
Dalam kegelapan, sinar alami senja menyelinap masuk melalui celah jendela kamar Elina. Elina terduduk di tepi ranjang menatap air mancur kecil yang berada di halaman rumahnya.
Seperti biasa.. Hari dimana seharusnya Elina berbahagia karena keluarganya baru saja kembali dari luar kota, namun justru malah menyesakkan hatinya. Yang bisa dilakukan Elina hanya sekedar memberi salam, lalu segera kembali ke kamarnya. Selalu seperti itu.
Elina bangkit dan melangkahkan kakinya menuju jendela kamar. Ia mendongakkan kepala menatap pemandangan langit yang memancarkan cahaya orange hangat.
(Apakah kak Kays sekarang sedang menatap langit yang sama denganku? Aku ingin sekali meneleponnya.. Tapi suasana hatiku sekarang sangat tidak baik, aku takut dia akan jadi korban emosiku) gumam Elina dalam hati.
Alusi cahaya terang lampu kamar membuatnya terperanjat. Ia menoleh cepat menangkap siapakah yang menyalakan lampu kamarnya.
"Sayang..."
"Nenek??"
"Turun sebentar yuk, nak.."
"Hmm ada apa nek?"
"Nenek sudah menyiapkan camilan ringan untuk kita nikmati bersama"
"Ah benarkah?? Yuk nek.."
Elina dengan ceria memegang lengan neneknya dan bercerita tentang Kaysen yang akhir-akhir ini sering mengeluh karena disuruh kesana kemari oleh ibunya. Namun tentu saja hal itu hanyalah sekedar gurauan belaka, karena sebenarnya Kaysen senang menjelajah setiap bagian tempat baru yang ia kunjungi.
"Elina... terkadang kita tidak harus menahan semua emosi yang bergejolak dalam diri kita"
"M-maksudnya nek?"
"Nak.. Kamu selalu menceritakan hal-hal menyenangkan pada nenek. Apa kamu pikir nenek tak tau apa saja masalah yang sedang menimpamu?"
Elina mematung seketika. Ucapan yang dilontarkan neneknya berhasil membuka luka yang selama ini ia tutupi sekuat tenaga agar tak muncul di hadapan neneknya. Ia tak mau membebani pikiran neneknya.
"Ne-nenek...?? Apakah kak Elsa bercerita banyak hal pada nenek?"
"Bukan dokter Elsa"
"La-lalu?"
Neneknya hanya menjawab Elina dengan senyuman manis yang membuat siapapun yang melihatnya akan otomatis luluh dan tunduk padanya.
"Pokoknya Elina jangan selalu menutupi masalah di hadapan nenek ya.. Kamu boleh cerita sama nenek. Nenek akan sangat senang bisa menjadi sandaran untuk Elina, meskipun nenek tak bisa banyak membantu memecahkan masalahnya. Tapi nenek akan berusaha mencarikan orang yang nenek percaya untuk membantu mengatasinya.."
"T-terimakasih banyak ya nek ♡" Elina menghambur ke pelukan neneknya.
"Oh iya, kita mau kemana nek?"
"Melihat senja.."
"Loh, kan kita bisa lihat dari dalam kamar El tadi.. Pemandangannya jauh lebih bagus"
"Lebih bagus lagi kalau kita terjun langsung kedalamnya, sayang" nenek Aisyah menowel hidung Elina.
Langkah Elina semakin pelan saat ia menyadari neneknya berjalan mendekat ke arah ayah, ibu, dan juga adiknya yang sedang duduk diatas karpet piknik di kebun yang berada di halaman samping rumah mereka.
"N-nenek? Apa kita akan makan camilan bersama ayah dan ibu?" bisik Elina.
"Iya nak.."
"Ah, nek.. Elina teringat harus mengerjakan tugas sekolah Elina! Elina kembali duluan ya, nek!"
Elina melengos pergi meninggalkan mereka, namun tangannya berhasil ditangkap oleh adiknya.
