
Setelah Kaysen dan Elina saling mengungkapkan perasaan satu sama lain, rasa yang mereka miliki semakin kuat. Kaysen yang mulai sibuk dengan tugas-tugas kuliah miliknya selalu menyisakan waktu sebelum tidur untuk mengirim pesan pada Elina. Baik akan menutup mata maupun saat membuka mata di esok harinya, sosok Elina selalu memenuhi pikiran Kaysen.
Begitupun Elina, ia selalu menanti pesan dan kabar dari Kaysen. Ada rasa resah saat mengingat Kaysen yang dalam keseharian mengerjakan tugas kelompoknya dikelilingi oleh para mahasiswi cantik. Namun Elina tak bisa menunjukkan sisi posesifnya pada Kaysen.
...****************...
Malam hari di akhir bulan April kala itu, seperti biasa Kaysen mengirim pesan pada Elina. Namun lama sekali tak ada balasan. Kaysen yang kelelahan setelah seharian disibukkan dengan tugas-tugas kuliah terlelap begitu saja dengan ponsel yang berada di sampingnya. Satu jam kemudian ponsel Kaysen berbunyi. Ia terkejut saat mendengar notif dari ponselnya yang lupa di mode silent. Ia senang karena pasti itu pesan dari Elina. Dengan mengejapkan mata ia membuka layar ponselnya.
(Naila?? Ada apa tiba-tiba menghubungi di malam hari begini?) pikir Kaysen heran.
"Assalamu'alaikum.. Kak Kays, apakah bisa menjemputku di bandara besok sore? Aku ingin sekali pulang. Aku sudah memesan tiket pesawat.."
Kaysen segera membalas pesan adiknya.
"Wa'alaikumussalam. Ada apa tiba-tiba Nail? Bukankah liburan masih tiga bulan kedepan saat hari raya Idul Fitri?"
"Aku hanya ingin pulang sebentar lalu kembali"
"Baiklah. Segeralah istirahat. Besok aku jemput"
"Terimakasiiihh kakak ku yang terbaik!"
Kaysen menghela nafas. "Haahh.. ada apa ya dengan adikku??..... Eh bentar, coba aku cek chat Elina"
(Dia sudah membaca pesanku.. tapi mengapa tak ada balasan darinya? Tidak seperti biasanya.... Ah, mungkin dia tertidur. Pasti besok baru dibalas..) pikir Kaysen.
Kaysen ingin mencoba untuk menelepon Elina namun hal itu ia urungkan karena waktu sudah cukup malam untuk berbincang dengan lawan jenis. Ia pun kembali tidur dan bertanya-tanya apakah terjadi sesuatu pada Elina.
...****************...
Keesokan harinya saat Kaysen terbangun tetap saja tak ada balasan apapun dari Elina. Ia ingin meneleponnya namun ia berpikir pasti Elina sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ia pun memutuskan untuk tetap menunggu dan segera melakukan tugasnya..
Sesampainya di kampus ia meminta izin kepada teman-teman untuk pulang lebih awal. Sandra bertanya alasan Kaysen mengapa pulang lebih awal, apakah terjadi sesuatu? Namun Kaysen tak menjelaskan apapun pada perempuan itu.
Sandra adalah mantan anak tomboy yang sangat terobsesi pada Kaysen, dia mencoba untuk mendekatinya dengan berbagai cara. Mulai dari mencoba menjadi sahabat untuknya, selalu berada di dekatnya, menceritakan tentang dirinya, juga menyediakan apapun yang Kaysen butuhkan (saat mengerjakan tugas kuliah). Bahkan Sandra tak segan-segan mendekati anggota keluarga Kaysen untuk mencari perhatian.
Kaysen yang tak ingin menjalin hubungan dekat dengan lebih dari satu wanita hanya bisa mendengar cerita Sandra. Tanpa dengan menceritakan tentang dirinya. Namun Sandra tak pernah putus asa, dia tetap mencoba mendekati Kaysen agar kedepannya Kaysen bisa bergantung padanya.
Sandra adalah seorang perempuan cerdik dengan segala cara dan niat tersembunyi dibalik sikapnya. Saat ia tahu Kaysen sedang dalam kondisi yang kurang baik, Sandra segera mencoba untuk mengajak Kaysen hang-out bersama. Namun hal itu ditolak oleh Kaysen.
Sandra berpikir keras cara apa yang bisa membuat Kaysen bisa tunduk pada dirinya? Cara yang biasa dia gunakan selama ini untuk memancing lelaki selalu berhasil tapi tidak pada Kaysen.
"Heh! San! Lagi mikirin apa serius gitu?" ucap Dimas mengejutkan Sandra.
"Kepo!" balas Sandra kesal.
"Ihh galak amat. Haha, pasti lagi mikirin cara untuk dapetin si anak sombong itu ya?"
"Apaan sih! Sok tau!"
