
Elina dan Kaysen semakin dekat dari hari ke hari. Tanpa sadar keduanya saling bergantung satu sama lain. Namun status hubungan mereka masih sama sekali belum berkembang.
Kaysen yang sebenarnya menaruh hati pada Elina, selalu menyangkal akan perasaannya. Ia tak ingin perasaan itu semakin tumbuh. Disisi lain dia juga tak ingin Elina menjauh darinya. Kaysen ingin merasa cukup hanya dengan menjadi sosok kakak bagi Elina untuk berbagi keluh kesah, kebahagiaan, dan tempat pulang. Namun hatinya berkata lain.
Tembok besar yang dibagun oleh Kaysen hanya menunggu waktu untuk runtuh, dikalahkan oleh besarnya perasaan yang setiap hari mereka pupuk untuk satu sama lain.
Sejujurnya Elina juga menyukai Kaysen. Dia menyadari hatinya. Tapi dia takut mengembangkan perasaannya. Namun hati tidak bisa dipaksa. Dia sungguh menyukai Kaysen dan ingin bersamanya dalam waktu yang lama..
...****************...
Saat di lembaga studi, Kaysen yang selama ini hanya bisa melihat Elina dari kejauhan mencoba mencuri waktu untuk berbicara face-to-face dengan Elina..
"Elina.." seru Kaysen.
"Eh, kak Kays. Tumben.. Ada apa menemuiku tiba-tiba?" Elina terkejut melihat Kaysen berada tepat dibelakangnya.
"Hari minggu besok apakah kamu ada acara?"
"Sepertinya tidak ada acara khusus kak. Kenapa?"
"Apa kita bisa jalan - jalan sebentar?"
"Ah, bisa kak bisa.. lagian aku juga sedang bosan di rumah" jawab Elina antusias.
"Baiklah. Nanti ku kirim beberapa tempat rekomendasi yang bagus via chat.. Kamu pilih tempat yang ingin kamu kunjungi ya.." Kaysen tersenyum lega setelah ajakannya di respon positif oleh Elina.
Mereka segera kembali ke tempat masing-masing sebelum guru keamanan datang dan memergoki mereka.
...****************...
Kali ini mereka tidak berangkat sendiri-sendiri. Melainkan berboncengan motor menerjang sejuknya angin pagi..
Tak lupa Kaysen memberi ruang diantara mereka berdua, yaitu tas ransel yang diletakkan dibelakang punggungnya.. Sedangkan Elina duduk menyamping karena dirasa perjalanan tak akan memakan waktu lama. Juga karena Elina memakai balutan rok kasual sebagai style-nya..
Baik Kaysen maupun Elina mereka sekalipun belum pernah bersentuhan satu sama lain. Keduanya memiliki landasan tersendiri untuk beberapa hal yang menyangkut dengan lawan jenis.
"El, hati-hati ya.. jangan lupa pegangan ke bagian belakang atau samping motor"
"Iya, siap kak"
Sepanjang perjalanan, mereka menikmati kebersamaan manis itu.
Sesampainya di alun-alun, seperti biasa mereka pergi membeli camilan ringan khas daerah mereka sebagai teman bicara.
Di kursi manis yang berlatar pemandangan air mancur alun-alun kota, dengan angin pagi yang menjadi boosternya, juga bunga-bunga dan dedaunan yang dipenuhi embun pagi, menambah kesan damai bagi mereka berdua.
"Suasananya menenangkan bukan?" Kaysen membuka percakapan.
"Iya, suasana apapun saat bersama kakak memang menenangkan"
"Hahaha kalau tidak bersamaku?"
"Terasa biasa saja"
"Hahaha udah mulai besar ya sekarang.. bisa ngegombal"
"Aku nggak ngegombal" jawab Elina cepat.
"El... Mungkin untuk sementara ini aku akan jarang berbalas pesan denganmu"
"Kenapa?" tanya Elina heran.
"Di semester ini aku akan lebih sibuk dari semester kemarin.."
Elina tak langsung menjawab. Ia membenamkan matanya menatap sepasang sepatu yang dikenakannya.
"Tapi jangan khawatir, aku akan meluangkan waktu untuk adikku ini setiap akhir pekan." imbuh Kaysen.
"Kak.."
"Ya?"
"Apa aku boleh tanya satu hal?"
"Tentu.."
"Apa kita hanya sebatas adik kakak?"
"I-iya, bukankah selama ini begitu?"
"Tapi kenapa kakak terkesan marah saat aku sedang bersama dengan orang yang aku suka?"
"A-aku tidak marah,"
"Kakak selalu badmood saat melihatku bersama Leon, bukan?"
Kaysen menatap Elina tanpa menjawab pertanyaan darinya.
"Tidak. Kita masih punya banyak waktu untuk bersama" jawab Kaysen cepat.
