Two Introverts

Two Introverts
19. Luka Elina



Elina segera kembali ke kamar dan mengambil ponselnya. Atmosfer disekitarnya terasa sangat suram. Seluruh tubuhnya seperti sedang memikul beban yang sangat berat. Hatinya berlari kesana kemari membutuhkan kehadiran orang yang dia cintai. Namun dia tau itu tidak mungkin untuk saat ini.


Elina menarik ponselnya dengan lunglai. Mencoba menghubungi Kaysen dan Alvan.


(Kak Kays sedang dalam perjalanan. Aku basa-basi saja dulu, daripada dia kaget kalau aku langsung memberitahukan intinya) pikir Elina.


"Assalamu'alaikum kak Kays ♡.. Nanti kabari Elina yaa kalau kakak sudah sampai.. Jaga diri kakak baik-baik ♡"


"Assalamu'alaikum kak Alvan, ini saya Elina.."


Elina mengirim pesan kepada dua orang yang berada di pihaknya dengan perasaan kacau. Ia benar-benar membutuhkan sandaran untuk menguatkan mentalnya yang sangat berantakan.


Elina terduduk lesu di lantai kamar. Meringkuk memeluk lututnya yang terasa lelah teramat sangat.


Nenek Aisyah tak sengaja melihat cucunya dalam pandangan nanar menatap undangan perayaan ulang tahun yang diberikan oleh perempuan tadi. Beliau segera berjalan cepat menghampiri cucunya.


"Nak.. Ada apa?"


Elina mendongak menatap seorang wanita paruh baya yang sangat dia sayangi sedang memeluk dirinya. Matanya kembali berlinang air mata. Terasa ada kehangatan yang sedang ikut memeluk rasa sakitnya.


"Nenek.."


Elina tak ingin menceritakan tentang apa yang sedang mengusik mentalnya. Namun neneknya bersikeras membujuknya agar menceritakan beberapa hal terkait siapa sebenarnya tamu yang barusan mengunjunginya.. Yang berhasil membuat cucunya semakin tertekan.


Elina menceritakan tentang mereka, kejadian di bandara, sampai ancaman Sandra saat di bandara dan perubahannya yang tiba-tiba meminta maaf padanya. Elina tak sadar telah menceritakan semua beban di hati dan pikirannya pada neneknya. Padahal ia tak ingin membebani pikiran orang yang sangat dia sayangi di keluarganya tersebut.


"N-nenek.. M-maaf.. Jangan terlalu di pikirkan.. Maaf... Elina... M-menceritakan semuanya begitu saja pada nenek.. M-maaf nek..." ucapnya terbata-bata dengan air mata yang terus mengalir dari kedua matanya.


Nenek Aisyah kembali memeluk Elina erat. Beliau memberikan beberapa pesan kehidupan yang bisa beliau sampaikan pada cucunya. Beliau tidak menyangka selama ini cucunya menahan semua rasa sakit yang bahkan belum tentu orang lain bisa menahannya. Apalagi tak ada satupun di keluarga intinya yang bisa dia ajak untuk berbagi keluh kesah.


Nenek Aisyah mencoba mencari obat penenang yang pernah Elina konsumsi. Namun tak berhasil menemukannya. Beliau kembali terpikir seorang psikiater yang pernah menangani cucunya tersebut.


"Nak... Apakah kamu ingin bertemu dengan dokter Elsa?" tanya nya lembut.


"Kak Elsa??" Mata Elina melebar saat mendengar nama Elsa. Pikiran Elina perlahan lebih tenang dari sebelumnya saat mendengar nama tersebut.


Elsa seorang dokter psikiater muda yang meminta Elina untuk memanggilnya kakak, agar Elina lebih leluasa menceritakan tentang dirinya secara lengkap pada waktu itu.


Elsa sempat mengaku sangat sulit menangani Elina yang berkepribadian introvert akut. Namun ia tak pernah menyerah sampai akhirnya Elina berhasil menaklukkan kepribadiannya dan terbuka padanya.


"Iya nak, bagaimana??" jawab nenek Aisyah.


"M-mau nek... Tapi.. Siapa yang akan mengantar Elina??"


"Nenek akan membuatkan janji untukmu, sayang.. Nenek akan memanggilnya kesini.."


Neneknya dengan sigap menelepon dokter Elsa dan membuatkan janji untuk cucunya.


Drrrtt..


Suara getaran dari ponsel Elina sedikit mengejutkannya. Ia meraih ponselnya dan melihat notif tersebut. Sebuah pesan dari Alvan.


"Wa'alaikumussalam El.. Hehe cepat juga ya kamu menghubungiku. Apakah ada yang bisa aku bantu?"


Elina segera membalas pesan Alvan tanpa pikir panjang.


"Barusan pak Dimas dan kak Sandra ke rumahku.."


"Apa?! Ngapain mereka?? Apa mereka melukaimu?"


"Tidak kak.. Besok siang apa kita bisa bertemu sebentar?"


"Besok? Bisa, bisa.."


Nenek Aisyah telah selesai menelepon Elsa. Beliau kembali menghadap Elina.


