Unloved Wife

Unloved Wife
Bab 29 Hasil Pemeriksaan



Saat Meyra dan Devano akan masuk ke dalam mobil. Randy yang baru sampai di gedung apartemen Devano, ia segera pergi menghampiri Devano dan Meyra.


"Bos," ucap Randy yang berteriak memanggil Devano.


"Ada apa kamu datang menemuiku ke sini?" tanya Devano pada Randy yang sedang berlari menghampirinya dan Meyra.


"Ada yang mau aku bicarakan denganmu, bos." Randy menjawab pertanyaan Devano, sambil mengatur nafasnya. Karena tadi itu, ia berlari mengejar Devano dan Meyra yang akan masuk ke dalam mobil.


"Kalau tujuan kamu datang menemuiku, untuk membahas masalah pekerjaan di kantor. Sebaiknya kamu datang menemui Papaku saja, aku dan Meyra mau pergi," sahut Devano yang tidak memperdulikan Randy, yang ingin berbicara dengannya. Devano pun langsung masuk ke dalam mobilnya. Meyra yang melihat itu, ia pun segera menyusul Devano yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Tapi bos, ini ..."


"Aku masih ijin cuti Randy, jadi jangan tanyakan masalah pekerjaan denganku." Devano segera menyela ucapan Randy yang belum selesai berbicara, dan ia segera menyalakan mesin mobilnya. Karena ia dan Meyra akan pergi ke rumah sakit.


"Aduh ... Bagaimana menjelaskan semua ini pada bos Devano?" batin Randy yang melihat Devano dan Meyra sudah pergi meninggalkannya, tanpa bisa memberitahukan pada Devano tentang tujuan kedatangannya, yang ingin berbicara dengan Devano.


________


Di dalam mobil Devano.


"Apakah tidak sebaiknya, kamu berbicara dengan Randy terlebih dahulu. Kasian dia, jauh-jauh datang ke apartemen ingin berbicara denganmu," ucap Meyra yang merasa kasihan pada Randy. Karena Devano tidak memperdulikan kedatangan Randy, yang ingin berbicara dengannya.


"Buat apa kamu kasihan sama Randy, itukan salahnya sendiri. Apalagi zaman sekarang sudah modern, Mey. Dia bisa menghubungiku dulu, tanpa harus datang ke apartemen,"⁰ timpal Devano sambil menyetir mobil, dan menengok ke arah Meyra.


"Yang kamu katakan benar juga sih, tapi ... rasanya aneh saja. Randy langsung datang ke apartemen, tanpa menghubungi kamu dulu. Apa jangan-jangan! Kamu yang tidak menerima panggilan telepon dari Randy," ujar Meyra yang menuduh Devano, yang tidak menjawab panggilan telepon dari Randy.


"Dari tadi pagi handphoneku tidak berdering sama sekali. Kalau ada orang yang menghubungiku sudah pasti aku tahu, dan tentunya aku akan menerima panggilan telepon dari Randy." Devano menghentikan sejenak ucapannya. Karena ia mau mengambil handphonenya, yang ia taruh di saku depan celananya.


"Astaghfirullah ... pantas saja Randy langsung datang ke apartemen, ternyata dari semalam aku lupa mencharger handphoneku," sambung Devano yang kaget melihat kondisi handphonenya yang lowbat. Karena ia lupa mencharger handphonenya.


"Sudah ku duga," batin Meyra sambil tersenyum tipis. Karena ia sudah mengetahui itu akan terjadi.


"Aduh, charger handphone di mobil juga tidak ada lagi," gerutu Devano yang tidak bisa mencharger handphonenya.


"Nih pakai handphoneku saja. Kalau kamu mau menghubungi Randy," ucap Meyra yang memberikan handphonenya kepada Devano.


"Tidak usah, nanti saja aku menghubungi Randy nya." Devano menolak bantuan Meyra, yang mau meminjamkan handphone kepadanya.


"Oh ya sudah," balas Meyra yang memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas.


Perjalanan menuju rumah sakit, kembali hening. Hingga sampai pada akhirnya, Meyra dan Devano sudah tiba di rumah sakit.


Devano pun segera memarkirkan mobilnya, di tempat parkiran rumah sakit. Sebelum ia dan Meyra masuk ke dalam rumah sakit untuk mendaftar.


Devano dan Meyra yang sudah masuk ke dalam rumah sakit, mereka berdua segera mendaftar terlebih dahulu. Setelah itu, mereka berdua menunggu panggilan dari suster yang akan memanggil nama Meyra.


Tidak lama kemudian.


"Ibu Meyra Anatasya," ucap suster yang memanggil nama Meyra.


