Two Introverts

Two Introverts
11. Komunikasi



Kaysen tersenyum lega atas perubahan yang terjadi pada adiknya. Ia pun segera membalas pesan adiknya, dan juga mengirim pesan pada Elina..


"Elina.. Sudah tidur?"


"Ini mau tidur kak.. Kakak sudah mengantar kak Naila?"


"Sudah.. Baru saja dia lepas landas. Oh iya El, apa besok pagi kamu ada waktu?"


"Ada kak.. Aku sedang masa liburan"


"Apa kamu masih lelah setelah wisuda kemarin?"


"Sedikit sih.. Kenapa kak?"


"Sebenarnya ada hal yang harus kubicarakan denganmu. Tapi kalau kamu masih lelah, kita bisa menundanya lusa"


"Ah.. aku bisa kok kak!"


"Jangan memaksakan diri Eli..."


"Aku beneran bisa kakaak.. Nenek juga ingin memberikan sesuatu pada kakak tau!"


"Nenek Aisyah?"


"Iyaa"


"Yaudah besok aku tunggu di pertigaan antara rumah kita ya.. Selamat malam. Selamat istirahat ♡"


...****************...


Kaysen sedang menunggu Elina di pertigaan komplek. Ia mengenakan jaket abu-abu dengan celana hitam dan sepatu sneakers hitam kombinasi putih.


Elina sedang berjalan menuju Kaysen. Ia mengenakan baju putih dipadu dengan overall cream dan jilbab berwarna senada dengan overallnya. Ia membawa sebuah bingkisan titipan dari neneknya.


"Assalamu'alaikum kak, udah lama nunggu kah?"


"Wa'alaikumussalam. Selama apapun aku harus menunggu, asal itu untukmu aku bisa.."


"Hadehhh. Kakak tumben pakai masker?" (pada saat itu adalah tahun 2015 dimana jarang sekali ada orang memakai masker, kecuali untuk hal mendesak atau sekedar berkendara)


"Pengen aja, biar gak kena polusi haha.. Yuk, kita berangkat"


Kaysen menyodorkan helm untuk Elina. Elina segera memakainya dan merapikan kerudungnya. Tiba-tiba seorang anak kecil berusia sekitar 4 tahun datang memberikan sebuah salep pereda memar untuk Kaysen, yang tak lain adalah anak dari om nya.


"Akak.. ini dali aunty"


"Loh Alfi..? Sama siapa kesini?"


"Ama aunty"


"Ibu?" Kaysen menoleh ke belakang. Ibunya mendekat ke arah Kaysen dan Elina. Elina takut dan resah saat mengetahui ibu Kaysen melihat mereka sedang bersama. Namun ternyata, ibunya tersenyum memandang Elina. Seketika keresahan yang ada dalam diri Elina lenyap diserap oleh senyuman itu. Sedangkan Kaysen, ia membuka maskernya saat berbicara dengan ibunya.


"Hati-hati ya nak.. Beritahu Elina cerita yang sebenarnya dengan lengkap agar tak terjadi salah paham diantara kalian berdua. Oh iya, ini obat memar buat jaga-jaga kalau nanti kamu pulang terlambat" ujar ibunya sambil memegang wajah anaknya.


"Baik. Terimakasih ibu."


Ibunya beralih menghadap Elina. Ia tersenyum lembut dan memegang pipi Elina.


"Kalian hati-hati ya.. Jangan ngebut ya Kaysen."


"Baik bu.."


Ibu Kaysen dan anak kecil itu segera kembali sebelum keberadaannya diketahui oleh suaminya.


"Eh, wajah kakak...???" tanya Elina heran.


"Hehe"


"Kakak habis berantem???"


"Enggak kok.."


"Trus kenapa kak??"


"Ini kuceritakan nanti ya.. Sekarang kita berangkat dulu yuk"


"Tapi kak... apa kakak baik-baik saja? Apa sebaiknya aku yang bawa motornya?"


"Jangan.. Kamu kan masih dibawah umur El.."


"Dibawah umur? Ih istilahnya..."


"Kenapa? umur 15 tahun kan?"


"Bilang aja 15 tahun, jangan pakai dibawah umur.." Elina cemberut kesal.


"Hahaha. Emang kenapa si??"


"Kalau kakak bilang gitu rasanya getir..."


"Maksudnya?"


"Kita." Elina menjawab singkat.


"Hmm. Iya maafin kakak ya. Hehe. Kita berangkat sekarang yuk??"


"Iya.."


Mereka pergi ke sebuah cafe bertema alam modern. Disana mereka disuguhkan dengan pemandangan pegunungan, perkebunan, perkotaan, dan hamparan sawah yang terlihat dari lantai atas. Tempat itu sangat luas dan sangat nyaman digunakan untuk mengerjakan tugas, quality-time ataupun sekedar bercerita.


"Waah cantik sekali.." gumam Elina.


"Elina.. mau pesan apa?"


"Mm. Sama kayak kakak aja"


Elina mengangguk. Matanya sibuk menjelajah setiap sudut ruangan baik yang indoor maupun outdoor. Elina memilih tempat di lantai dua yang berlatar pemandangan kota di sisi kiri, dan persawahan di sisi kanan.


"Kamu.. bawa apa?" tanya Kaysen membuka percakapan.


