
"Devano ..."
Meyra dan Devano yang mendengar ada orang yang memanggil nama Devano, mereka berdua segera menengok ke arah suara orang yang memanggil nama Devano.
"Vi ... Vivian," lirih Devano yang kaget melihat Vivian, yang datang menghampirinya.
"Mobilmu kenapa, Van?" tanya Vivian yang merupakan temannya Naumi Clarissa kekasihnya Devano.
"Aku sedang mengganti ban mobilku yang kempes, sedang apa kamu di sini?" jawab Devano sambil bertanya balik pada Vivian.
"Aku mau pergi ke rumah saudaraku yang tinggal di daerah ini, dan tidak sengaja melihat kamu berhenti di sini. Jadi aku memutuskan untuk berhenti sebentar, dan datang menghampirimu," sahut Vivian menjelaskan.
"Oh begitu," timpal Devano.
"Kamu sudah tahu, kalau Naumi akan pulang bulan depan?" tanyanya lagi.
"Iya sudah tahu," jawab Devano sambil melanjutkan kembali aktivitasnya, yang akan mengganti ban mobilnya yang kempes.
"Wanita yang bersamamu siapa, Van?" Vivian kembali bertanya lagi. Karena ia ingin mengetahui wanita yang sedang bersama Devano.
Degh!
"Aku harus menjawab apa? Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya," batin Devano yang bingung dengan pertanyaan Vivian, yang menayangkan Meyra. Sehingga membuat Devano tidak menjawab pertanyaan Vivian.
"Perkenalkan kak. Namaku Meyra," ucap Meyra yang memperkenalkan dirinya pada Vivian, sambil mengarahkan tangannya ke arah Vivian.
Vivian pun menjabat tangannya Meyra. "Kamu siapanya Devano?" tanya Vivian pada Meyra.
"Aku ini i ..."
Deringan ponsel milik Vivian, menghentikan ucapan Meyra yang akan menjawab pertanyaan dari Vivian.
Vivian pun menerima panggilan telepon dari saudaranya, yang menghubunginya.
"Iya, ini aku lagi di jalan arah ke rumahmu. Sebentar lagi aku juga sampai," ucap Vivian yang menimpali ucapan saudaranya, yang sedang menanyakan keberadaannya sekarang ini.
"Van aku pergi duluan ya," pamit Vivian pada Devano. Saat ia sudah selesai berbicara dengan saudaranya di telepon.
"Iya," sahut Devano yang bisa menghembuskan nafas lega. Karena Vivian sudah pergi, dan Meyra tidak sempat menjawab pertanyaan dari Vivian.
Beberapa menit kemudian.
Devano sudah selesai mengganti ban mobilnya yang kempes, dan ia segera melanjutkan kembali perjalanan menuju apartemennya.
Sesampainya di apartemen.
Meyra menatap gedung apartemen Devano, ia mulai ragu. Untuk masuk ke dalam apartemen Devano, sebab ia mulai teringat dengan kejadian dua bulan yang lalu.
"Aku tidak mau tinggal di sini," batin Meyra yang ketakutan melihat gedung apartemen Devano. Karena ia mengingat kejadian dua bulan yang lalu, saat Meyra mengantar Devano pulang ke apartemennya.
"Meyra, kamu jangan berdiam diri duduk di mobilku. Kita sudah sampai, ayo cepat turun." Devano menyuruh Meyra keluar dari dalam mobilnya.
"I ... iya," sahutnya gugup.
Dengan berat hati, Meyra keluar dari dalam mobil Devano. Kejadian dua bulan yang lalu, terus berputar dalam ingatannya.
"Aaah, aku tidak mau ..." teriak Meyra sambil memegang kepalanya, dan kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa sih?" tanya Devano yang heran melihat Meyra berteriak seperti itu.
"A ... aku tidak mau tinggal di sini," jawab Meyra berterus terang.
"Jadi kamu mau kita berdua tinggal di rumah Mama dan Papaku? Dan tidur satu kamar denganku? Apa jangan-jangan! Kamu mau mengulang kejadian semalam?" geram Devano pada Meyra yang tidak mau di ajak tinggal di apartemennya.
"Tidak ... aku tidak mau ..." Meyra kembali berteriak. Karena Meyra mendengar perkataan Devano, yang mengingat kejadian semalam.
"Kamu berisik banget sih, sudah diam." Devano yang kesal dengan Meyra, ia menarik satu tangannya Meyra dan mengajaknya masuk ke dalam apartemennya.
"Hiks hiks hiks ..."
"Kamu berhenti menangis, dan jangan buatku kesal," gerutu Devano yang kesal, mendengar suara tangisan Meyra.
