Two Introverts

Two Introverts
8. Wisuda



Setelah kejadian malam itu (baca: episode 6), Kaysen berusaha meluangkan waktu lebih untuk Elina. Ia tak ingin Elina kehilangan kekuatan dan kepercayaan lagi. Ia tahu Elina masih sangat rapuh untuk berdiri. Ia tahu Elina masih sangat patah untuk kuat. Ia berusaha merajut rasa dan kepercayaan untuk Elina. Ia tak ingin kehilangan salah satu bagian terpenting dalam hidupnya.


Elina sangat hancur saat Naila memutuskan persahabatan dengannya. Ditambah, Elina sedang dalam masa-masa ujian kelulusan madrasah. Elina sering menangis di kala sendiri. Mengapa setiap pelaksanaan ujian sekolah selalu diikuti oleh ujian hidup? Dulu pun begitu. Seakan tak cukup dengan dikucilkan dan dibully saja. Orang terdekatnya pun ikut andil dalam memberi luka. Mental Elina di hancurkan berulang kali oleh orang-orang di sekitarnya. Berulang kali pula Elina di terapi oleh seorang psikiater karena begitu kalutnya ia menerima sayatan dan duri pada lukanya yang belum sembuh.


Elina adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya laki-laki dan sangat disayang oleh ibunya. Kedua orang tuanya berwatak keras, berkebalikan dengan dirinya. Elina harus selalu bisa menutupi air matanya di hadapan orang tuanya. Ia harus bisa menahan air matanya sampai malam hari saat akan istirahat. Karena jika ia menunjukkan sisi rapuhnya pada mereka saat itu juga, mereka tak segan-segan untuk mendobrak kamar Elina dan memaksanya menjadi anak sulung yang kuat.


Elina lebih nyaman tinggal bersama kedua kakek dan kedua neneknya. Mereka berwatak lembut dan sangat menyayangi Elina. Mereka tahu bahwa orang tua Elina memiliki sifat yang buruk. Elina pernah meminta untuk di daftarkan ke asrama sekolah atau tinggal bersama kakek dan neneknya.. Namun hal itu ditolak oleh ayah dan ibunya.


Di usianya yang masih kecil ia sudah terbiasa dibanting habis-habisan oleh keadaan. Selain dengan menangis, ia melampiaskan emosinya dengan belajar.


Elina adalah perempuan spesial yang pernah Kaysen temui. Berawal dari menaruh simpati berganti menaruh hati.


...****************...


...- Hari Wisuda -...


Hari ke sembilan bulan Mei tahun 2015, adalah hari kelulusan Elina. Elina berhasil lulus dengan predikat siswi teladan. Nilai ujian madrasah dan juga ujian sekolahnya meraih skor tertinggi di tingkat kabupaten. Ia pun menerima hadiah, penghargaan, dan juga tambahan voucher undangan VIP untuk keluarganya yang ingin datang ke acara wisuda.


Selain unggul dalam bidang akademik ia juga mahir memainkan piano, dan tentu saja hal itu dibarengi dengan suara menyanyinya yang indah.


Elina seorang gadis dengan suara indah namun berkepribadian introvert, ia tak bisa menunjukkan bakat bernyanyinya. Berkali-kali ia berlatih, namun tetap tak bisa. Para guru dan psikiaternya terus memberi semangat pada Elina, namun hasilnya nihil.


Hal besar berubah saat H-7 Elina mendapat undangan VIP. Ia mendapat 3 undangan VIP. Ia memberikan undangan tersebut kepada orang-orang yang di pilihnya. Satu untuk ayahnya, satu untuk nenek dari ibunya, dan satu lagi untuk Kaysen. Ia berusaha keras mengalahkan sisi introvertnya. Dorongan dan motivasi yang selama ini diberikan oleh guru dan psikiaternya yang sebelumnya hanya seperti angin lalu, mulai detik itu berubah menjadi bumbu keberanian dan kepercayaan diri dalam dirinya. Elina pun memberikan undangan VIP itu pada Kaysen saat mereka berada di lembaga studi.


Tiga hari sebelum acara wisuda Elina, Kaysen lembur mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Ia ingin bisa tepat waktu menghadiri acara wisuda orang yang dicintainya. Ia ingin berada di sisi Elina, di hari spesial tersebut.


......................


