Two Introverts

Two Introverts
13. Mood-booster



"Elina? Nenek?" pekik Kaysen.


Kaki Kaysen spontan berlari menuju Elina dan neneknya.


"Mengapa kalian ada disini?"


"Kami tadi dari rumah kakak, namun kakak tak ada di rumah. Alfi kecil bilang kalau kakak sedang berada di bandara. Aku sangat kaget mendengarnya dan segera mengikuti kakak kesini. Ku pikir kakak akan pergi tanpa memberitahuku." ujar Elina panjang lebar hingga membuat Kaysen tersenyum melihat gaya bicaranya.


"Kamu mengkhawatirkanku?"


"Ah aku.. maaf aku banyak bicara." Elina tersadar bahwa ada dua orang lagi selain dirinya dan Kaysen.


"Ayo pulang bersamaku." ujar Kaysen.


"Aku kesini bawa motor kok.."


"Kamu? Sama nenek?"


"Iyaa, hehe"


"Apa??!! Kamu kan masih dibawah umur Elinaaa"


"Ih kakak.. 15 bulan lagi aku 17 tahun tau! Bukan dibawah umur lagi..!" Elina mengerucutkan bibirnya.


"Hahahaha" Tingkah Elina berhasil membuat ketiga orang itu tertawa kecil. Sedikit lebih baik dari perasaan sesak tadi.


"Biar aku yang membawa motor kalian. Kalian naik saja di mobil Kaysen. Bahaya kalau kalian mengendarai motor sendiri"


"Eh tapi..."


"Iya, begitu saja lebih aman... Oh iya El, kenalin ini sepupuku namanya Alvan. Van, ini Elina dan ini neneknya namanya nenek Aisyah.."


Mereka berkenalan lalu segera kembali ke rumah Kaysen.


...****************...


Alvan tiba lebih dulu di kediaman Alastayr. Ia sedikit merasa lega melihat sepupunya bisa tersenyum, bahkan tertawa kecil seperti itu.


"Sepertinya gadis itu adalah gadis spesial untuk Kaysen, dia mampu menghapus air mata Kaysen hanya dengan kehadirannya." gumamnya.


Alvan melihat sebuah mobil asing berwarna silver terparkir di halaman rumah Kaysen. Alvan tak langsung masuk, melainkan menemui pak Agus dan bertanya mobil milik siapa disana. Ia ingat ekspresi Kaysen saat tadi ayahnya bilang akan menghubungi seseorang yang sama sekali tak ingin Kaysen temui.


"Pak.. sini!" Alvan memanggil pak Agus dari kejauhan.


"Ya? Ada apa Den Alvan?"


"Itu mobil siapa?"


"Oh itu mobilnya pak Sandi. Tapi yang sedang kesini adalah non Sandra dan ibunya."


"Apa mereka sudah menelepon Kaysen?"


"Tidak. Karena jika mereka telepon, pasti Den Kaysen tak akan pulang ke rumah"


(Hah? Mengapa? Sebenarnya ada masalah apa? Aku harus segera menelepon Kaysen sebelum dia sampai sini) pikir Alvan.


"Oke, terimakasih pak. Silakan kembali bekerja"


Alvan segera mengambil ponselnya dan menelepon Kaysen. Baru saja Kaysen bisa tersenyum, Alvan tak ingin sepupunya kalut lagi sementara ini.


"Halo.. Ya? Ada apa Van?"


"Kays.. Lebih baik sekarang jangan pulang ke rumah dulu"


"Apa? Kenapa?"


"Ada seseorang bernama Sandra dan ibunya sedang menunggumu di rumah.. Maaf jika aku lancang. Bukankah kamu tadi pagi bertengkar kecil dengan ayahmu karena tak ingin menemui seseorang bernama Sandra?"


"Ah.. Mereka ke rumah? Oke Van.. terimakasih banyak ya informasinya. Aku akan menyelesaikannya sekarang."


"Menyelesaikan?"