"Kak?" panggil Collin.
"Ya? Ada apa dek?"
"Ayo kita makan camilan bersama.. Apa kakak nggak kangen sama Collin?"
"Ah, mmm kangen kok.. tapi kakak sedang ada banyak tugas. Lain kali saja, ya?" jawab Elina kikuk.
"Nggak boleh! Kakak harus makan bersama Collin dulu!"
Collin menarik lengan kakaknya untuk bergabung bersama mereka.
Elina duduk diantara nenek Aisyah dan Collin. Kecanggungan seperti dulu pun masih setia menemani mereka.
Elina terpaku menatap pemandangan langit orange yang kini sedang menjadi atap untuk mereka, terlihat begitu jelas dan cantik. Sekelompok formasi burung di cakrawala yang membentuk huruf V turut serta mengalihkan suasana hatinya.
"Nak.. Bagaimana sekolahmu? Apa kamu suka belajar di sekolah favorit?" suara ayahnya menyadarkan lamunannya.
"Ah iya, yah.. Elina senang"
"Elina.." panggil ibunya.
Elina menoleh cepat ke arah ibunya, tak menyangka ibunya memanggil namanya lebih panjang. Yang biasanya beliau hanya memanggilnya dengan panggilan 'El'.
"Ya? Ibu?"
"Apa boleh ibu memelukmu sebentar?"
Elina terperangah. Selama 10 tahun lamanya ia tak pernah merasakan pelukan dari ibunya. Terakhir kali mereka berpelukan saat Elina duduk dibangku TK.
"Te-tentu saja bu"
Ibunya beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri putri sulungnya.
Detak jantung Elina berdetak sangat cepat. Lebih cepat daripada saat ia bertemu dengan Kaysen. Rasa bahagia dan prasangka memenuhi hati dan pikirannya.
Saat ibunya semakin mendekat, ingin sekali rasanya ia berlari menjauh. Namun ia memilih bertahan dan menghadapinya.
Kedua tangan itu mulai merengkuh tubuh kurus Elina. Elina terdiam mematung, tak langsung membalas pelukan ibunya.
Elina merasakan seluruh tubuhnya sangat panas. Rasa aman, tenteram, dan kasih sayang yang dulu pernah ia rasakan kini tak menyapanya sama sekali.
Elina menatap neneknya. Ia pun mulai melingkarkan tangannya ke tubuh wanita cantik yang sedang memeluknya erat.
"Elina.. ibu tau kamu canggung karena ibu tiba-tiba bersikap baik padamu."
"Maafkan ibu ya, sayang. Ibu belum bisa menjadi seorang ibu yang baik, terutama untuk Elina.. Ibu terlalu terbawa dengan istilah 'anak pertama' sehingga ibu hanya memprioritaskan adikmu. Mulai sekarang ibu akan belajar untuk berubah menjadi ibu yang baik untuk anak-anak ibu. Tolong berikan kesempatan buat ibu ya, sayang?"
"I-iya, bu"
"Apa kamu ada jadwal dengan dokter Elsa lagi pekan ini?"
Ibunya tersenyum sedih menatap Elina. Beliau kembali memeluk anak sulungnya.
"Ibu sungguh minta maaf.. Ternyata ibu telah berada sangat jauh darimu"
"Kapan-kapan kita makan malam bersama diluar ya, sayang" tambah ibu Elina.
Sebuah kecupan yang sangat ia rindukan mendarat di keningnya. Elina masih terdiam mencerna sikap dan perkataan ibunya beberapa kali. Semua kejadian tak terduga hari ini terjadi tiba-tiba begitu saja.
Ibunya melepaskan pelukan tersebut dan tetap duduk di samping putrinya. Beliau membuatkan sebuah camilan 'rujak manis' untuknya.
"Kakak..! Collin juga ada hadiah buat kakak!"
"Benarkah? Mana???"
