ke ruang kerja, Non. Soalnya, tadi Tuan muda mau di buatkan jus alpukat dan sekalian di bawakan camilannya juga," jawab Bi Inah.
"Kalau begitu, biar Meyra saja yang mengantarkannya Bi." Meyra segera mengambil nampan yang berada di tangan Bi Inah.
"Jangan Non biar Bibi yang ..."
"Biar Meyra saja, yang mengantarkannya Bi." Meyra segera menyela ucapan Bi Inah, dan bergegas pergi menuju ruang kerja. Untuk mengantarkan jus alpukat dan camilan pesenan Devano.
Saat Meyra akan masuk ke dalam ruang kerja, ia tidak sengaja mendengar suara video yang sedang di putar di handphone Devano.
"Kenapa kalian berdua mengajakku bertemu di sini? Mana Meyra? Kedatanganku ke Jakarta mau bertemu dengan keponakanku," tanya Ijat pada Belinda dan Rajendra yang mengajaknya pergi ke sebuah restoran.
"Itu seperti suara Paman Ijat," batin Meyra yang mendengar suara Ijat, yang menanyakan keberadaannya pada Belinda dan Rajendra.
"Meyra ada di rumah. Sebelum kamu bertemu dengannya, ada hal yang mau aku bicarakan denganmu. Tapi aku harap, kamu jangan marah. Karena ini menyangkut hubungan Devano dan Meyra ..."
"Jangan sampai kamu bilang! Kalau anakmu akan menceraikan keponakanku, jika sampai itu terjadi. Aku akan melaporkan kalian berdua tentang kasus kecelakaan, yang kalian berdua lakukan pada ibunya Meyra." Ijat langsung menyela ucapan Rajendra, yang belum selesai berbicara.
"Kamu, jangan menyela ucapanku dulu. Bukan itu yang mau aku bicarakan denganmu, aku dan istriku mengajak kamu bertemu di sini. Karena aku mau memberitahukan tentang Meyra yang hamil, sebelum dia dan Devano menikah. Sebab yang menghamili Meyra itu Devano, aku memberitahukan hal ini kepadamu terlebih dahulu. Sebelum Meyra menceritakan semuanya kepadamu, dan aku harap! Kamu tidak memberitahukan tentang masalah itu pada Meyra," jelas Rajendra yang memberitahukan tentang kehamilan Meyra dan kejadian dua bulan yang lalu pada Ijat.
Degh.
"Jadi penyebab ibuku meninggal bukan karena sakit yang di derita ibuku. Tapi itu semuanya akibat kecelakaan, yang di lakukan oleh Mama Belinda dan Papa Rajendra yang membuat ibuku kecelakaan. Sampai ibu meninggal dunia. Kenapa Paman dan Bibi merahasiakan hal itu padaku?" lirih Meyra yang baru mengetahui tentang rahasia yang di sembunyikan oleh Paman dan bibinya, serta kedua orang tuanya Devano.
Prang.
Suara pecahan gelas yang terjatuh ke bawah lantai. Karena Meyra secara refleks menjatuhkan nampan yang berisi jus alpukat dan camilan, sebab ia kaget mendengar itu semuanya.
Devano yang mendengar suara pecahan gelas, ia segera menengok ke arah suara itu.
"Meyra ... se____sejak kapan kamu di situ?" tanya Devano gugup. Karena ia takut Meyra mendengar suara percakapan kedua orang tuanya dengan Ijat, yang ia dapatkan dari nomor telepon yang tidak ia ketahui. Karena nomor telepon itu, telah mengirimkan rekaman video ke handphonenya.
"Aku sudah dari tadi di sini, dan mendengar semuanya. Aku kira kedua orang tuamu tulus menyayangiku. Tapi ternyata, di balik itu semuanya ada rahasia yang mereka tutupi dariku. Kamu telah merenggut kesucianku, dan kedua orang tuamu telah membuatku harus berpisah dengan ibuku untuk selama-lamanya. Kamu dan kedua orang tuamu sama saja," ungkap Meyra yang meluapkan kekesalannya pada Devano, sebab Devano dan kedua orang tuanya telah menyakiti perasaannya.
"Maafkan aku dan kedua orang tuaku, Mey." Devano segera mendekati Meyra, dan berusaha membuat Meyra memaafkan kesalahannya dan juga kedua orang tuanya.
Meyra menghiraukan ucapan Devano yang meminta maaf kepadanya, dan ia segera ke luar dari ruang kerja.
Devano yang melihat itu, ia segera mengikuti langkah Meyra yang pergi meninggalkannya.
"Mey, kamu mau kemana?" tanya Devano yang mencegah Meyra, yang akan pergi dari rumahnya.