"Iyaa"


"Kau yakin? Apakah dirimu sudah siap?"


"Tentu."


Alvan merasa udara di sekitar Kaysen kembali positif.


"Gadis yang bersama Kaysen tadi benar-benar mood-booster untuknya. Ia mampu menghangatkan bongkahan es yang sangat dingin.." gumamnya saat mengingat Kaysen berkepribadian introvert.


Alvan menunggu Kaysen di ruangan pak Agus. Ia meneliti gerak-gerik Sandra dan ibunya dari kejauhan.


......................


Mobil Kaysen telah tiba. Kaysen memasuki rumah bersama Elina di belakangnya. Sedangkan Alvan memantau mereka dari halaman depan. Nenek Aisyah telah diantarkan pulang oleh Kaysen dan Elina sebelumnya. Karena mereka tak ingin nenek Aisyah ikut menjadi korban kelicikan Sandra dan ibunya.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam. Kaysen... kamu sudah datang?" Sandra berlari menuju Kaysen.


Alvan yakin tadi melihat perempuan itu tak menangis sama sekali. Tadi dia sedang bercanda dengan ibunya. Namun sekarang tiba-tiba air mata itu mengalir deras? Didepan Kaysen?


Kaysen melangkah diikuti Elina di belakangnya. Perempuan itu langsung menghentikan langkahnya.


"Aah, Kaysen sedang bersama orang lain.." ucap Sandra.


"Sandra, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk datang ke rumahku.." Kaysen membuka percakapan.


Sandra mematung melihat Elina. Ibunya segera menghampirinya.


"Kaysen, kami turut berduka atas kecelakaan yang menimpa adikmu. Semoga Naila bisa segera sadar ya."


"Terimakasih tante"


"Kenapa 'tante'? Gimana kalau panggil ibu saja? Lagian kamu dan Sandra kan akan menikah nanti" jawab ibu Sandra dengan maksud menusuk Elina.


Elina tersentak saat mendengar ucapan ibu Sandra. Ia melirik Kaysen yang sedang berada di hadapannya. Hatinya sangat sesak.


"Oh iya, ini siapa?" tanya ibu Sandra.


"Mm, oke.."


Kaysen berbalik. "Elina, aku akan menyelesaikan kasus ini. Kamu tenang saja ya, aku tak akan pernah menerima perjodohan ini"


Elina menangkap mata Kaysen. Ia percaya padanya.


"Aku percaya kakak, semangat yah" ucap Elina.


Kaysen dan ibu Sandra pergi menuju ruang tengah. Sedangkan Elina hendak pergi mencari udara segar. Namun langkahnya terhenti saat tangannya dipegang kuat oleh seseorang. Ia pun berbalik.


"Maaf, apa anda ada perlu dengan saya?" tanya Elina.


"Sombong sekali.!"


Sandra menariknya dengan kasar. Lalu membantingnya ke sofa.


"Awh.." rintih Elina.


"Hei bocah kecil! Bisa-bisanya kamu merayu Kaysen?"


"M-merayu?"


"Kaysen itu milikku!! Ternyata kau kecil-kecil sudah belajar menggoda ya???" Sandra mencengkeram dagu Elina.


"Aku tidak menggoda kak Kaysen."


Sandra beralih mencengkeram lengan Elina dan berbisik padanya. "Jangan harap kamu bisa memiliki Kaysen! Aku akan melakukan segala cara untuk memisahkan kalian!"


"Hei perempuan jahat!! Apa yang kamu lakukan pada gadis itu?!" ucap Alvan yang menyadari ada keributan.


Sandra terkejut dan segera berbalik.


"Apa?! Siapa kamu berani ikut campur?!"


"Lepaskan gadis itu atau aku akan berlaku kasar padamu!!"


"Hahahahaha. Pergi sana! Jangan ikut campur!" Sandra tak menghiraukan ancaman Alvan.


Sandra kembali menghadap Elina. Dan kembali mencengkeram lengannya. Alvan menarik tubuh Sandra dari Elina. Lalu beradu tangan dengannya.


