Two Introverts

Two Introverts
10. Kembali Berpihaknya Naila



Perjanjian kerjasama perusahaan berjalan lancar meski terdapat sedikit insiden saat pertemuan tadi.


Ayah Sandra adalah orang yang rasional, tegas, dan memiliki kepribadian baik. Berkebalikan dengan sifat istrinya. Sedangkan ayah Kaysen merasa dirinya telah dipermalukan oleh anaknya sendiri dan ia marah besar padanya.


"Kaysen!!!! Buka pintunya!!!"


"Kaysen!!! Buka sekarang atau ayah dobrak pintunya!!"


"Kaysen!!!"


Kaysen pun membuka pintu kamar.


PLAK!!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya. Kaysen terjatuh ke lantai dengan bibirnya mulai mengeluarkan darah.


"Puas kamu mempermalukan ayah??"


"Apa maksud ayah?"


"Mengapa kamu tak memakai jam tangan pemberian Sandra?? Dia sudah menyiapkan segalanya, agar keluarga kita semakin dekat!"


"Dekat seperti apa yang ayah maksud?"


"Seharusnya malam ini adalah malam perjodohan kalian! Dengan begitu, harusnya perusahaan tempat ayah bekerja bisa semakin maju dari sekedar kerjasama biasa! Dan ayah bisa naik pangkat!" ujar ayahnya marah.


Kaysen tertegun mendengarnya. Ia tak percaya ayahnya terang-terangan menjadikan anaknya sebagai alat.


"Ayah.. Maaf. Tapi Kaysen tidak setuju dengan perjodohan ini"


PLAK!!!


"Alastayr!! Sejak kapan kamu menjadi pembangkang seperti ini? Bukankah selama ini kamu selalu penurut??" Ayahnya menyebut nama marga anaknya.


"Menurutlah kali ini! Dan kita akan hidup lebih sejahtera!"


Kali ini Kaysen tak bisa memendam semua emosinya lagi. Semua emosi di dalam dirinya meledak.


"Ayah!!! Selama ini Kaysen selalu menuruti perintah ayah! Selalu mengikuti keinginan ayah! Kaysen tak pernah sekalipun menentang permintaan ayah meskipun Kaysen tak suka! Tapi ayah tak pernah sekali saja memikirkan perasaan Kaysen! Ayah tak pernah menghargai Kaysen! Bagi ayah, Kaysen hanyalah sebuah robot yang tak memiliki tujuan dan perasaan! Kaysen tak ingin dikendalikan lagi, ayah! Kaysen ingin menentukan jalan Kaysen sendiri! Tolong mengertilah ayah!"


Suara keras Kaysen dan ayahnya terdengar sampai ruang tamu. Naila dan ibunya berlari menuju kamar Kaysen. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Kaysen. Keduanya refleks menutup mata dengan tangan mereka saat melihat sebuah tamparan keras mendarat di pipi Kaysen.


PLAK!!!


"Berani kamu sekarang sama ayah?!!!"


Kaysen tertelungkup lemas di lantai. Diikuti dengan darah yang semakin banyak memenuhi wajahnya.


"Terimakasih, ayah." rintih Kaysen.


Ibunya tak tahan lagi. Ia maju melindungi Kaysen. Ibunya memeluk Kaysen yang sekarang terbujur lemas di pangkuannya dengan campuran darah dan air mata memenuhi wajahnya. Ibunya merasa sangat terluka melihat kondisi anak sulungnya.


"Cukup, ayah! Dia anak kita!" ujar ibu Kaysen.


"Isma! Kamu terlalu memanjakan anak-anak! Sekarang lihat hasilnya!" bentak ayah Kaysen pada istrinya.


"Pokoknya ayah gak mau tau! Mau kamu punya kekasih sekalipun! Kamu harus tetap menikah dengan Sandra!" ujar ayah Kaysen sebelum akhirnya ia pergi ke ruang kerja miliknya.


Naila menangis di sudut ruangan. Ia tersadar bahwa ia telah menambah tekanan untuk kakaknya. Selama ini kakaknya selalu tersiksa. Dalam diamnya ia menyimpan banyak luka.


"Naila.. tolong bantu ibu membawa kakak ke kamar.."


Naila menghentikan tangisnya, lalu membantu kakak laki-lakinya. Naila dengan sigap mengambil kotak P3K dan mengobati luka kakaknya.


"Naila, nanti berangkat jam berapa?" tanya Kaysen saat Naila memberi antiseptik di dagu Kaysen.


