
Butuh waktu 3 detik untuk mereka saling mencerna pertemuan tak terduga sore itu.
Dimas melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dan menghampiri mereka.
"Tante? Kenapa tante ada disini?"
"Apa? Kenapa kamu menanyakan hal itu pada nyonya rumah ini?"
"Nyonya rumah?"
"Tunggu! Apakah kamu? tamu yang sedang mencari anakku?" tunjuk bu Stella.
"Apa?! Elina adalah anak tante??"
"Tentu saja.. Apa kami tak terlihat mirip?"
"Bagaimana kalau kita lanjutkan perbincangan di ruang tamu? Kasihan bi Ira sudah lama berdiri memegang nampan.. Oh iya, sekalian tambah minumnya sejumlah orang di keluarga ini ya.." sela nenek Aisyah.
"Eh? ba-baik.." jawab bi Ira.
"Hehe nenek mah bisa aja mencairkan suasana" sahut Collin.
"Lebih tepatnya merusak suasana.." bisik nenek Aisyah.
"Hahahaha"
Mereka berjalan beriringan menuju ruang tamu dengan berbagai pertanyaan menari di benak mereka.
(Ini mustahil! Elina adalah anak tante Stella? Kenapa aku tak menyadari wajah cantik Elina yang diturunkan dari ibunya? Tau gini aku tidak akan menolak perjodohan itu!) gerutu Dimas dalam hati.
Dimas duduk berhadapan dengan tante Stella dan ayah Elina. Di sisi lain ada nenek, Elina, dan juga Collin.
"Sayang, siapa sebenarnya pemuda ini?" tanya ayah Elina yang segera dibalas dengan bisikan singkat oleh istrinya.
"Maaf, Dimas. Sebelum kamu menemui putriku, beritahukan padaku terlebih dulu alasan kamu ingin menemui anakku.." ucap bu Stella tiba-tiba.
"Ah, itu.. tante. Saya tidak bisa menjelaskannya sekarang. Tapi ini adalah hal penting yang harus saya sampaikan pada Elina." Nada dan tingkah laku Dimas dalam sekejap berubah menjadi lebih sopan di hadapan bu Stella.
"Jadi kalian sudah saling kenal?"
"I-iya,"
"Dan kamu tak pernah tau sebelumnya kalau Elina adalah anakku?"
"Iya.. M-maaf te"
"Lalu kamu sekarang membawa buket bunga dan beberapa bingkisan ini untuk anakku?" liriknya pada barang bawaan yang tergeletak di samping tempat duduk Dimas.
"I-iya"
"Apa hubunganmu dengan anakku??"
"Sayang, apa kamu tidak terlalu jauh bertanya? Biarkan pemuda ini berbicara dengan Elina dulu. Siapa tau itu adalah hal yang mendesak" sela ayah Elina.
"Hmm yasudah, silahkan kamu berbincang dulu dengan anakku di ruang tamu kedua. Kami akan menunggu disini." tunjuknya pada ruang tamu privat berlapis kaca di sisi kiri ruang tamu utama.
"Mari, pak!" ajak Elina.
Panggilan tersebut berhasil membuat orang-orang di ruangan itu ternganga.
"Pak?" tanya ibunya memperjelas.
"Iya.. Dia adalah guru PPL Elina"
"Eh ta-tapi sebelum itu, kami sudah pernah bertemu. Elina pernah menolong saya, saat saya mengalami kecelakaan. Sebelumnya dia memanggil saya 'kakak'.." ucap Dimas salah tingkah.
"Hmm? Apakah kami sedang bertanya tentang hal itu sekarang?" ucap bu Stella.
"Eh mmmm.." Dimas tersenyum canggung dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dimas segera mengalihkan pandangannya menghadap Elina.
"Ah.. El-Elin.. Kita bicara dimana?"
"Disitu" tunjuknya.
"Mm bagaimana kalau di halaman rumah saja?" tawar Dimas.
"Tidak! Disitu saja!" dobrak ibu Stella pada meja didepannya.
"Eh, mmm yasudah. Ayo El"
Semua orang di ruangan itu tak bisa mengerti ada apa sebenarnya diantara bu Stella dan Dimas. Bertanyapun, pasti tak akan dijawab dengan benar oleh bu Stella saat ini.
Dimas berjalan terburu-buru dengan pandangan lurus ke depan. Elina menyadari keringat Dimas mulai mengalir begitu deras dari pelipis dan juga lehernya. Elina yang mengetahui hal itu segera menyalakan AC dan menyodorkan tissue untuk Dimas.
"Ada apa pak? Kenapa bapak terlihat panik begitu?"
"Pa-panik? Enggak kok, hehe"
"Bapak mengenal ibu saya?"
"Hmm iya, beliau adalah teman dari mamaku"
"Lalu? Apa kalian ada dendam yang belum terbalaskan?"
"Hah? Eh mm nggak kok" ucap Dimas gelagapan.
Elina melirik sekilas pada bi Ira yang sedang menyajikan minuman di ruang tamu utama.
"Bi!" panggil Elina.
"Iya non?"
