
"Kaysen semenjak jam 2 pagi mencoba menghubungimu, namun ponselmu tidak aktif sampai sekarang.. Dua jam lagi ia akan berangkat ke Australia, ke tempat Naila. Apakah kamu bisa sekali ini saja tidak masuk sekolah?" jelas Alvan.
"A-apa?? Tiba-tiba??"
"Iya, bagaimana?"
"Baik. Aku akan bersiap-siap dulu. Tunggu sebentar ya kak.. Kakak silakan masuk dulu"
"Iya.." Alvan memilih duduk di teras.
"Nak.. Mari masuk dulu. Nenek buatkan minuman hangat"
"Hehe iya nek, tidak apa-apa disini saja."
Nenek Aisyah berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk Alvan. Belum sempat beliau menuangkan air, Elina datang padanya. Elina telah berganti pakaian secepat kilat.
"Nenek.. Elina izin ke bandara dulu ya.. Ini mendesak.."
"Eh ini nenek masih buatkan minuman untuk tamu kita"
"Sepertinya lain kali saja nek, soalnya ini lagi buru-buru. Maaf ya nek.. Assalamu'alaikum.."
"Yasudah wa'alaikumussalam. Hati-hati nak.."
Hati Elina berdegup kencang. Tergambar jelas kekhawatiran yang mendalam dari raut wajahnya. Memori tentang Kaysen berputar-putar dalam benaknya.
(Baru saja kemarin aku merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan, apakah memang aku tidak berhak bahagia?) batin Elina.
"Elina.. Kamu tenang dulu. Kaysen akan menjelaskan semuanya padamu. Dia tidak akan pernah meninggalkanmu." ucap Alvan yang menyadari Elina sangat cemas.
Elina menoleh ke arah Alvan. Tak terasa setetes air mata mengalir membasahi pipinya.
"Ah. Maaf.." Elina menghapus air matanya.
Elina mengalihkan pandangan dan mulai menghidupkan ponselnya. Terdapat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Kaysen. Juga ada pesan singkat darinya.
"Elina.. Bisakah kita bicara?"
......................
Sesampainya di bandara, Alvan segera memarkir mobilnya dan mengikuti langkah lari Elina. Langkah Elina tak bisa dihentikan. Hatinya ingin segera menemui Kaysen.
Kaysen yang sedang duduk dengan gelisah melihat sosok Elina yang berlari ke arahnya. Ia spontan berdiri dan ikut berlari kepadanya.
Mereka sampai di suatu titik dengan napas memburu.
"Haah haah.." Elina terengah-engah.
"Elina.."
"Kak... Sebenarnya kakak mau kemana?"
"El.. Ayo duduk dulu"
Mereka mencari tempat duduk yang nyaman. Sedangkan Alvan memantau situasi dari campur tangan Sandra.
"Elina.. Maaf, aku memberitahumu mendadak. Semalam aku beradu argumen dengan ayah.. Ayah bilang perusahaan tempatnya bekerja mengalami beberapa masalah.. Ayahku harus segera turun tangan langsung untuk memperbaikinya.. Kalau tidak, perusahaan akan mengalami kerugian yang sangat besar dan juga hutang. Ayah akan di Indonesia selama 2 minggu, sementara itu aku akan menjaga Naila dan ibu di sana.."
"Lalu apa maksudnya beradu argumen?"
"Hmm.. Ayahku meminta bantuan kepada ayahnya Sandra. Tapi Sandra dan ibunya sudah membaca situasi dan bergerak cepat. Sandra melakukan sandiwara di hadapan ayahnya sendiri dengan berpura-pura meminum racun. Hal itu membuat ayah Sandra sangat khawatir. Hingga beliau meminta ayahku untuk menjodohkan aku dengan anaknya. Ayahku pun mengancamku..... Tapi kamu tenang saja, aku akan membongkar semua kebusukan Sandra dan ibunya.. Aku hanya akan ke Australia untuk menjaga Naila dan ibuku. Aku tidak akan pernah menikah dengan Sandra.." Kaysen meyakinkan Elina serius.
"Kak... Ternyata kak Sandra sudah sejauh itu ya.."
"Dia perempuan cerdik dan licik" jawab Kaysen.
"Elina.. Aku sudah berpesan pada Alvan untuk menjagamu dari kejauhan. Bila suatu saat aku sedang di Australia dan Sandra mengganggumu atau keluargamu, kamu bisa minta tolong pada sepupuku, Alvan. Dia orangnya sangat baik. Dia juga memiliki kekuatan di keluarganya. Namun ayahku dan ayahnya tidak pernah akur karena masalah pribadi.. Selama ayahku disini, Alvan sudah ku carikan rumah kontrakan untuk dia tinggali.. Dia tinggal di sekitar rumahmu karena aku yang memintanya.. Jadi kamu jangan sungkan untuk meminta tolong padanya saat aku jauh ya.."
Elina berlinang air mata mendengar penjelasan Kaysen. Kaysen pun tidak bisa menahan air matanya yang sudah ingin tumpah.
"Elina.. Jangan menangis.. Aku akan kembali 2 minggu lagi.."
"Kak... Ini terlalu tiba-tiba.."
"Maafkan aku... Seandainya aku bisa, aku akan mengajakmu untuk menjenguk Naila juga.. Tapi kamu kan harus sekolah.."
"Aku mengerti... Kak Kays ku.. Kakak jaga diri baik-baik ya.."