"Iya sus," jawab Meyra yang datang menghampiri suster bersama Devano.


"Mari masuk ke dalam," suster pun mempersilahkan Meyra dan Devano masuk ke dalam ruang pemeriksaan Dokter Widya SpOG, yang akan memeriksa kandungan Meyra.


Di dalam ruang pemeriksaan Dokter Widya SpOG. Meyra langsung menjelaskan tentang kondisinya, yang sering mengalami mual dan muntah. Meyra juga memberitahukan tentang hasil testpack yang bergaris dua pada Dokter Widya SpOG.


"Dari hasil testpack dan ucapan Bu Meyra yang mengatakan telat datang bulan, itu sudah bisa di pastikan hamil. Namun ... jika ingin memastikan kebenarannya secara akurat, silahkan Bu Meyra berbaring di atas tempat tidur," ucap Dokter Widya.


"Baik Dok," sahutnya, yang segera tidur di atas tempat tidur. Karena Dokter Widya mau memeriksa keadaan kandungan Meyra, dengan melakukan USG.


"Maaf yah, Bu. Saya buka sedikit pakaiannya," ujar Suster meminta izin kepada Meyra terlebih dahulu. Sebelum suster membuka sedikit pakaian, yang di kenakan oleh Meyra. Karena suster mau mengoleskan gel ke atas perut Meyra, yang mau melakukan USG.


"Di sini sudah terlihat jelas kantung kehamilan Bu Meyra, dan usia kandungannya sudah menginjak delapan minggu," tutur dokter Widya menjelaskan, tentang usia kandungan Meyra.


"Berarti Meyra itu beneran sedang hamil!" gumam Devano di dalam hatinya.


"Dan gejala yang tadi Bu Meyra katakan, itu di sebut Morning Sickness. Dan hal seperti itu, sudah biasa terjadi di awal trimester pertama bagi wanita hamil," sambung Dokter Widya.


"Jadi ... saya beneran hamil Dok?" tanya Meyra.


"Iya Bu Meyra," jawabnya sambil tersenyum manis.


Dokter Widya yang sudah selesai memeriksa keadaan kandungan Meyra, ia kembali duduk di ruang kerjanya. Karena Dokter Widya akan mencatat resep obat untuk Meyra.


"Ini saya berikan resep obat dan juga vitamin untuk Bu Meyra, dan setiap sebulan sekali. Bu Meyra harus mengecek kandungannya ke sini, untuk memeriksa perkembangan bayi yang ada di dalam kandungan Bu Meyra. Namun, jika ada keluhan apapun itu bisa langsung datang ke sini. Tidak harus menunggu sampai sebulan sekali," sambung Dokter Widya. Ketika ia sudah selesai mencatat resep obat untuk Meyra.


"Iya Dok," sahut Meyra sambil menerima resep obat dari tangan Dokter Widya.


"Apakah masih ada yang mau di tanyakan lagi?" tanya Dokter Widya pada Devano dan Meyra.


"Saya mau bertanya Dok, jika melakukan hubungan suami istri cuman sekali. Apakah bisa membuat si wanita cepat hamil?" jawab Devano yang dari tadi ingin menanyakan soal itu pada Dokter Widya. Namun ia malu dan ragu untuk mengatakannya, tapi keinginannya yang ingin mengetahui kebenarannya. Devano pun akhirnya, berani menanyakan soal itu pada Dokter Widya.


"Baiklah, akan saya jelaskan. Jadi mengenai kondisi seperti itu, bisa membuat si wanita cepat hamil. Meski baru sekali melakukan hubungannya, sebab benih yang keluar bisa bertahan di tuba fallopi selama tujuh hari. Setelah melakukan hubungan suami istri. Apalagi saat melakukan hubungan itu, keduanya sedang dalam masa subur. Maka kemungkinan besar, proses pembuahan antara benih yang keluar bertemu dengan sel telur berhasil dibuahi," tutur Dokter Widya menjelaskan.


"Oh seperti itu, terima kasih Dok atas penjelasannya," ucap Devano.


"Sama-sama, apa masih ada yang mau di tanyakan lagi?" tanya Dokter Widya lagi.


"Tidak ada Dok, saya dan istri mau menebus resep obat dulu." Devano segera menjawab pertanyaan dari Dokter Widya, dan langsung berpamitan pergi menebus resep obat di apotek.


Setelah selesai menebus obat di apotek. Devano dan Meyra segera pergi meninggalkan rumah sakit, dan pulang ke apartemennya. Akan tetapi, sesampainya Devano dan Meyra di apartemen. Devano kaget melihat orang yang berada di depan pintu apartemennya.


"Devano ..."