Two Introverts

Two Introverts
21. Dijebak dua kali?



Elina dan Dimas menoleh cepat ke sumber suara.


"Kamu?!" tunjuk Dimas pada Alvan.


"Kakak!" panggil Elina.


"Elina.. tunggu.. kamu sudah gapapa?" tanya Dimas menghentikan langkah Elina.


"Eh..? I-iya saya sudah tidak apa-apa.. Terimakasih banyak bapak sudah menolong saya.."


"Hmm panggil 'kak' saja gapapa El.."


"Oh iya, ini permen.." Dimas menyodorkan sekotak permen kecil untuk Elina.


"T-terimakasih.."


Drap... drap... drap...


"Elina.. Maaf aku dan dokter Elsa telat datang kesini. Tadi kita di hadang oleh pak security karena tidak bisa menunjukkan undangan.."


"Dokter?" tanya Dimas heran memotong pembicaraan mereka.


"Mm maksudnya saya kakaknya Elina, dan saya seorang dokter.." jawab Elsa cepat.


(Iya, aku dan Elina adalah adik kakak yang ketemu besar. Aku tidak berbohong, kan?) Elsa terkekeh kecil.


"Di hadang security? Ma-maaf ya, gara-gara Elina kalian jadi kerepotan.." ujar Elina merasa bersalah.


Dokter Elsa segera menghambur memeluk Elina. "Elina.. Ini bukan salahmu. Kami yang minta maaf, karena kami telat berada di sisimu.."


"Hmm terimakasih banyak ya kak. Aku sekarang sudah tidak apa-apa. Tapi.. pada akhirnya bagaimana kalian bisa masuk?" Elina mendongak menatap Elsa yang sedang memeluknya.


"Ada seorang gadis yang membantu kita.."


"Siapa?"


"Kami juga tidak tau.. Tapi pak security tadi sangat tunduk padanya. Kami tak sempat menanyakan namanya.. Dan security itu juga tak mau menjawab"


"Apa?? Sekarang dia dimana kak?"


"Dia sudah pergi.."


(Siapa sebenarnya yang membantu mereka?) pikir Elina.


"Elin.. Kita pulang yuk sayang" ajak Elsa.


"Ayo kak.. Eh, bentar"


Elina menoleh ke arah Dimas.


"Pak Dimas.. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak atas bantuan bapak untuk saya hari ini.. Saya berhutang budi pada bapak.." ujar Elina.


"Terimakasih sudah membantu adik saya.." tambah Elsa.


"Tunggu!" cegah Dimas.


"Ya?"


"Bagaimana kalian tau Elina sedang dalam kesulitan?"


"Ah... itu.."


"M-maaf.. tapi kami belum bisa menjelaskannya sekarang.." tutur Elsa.


"Hmm begitu? Baiklah.. aku juga tak akan memaksa.. Hati-hati di jalan" Dimas melepaskan mereka.


Elina, Elsa, dan Alvan melangkahkan kakinya keluar dari gedung itu. Tak sabar menghirup udara luar perkotaan, daripada berada di udara yang penuh dengan rasa sesak untuk Elina.


"Berhenti!!"


Suara keras dari belakang mengagetkan mereka. Entah kapan ibu Sandra mulai berada dekat dengan tempat mereka berdiri sekarang.


Ibu Sandra menarik tangan Elina kasar dan tanpa aba-aba langsung melayangkan sebuah tamparan keras di pipi Elina.


Elina tersungkur ke dalam pelukan Dimas. Tamparan keras dari wanita itu berhasil membuat telinga Elina berdengung, ditambah rasa panas dan nyeri yang menyertai.


"M-maaf pak.." ujar Elina seraya menjauhkan dirinya dari tubuh Dimas.


"Hei pencuri! Kembalikan kalungku!" ujar ibu Sandra.


"Maaf, kalung apa?"


"Dimas.. Coba kamu cek tasnya.. Dia telah mengambil kalung kesayangan tante!"


"Tidak mungkin.. Elina hanya pergi ke kamar mandi lalu berjalan ke pintu keluar. Ia sekalipun tak pergi ke kamar tante!" sanggah Dimas.


"Dimas.. Tante tidak sengaja meninggalkan kalung tante di kamar mandi sebelum acara dimulai. Saat tante kembali, kalungnya sudah tidak ada.."


"Tidak sengaja meninggalkan? Dan baru kembali setelah acara? Jika tau itu benda berharga, kenapa tak langsung diambil?" selidik Dimas.


"Karena tante rasa tak akan ada orang asing yang masuk kesana"


"Hahaha aneh!" ucap Dimas.


"Dim.. Asal kamu tau, kamar mandi yang dipakai Elina adalah kamar mandi keluarga.. Dan para tamu tidak ada yang masuk kesana!"


"Apa?! Tapi tadi Elina diantar oleh pembantu itu.." tunjuk Dimas pada seorang pembantu yang sempat ia mintai tolong untuk memberikan sebuah air minum pada Elina.


"Kami memang baru membeli gedung ini. Mungkin pembantuku lupa. Sebelum itu, kembalikan kalungku gadis pencuri!"


"Benarkah? Kalau gitu, sini tasmu aku periksa!"


"Silahkan" Elina menyodorkan tasnya.


Ibu Sandra dengan rakus menerima tasnya dan mulai menggeledah. Tangannya menjulur keatas. Menarik sebuah benda berantai emas berkilau.