Kaysen datang tepat waktu pukul 08.00 WIB di sekolah Elina. Namun ia tak bisa menemui gadis itu di saat tersebut. Ia menunjukkan undangan VIP yang dimilikinya kepada petugas penerima tamu. Lalu, salah satu dari mereka mengantarkan Kaysen ke tempat duduknya. Bak seorang tamu besar, ia merasa sedikit canggung untuk duduk di kursi itu.


"Ternyata Elina se spesial ini", gumam Kaysen bangga.


Ia pun duduk di barisan para tamu besar. Ia duduk di barisan kelima tepi kiri. Dimana samping kirinya adalah karpet merah melintang, sebagai tempat berpijak. Orang-orang silih berganti berdatangan menuju aula wisuda. Sepuluh menit kemudian, ayah dan neneknya Elina datang. Ia sangat gugup. Takut jika mereka mengetahui hubungannya dengan Elina.. Neneknya Elina, yang tak lain bernama nenek Aisyah duduk tepat disamping Kaysen.


"Sendirian saja nak?" sapa nenek Aisyah.


"Hehe, iya nek"


"Loh, Kaysen???" sapa ayah Elina.


"Hehe Assalamu'alaikum Om..." Kaysen tersenyum.


"Loh, kamu kenal pemuda ini?"


"Wa'alaikumussalam, Kaysen..... Iya bu, dia anak dari tetanggaku"


"Oohh begitu.. sekarang sudah kerja apa kuliah nak?" tanya nenek Aisyah.


"Saya kuliah dan ikut kerja part-time"


"Waahh pinter. Kamu sedang menghadiri undangan adek ya nak?"


Kaysen terpaku. Tak tahu harus menjawab apa.


"Sa-saya di undang kesini oleh salah satu teman saya.." jawab Kaysen terbata-bata. Kaysen tidak bisa bilang bahwa sebenarnya ia diundang oleh kekasihnya, yang mana ia adalah cucu dari nenek yang sekarang sedang berada di sebelahnya.


"Oalah...." respon nenek Aisyah.


Kaysen mengangguk sambil tersenyum khas orang Jawa yang biasa dilakukan saat menanggapi orang yang lebih tua.


Pukul 08.30 WIB, acara baru dimulai. Pembawa acara membacakan susunan acara pada hari itu yang dimulai dengan Khotmil Qur'an. Dilanjutkan dengan pertunjukan tari saman.


Sepanjang acara satu dan dua, Elina tak menampakkan batang hidungnya sekalipun. Pesan Kaysen juga belum dibalas. Kaysen semakin tak sabar ingin melihat Elina.


Setelah acara satu dan dua selesai, dilanjutkan acara ketiga, yaitu wisudawan dan wisudawati memasuki ruang acara. Kaysen meneliti setiap wisudawati yang masuk, namun ia tak bisa menemukan Elina. Kaysen kembali mengecek ponselnya, namun tetap tak ada balasan darinya.


"Ibu, kok anakku gak kelihatan ya?" tanya ayah Elina.


"Mungkin tadi kelewat. Aku juga belum melihatnya.."


Kaysen semakin resah saat ternyata keluarga Elina juga tak menemukan keberadaannya di sana.


"Apakah ia sakit? Apakah ada masalah? Apa dia tak bisa berada di tempat yang ramai orang ini? Elinaa... aku mohon, balas pesanku.." Kaysen berbicara dalam hati.


Para wisudawan dan wisudawati menyanyikan lagu nasional dan mars madrasah. Setelah selesai, mereka dipersilakan duduk. Berlanjut ke acara keempat, sambutan-sambutan. Ketiga orang tersebut tak juga menangkap sosok Elina.


Acara sambutan pun selesai. Pembawa acara tak membacakan acara selanjutnya. Terdengar suara piano dari sisi kanan panggung. Pandangan orang-orang jatuh pada guru musik yang sedang memainkan piano tersebut.


Tiba-tiba suara nyanyian yang begitu indah entah darimana asalnya mengejutkan orang-orang. Mereka kembali terfokus melihat sang pianis. Namun, ia hanya mengukir senyum.


Orang-orang yang berada di bagian belakang bersorak saat melihat seorang gadis cantik bertubuh tinggi mengenakan gaun berwarna peach rosegold datang dari pintu tengah sebelah kiri.


Orang-orang buru-buru menoleh ke sumber suara. Termasuk Kaysen, ayah, dan juga neneknya. Mereka terkesima melihat gadis itu, namun mereka tak mengenalinya sampai wajah gadis itu ditampilkan di layar proyektor panggung.


