
Sementara itu.
Meyra dan Amelia masih berbicara, tentang seputar keputusan Meyra, yang akan mempertahankan pernikahannya dengan Devano, atau mengakhiri pernikahan yang baru seumur jagung.
"Apa keputusan yang akan kamu pilih, Mey?" tanya Amelia.
"Entahlah, aku masih bingung. Meski yang kamu katakan barusan ada benarnya juga, tapi aku merasa tidak yakin. Jika Devano akan memilihku, dan bayi yang ada di dalam kandunganku. Karena Devano sepertinya, masih mencintai Naumi." Meyra menjawab pertanyaan dari Amelia sambil menundukkan kepalanya. Karena ia tidak merasa percaya diri, bisa membuat Devano mencintainya.
"Kamu coba saja dulu, Mey. Aku sangat yakin sekali, kok. Kalau kamu itu, bisa membuat Devano mencintaimu. Agar dia memilih kamu, dan anak yang berada di dalam kandunganmu," ujar Amelia yang berusaha membuat Meyra mempertahankan pernikahannya dengan Devano.
"Bagaimana cara membuat Devano mencintaiku, Mel? Aku tidak tahu caranya," timpal Meyra.
"Kamu coba dekati Devano dengan memberikan perhatian kepadanya, dan kamu juga bisa mendekati Devano, dengan menggunakan bayi yang ada di dalam kandunganmu dengan alasan ngidam. Atau apa saja, yang membuat kamu dan Devano bisa lebih dekat dari sebelumnya. Sehingga membuat Devano meninggalkan Naumi, dan memilih kamu dan anakmu." Amelia pun memberikan cara pada Meyra. Agar Meyra bisa membuat Devano mencintainya, dengan alasan bayi yang ada di dalam kandungan Meyra.
"Apakah kamu yakin! Cara itu akan berhasil?" tanyanya lagi.
"Tentu saja, Mey. Apalagi sekarang ini kamu sedang mengandung anaknya Devano, itu akan memperkuat hubungan kalian berdua. Kamu coba saja dulu, Mey. Kalau kamu tidak mencobanya, kamu tidak akan tahu hasilnya," sahut Amelia.
"Yang kamu katakan benar, aku akan mencobanya. Kalau begitu, aku pamit pulang duluan," ucap Meyra yang berpamitan pergi pada Amelia.
"Kamu melupakan hadiah, yang aku berikan untukmu," kata Amelia yang mengingatkan Meyra, dengan tujuan kedatangan Meyra yang bertemu dengannya.
"Terima kasih. Mel, hadiahnya." Meyra mengambil hadiah pernikahan yang di berikan Amelia untuknya.
"Sama-sama," balasnya.
"Doakan aku yah, Mel. Semoga aku bisa membuat Devano mencintaiku, dan meninggalkan Naumi," ujar Meyra.
"Aamiin. Aku pasti mendoakan yang terbaik untukmu," timpal Amelia yang mengamini doa Meyra.
"Terima kasih, Mel. Aku bersyukur sekali, hari ini bisa bertemu denganmu. Sehingga kesedihan dan kebingungan hatiku, bisa sedikit lega. Setelah berbicara denganmu," tutur Meyra. Sebelum ia pergi meninggalkan Amelia.
"Sama-sama, aku juga senang bertemu denganmu. Hati-hati di jalannya," sahut Amelia sambil melambaikan tangannya ke arah Meyra, yang akan pergi meninggalkannya.
Meyra pun membalas lambaian tangan dari Amelia. Sebelum ia masuk ke dalam mobil taksi, yang sudah ia pesan.
Sesampainya Meyra di apartemen Devano, ia tidak sengaja mendengar pembicaraan Devano dengan Randy di telepon.
"Semoga saja. Randy bisa segera membuktikan kebenaran dari foto, yang Mama tunjukkan padaku. Agar aku bisa memutuskan semuanya, tapi aku sangat berharap sekali. Kalau foto yang di tunjukkan oleh Mama, itu tidaklah benar. Karena aku masih mencintai Naumi, dan akan menepati janjiku yang akan menikah dengan Naumi. Aku akan membicarakan soal ini dengan Meyra, dan dia harus menerima Naumi sebagai istri keduaku. Meski Naumi menjadi istri keduaku, dialah wanita yang aku cintai," lirih Devano. Ketika ia sudah selesai berbicara dengan Randy di telepon.
Degh!
"Apa ...! Devano akan menikah dengan Naumi, dan menjadikannya istri kedua. Sepertinya, sudah tidak ada tempat untukku di hatinya. Meski aku berusaha, membuat Devano mencintaiku," batin Meyra yang mendengar ucapan Devano, yang akan menikah dengan Naumi dan menjadikan Naumi sebagai istri keduanya.