"Tolong antarkan dua cangkir minuman kesini"
"Jangan!" cegah bu Stella.
Elina yang mendengar hal itu refleks berdiri dan berjalan keluar dari ruang tamu kedua.
"Ada apa ibu?"
"Bi, antarkan satu cangkir saja untuk Elina. Kalau tuan muda kecil itu ingin minum, biar dia kesini saja. Dihadapanku. Kita lihat apakah dia bisa menelan minuman itu atau tidak!" ucap bu Stella.
"Sayang, jangan kekanak-kanakan. Dia adalah tamu yang harus kita layani." sanggah ayah Elina.
"Haha. Tetap saja!" bu Stella menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Ada apa sebenarnya bu? Kenapa kalian terlihat seperti sedang bermusuhan?"
"Sayang.. ayolah. Rendahkan hatimu sedikit saja" bujuk ayah Elina.
"Haha. Yasudah. Bi, antarkan minuman untuk Elina dan juga dia"
"Baik, nyonya"
Elina kembali ke tempat Dimas berada. Tampak Dimas sedang menggigit bibir bawahnya dan berulangkali mengetukkan kedua ibu jarinya satu sama lain, dengan kaki yang juga tidak bisa diam.
"Pak, maafkan tindakan ibu Elina ya"
"Hehe, iya tidak apa-apa. Oh iya, kalau tidak di sekolah, tolong panggil 'kakak' saja dan berbicara biasa saja ya.."
Elina yang tak mengerti cerita aslinya namun merasa bersalah karena perlakuan ibunya padanya, membuatnya mengiyakan permintaan tersebut.
"Jadi, ada perlu apa kakak mencariku?"
"Ah iya, aku kesini hanya untuk memastikan keadaanmu.. Apa ada hal yang kamu ingin atau kamu butuhkan?"
"Aku.. hanya ingin istirahat di kamar" jawab Elina datar.
"Mm bagaimana kalau kita pergi ke taman kota? Seperti yang sering kamu lakukan dengan Kaysen."
Dimas tak sengaja mengatakan hal itu di hadapan Elina. Ia pun refleks menutup rapat mulutnya dengan tangannya. Berharap Elina tak mendengar jelas apa yang barusan dia katakan.
Elina yang menyadari Dimas keceplosan, memilih mengikuti jalan drama itu.
"Bagaimana kakak tau kalau aku sering bersama kak Kaysen?"
"Hmm aku.. tidak sengaja melihat kalian dari kejauhan"
"Apa kakak berada di tempat yang sama denganku sebelumnya?"
"I-iya"
"Berapa kali kakak melihatku sedang bersama dengan kak Kays?"
"Satu kali"
"Satu? Kenapa tadi bilang 'sering kamu lakukan bersama Kaysen'?"
"Mmm.. itu.. bukan satu kali. Sepertinya kita berpapasan 2 atau 3 kali.. iya, gitu.. hehe"
"Tapi... semenjak kita kenal, kenapa kakak tak pernah menunjukkan padaku bahwa kakak mengenal kak Kaysen ?"
"Hehe. Kita belum lama kenal. Aku hanya tak mau mencampuri hubungan orang lain." jawab Dimas asal.
"Apa kamu sungguh pacaran dengan Kaysen?"
"Iya.."
Dimas tersenyum getir menatapnya. "Apa dia pernah bercerita tentangku padamu?"
"Tidak.. memangnya kenapa dia harus menceritakan tentang kakak?"
"Haha kamu ini.. polos sekali" tangan Dimas hendak mengacak-acak jilbab Elina. Namun gadis itu lebih cepat menghindar.
"Ah, maaf aku lupa"
"Kak?"
"Ya?"
"Kenapa ada darah di baju kakak?"
"Darah?"
Dimas mencari-cari dimana ada bercak darah di bajunya. Ia pun menemukan darah itu di dekat kancing lengannya.
"Ah ini... darah Sandra"
"Darah kak Sandra?? Ada apa dengan dia? Apa yang terjadi padanya?"
"Tidak apa-apa"
"Tidak apa-apa bagaimana? Kak Sandra kenapa kak? Sekarang dia dimana?"
Dimas terdiam menatap Elina didepannya.
"Kak.. kenapa dengan kak Sandra?"
"El.. kenapa kamu begitu peduli pada orang yang telah menyakitimu?"
"Apa? A-aku hanya ingin mengetahui kondisinya"
"Hmm baiklah" Dimas menarik nafas kasar dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Sandra dan keluarganya.
Tak terasa setetes air mata jatuh dari mata kiri Elina. Ia ingin melakukan sesuatu untuk Sandra, namun sebelum itu ia ingin meminta pendapat pada Kaysen, Elsa, dan juga Alvan.
Tiba-tiba meja yang berada di antara Elina dan Dimas bergetar. Suara nada dering lagu justin bieber berjudul favorite girl mengalun indah di ruangan itu.
"Sebentar ya El"
"Iya"
"Halo ma?"
"Hah? Darimana mama tau?"
Dimas menolehkan kepalanya ke arah bu Stella. Sebuah senyuman sinis tersungging di bibir wanita itu.
...****************...