"Apa ini?!" ucap ibu Sandra marah.


"Apa?! Kenapa bisa ada di dalam tas saya?!"


"Haha. 'kenapa' kamu bilang?! Jelas-jelas kamu sudah mencurinya! Masih tanya 'kenapa' lagi! Masih kecil sudah belajar nyuri kamu ya.." tunjuk ibu Sandra pada kening Elina yang segera di tepis oleh Dimas.


"Nyuri dan suka ngegoda lagi. Haha" ujar Sandra yang muncul dari balik tubuh ibunya.


"Entah apa yang akan Kaysen lakukan jika dia melihat foto ini.." Sandra menggoyangkan ponselnya dengan senyum kemenangan, dan menunjukkan sebuah foto Elina yang sedang berada dalam pelukan Dimas.


"Apa-apaan itu?!" protes Alvan berusaha meraih ponsel Sandra.


"Ehh! Hahaha! Jangan ikut campur ganteng!" Sandra menarik ponselnya cepat.


"Sandra.. ayo cepat kita bawa anak ini ke kantor polisi!" ujar ibu Sandra.


"Siap bu.. Let's go!"


Sandra menarik tangan Elina dengan kasar. Namun tindakan Sandra berhasil di hentikan oleh Elsa, Alvan, dan juga Dimas.


"Tunggu! Saya punya penawaran" ujar Elsa.


"Penawaran apa lagi?!"


"Kita bisa membuktikan kalau Elina tidak bersalah."


"Hahaha! Dengan apa? Lagian pembantuku sudah cukup menjadi saksi mata di pengadilan nanti!"


"Tidak. Bisa saja sebenarnya yang mencuri adalah pembantu anda. Atau pembantu anda memang berencana menjebak Elina atas perintah seseorang?" ucap Alvan.


"Pembantuku tak mungkin seperti itu! Dia bahkan langsung berlari ke arahku saat tau Elina memasukkan kalung itu ke dalam tasnya!" sanggah ibu Sandra.


"Mohon maaf nyonya. Izinkan saya menjelaskan. Jadi penawaran saya adalah... Jika memang Elina terbukti bersalah, kami akan memenuhi apapun permintaan kalian.. kecuali penahanan. Karena Elina masih anak sekolah. Namun jika ternyata ini semua adalah jebakan dari kalian, kami tak segan-segan melaporkan kalian pada pihak yang berwajib!"


"Okelah! Lagian kalian juga tidak punya bukti!" ibu Sandra tersenyum sinis.


"Baik. Akan saya buktikan."


Elsa mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di sebuah pembesar layar ponsel portable. Ia membuka sebuah file berisi video live dimana mereka sekarang berada.


"Apa ini?"


"Ini tempat kita berdiri sekarang.."


"Kamera tersembunyi?"


Elsa mencari video hari ini dimana Elina sedang berada di dalam kamar mandi, dan memutarnya di hadapan semua orang disana.


Tampak Elina melepaskan bros yang dia kenakan dan meninggalkannya didepan cermin bersama tasnya. Lalu seseorang datang mengendap-endap meletakkan sebuah kalung di tas Elina saat ia sedang berada di dalam toilet. Yang tak lain pelakunya adalah pembantu yang sebelumnya menunjukkan letak kamar mandi pada Elina.


Ibu Sandra mematung seketika. Baru saja dimarahi oleh suaminya, dan sekarang membuat ulah baru lagi dan gagal lagi?


"Ini rekayasa!" teriak ibu Sandra.


"Apa yang rekayasa?! Apakah video live ini rekayasa?!" Elsa mengembalikan video ke bagian live vid.


Sandra dan ibunya berusaha kabur, namun berhasil ditahan oleh Dimas dan Alvan.


Elsa menelepon kakaknya yang seorang polisi. Dan hanya butuh waktu 8 menit bagi mereka untuk sampai sana.


Wiiuu... wiiuu...


Suara sirine semakin dekat. Sandra dan ibunya berkeringat panik. Semua orang di gedung berlari keluar mencari sumber suara, mencari tahu apa yang sedang terjadi.


Sandra dan ibunya menggeliat saat polisi mendekati mereka. Namun Dimas dan Alvan lebih gesit untuk menahan mereka agar tidak bisa kabur.


"Beraninya kalian menyentuh keluarga Sandfold!!" teriak Sandra pada seorang polisi.


"Ada apa ini?!" tanya ayah Sandra heran mengapa anak dan istrinya di tangkap paksa oleh sekelompok polisi.


"Ayah?? Ayah tolong bantu Sandra... Sandra di jebak oleh kumpulan orang-orang ini"


"Sudah ada bukti video masih bisa ngeles ya?" sela Dimas.


"Ya! Itu hanyalah rekayasa kalian kan?!" ucap Sandra dengan emosi.


"Oke. Kita bisa menemui ahli IT nanti dan membuktikan apakah video dari kamera tersembunyi ini asli atau palsu."


"Video apa Dimas??" selidik ayah Sandra heran.


"Ayah... Ayah tolong kami.. Kami tidak bersalah!"


"Maaf. Kami harus segera membawa mereka ke kantor polisi. Permisi." ujar seorang polisi.


"Ayah!! Ayah!!" berontak Sandra.


Wajah ayah Sandra memerah padam menahan malu dan emosi yang mendidih di kepalanya.


...****************...