
Usai acara makan bersama di wisuda Elina, Kaysen menjadi lebih dekat dengan nenek Aisyah, neneknya Elina. Elina memang pernah beberapa kali menceritakan tentang Kaysen pada neneknya, namun belum pernah memberitahukan namanya.
Sementara ayahnya, beliau memang mengenal Kaysen dan keluarganya. Namun beliau tak begitu senang jika anaknya dekat dengan Kaysen. Dengan alasan rentang status pendidikan mereka yang di rasa terpaut sangat jauh. Elina yang baru lulus dari sekolah menengah pertama, dan Kaysen seorang mahasiswa semester VI. Sebenarnya dari segi umur, mereka hanya selisih 6 tahun. Elina berumur 15 tahun, dan Kaysen berumur 21 tahun.
...- Sesampainya di rumah -...
"Kak.!" panggil Naila.
"Ya? Ada apa Nail?"
"Habis dari mana?"
"Aah, kakak habis dari....."
"Dari wisudanya Elina kan??!!" Naila menyela.
"Iya.. kok tau??"
"Huh! Harusnya kakak tuh gausah dateng kesana! tau ga sih tadi kak Sandra kesini nyariin kakak! Tapi kakak ga dateng-dateng! Di telfon pun ga diangkat!"
"Sandra? Ngapain dia kesini?" Kaysen mengecek ponselnya, ternyata ada 5 kali panggilan tak terjawab darinya. Ponselnya sengaja di mode silent sejak pagi. Karena ia ingin benar-benar menikmati quality-time bersama Elina sebelum kembali ke kesibukannya.
"Tuh..!" Naila menunjuk sebuah bingkisan kecil diatas meja.
Kaysen mengeluarkan benda yang ada dalam bingkisan itu. Sebuah kotak kecil hitam dengan tepi berwarna abu-abu serta logo dari brand terkenal. Sebuah jam tangan warna putih dengan kombinasi warna rosegold pada jarum dan angkanya serta strap kulit berwarna coklat matang.
"Apa? Untuk siapa? Kenapa?" tanya Kaysen heran.
"Kakak tanya aja ke kak Sandra sendiri!" jawab Naila ketus sambil menghambur keluar.
Kaysen pun mengirim pesan untuk Sandra.
"Assalamu'alaikum San."
Sandra yang menerima pesan dari Kaysen segera meneleponnya, ia sangat rindu padanya. Padahal baru sehari dia tak bertemu dengannya di kampus.
Kaysen tak berniat mengangkat telepon dari Sandra. Ia menolak panggilan tersebut. Sandra meneleponnya lagi, namun ditolak lagi.
"Maaf. Aku gak bisa mengangkat telfon. Aku sangat lelah."
"Oh iya, baiklah. Segeralah istirahat. Jangan lupa makan yaa~" balas Sandra.
"Untuk siapa jam ini?" Kaysen mengabaikan chat berisi perhatian dari Sandra. Kaysen memang terkenal dingin kepada orang lain, kecuali kepada orang-orang terdekatnya.
"Untuk kamu... Aku gak sengaja melihatnya di display. Dan aku tertarik untuk membelinya.. Besok kamu pakai yaa"
"Untukku? Kenapa?"
"Iyaa, pokoknya besok di pakai aja yaa hehe.."
"Terimakasih." Kaysen membalas pesan Sandra singkat.
"Sama-sama... Selamat istirahat Kays..."
...****************...
Esoknya, hari kesepuluh bulan Mei 2015 adalah jadwal penerbangan Naila ke Australia. Naila harus segera kembali ke asrama. Ia di jadwalkan berangkat pukul 21.00 WIB malam.
Meski kuliah libur karena itu adalah hari minggu, Kaysen tetap harus melanjutkan tugas kuliahnya di rumah. Dari pagi Kaysen sudah sibuk menyicil makalah, proposal, juga persiapan PPL. Ya. Dia adalah mahasiswa semester VI yang sedang dalam fase super sibuk.
Siang itu, keluarga Kaysen memasak banyak sekali makanan. Kaysen berpikir mungkin itu sengaja disiapkan untuk Naila. Karena sebentar lagi Naila akan kembali ke negeri orang.
Perkiraan itu tak salah. Namun selain untuk Naila, mereka juga menyiapkan makanan itu untuk Sandra dan orang tuanya. Ayah Sandra dan ayah Kaysen melakukan kerjasama perusahaan di bidang properti. Tentu saja hal itu tak lepas dari campur tangan Sandra. Perempuan licik dengan segala cara.
"Kaysen... jam tangannya bisa di pakai hari ini?" tanya Sandra.
"Ada apa?"
"Gapapa.. pengen liat aja kalau kamu yang pakai"
Kaysen tak membalas pesan perempuan itu. Namun perempuan itu mengirim pesan lagi.
"Kaysen... tolong di pakai yaa jam nya... Kali iniii saja. 2 jam saja dari sekarang. Ya ya ya??" Sandra memohon.
"Kamu bahkan tak menjawab alasan kamu memberikan jam ini."
"Hehe, nanti ku jelasin. Aku mau ke rumahmu. Sekarang di pakai dulu yaa.. please..."
Kaysen merasa ada tolakan dari dalam hatinya untuk memakai jam itu. Namun ia tak ingin bersikap tidak menghargai pemberian orang lain. Ia pun berniat akan memakainya nanti saat Sandra datang.