Kaysen tertegun. Hatinya menghangat saat Elina berkata 'kak Kays ku'. Udara di sekitarnya terasa sangat sejuk seperti berada di taman di pagi hari. Rasa sesak yang menyelimuti hatinya seakan melepaskan ikatannya untuk sesaat. Ingin sekali rasanya ia memeluk Elina. Namun ia menahannya karena mereka masih belum halal.
"Iya El ku.. Kamu juga, kamu harus tetap waspada ya.. Takutnya Sandra akan melukaimu dan Dimas menjebakmu.. Yang terpenting kita harus tetap saling percaya dan menjaga komunikasi.."
Elina mengangguk. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah syal berbahan wol dengan motif kotak-kotak kombinasi warna cream, abu-abu dan mocca yang menambah kesan elegan bagi yang memakainya.
"Kak, mungkin di Australia sekarang sedang musim dingin. Kakak bisa pakai syal ini untuk menghangatkan leher kakak.."
"Ah.. Motifnya elegan sekali."
Elina tersipu malu. Ia pun mengalihkan pembicaraan. "Kak, apakah tidak ada barang yang ketinggalan? Jaket tebal? Sarung tangan??"
"Sudah kok.. Sudah aku siapkan di koper, hehe"
Kaysen dan Elina saling melepas rindu sebelum mereka berpisah selama setengah bulan. Tak lupa mereka mengajak Alvan untuk bergabung bersama. Namun Alvan memilih duduk diluar dan memantau keadaan. Alvan tak ingin mengganggu saat-saat kebersamaan mereka.
(Kays.. baru kali ini aku melihatmu sebahagia ini) gumam Alvan.
Tiba-tiba Alvan melihat sebuah mobil silver dengan plat yang pernah ia kenali yang tak lain adalah mobil Sandra. Alvan telah bersiap dengan rencananya untuk menghalangi Sandra menemui Kaysen. Ia tak ingin saat-saat sepupunya bersama kekasihnya terganggu.
Alvan berjalan menuju Sandra. Ia sengaja menabraknya dengan tasnya untuk mengulur waktu agar ia tak sampai menemui Kaysen.
"Aduh..!" rintih Sandra.
"Ah maaf, aku tidak sengaja."
"Kamu???" tunjuk Sandra.
"Hah? Nenek lampir?!"
"Apa kamu bilang???!!! Siapa nenek lampir??!!"
(Btw ternyata cowok ini sama tampannya dengan Kaysen.. Ah! aku mikir apa sih!) Sandra menepuk pipinya sendiri.
Alvan berpura-pura melengos pergi.
"Sudah.! Aku mau menjemput Kaysen..! Kamu menghalangi jalanku saja!"
"Kaysen masih di rumah? Hei! Yang ada kamu yang menghalangi jalanku tau!"
"Apa untungnya aku memberitahumu Kaysen di rumahnya atau nggak?" jawab Alvan galak.
"Ih..! Hei berhenti! Biar aku saja yang menjemput Kaysen!"
"Gak!"
Sandra menarik lengan Alvan dan beradu tangan dengannya. Hingga membuat orang yang berlalu-lalang memandangi tingkah laku mereka.
"Wait wait! Kaysen dapet jadwal jam berapa?"
"Kepo! Udah ah!"
Sementara dari dalam bandara, Kaysen dan Elina asik menyaksikan akting Alvan.
"Elina.. sekali lagi aku minta kamu jaga diri dan waspada ya.. Aku percaya kamu. Sesungguhnya aku sangat kagum saat kamu menghadapi Sandra waktu itu tanpa rasa takut sedikitpun.." ucap Kaysen.
"Hehehe aku juga gak tau kalau aku ternyata bisa berani menatap dan menghadapi orang lain.."
......................
Waktu penerbangan tiba. Elina menemani Kaysen sampai tiba waktunya Kaysen naik ke badan pesawat. Elina mendoakan keselamatan untuk Kaysen dan memohon kesembuhan untuk Naila.
Kaysen kembali menoleh kebelakang. Pandangannya fokus ke arah Elina yang sedang menatapnya. Hatinya ingin tetap tinggal di sisi Elina.
Pesawat mulai berangkat dan lepas landas. Alvan yang berada di luar bandara menatap badan pesawat yang semakin meninggi dan melambaikan tangan pada sepupunya yang diikuti lambaian tangan balik oleh Kaysen. Sandra mengikuti arah tatapan Alvan.
"Hati-hati Kays.." ucap Alvan.
"Apa??!!! Kaysen ada di pesawat itu??!! Dasar kamu!!" ucap Sandra kesal sambil menarik rambut Alvan.
"Don't touch me! Bukan mahram!" Alvan menepis tangan Sandra dengan tasnya.
Sandra sekejap terpesona dengan aura Alvan. Namun ia kembali menyadarkan dirinya.
Alvan segera menuju ke dalam bandara untuk menjemput Elina. Ia takut Sandra akan melakukan hal buruk pada Elina.
"Hei! Mau kemana kamu??"
Alvan tak menjawab pertanyaan Sandra. Sandra pun mengikutinya dari belakang.
"Hei..!"
Alvan mempercepat langkahnya untuk menemui Elina. Elina keluar dari bandara dengan deraian air mata yang masih membasahi pipinya.
Alvan berhenti seketika. Sejenak ia merasakan perasaan sesak Elina.
"Aduh!!! Kalau berhenti jangan tiba-tiba dong!" kepala Sandra membentur tubuh Alvan.
Sandra mengintip apa yang membuatnya berhenti mendadak.
"Elina??!! Ngapain bocah itu disini???!!!"
...****************...