Ya. Gadis itu adalah Elina.


Kaysen terkesiap melihatnya. Ia tak percaya Elina tampil di hadapan banyak orang. Kaysen mengerti Elina memiliki banyak sekali bakat terpendam, namun ia tak percaya secepat ini dia bisa mengatasi kepribadian dirinya. Elina berjalan dari pintu tengah bagian kiri mengikuti alur karpet merah sambil bernyanyi, lalu tersenyum ke arah mereka bertiga.


"Eli... apakah dia sungguh Eli????" tanya nenek Aisyah.


Ayahnya pun masih tak percaya bahwa dia adalah Elina. Elina berjalan sampai barisan depan lalu berbalik menghadap orang-orang yang hadir dan melanjutkan nyanyiannya.


Orang-orang sangat takjub dengan suara dan penampilan Elina. Berungkali mereka memberi tepuk tangan saat Elina berhasil menyanyikan bagian nada tinggi. Setelah selesai, Elina membungkukkan badan lalu kembali keluar melalui pintu depan sebelah kiri. Dan orang-orang tak bosan memberinya tepuk tangan lagi.


"Mari beri tepuk tangan yang meriah untuk saudari Elina Alisha Letha..! Perlu diketahui, saudari Elina Alisha Letha adalah seorang siswi berprestasi baik di bidang akademik maupun non akademik. Ia telah mengantongi beberapa piala cerdas cermat di tingkat provinsi. Selain itu dia menjadi siswi dengan nilai NEM tertinggi tahun ini, juga di tingkat provinsi. Saudari Elina juga mahir dalam bermain piano dan bernyanyi. Sebuah kebanggaan bagi sekolah ini atas bakat dan prestasinya. Mari sekali lagi beri tepuk tangan yang meriah untuk saudari Elina Alisha Letha..."


Plok plok plok plok plok. Suara tepuk tangan saling bersahutan.


Acara selanjutnya adalah acara inti. Yaitu prosesi wisuda. Elina terlihat memasuki ruangan dari pintu depan sebelah kiri, dan duduk di barisan wisudawati.


......................


Acara prosesi wisuda berjalan dengan lancar. Setelah itu, Elina di persilakan untuk memberi sambutan sebagai wakil wisudawan/wisudawati sekaligus siswi berprestasi.


"Kerennn" gumam Kaysen.


"Anakkuuu"


"Elina sayang cucuku..."


Ketiga orang itu pun sangat kagum melihat Elina. Acara pun berjalan selama 4 jam.


Usai acara, Elina menemui 3 orang spesialnya. Namun Elina tak menemukan sosok Kaysen.


"Anakku... kamu hebat!! Ayah bangga padamu."


"Cucuku... cucuku hebat sekali..."


Elina tersenyum dan saling memeluk keduanya. Tak lupa mereka berfoto bersama.


Para tamu undangan VIP pun dipersilakan untuk menikmati hidangan di ruangan khusus.


"Eli.. ayo makan dulu."


"Ah iyaa, sebentar nek.. Eli ada urusan.."


"Hmm baiklah nak.. segera kesini ya nanti kalau urusannya sudah selesai"


"Iya, baik nek.."


Elina mencari Kaysen, lalu keduanya bertemu di pagar sekolah.


"Elina.. kamu keren sekali..!!! Aku bangga padamu.!"


"Kak... terimakasih yaa sudah datang" Elina tersenyum bahagia.


"Congratulations Elina-ku" Kaysen menyerahkan sebuah buket bunga cantik berhiaskan pita putih dengan kombinasi warna peach. Warna senada dengan gaun yang sedang dipakai Elina.


"-ku??... Aahh bunganya cantik sekali! Terimakasih banyak kak Kays...-ku ♡"


"Eh???... Hehehe" Kaysen tersipu malu.


"Kak, boleh kita foto bareng?" ajak Elina.


"Harusnya aku yang bilang begitu."


"Hihihi"


"Diah bisa tolong fotokan kami?" pinta Elina pada adik kelasnya.


Keduanya pun berfoto bersama dan juga beberapa kali berfoto selfie.


"Terimakasih untuk hari ini." bisik Elina tiba-tiba.


"Ah, i-iya" muka Kaysen memerah karena Elina tiba-tiba mendekat.


"Kak.. ayo makan dulu"


"Ah, aku sudah makan.."


"Udahh ayo kak.." Elina menarik lengan baju Kaysen.


...****************...