Meyra pun mengurungkan niatnya, yang akan masuk ke dalam apartemen. Ia segera pergi meninggalkan apartemen Devano.
_________
Malam harinya.
Devano sedang menunggu Meyra pulang. Karena ia ingin berbicara dengan Meyra, tapi Meyra belum juga pulang ke apartemennya.
"Meyra pergi ke mana, sih? Jam segini belum pulang juga. Padahal aku sudah memperingatinya, untuk tidak pulang sampai larut malam," gerutu Devano yang kesal menunggu Meyra pulang ke apartemennya.
"Huuuh sial, aku lupa. Kalau aku itu, tidak mempunyai nomor teleponnya," ucap Devano sambil duduk di sofa ruang televisi, dan menaruh handphonenya di atas sofa.
Di saat keadaan Devano seperti itu, ia mendengar suara deringan ponsel miliknya yang berbunyi.
"Ada apa? Kamu menghubungiku malam-malam begini?" tanya Devano yang menerima panggilan telepon dari Randy.
"Bos, aku sedang berada di Club Malam dan di sini aku melihat Naumi sedang berpesta dengan teman-temannya," jawab Randy yang memberitahukan, apa yang ia lihat pada Devano. Karena saat Devano memberikan perintah kepadanya, ia segera pergi mengikuti Naumi. Agar ia bisa cepat mendapatkan bukti, untuk di berikan pada Devano.
"Yang benar kamu?" tanyanya lagi yang ingin memastikan kebenarannya.
"Iya bos, aku akan mengirimkan fotonya." Randy langsung mematikan panggilan teleponnya, dan ia segera mengambil foto dan juga merekam video. Saat Naumi sedang berpesta bersama teman-temannya di sebuah Club Malam. Agar Devano bisa percaya dengan ucapannya.
[Kirimkan alamat Club Malam, tempat Naumi berpesta dengan teman-temannya.]
Devano mengirimkan pesan pada Randy, saat ia sudah selesai melihat foto dan juga video yang di kirim oleh Randy.
[Iya bos,]
Randy pun segera mengirimkan alamat Club Malam pada Devano.
Devano yang sudah mendapat balasan pesan alamat Club Malam dari Randy, ia segera pergi ke tempat itu. Agar ia bisa melihat dengan matanya sendiri, kelakuan Naumi di belakangnya.
Devano segera menyalakan mesin mobilnya, dengan kecepatan tinggi. Agar ia bisa cepat sampai di Club Malam, tempat Naumi yang mengadakan pesta bersama teman-temannya.
Sesampainya di Club Malam.
"Kamu mengadakan pesta tidak mengundang Devano?" tanya Vivian yang baru saja datang, tapi ia tidak melihat keberadaan Devano di dekat Naumi.
"Aku tidak mengundangnya, ke acara pesta yang aku adakan malam ini," jawab Naumi berterus terang.
"Kenapa? Aku kira, pesta ini diadakan untuk merayakan hari bahagia mu, yang akan menikah dengan Devano," sahutnya.
"Vivian, kamu itu kaya baru mengenalku saja. Aku itu tidak sungguh-sungguh ingin menikah dengan Devano, aku hanya butuh uang dan bantuannya saja," jelas Vivian.
"Ayo kita bersenang-senang," sambung Naumi yang mengajak Vivian bergabung dengan teman-teman yang lainnya.
"Ha-ha-ha ..." Naumi dan teman-temannya tertawa di pesta party yang di adakan Naumi.
Di tengah pesta yang diadakan Naumi. Randy menghentikan alunan musik, yang membuat Naumi dan teman-temannya berhenti berjoget. Karena Devano menyuruh Randy, untuk melakukan itu. Sebab Devano mendengar semua pembicaraan Naumi dan Vivian, yang tidak menyadari kedatangannya. Bahkan Randy merekam ucapan Naumi dan Vivian. Agar Naumi tidak bisa menyangkal, dengan apa yang ia dan Vivian ucapkan.
"Kenapa musiknya berhenti sih?" gerutu Naumi yang kesal.
"Na____Naumi, i_____itu." Vivian menunjuk ke arah Devano yang berada di belakang Naumi.
"Apaan sih, Vi? tanya Naumi yang tidak mengerti dengan maksud ucapan Vivian, yang menunjuk ke arahnya.
"Acara pestanya, sangat seru sekali yah,'' ucap Devano sambil menyunggingkan senyuman.
Naumi yang mendengar suara Devano, ia segera menengok ke belakang.
"De____Devano ..." Naumi kaget melihat kedatangan Devano, yang tidak ia undang ke acara pesta yang diadakannya di Club Malam.