Two Introverts

Two Introverts
2. New Bestfriend




Satu tahun kemudian Elina harus menerima kenyataan ditinggal oleh sahabatnya menuntut ilmu di luar negeri.


Ya, Elina dan Naila berbeda umur 2 tahun. Naila mendapat kesempatan beasiswa dari perusahaan ayahnya untuk sekolah di Australia. Saat itu ia duduk di bangku SMA kelas X.


Elina mencoba membujuk sahabatnya agar tidak pergi ke luar negeri, agar tetap berada disamping Elina. Namun Naila tidak bisa.. Naila harus tetap pergi melanjutkan sekolahnya di luar negeri.


Tangis haru dan sedih bercampur dalam diri Naila. Berat rasanya jauh dari orang tua dan juga sahabat. Namun itu adalah cita-cita Naila. Dia harus mengorbankan salah satunya..


Naila ditemani oleh ibunya saat berpamitan pada guru lembaga studi club bahasa arab, tempat Elina dan Naila selama ini bersama. Lalu bergantian Naila menjabat tangan teman-temannya. Di akhir, Naila menghadap Elina.


Air mata Elina tidak keluar deras namun tidak dapat dihentikan. Elina menghambur ke dalam pelukan Naila. Naila pun tak bisa menahan air matanya yang kembali menyeruak.


"Kak.. jangan lupakan aku ya.." pinta Elina.


"Pasti.." Naila mengusap air mata Elina dan tersenyum dihadapan sahabat kecilnya.


"Kamu jaga diri ya.. jangan terlalu memikirkan apa kata orang.. Kamu pasti bisa."


"Siap kak.. kakak juga jaga diri yaa di negeri kanguru.. aku akan selalu merindukan kak Naila"


"Iyaa adik ku yang paling cantik" Naila mencubit pipi chubby Elina.


...****************...


Elina dan Kaysen masih saling memberi kabar, berbagi cerita, berbagi pengalaman, juga saling curhat. Elina yang semula adalah anti-sosial dan berkepribadian introvert bisa berubah menjadi anak yang bisa berekspresi berkat Kaysen. Meski ia masih butuh waktu yang lama untuk menaklukkan kepribadiannya.


"El, coba deh sesekali kalau chat kasih emot atau kasih kata 'hehehe' atau apa gitu" ucap Kaysen.


"Gapapa si, biar gak kaku aja gitu.. hehe. Emang Elina gak pernah tersenyum apa kalau lagi chatingan sama kakak?"


"Pernah kok"


"Tuh kan, cuek banget jawabnya"


"Hehe, apa sih kak" balas Elina.


Perasaan asing dan tidak nyaman menyelimuti hati Elina. Dia biasanya hanya mengatakan yang penting saja dan mengabaikan kalimat ekspresif lainnya. Bahkan untuk emot saja Elina tidak terbiasa..


FYI, Kaysen sebenarnya juga berkepribadian introvert. Atau lebih tepatnya berubah menjadi ambivert semenjak dia mengambil jurusan yang berhubungan dengan sosial yaitu manajemen pendidikan.


Tak terasa bahasa formal yang biasa digunakan Elina untuk membalas pesan Kaysen mengalir begitu saja menjadi bahasa santai layaknya teman sebaya.


...****************...


Setahun berlalu, Kaysen tertarik untuk bertemu Elina. Kaysen mengajak Elina pergi ke toko buku. Karena ia tahu Elina tidak suka berada dalam keramaian. Dan membaca adalah teman favorit Elina..


Rasa ingin dan penolakan bertempur dalam diri Elina. Ingin karena ia akan pergi ke toko buku bersama Kaysen. Dan penolakan karena Kaysen adalah kakak dari sahabatnya.


Pada akhirnya Elina mengiyakan ajakan tersebut.


"Duh, aku pakai baju apa ya?? Ini pertama kalinya aku pergi dengan laki - laki.. Ah, lagian ini juga ke toko buku, anggap saja pergi bersama teman sekolah, pakai baju kasual saja ah" gerutu Elina.


Sementara di seberang sana Kaysen sibuk menyiapkan hadiah pertama untuk Elina sebagai tanda persahabatan. Dengan harap-harap cemas dia memikirkan segala hal yang belum tentu terjadi..


...****************...