
Elina adalah seorang gadis pintar. Gelar juara kelas telah melekat dalam dirinya. Namun ia selalu menjadi sasaran pembully-an oleh teman-temannya saat di sekolah dasar. Ia tidak pernah merasa tenang setiap kali pergi ke sekolah.
Begitupun di rumah, tempat yang seharusnya menjadi tempat pulang justru malah menyesakkan hatinya akibat pilih kasih yang dilakukan oleh orang tuanya. Ayahnya penyayang namun kurang perhatian. Sedangkan ibunya lebih sayang pada adiknya daripada dirinya.
Berbagai faktor eksternal tersebut turut mendorong Elina untuk bersifat tertutup semenjak kecil.
Suatu malam di lembaga studi club bahasa arab, dia mendapat nomor teman akrabnya, Naila. Dia sangat senang karena pada saat itu hanya dia teman dekatnya. Namun Naila memberi syarat untuk tidak menghubungi nomor tersebut di waktu siang hari. Elina mengangguk mengerti.
Sepulang dari tempat belajar, mereka saling berkomunikasi satu sama lain. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan pada saat itu adalah waktu dimana Elina harus segera tidur. Elina pun berniat membalas pesan Naila esok hari.
...****************...
Keesokan harinya di pagi hari, Elina tak sempat membalas pesan Naila karena ia sibuk menyiapkan diri untuk ujian semester. Alhasil Elina membalas pesan sahabatnya sepulang sekolah.
Sesampainya di rumah, Elina bergegas untuk membersihkan diri dan segera membalas pesan sahabatnya. Saat pesan sudah terkirim dia teringat akan syarat sahabatnya kemarin untuk tidak menghubunginya di waktu siang hari.
Elina menatap dirinya di cermin kamarnya. "Mengapa aku begitu ceroboh?". Lima menit kemudian ponselnya berdering. Dia segera meraih ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Terpampang nama Naila di layar ponselnya. Perasaan senang dan takut menjadi satu dalam dirinya.
Elina perlahan membuka pesan tersebut dan betapa leganya ia saat membaca balasan tersebut yang ternyata adalah dari Naila. Elina sangat girang dan melanjutkan percakapan.
Tapi lama-lama dia merasa ada yang ganjil. Mengapa setiap apa yang Elina ucapkan sering dibalas dengan pertanyaan? Apakah dia sungguh Naila? Elina mencoba memastikan apakah di seberang sana yang sedang mengobrol dengannya adalah Naila atau orang lain. Elina mencoba menelepon Naila tapi tidak diangkat. Elina pun menghentikan percakapan.
Ponsel Elina kembali berdering. Dia melihat ponselnya dan segera membaca pesan tersebut. Dia terperangah saat membaca isi pesan itu. Ternyata sejak tadi yang membalas pesannya adalah kakak laki-laki Naila, Kaysen.
"Maaf telah lancang membaca dan membalas percakapan kalian. Ini aku, Kaysen. Kakak laki-laki Naila"
(Bagaimana ini. Aku takut dimarahi kak Naila). batin Elina.
Elina membalas pesan Kaysen :
"Mohon maaf kak, saya sudah diperingatkan oleh kak Naila untuk tidak mengirim pesan di waktu tertentu. Tetapi saya lupa. Saya tidak bermaksud untuk mengganggu kakak. Sekali lagi saya mohon maaf atas kecerobohan saya"
"Iya, tidak apa-apa. Santai saja :)" balas Kaysen.
Percakapan pun tanpa sadar mengalir seperti aliran sungai. Terus berlanjut. Begitupun keesokan harinya. Dan keesokannya lagi.
Jika di malam hari Elina berbincang dengan Naila, di siang hari Elina berbalas pesan dengan Kaysen. Namun Naila tak pernah mengetahui hal itu. Karena Kaysen selalu menghapus riwayat obrolan mereka.
"Maksudnya??"
"Tentang kita yang akhir-akhir ini sering mengobrol via pesan"
"Oh, iya kak baik"
Kaysen langsung tertidur setelah mengirim pesan tersebut karena sangat kelelahan akibat bekerja part-time sepulang kuliah.
Keesokannya mereka tak saling mengobrol karena sangat padatnya jadwal kuliah Kaysen.
......................
Seperti biasa, sepulang belajar dari lembaga studi adalah waktu Naila untuk bermain ponsel milik kakaknya. Karena pada saat itu Naila tidak diberikan izin untuk memiliki ponsel sendiri.
"Kak?" tanya Naila.
"Ya? Ada apa Nail?"
"Apa maksudnya ini?" Naila menyodorkan ponsel berisi percakapan kakaknya dengan Elina.
Kaysen terperanjat. Ia lupa menghapus percakapannya dengan Elina semalam.
"Ah, enggak.. Belakangan aku bertanya soal organisasi palang merah di sekolah Elina. Dan aku jadi sering berkirim pesan dengannya. Aku takut kamu salah faham. Jadi aku bilang begitu padanya.."
"Kakak nggak berbohong? Kakak mau mengajar di sekolah Elina juga?"
"Hmm entah.. Rencananya sih begitu.. Tapi gak tau nanti"
"Okelah. Aku pakai dulu ya ponselnya"
"Iya."
Kaysen menghembuskan nafas lega. Ia tak tau mengapa dirinya harus berbohong pada adiknya. Apakah kedekatannya dengan Elina adalah suatu kesalahan?
...****************...