"Elina.. Kamu bisa bertemu dokter Elsa nanti sore.."


"Benarkah?? Terimakasih banyak ya nek.."


"Iyaa nak.. Sekarang kamu istirahat dulu yaa.. Jangan berpikir yang berat-berat.."


Nenek Aisyah menyelimuti tubuh lemah Elina.


"Tidak, nek"


"Apakah ada bagian fisik Elin yang sakit?"


"Tidak juga nek, Alhamdulillah hehe"


Nenek Aisyah bersyukur Elina tidak sampai sesak napas dan sakit perut seperti dulu. Beliau menemani satu-satunya cucu perempuannya sampai cucunya tertidur.


Setelah di rasa Elina cukup pulas, beliau segera pergi ke dapur guna menyiapkan makan siang untuk cucu malangnya.


......................


Sang surya telah duduk di singgasana barat. Adzan Ashar telah berkumandang beberapa menit lalu. Elsa telah tiba di kediaman Leth. Nama marga yang juga dimiliki oleh Elina. Ya, Elina Alisha Letha.


Tok tok tok..!


"Assalamu'alaikum.."


"Iya wa'alaikumussalam... Eh dokter. Silakan masuk.."


Nenek Aisyah mempersilakan Elsa masuk. Elsa memandang sekeliling sesaat. Bagaimana bisa Elina terkurung dalam kemegahan tempat ini?


Nenek Aisyah mengantar Elsa sampai lantai kamar Eina. Saat Elsa sampai depan pintu kamar Elina, Elina tengah merapikan buku-buku nya yang sedang berserakan. Tangannya terhenti saat tidak sengaja memegang sebuah undangan dari Sandra. Elsa yang menyadari hal itu, segera mendekat ke arah Elina.


Elsa menyentuh lembut tangan Elina yang sedang memegang secarik kertas tersebut.


Elina menengadahkan wajahnya, melihat siapakah yang sedang menyentuhnya.


Sebuah senyuman manis terukir di wajah oval Elsa.


"Assalamu'alaikum cantik.." sapa Elsa.


"Kakaaakkk..."


Aura wajah Elina bersinar seketika. Elina menghambur ke pelukan Elsa. Keduanya sangat akrab bak adik kakak.


Air mata Elina tumpah di pelukan Elsa. Elsa memeluknya dengan tak kalah erat, namun tetap nyaman. Elsa mengelus kepala dan punggung Elina, berusaha menenangkannya.


Setelah di rasa cukup untuk menangis, Elsa membuka suara.


"Kita sudah lama nggak ketemu ya? Apakah ada yang sedang mengganggu adekku??" ucapnya lembut memegang pipi Elina.


"Kak..."


Elina menceritakan tentang apa yang dialaminya kemarin, dan hari ini. Elsa yang mendengarnya ikut merasakan sesak yang sedang dirasakan oleh Elina.


Elsa mengambil beberapa tindakan dengan terapi wicara, hypnotheraphy, dan pemberian obat penenang.


Elsa meminta kepada nenek Aisyah, agar hari ini Elina bisa full beristirahat tanpa gangguan dari orang yang menyebabkan masalah dalam kesehatan mental Elina. Karena bila dilanjutkan, kesehatan organ fisik Elina akan ikut terganggu seperti dulu.


Saat Elina tengah terlelap dengan nyaman, Elsa berpamitan kepada nenek Aisyah dan menyampaikan beberapa hal yang harus dilakukan saat luka Elina kembali muncul ke permukaan.


......................


Elina terbangun saat hari akan berubah menjadi gelap. Ia segera mengambil wudhu, kemudian mengecek sebentar ponselnya. Namun belum ada balasan dari Kaysen.


Elina melanjutkan rutinitas malamnya bersama nenek Aisyah. Nenek Aisyah tak ingin meninggalkan cucunya sendirian barang sedetikpun.


Hingga waktu akan tidur tiba, Kaysen tak kunjung memberi kabar. Elina kembali resah saat mengingat kejadian yang menimpa Naila. Sepanjang malam, ia disibukkan dengan overthinking tak berdasar. Berulang kali pula ia beristighfar hingga ia tertidur.


Drrrtt..


Suara getaran ponsel kembali mengagetkannya. Ia lupa mengatur mode silent dan meletakkan sekenanya di samping bantalnya. Ia meraih ponselnya dan melihat jam di layar ponselnya. 01.00 WIB. Dengan mata berat ia membuka pesan itu.


"Wa'alaikumussalam El ku ♡ Alhamdulillah aku sudah sampai di Melbourne ♡.. Maaf baru sempat membalas pesan Elin.. Karena ada beberapa hal yang harus aku kerjakan.. Disana pasti sedang jam 1 dini hari ya? Kalau disini sekarang jam 5 pagi.. Hehe. Yasudah, semoga mimpi indah yaa El ku ♡♡"


Elina berniat membalas pesan tersebut, namun matanya tak kuat menahan kantuk akibat obat penenang yang di resepkan oleh Elsa.


...****************...