"Tapi bener kan?" Dimas membuntuti Sandra.
"Gausah ikut campur urusan orang deh!"
"Hei San! Aku bisa membantumu.. Aku kenal dengan gadis yang sedang dekat dengan si sombong itu."
"Gausah!"
Dimas mengikuti langkah Sandra.
"Kamu yakin gamau kerjasama sama aku? Kita memiliki tujuan yang sama!"
"Apa kamu bilang?" Sandra menoleh.
"Aku bilang, kita memiliki tujuan yang sama."
"Maksudnya?"
"Aku juga sedang mengejar gadis manis itu"
"Haahh heran deh. Kenapa sih orang-orang terobsesi banget sama seorang bocah!"
"Hei, dia bukan sembarang bocah. Dia istimewa"
"Terserah deh. Aku nggak peduli.. Jadi, apa rencanamu?"
Dimas membisiki Sandra tentang rencana jahatnya dan keduanya tersenyum licik saat menemukan cara untuk memisahkan Kaysen dan Elina.
...****************...
...- Menjemput Naila -...
Kaysen sudah bersiap dengan mobilnya untuk menjemput adik kesayangannya, Naila. Dia kembali resah saat menatap layar ponsel yang tak ada balasan apapun dari Elina. Ia berencana untuk meneleponnya nanti saat ia selesai mengerjakan tugas-tugasnya hari ini.
Saat sampai di bandara, ia tak paham mengapa wajah adiknya pucat pasi. Bukan karena sakit melainkan terlihat seperti sedang menahan amarah dan benci.
"Naila? Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Kaysen heran.
Naila tak menjawab pertanyaan Kaysen. Ia segera menuju mobil tanpa membuka suara sedikitpun. Kaysen yang mengetahui ada hal yang tak beres, segera mengikuti adiknya.
Didalam mobil, Kaysen mencoba basa-basi pada adiknya namun Naila hanya merespon Kaysen dengan anggukan atau menaikkan bahu dan menjawab ya atau tidak. Kaysen memilih mengikuti alur Naila dan menyimpan seribu pertanyaan yang ada di benaknya.
Sesampainya di rumah, Naila segera masuk dan menyapa orang-orang di rumah dengan hangat. Berbeda dengan apa yang diperlakukan kepada kakaknya. Kaysen yang tak paham, memilih untuk diam sementara dan bertanya nanti setelah acara makan bersama.
Di meja makan Naila dengan cerianya bercerita tentang apa yang dialaminya di luar negeri. Mulai dari menjadi juara kelas, diikutkan berbagai macam lomba, dan mendapatkan kesempatan study exchange ke Eropa. Ia pulang hanya untuk menyampaikan kabar gembira itu dan meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke Eropa. Kedua orang tuanya pun bangga sekali dengan pencapaian yang diperoleh anaknya..
Selesai acara makan bersama, Kaysen menemui adiknya yang sedang berada di balkon rumah.
"Naila, apa kamu ada masalah sama kakak?"
Naila hanya menoleh sekejap lalu membuang muka dari kakaknya.
"Naila.. jawab kakak. Kakak gak akan tau kalau kamu hanya mendiamkan kakak.."
"Apa kakak jadian sama Elina?"
Kaysen terkejut mendengar perkataan Naila.
"A-apa?"
"Aku benci kalian!"
"Naila, tenang dulu.. ini gak seperti yang kamu pikirkan"
"Apa? Mantan sahabat? Apa maksudnya?"
"Ya. Aku memutus hubungan persahabatan dengannya."
"Kenapa???"
"Pokoknya aku gak suka kalian bersama!. Apa gak ada perempuan lain selain dia?!"
"Bukankah kalian bersahabat baik sebelumnya?"
"Ya. Memang."
"Coba jelaskan pada kakak dengan lebih detail.."
Naila melirik kesal pada Kaysen.
"Kak, aku itu gak suka kalau pasangan kakak itu lebih muda dari aku!!!"
"Karena itu?"
"Iya!!!. Makanya segera jauhin Elina sekarang juga!. Kak Sandra jauh lebih baik daripada Elina.. Kak Sandra cocok kok sama kakak, kak Sandra juga sayang sama kakak!"
"Sandra?"
"Iyaa! Kak Sandra teman sekelas kakak."
"Gimana kamu bisa kenal dia? Aku sama sekali gak dekat sama Sandra."
"Makanya kakak cobalah membuka hati sedikit!! Kak Sandra itu orang baik, dia selalu membantu kakak dan menemani kakak..! Tapi kenapa kakak malah memilih seorang bocah kecil!"
"Cukup!" Kaysen pergi meninggalkan adiknya.
"Kak!!!"
...****************...
Setelah pembicaraan Kaysen dengan adiknya yang sebenarnya belum selesai, Kaysen menyadari sesuatu. Dia segera menghubungi Elina. Namun semua teleponnya ditolak dan tak ada pesan yang dibalas sama sekali. Kaysen segera bersiap untuk pergi ke rumah Elina hari itu juga.