"Na-naila dapat jadwal jam 9 malam. D-dan mungkin akan ber...." perkataan Naila terhenti. Air matanya tumpah keluar saat melihat keadaan kakaknya.


"Naila.. kenapa?" tanya Kaysen.


Naila segera memeluk kakaknya dan menangis dalam pelukannya. "Kakak..... Maafkan Naila... Padahal Naila sudah jahat ke kakak, tapi kenapa kakak tetap perhatian ke Naila..." Naila menangis hebat di pelukan kakaknya. Kaysen merengkuh adiknya dan mengelus kepalanya.


"Karena Naila adalah adikku"


Kaysen mengusap air mata adiknya, dan memberikan senyuman tulus untuknya. Naila kembali meneteskan air mata dan tersenyum memandang kakaknya.


"Nak, ibu juga minta maaf.. Selama ini ibu juga ikut andil dalam menuntun Kaysen menjadi orang yang seperti ayah mau. Nak, kamu bebas menentukan jalan hidupmu. Kamu boleh menolak perjodohan ini nak.." ujar ibu Kaysen sambil membawakan minuman hangat untuknya.


"Terimakasih, ibu"


...****************...


Pukul 18.30 WIB, Kaysen bersiap untuk mengantar adiknya ke bandara. Ia mengenakan kemeja navy dipadukan dengan celana latte dan sepatu sneakers.


"Kakak.. Apa kakak yakin mau mengantar Naila?" tanya Naila.


"Iya.. Kakak sedang bersiap-siap. Kamu sudah selesai?"


"Tapi keadaan kakak sedang tidak baik.."


"Aku sudah lebih baik dari tadi kok. Masa kakak tega melewatkan waktu untuk adik kakak yang sebentar lagi tak lagi berada di benua yang sama dengan kakak?" Kaysen menggoda adiknya.


"Kakakkk....!!" Naila berlari ke pelukan Kaysen.


"Eh, kenapa lagi?? Kok cengeng lagi"


"Naila tak ingin meninggalkan kakak"


"Jadi, gak mau pergi ke asrama?"


"Bukan gitu. Maksudnya Naila akan selalu ada di pihak kakak.."


"Haha. Baiklah. Yuk berangkat"


Naila berpamitan pada ayah dan ibunya. Meski bukan pertama kalinya, namun ibunya tetap merasa sangat berat melepaskan anak bungsunya tinggal jauh darinya. Sementara Kaysen, sibuk memasukkan koper bawaan Naila ke bagasi mobil.


"Sayang.. Kenapa menangis? Jangan memberi kesan yang buruk untuk Naila" ujar ayah Naila.


"Hati-hati ya nak.. Jaga diri baik-baik. Perhatikan pola makan dan istirahat. Jangan memaksakan diri"


"Iya ibu.. Jangan khawatir. Kalian juga jaga diri ya.. Ibu, ayah, Naila pamit ya.. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam"


Naila masuk mobil dan belum menutup kaca mobilnya. Ia melambaikan tangan pada ayah dan ibunya.


"Hati-hati nak" ujar ibu Naila lagi.


"Iyaa, sampai ketemu lagi" Naila melambaikan tangan pada keduanya.


Mobil Kaysen dan Naila menjauh dari rumah itu. Ada perasaan getir saat ibunya melihat kedua anaknya.


"Kak..." Naila membuka percakapan.


"Ya?"


"Mau tanya apa dek?"


"Tapi kakak jawab jujur ya"


"Iyaa. Apa?"


"Kakak beneran ada hubungan sama Elina?"


Kaysen tertegun.


"I-iya. Maafkan kakak ya Nail.."


Naila menatap kakaknya yang sedang berkendara.


"Naila.. Kamu... tau dari siapa kalau kakak dekat dengan Elina?" tanya Kaysen.


"Aku.... tau dari kak Dimas"


"Dimas???"


"Iya.."


Kaysen berpikir apa sebenarnya yang direncanakan oleh Dimas. Seorang sahabatnya dulu yang kini sangat membencinya, namun berani menghubungi adiknya.


"Naila.. boleh kakak tanya kamu?"


"Tentu saja. Kakak mau tanya apapun akan aku jawab."


"Kenapa kamu membenci Elina?"


"A-aku membencinya kenapa ya? Karena kalian dekat tanpa sepengetahuanku, mungkin..."


"Lalu..?"


"Karena dia berusia dibawahku.." Naila menjawab jujur.


"Misal bukan Elina orangnya, namun orang lain yang usianya juga dibawahmu, apakah kamu juga akan membencinya?"