"I ... iya,"
Saat Devano dan Meyra sudah berada di dalam apartemen, mereka berdua melihat Belinda dan Rajendra yang sudah berada di dalam apartemennya Devano. Karena Belinda dan Rajendra mau menunggu kedatangan Meyra dan Devano, yang akan tinggal di apartemen.
Meyra yang melihat kedatangan kedua mertuanya, ia segera bersalaman kepada Belinda dan Rajendra yang sedang duduk di apartemen Devano.
"Kalian berdua lama sekali, pergi kemana dulu?" tanya Rajendra pada Meyra dan Devano yang baru sampai di apartemen.
"Mama dan Papa mau apa ke sini?" Devano tidak menjawab pertanyaan dari papanya, tapi ia malah mempertanyakan kedatangan kedua orang tuanya, yang berada di dalam apartemennya.
"Di tanya sama orang tua bukannya di jawab. Tapi malah menanyakan Mama dan Papa yang datang ke sini, emangnya Mama dan Papa tidak boleh datang ke apartemenmu?" ucap Belinda.
"Ya ... boleh saja Mah, aku tidak melarang Mama dan Papa datang ke sini. Tapi aku cuman mau tahu, ada apa Mama dan Papa datang ke sini?" sahut Devano yang mempertanyakan kedatangan kedua orang tuanya.
"Ya tentu saja mau melihat keadaan kalian berdua," timpal Belinda.
"Kalian berdua sudah makan belum?" sambung Belinda yang bertanya kepada Meyra dan Devano.
"Belum Mah," jawab Devano dan Meyra secara bersamaan.
"Ini Mama bawa makanan." Belinda memperlihatkan makanan yang ia bawa pada Devano dan Meyra.
"Yuk kita makan bersama," sambung Belinda yang mengajak Meyra dan Devano. Untuk makan bersama-sama.
Mereka semua pun makan bersama, dan setelah selesai makan bersama. Belinda dan Rajendra berpamitan pulang pada Meyra dan Devano.
"Kalian berdua baik-baik tinggal di sini. Jangan berantem, dan teruntuk kamu, Van. Mama menitipkan Meyra sama kamu, jaga dan sayangi Meyra. Karena sekarang ini, dia sudah menjadi istrimu," ucap Belinda yang memberi pesan pada Devano.
"Iya Mah," sahut Devano.
"Kamu jangan iya, ya saja Van. Kalau sampai kamu menyakiti Meyra, Papa dan Mama akan..."
"Papa dan Mama tenang saja, Devano pasti akan menjaga Meyra dengan baik." Devano segera menyela ucapan Rajendra, yang belum selesai berbicara.
"Kamu tidak sopan sekali, menyela ucapan Papa," gerutu Rajendra yang kesal dengan Devano.
"Sorry Pah," balas Devano yang meminta maaf.
"Meyra, kamu harus ingat dengan pesan Mama! Kalau sampai Devano menyakitimu, kamu cepat hubungi Mama." Belinda memberikan kartu namanya, yang di dalamnya itu sudah tertera nomor telepon Belinda.
"Iya Mah," balas Meyra sambil menganggukkan kepalanya, dan menerima kartu nama Belinda.
"Kalau begitu, Mama dan Papa pulang dulu. Nanti Mama akan sering berkunjung ke sini,'' ucap Belinda yang berpamitan pulang pada Meyra dan Devano.
Setelah kepergian Belinda dan Rajendra, Devano segera mendekati Meyra yang masih duduk di meja makan.
"Kamu tidur di kamar itu, dan aku tidur di sana." Devano menunjuk ke arah kamar Meyra dan kamarnya sendiri.
"Aku tidak mau tidur satu kamar denganmu, cukup hanya tinggal satu atap," sambung Devano sambil berlalu pergi meninggalkan Meyra.
"Aku juga sama, tidak mau tidur satu kamar denganmu," lirih Meyra. Ketika Devano sudah masuk ke dalam kamarnya.
______
Malam harinya.
Meyra yang sekarang ini, tidak tidur satu kamar lagi dengan Devano. Ia tiba-tiba saja, merasakan perutnya yang mual dan ingin muntah.
Meyra pun segera pergi ke wastafel, untuk memuntahkan isi di dalam perutnya.
"Huek huek ..."
Devano yang sudah terlelap dalam tidurnya, ia mendengar suara Meyra yang sedang muntah di wastafel yang jaraknya tidak jauh dari kamarnya.
"Itu Meyra berisik banget sih," gerutu Devano yang kesal mendengar suara Meyra, yang sedang muntah.
Devano segera bangun dari tempat tidurnya, dan memutuskan untuk pergi menghampiri Meyra. Saat Devano melihat Meyra yang sedang muntah, seketika itu ia jadi berprasangka buruk pada Meyra.
"Kenapa Meyra dari tadi mual dan muntah terus, apa jangan-jangan! Meyra sedang hamil?"