Hujan deras dan angin kencang tak menghalangi langkah Kaysen. Ia pergi mengenakan payung sederhana miliknya. Meski akhirnya payung tersebut rusak akibat ulah angin hujan. Saat Kaysen sampai didepan rumah Elina, Kaysen mengirimkan pesan pada Elina tentang keberadaan dirinya. Elina mengintip dari balik tirai jendela kamarnya. Ia terkejut saat melihat Kaysen berada di depan rumahnya. Elina tak ingin menemui Kaysen, namun dia tak tega melihatnya basah kuyup dan kedinginan akibat hujan angin yang terjadi malam itu.
Elina turun menemui Kaysen. Mata sembabnya terlihat bahkan dari kejauhan. Ia membawakan handuk dan beberapa pakaian ganti untuk Kaysen.
"Kak Kays..! Ada apa malam-malam kesini? Sekarang sedang hujan deras.. Kakak sini masuk dulu.."
"Tidak usah. Aku disini saja. Aku hanya ingin memastikan keadaanmu." Kaysen memilih duduk di teras.
"Kakak ganti baju dulu di kamar mandi tamu. Biar kakak gak masuk angin"
"Kamu khawatir?"
"A-... kakak cepat ganti saja dulu" usir Elina.
Kaysen menuruti perintah Elina. Elina pun membuatkan minuman hangat untuk Kaysen.
...****************...
"El... kamu habis nangis???"
Elina tak berani mengangkat wajahnya. Ia tak sanggup menatap Kaysen.
"Ada apa kakak kesini?"
"El.. apa yang sedang terjadi? Mengapa matamu begitu sembab? Mengapa kamu tak membalas pesanku? Dan mengapa kamu tak mengangkat telfon dariku?? Aku sangat khawatir terjadi sesuatu padamu.. Kamu tidak biasanya seperti ini."
"Aku tidak apa-apa kak.. hanya sedang ingin sendiri saja."
"Katakan yang sejujurnya El..... Apa kamu tak mempercayaiku? Apa kamu tak percaya perasaanku?"
Elina berulang kali menengadahkan wajahnya menghadap langit malam. Ia berusaha agar air matanya tidak berhamburan keluar. Namun ia tak kuasa membendungnya. Sumber air mata itu semakin deras beriringan dengan derasnya hujan di malam itu. Elina buru-buru menutupi wajahnya. Tak ingin Kaysen melihat dirinya dalam kondisi seperti itu. Kaysen segera mendekati Elina. Ia ingin mengulurkan tangan untuk menghapus air mata gadis itu. Namun Elina segera menjauh dari tempat duduknya.
"Kak..." suara serak Elina.
"Aku disini El... ceritalah... aku berada di pihakmu"
"Kak.. apa lebih baik kalau kita saling menjauh?"
"Menjauh?"
"Mengapa kakak mencariku? Padahal kita gak ada kejelasan hubungan"
"Apa kamu ingin kita berjanji satu sama lain? Dan saling memberikan harapan?"
"Tidak. Aku tak pantas untuk berada di sisi kakak."
"Apa kamu berhenti menyukaiku?"
"Tidak!"
"Apakah ada yang menekanmu?"
"..."
"Elina.. kamu bersamaku karena kamu menaruh hati padaku. Bukan karena siapa aku. Begitu pula aku.." jelas Kaysen.
"Aku kesini hanya untuk bertemu denganmu karena aku khawatir dengan keadaanmu. Karena kamu adalah orang yang penting dalam hidupku.. Sekarang coba dengarkan hatimu sendiri dan jangan pikirkan perkataan orang lain. Karena kita adalah hak kita, bukan mereka. Kita harus saling percaya satu sama lain dan tetap menjaga komunikasi. Jangan putus komunikasi denganku, bilanglah kalau ada apa-apa. Seperti yang selama ini aku lakukan padamu." Kaysen menambahkan.
Elina tersenyum menatap Kaysen. Untuk saat ini, Elina hanya butuh ditenangkan dan dikuatkan dari segala duri yang kembali menancap luka yang ada pada dirinya.
"Elina.. mulai saat ini kita berkomitmen." ucap Kaysen.
Maksud dari berkomitmen disini adalah untuk memberi kejelasan pada hubungan mereka. Atau dengan bahasa kasarnya adalah pacaran. Namun mereka berpacaran dengan cara mereka sendiri..
Elina mendongak menangkap mata Kaysen. Terlihat keseriusan dan harapan dari tatapannya.
"Apa kakak yakin?"
"Sangat yakin. Maukah Elina berkomitmen denganku?" Kaysen mendekat ke arah Elina namun tetap memperhatikan jarak fisik antar mereka.
"...Ya. Aku mau.."
...****************...