"Oh iya lupa..! Tadi nenek menitipkan salad buah untuk kakak.."Elina menyodorkan bingkisannya.


"Untukku?"


"Iyaa masa buat Elina.. Aku iri sama nenek, dia lebih tau tentang kakak daripada aku.."


"Hahaha. Itu karena saat itu kami sedang berbincang dan kebetulan beliau adalah pemilik sebuah toko kue. Jadi, pembicaraan kami mengalir begitu saja."


"Beliau orang baik" tambah Kaysen.


"Iya.."


"Kak.. Jadi kenapa kakak bisa terluka?"


"Elina.. aku punya dua kabar untukmu. Ada kabar baik dan kabar buruk. Mana yang ingin kamu ketahui lebih dulu?"


"Mmm.. kabar baik"


"Oke. Jadi, kemarin sebelum terbang, Naila menitip salam padaku untukmu. Dia sebenarnya ingin meminta maaf langsung padamu tapi dia belum siap..."


"Kak Naila? Menitip salam? Meminta maaf? Padaku?"


"Iya.. Naila sekarang sudah kembali padaku."


"Maksudnya?"


"Tapi Elina jangan kaget ya.. Elina dengerin dulu penjelasan kakak sampai detail.."


Elina mengangguk. Kaysen menceritakan dari awal siapa Sandra, bagaimana dia berusaha mendekat padanya, dan bagaimana caranya mendekati Naila.


"Dia perempuan berbahaya.. Dia juga mempengaruhi orang tuanya agar mengadakan perjodohan denganku"


"Perjodohan?"


"Iya..." Lalu Kaysen menjelaskan dengan detail tentang apa yang kemarin dialaminya mulai dari jam tangan pemberian Sandra, perjodohan, pertengkaran dengan ayahnya, juga tentang Naila yang kembali berpihak padanya.


Elina tak tau harus menjawab apa. Hanya perasaan sesak yang ia rasakan.


"Elina.. ada satu hal lagi."


"Ya? Apa itu?"


"Jika nanti kamu memasuki pertengahan semester 1 atau semester 1 akhir. Mungkin kamu akan bertemu dengan seorang mahasiswa PPL yang bernama Dimas. Dia seorang mahasiswa fisika di kampusku. Dia dulu adalah sahabatku di SMA, namun sekarang dia sangat membenciku. Sampai sekarang aku tak tau apa sebabnya.. Tapi yang pasti kamu harus berhati-hati dengannya. Karena ia sedang merencanakan sesuatu dengan Sandra untuk memisahkan kita.."


"A-apa?"


Elina menatap mata Kaysen. Ia sangat terkejut mendengarnya. Ternyata ada banyak orang yang sedang mengincar hubungan mereka dan ternyata orang yang sekarang berada di hadapannya sedang memikul beban yang sangat berat.


"Elina.. kamu jangan khawatir. Aku akan mengatasinya. Aku memberitahu ini lebih dulu padamu agar tak ada kesalahpahaman di antara kita nantinya. Dan agar kamu waspada.. Tapi sekarang kamu harus fokus dulu untuk sekolahmu ya.. Jangan terlalu memikirkan masalah ini, biar aku yang mengatasinya.."


"Bagaimana bisa aku tak memikirkan kakak? Ini tentang kita, dan kita akan bersama-sama mengatasinya."


Tak sadar Elina meneteskan air mata saat mengetahui kejadian dibalik luka yang ada pada wajah Kaysen.


Suara keras yang tak asing tiba-tiba mengejutkan keduanya. Seorang perempuan berwajah oval dengan rambut coklat yang digerai cantik dan seorang lelaki bertubuh tinggi, berkulit putih dan memiliki lesung pipi saat tersenyum.


Elina tersentak saat melihat sosok lelaki yang berada disamping perempuan itu. Sementara Kaysen buru-buru menutup wajahnya dengan masker sebelum Sandra dan Dimas mengenalinya. Untungnya mereka duduk agak jauh dari tempat Kaysen dan Elina.


"Elina.." bisik Kaysen


"Kamu tau dua orang yang baru masuk tadi? Mereka adalah orang yang sedang kita bicarakan"


"Apa? Sungguh?"


"Iya.. Kita cepat selesaikan makanan ini dan segera pergi dari sini ya."


"Iya kak. Oh iya, apa kakak punya masker lagi?"


"Kenapa?"


"Sebenarnya orang yang bernama Dimas adalah orang yang pernah aku tolong saat dia mengalami kecelakaan. Aku takut dia mengenaliku dan mendekat ke arah kita"


"Hah?"


Kaysen buru-buru mengambil sebuah masker medis dari tasnya. Ia tak menyangka mengapa dunia terasa begitu sempit?


Kaysen dan Elina berhasil keluar tanpa sepengetahuan Dimas dan Sandra. Keduanya sudah berada di tempat parkiran. Namun tiba-tiba ponsel Kaysen berbunyi.


"Halo Assalamu'alaikum ibu.. ada apa?"


Suara tangis terdengar dari balik telepon.


"Ibu... Ada apa?"


"Nak.. adikmu"


Kaysen terperanjat saat mendengar kata 'adik' diikuti dengan tangisan ibunya.


"Naila kenapa bu?"


"Naila..."


"Iya bu, tolong beritahu Naila kenapa??"


Elina yang berada disampingnya ikut panik saat mendengar nama Naila.


...****************...