"Ha! Hahahaha! Kamu suka bocah ini ya?"


"Cepat keluar!!!" bentak Alvan.


"Gausah ikut campur deh! Aku belum selesai dengan bocah ini!!"


Sandra berhasil lolos dari Alvan. Ia kembali mencengkeram Elina. Kali ini ia mencengkeram leher Elina dan berbisik padanya.


"Jauhi Kaysen secepatnya! Atau kau akan menanggung akibatnya!"


Ambisi dan emosi membuat Elina mengumpulkan energi untuk melawan Sandra. Ia berhasil melepaskan cengkeraman tangan Sandra dari lehernya.


"Maaf. Saya kesini bukan untuk berkelahi!" Elina berpaling pergi.


"Apa??! Beraninya kau bocah!!!" Sandra mengikuti langkah Elina. Dia menarik kembali tangan Elina hingga membuat badannya berbalik. Sandra berniat untuk menamparnya. Namun Elina berhasil menangkis tamparan tersebut. Sandra pun semakin memberontak.


"Bocah!!! Kamu sudah membuatku sangat marah!!!"


"Jika anda memiliki masalah dengan saya, mari kita selesaikan dengan kepala dingin. Berkelahi fisik bukan menujukkan kedewasaan, melainkan sifat kekanak-kanakan. Apalagi sebab perkelahian itu karena seorang laki-laki.!"


Sandra semakin geram, darahnya sudah mencapai puncaknya, wajahnya merah padam.


"Baik. Jika dengan menampar saya akan meredakan emosi anda, silakan lakukan.!"


Sandra tak segan-segan segera melayangkan tangan kedua kalinya pada Elina.


"Elinaa" teriak Kaysen.


PLAK !!! Tamparan keras Sandra mengenai pipi Kaysen.


"Ka-Kaysen??? Mengapa kamu ....?" Sandra shock dengan kemunculan Kaysen yang tiba-tiba.


"Ternyata begini ya sifat aslimu. Tak salah, aku sudah merasakannya dari awal."


"Kays.. ini tak seperti yang kamu lihat... Aku... Aku hanya..."


"Silakan kamu pergi dari rumahku sekarang juga!!"


"T-tapi Kays... Dengarkan aku dulu..!" bujuk Sandra.


Kaysen tak menghiraukan Sandra dan beralih menghadap Elina. "Elina... kamu gapapa???"


"Kakak yang terluka masih sempat-sempatnya menanyakan kabarku??"


Sandra yang berada disampingnya tak tinggal diam.


"Kays...! Kenapa tatapanmu saat melihat bocah ini sangat berbeda denganku?? Kamu menatapnya dengan lembut, sedangkan padaku kamu selalu membuang muka??"


"Bukankah kamu sudah tau artinya?. Sandra.! Jangan pernah mengganggu Elina lagi! Atau kamu akan kulaporkan pada ayahmu!"


"Haha. Ayahku? Ayahku hanya percaya padaku Kays!"


"Kaysen!!! Kamu sudah keterlaluan! Kamu akan menyesal telah menolak perjodohan ini!!. Sayang, ayo kita pulang.. Tak ada gunanya kita berada disini." ucap ibu Sandra.


"Tapi bu.... Kaysen"


Ibunya menarik tangan Sandra untuk pergi dari rumah itu. Mereka pergi meninggalkan kediaman Alastayr.


"Alvan, kamu tidak lupa menyalakan tombol ON kan?? Kok.. tidak ada hasil rekamannya.."


"Apa?! Sudah kok.."


Alvan mengecek hasil CCTV yang baru mereka pasang. Kaysen tertawa kecil melihat sepupunya mulai panik.


"Huuhh lega.. Bisa-bisanya disaat seperti ini kamu ngerjain orang, Kays!!" ucap Alvan sambil memukul kecil lengan Kaysen.


"Hehehe, biar gak tegang. Ini akan aku serahkan pada pak Sandi suatu saat nanti.."


...****************...