"Ah.. te-tentu saja.."


"Jadi, sebenarnya kamu tidak membenci Elina kan??? Naila.. kamu seharusnya membenci kakak, bukan orang yang kakak suka.."


"M-maaf kak.. aku sekarang mengerti. Aku tak akan bersikap egois lagi."


"Elina sangat menyayangimu Nail.. Setiap hari dia menunggu balasan pesan darimu, namun kamu tak kunjung membalasnya. Elina sangat senang saat tiba-tiba kamu menelfonnya. Dan dia sangat hancur saat kamu memutuskan persahabatan dengannya."


"Be-benarkah?"


"Apa kamu pikir kakak sedang berbohong?"


"T-tidak."


"Kakak.. tolong sampaikan permintaan maafku untuk Elina.. Aku mohon.." tambah Naila.


"Kenapa nggak minta maaf sendiri?"


"A-aku belum siap. T-tapi nanti aku pasti akan menelfon Elina. Insya Allah."


"Baiklah. Nanti akan kakak sampaikan. Naila, boleh kakak tanya lagi?"


"Boleh banget kak.. Apa?"


"Semenjak kapan kamu dengan Sandra?"


"Sebenarnya aku dekat dengan kak Sandra saat berada di kelas X. Dia adalah kakak pramuka di sekolahku waktu itu. Dia mendekatiku. Dan dia memintaku untuk pura-pura tak mengenalinya saat pertama kali dia dan teman-teman kakak ke rumah kita"


"Hm, jadi kamu dekat dengan Dimas dan Sandra tanpa sepengetahuan kakak sebelumnya?"


"A-aku dengan kak Dimas nggak begitu dekat kak. Dia hanya menghubungiku satu kali."


"Ooh gitu. Jadi, sekarang kamu akan tetap dekat dengan Sandra?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Aku baru sadar bahwa selama ini aku dijadikan alat agar dia bisa mendapatkan kakak"


"Darimana kamu tau?"


"Setelah aku berada lama didepan pintu kamar kakak waktu itu, aku berniat melihat kak Sandra di luar. Belum sempat aku keluar, aku mendengar percakapannya dengan ibunya"


"Mereka bilang apa?"


"Aku dengar bahwa kak Sandra telah menyiapkan rencana baru, dan dia sedang bersekongkol dengan kak Dimas. Mereka bilang aku udah nggak diperlukan lagi"


"Kamu nggak berbohong?" sidik Kaysen.


"Masya Allah kak.. aku serius. Nih aku perjelas ya.. Naila sekarang ada di pihak kak Kaysen. Dan Naila mulai saat ini merestui hubungan kakak dan Elina kecilku"


"Hahahahaha" Kaysen mengelus kepala Naila. (Apa sebenarnya tujuan mereka?) batin Kaysen.


......................


Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB. Mereka sudah tiba di bandara. Kaysen membantu mengeluarkan beberapa koper Naila. Kemudian Naila segera check-in dan mendaftarkan bagasi untuk meletakkan koper-koper besarnya.


"Kakak... sekali lagi maafkan Naila ya"


"Mau berapa kali sih kamu minta maaf Nail?"


"Tapi kak..."


"Iya dek.. Gapapa. Jangan diulangi lagi ya.."


"Iya, makasih ya kak.."


"Nail... kamu jaga diri ya, hati-hati." tambah Kaysen.


"Siap kak. Kakak juga jaga diri ya.. Kalau kakak butuh Naila, Naila siap kok. Chat kakak udah aku pin diatas sendiri"


Kaysen kembali mengelus kepala adiknya. Kedua adik kakak itu kembali berpihak satu sama lain.


......................


Waktu penerbangan Naila tiba. Kaysen belum beranjak pergi sampai melihat pesawat lepas landas. Naila mendapat kursi didekat jendela pesawat. Adik dan kakak itu saling melambaikan tangan satu sama lain. Ada rasa tak rela saat melihat adiknya dibawa pergi oleh sang burung besi.


Pesawat semakin menjauh hingga hanya terlihat satu titik. Entah mengapa perasaan Kaysen terasa sangat getir melepaskan adiknya kembali ke Australia. Kaysen mengecek ponselnya. Ada pesan dari adiknya sebelum ia lepas landas tadi.


"Kakak.. Jaga diri baik-baik ya. Jangan lupa sampaikan salamku untuk Elina.. Aku akan berusaha sering-sering menghubungi kalian dan ibu. ♡"


...****************...