"Sungguh? Tapi jika suatu saat kakak sudah memiliki pasangan, pasti akan meninggalkanku juga bukan? seperti teman-temanku yang lain" Elina menatap sendu pada air mancur yang berada tepat dihadapannya. Pengalaman buruk Elina muncul mengingat dia adalah orang yang tak pandai bersosialisasi dengan orang lain.
"El.."
Elina tak merespon panggilan Kaysen.
"Sebenarnya aku tak suka melihatmu bersama orang lain" ucap Kaysen dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Apa?" tanya Elina cepat.
"..... Aku.... tak suka melihatmu lebih akrab dengan orang lain, daripada denganku. Dan..... aku tak akan pernah meninggalkanmu" Kaysen mengulang pernyataan tanpa menatap Elina.
"Maksudnya?? Kak, tatap aku jika sedang berbicara"
"Aku..... Tetaplah bersamaku."
Elina mencoba mencerna kata-kata Kaysen, yang ada dia hanya menemukan jawaban bahwa Kaysen sedang mengungkapkan perasaannya.
"Kak... aku... juga tak suka melihat kakak lebih dekat dengan orang lain daripada denganku" ungkap Elina.
Kaysen terperangah.
"E.. El? Maksudnya?"
"Aku menyukai kakak sejak lama.. tapi aku takut mengembangkan perasaan ini. Aku selalu berupaya membangun dinding untuk menutupi perasaanku. Tapi keinginan untuk tidak kehilanganmu jauh lebih kuat dibandingkan dinding yang kubuat."
"A-artinya? Kamu memiliki perasaan yang sama denganku?" balas Kaysen tak percaya.
"Yaps.." Elina tersenyum manis, merasakan kelegaan yang belum pernah ia rasakan. Kaysen memang bukanlah orang pertama yang dia sukai. Namun Kaysen adalah orang pertama yang dia cintai. Dan itu pertama kalinya dia mengungkapkan perasaan pada seseorang.
"Selama ini aku juga selalu menyangkal akan perasaanku padamu. Semakin ku tekan semakin terasa sesak. Benar saja, setelah aku bicara seperti ini, aku merasa beban berat yang ada di hatiku terasa berkurang. Sepertinya memang benar, aku menaruh hati padamu." tambah Kaysen.
"Se-sepertinya?"
"Ah, tidak.. maksudku....."
"Aku mengerti." sela Elina.
Elina paham betapa mustahilnya hubungan seorang anak SMP berumur 15 tahun dengan seseorang yang berada di bangku perkuliahan..
"Kak, mau coba kue leker yang disana?" Elina mencoba mengalihkan pembicaraan.
Kaysen tak beranjak dari tempat duduknya.
"Elina.. Maaf aku telah mengatakan hal ini. Harusnya aku bisa menahan diriku dan mengatakannya suatu saat nanti. Aku akan menunggumu. Namun, kamu tetap bebas menentukan jalan hidupmu." Kaysen masih terperangkap dalam pembahasan barusan.
"Kak.. Aku juga akan menunggumu. Berapa lamapun itu, aku akan menunggu."
"Elina, jangan bicara seperti itu.. itu akan melukaimu dan menjerat dirimu."
"Tak apa. Lebih baik terluka dalam perjuangan, bukan?"
"Bagaimana dengan Leon? Bukankah kamu menyukai lelaki itu?"
"Tidak, tidak sama sekali. Aku pernah bilang menyukainya hanya untuk mengetahui reaksi kakak"
"Mengetahui reaksiku?"
"Aku hanya ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaan kakak padaku. Kak, aku hanya menyukai kak Kaysen." Elina menatap Kaysen serius.
"Aku.. aku tak bisa memberi harapan sekarang. Bukan karena aku tak ingin,..."
"Kita berkomitmen saja ya kak? bagaimana?"
"..." Kaysen tak tau harus menjawab apa.
"Aku tak ingin kita tak memiliki ikatan meskipun setipis apapun ikatan itu" ucap Elina.
"Aku takut masing-masing dari kita akan kecewa.. Aku pernah memberi harapan pada seseorang dan aku pernah merasakan kekecewaan itu. Dan juga, jalanmu masih sangat panjang Elina.." jelas Kaysen.
"Aku mengerti.. aku akan menghargai keputusan kakak.."
Untuk saat ini hubungan mereka seperti memiliki ikatan yang samar. Mereka yang ingin mengikat satu sama lain, namun terhalang sebuah tembok besar hingga komitmen itu pun tak bisa terucap.
Keduanya memiliki komitmen untuk diri mereka masing-masing. Komitmen untuk tetap bersama satu sama lain.
Lega sekaligus sesak menyelimuti keduanya.. Kaysen yang saat ini memilih membiarkan semuanya mengalir begitu saja, karena ia tak ingin merenggut kebebasan Elina. Dan Elina yang membentengi hatinya untuk terisi oleh Kaysen seorang.
Tetapi mau disangkal bagaimanapun, semakin hari rasa mereka semakin terpupuk satu sama lain.
...****************...