"Hehe nanti Collin kasih kalau waktunya sudah tepat.."
"Apa sekarang bukan waktu yang tepat?"
"Hehehe, bukan"
Mereka saling mengobrol dibawah langit orange dengan perasaan hangat. Nenek Aisyah merasa lega, karena keluarga ini kembali utuh seperti dulu lagi.
......................
Suara bel dari pintu depan berbunyi. Tak lama.. bi Ira, seorang pembantu di rumah itu menghampiri mereka dengan hati-hati.
"Mohon maaf mengganggu waktunya. Ada seorang tamu untuk nona Elina"
"Elina?"
"Iya, nyonya"
"Siapa bi?" tanya Elina.
"Maaf nona. Saya lupa menanyakan namanya, tapi dia seorang laki-laki tampan"
"Tampan?"
"Iya, nona"
"Baik. Bibi kesanalah dulu. Elina akan menemuinya sebentar lagi"
"Baik.."
"Elina?? Elina punya pacar?"
"Ahh lelaki tampan? Apa itu pacar kakak?"
"Apa sungguh Elina-ku sudah memiliki kekasih?"
Ketiga orang itu menanyakan pertanyaan beruntun yang bahkan Elina belum bisa menjawabnya. Ia belum tahu siapa orang yang sedang mencarinya hari ini.
"Ah, mmm Elina mau temui dulu tamu Elina.. Elina permisi duluan ya ayah, ibu, nenek, dan adek.. Kalian bersenang-senanglah"
Elina berbalik dan berjalan menuju ruang tamu. Dalam perjalanan, ia menebak-nebak siapakah orang yang sedang mencarinya. Namun ia merasa ada yang aneh. Seperti ada seseorang yang sedang mengikutinya. Ia pun menghentikan langkahnya dan betapa terkejutnya ia saat kepala adiknya membentur punggungnya.
"Aduh.. Kakak kenapa nggak bilang-bilang kalau mau berhenti, sih??" ucap Collin cemberut sambil mengusap keningnya.
"Collin, kamu dari tadi di belakang kakak?"
"Iya.."
"Kenapa?"
"Collin mau ikut kakak!"
"Eh? Mau ikut? Kamu disana saja sama ayah, ibu dan juga nenek.."
Saat berbicara pada adiknya, ujung mata Elina menangkap beberapa bayangan sedang berdiri berjejer empat meter di belakang Collin.
"Ka-kalian mau kemana?" tanya Elina.
"Cuaca sudah semakin gelap. Sebentar lagi maghrib. Jadi sekalian saja kita semua masuk.." jawab ayah Elina.
"Iyaa. Dan kami ingin melihat siapa tamu tampan yang sedang mencari putriku!" jawab ibu Elina antusias.
"Eh, mmm..."
...
Mereka telah sampai di ruang tengah. Mereka mengatur strategi untuk mengintip dari balik pintu kaca yang terletak di perbatasan antara ruang tamu dan ruang tengah.
Elina melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Ia celingukan mencari dimana tamunya berada. Ia berlari ke teras rumah, namun tak menemukan orang itu.
Elina kembali ke ruang tengah dan memanggil bi Ira.
"Bi?? bibi??"
Bi Ira segera datang dengan membawa dua cangkir coklat hangat di nampan. "Eh, iya non? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Dimana tamunya?"
"Oh, dia sedang berada di kamar mandi tamu"
Cklek...
Suara pintu kamar mandi mengalihkan perhatian mereka. Dimana letak kamar mandi tamu dan ruang tengah adalah saling berseberangan.
"Itu orangnya, non.."
Elina tercengang melihat seorang lelaki yang ia kenal namun sangat ingin ia hindari, sedang keluar dari kamar mandi rumahnya.
"Anda?!"
"Kamu?!"
Suara Elina dan ibunya yang hampir bersamaan membuat tamu itu terperanjat.
"Tante Stella?!" ucapnya.
...****************...