Tiga puluh menit kemudian sebuah mobil silver berhenti tepat di rumah Kaysen. Satpam di rumah Kaysen, pak Agus membukakan pagar dan mempersilakan mobil itu masuk ke garasi rumah Kaysen. Kaysen yang melihatnya dari lantai dua kamarnya, berjalan mendekat ke arah jendela. Mobil siapa itu? Dan siapa orang yang berada di dalamnya?
BRAK!!!
Tiba-tiba pintu kamar Kaysen di buka keras oleh Naila.
"Kakak... Tolong cepat ganti pakaian kakak..!" ucap Naila tergesa-gesa.
"Ada apa Nail?"
"Pokoknya kakak cepat bersiap-siap. Pakai pakaian yang rapi.. Jangan lupa juga pakai hadiah dari kak Sandra kemarin ya kak.."
"Kenapa?" Kaysen tak menuruti perintah Naila.
"Hmm, bukankah seharusnya hanya ayah yang menemui?"
"Itu jika hanya ayahnya saja yang datang. Tapi ini kak Sandra dan juga ibunya ikut datang. Jadi cepat kakak ganti baju..... Dan jangan lupa jam tangannya.."
Kaysen, ia lumayan peka membaca situasi. Dia menuruti perintah Naila. Namun ia mengurungkan niatnya untuk memakai jam tangan pemberian Sandra.
Satu per satu dari keluarga Kaysen turun menemui Sandra dan orang tuanya. Kaysen berjalan di barisan paling belakang.
"Kak, sudah pakai jamnya?" tanya Naila.
"Jam?"
"Iyaa jam dari kak Sandra..!"
"Aku sudah memakai jam" jawab Kaysen.
Naila mengangguk senang. Mereka saling duduk berhadapan. Kaysen melirik tangan Sandra, ia melihat Sandra mengenakan jam tangan yang sama dengan yang diberikan padanya. Namun dengan ukuran yang sedikit lebih kecil. Firasat Kaysen benar. Ada yang di rencanakan oleh Sandra.
Obrolan merekapun hanya sekedar basa-basi dan menceritakan tentang diri mereka masing-masing. Kaysen sama sekali tak nyaman berada di ruangan itu.
(Duuh ingin kabur aja rasanya.) batin Kaysen.
Tiba-tiba ayah Sandra melirik Kaysen.
"Kalau nak Kaysen, sudah lama dekat dengan Sandra?"
"Apa?" tanya Kaysen tak paham.
Ayah Sandra sedikit merasa bingung. Karena selama ini Sandra selalu menceritakan bahwa ia sedang dekat dengan Kaysen.
"Ih, ayah apa sih.." sela Sandra.
"Mereka sedang masa pendekatan, bahkan sekarang mereka sedang memakai jam tangan couple.." ibu Sandra menimpali.
(A-apa?? ternyata ini rencananya menyuruhku memakainya? Padahal ia tau bahwa aku sudah memiliki kekasih) batin Kaysen. Kaysen sebelumnya telah memberitahu dan memperingati beberapa perempuan yang mendekat padanya. Ia risih dan tak ingin terjadi salah harap maupun salah paham.
"Benarkah?" tanya ayahnya.
"Iyaa, coba lihat jam tangan mereka." jawab ibu Sandra.
"Kak, perlihatkan jam tangannya" bisik Naila.
Kaysen tak menurutinya. Naila yang berada di sampingnya tak sabar lalu menyingsingkan lengan baju Kaysen. Terpampang jam tangan dengan strap rantai berwarna silver dan dial berlatar hitam serta kombinasi merah sebagai sentuhannya.
"Ah, maaf. Saya lupa memakai jam tangan yang kemarin diberikan oleh Sandra."
Sandra merasa sangat malu dan kecewa, begitu juga ibunya. Ibunya terlihat sedang menahan emosi, karena rencana awal mereka gagal.
"Maaf. Saya permisi dulu."
Kaysen bangkit dari duduknya dan segera pergi meninggalkan tempat itu. Sandra melihat ke arah Kaysen. Kaysen terlihat sangat kesal dan marah atas kejadian ini.
Tok tok tok tok tok!!!
"Kak..!! Buka pintunya..!!" ujar Naila.
Kaysen mengunci kamarnya dari dalam. Ia tak ingin bertemu siapapun.
"Kakak...!!"
Tok tok tok!!!
"Kak..!! Kenapa kakak gak pakai jam dari kak Sandra?? Kak Sandra sekarang menangis seorang diri di teras rumah! Kakak juga telah mempermalukanku, juga ayah dan ibu!"
"Kakak!!!"
Kaysen yang selama ini selalu mengalah dan menahan amarahnya, kali ini meledak seketika. Ia berjalan membuka pintu kamar.
"Apa?!!!" bentak Kaysen.
Naila menciut seketika. Ia merasa gugup melihat kakaknya dalam kondisi muka merah padam dan tatapan tajam.
"Ka-kakak kenapa pergi begitu saja?"
"Naila!! Mengapa kamu menjebak kakakmu sendiri?? Mengapa kamu tak lagi menghargai kakak!!"
"Ka-kakak..." Naila ketakutan.
"Sudahlah!"
Kaysen kembali menutup pintu kamar dengan sedikit keras dan menguncinya.
"Kakak.. maafkan aku..." Naila tersadar bahwa ia sudah berbuat melebihi batas pada kakaknya sendiri.
Naila tak beranjak dari pintu kamar Kaysen dan berulang kali mengucap permintaan maaf, namun Kaysen tak menghiraukannya.
"Aku rindu Elina..." gumam Kaysen sambil menitikkan air mata.
...****************...