"Aku tidak mau tinggal bersama orang seperti dirimu dan juga kedua orang tuamu," jawab Meyra yang sedang terbawa emosi. Sehingga ia memutuskan pergi dari rumah Belinda dan Rajendra.
"Lepaskan. Jangan sentuh aku." Meyra berusaha melepaskan tangannya, yang di pegang oleh Devano.
"Ada apa ini?" tanya Bi Inah yang baru datang. Karena ia mendengar suara keributan di depan rumah.
Saat Devano tengah lengah. Karena menengok ke arah Bi Inah, Meyra segera menginjak kaki Devano dengan kakinya. Hingga membuat Devano melepaskan tangannya, dan kesempatan itu Meyra gunakan untuk segera pergi dari rumah.
"Meyra ..." Devano berteriak memanggil Meyra yang berlari pergi meninggalkannya. Devano segera mengejar Meyra, sambil menahan rasa sakit di bagian kakinya yang di injak oleh Meyra.
"Bi Inah, ayo kita kejar Meyra. Jangan sampai dia pergi dari sini," sambung Devano yang menyuruh Bi Inah. Untuk membantunya mengejar Meyra, yang pergi meninggalkannya.
Meyra yang pergi meninggalkan rumah sambil berlari, tiba-tiba saja ia merasakan sakit di bagian perutnya.
"Aaawww," rintih Meyra sambil memegang perutnya.
"Kamu kenapa Mey?" tanya Devano yang sudah berada di dekat Meyra. Karena ia dan Bi Inah melihat Meyra kesakitan dari jarak jauh.
"Sa___sakit," lirih Meyra sebelum ia pingsan.
Devano yang melihat Meyra tidak sadarkan diri, ia segera menggendong Meyra dan membawanya pergi ke rumah sakit.
_______
Beberapa jam kemudian.
Meyra yang baru sadar, ia melihat Ijat dan Devano serta kedua orang tuanya yang berada di dalam ruang rawatnya.
"Alhamdulillah. Akhirnya kamu sadar Mey," ucap Ijat yang terharu melihat Meyra, yang sudah sadar dari pingsannya.
Meyra memalingkan wajahnya. Karena ia tidak mau melihat mereka semua, yang telah menyakiti perasaannya. Sebab merahasiakan tentang kematian ibunya, yang mengalami kecelakaan.
Ijat meminta maaf kepada Meyra. Karena telah merahasiakan kecelakaan yang terjadi pada Sri ibunya Meyra, dan ia juga memberikan pengertian kepada Meyra. Kalau semua itu sudah menjadi takdir yang maha kuasa, dan ia berharap Meyra mau memaafkan kesalahan Rajendra dan Belinda yang tidak sengaja mencelakai ibunya.
Meyra pun berusaha memaafkan, dan menerima takdir yang sudah terjadi.
"Bagaimana kondisi kandunganku?" tanya Meyra yang akhirnya menanyakan tentang bayi, yang ada di dalam kandungannya. Setelah mendengar semua penjelasan dan permintamaafan Ijat dan kedua orang tuanya Devano.
"Alhamdulillah. Kamu dan anak kita tidak kenapa-kenapa, bayi di dalam kandunganmu kuat seperti ibunya," jawab Devano sambil tersenyum.
Meyra yang mendengar itu, ia tersenyum senang. Karena bayi di dalam kandungannya tidak kenapa-kenapa.
Sementara itu.
Naumi dan Vivian yang mengintip di ruang rawat Meyra, mereka berdua mendengar semua pembicaraan di dalam ruang rawat Meyra.
"Huuuh sialan, rencanaku tidak berhasil. Padahal aku sudah mengirim rekaman video itu, dengan menggunakan nomor lain. Berharap Devano membenci kedua orang tuanya, yang telah memaksanya menikah dengan Meyra. Apalagi Meyra juga sudah mengetahui penyebab ibunya meninggal dunia, yang mengalami kecelakaan oleh perbuatan kedua orang tuanya Devano. Aku kira dengan menggunakan rencana ini, akan membuat mereka semua tidak bisa bersama lagi. Tapi ternyata dugaanku itu salah, ini malah membuat mereka semua tidak terpisahkan dan Meyra sudah memaafkan kesalahan Devano dan kedua orang tuanya," batin Naumi yang kesal melihat kebersamaan Meyra dan Devano serta kedua orang tuanya dan juga Ijat di ruang rawat Meyra.
"Kebahagiaan yang kalian semua rasakan hanya sementara saja, aku akan membuat kebahagiaan itu hancur," sambung Naumi yang akan membuat hancur hubungan Meyra dan Devano.