Two Introverts

Two Introverts
20. Diluar Rencana



Udara fajar lembut menyapa gadis cantik bermata coklat khasnya. Oksigen disekitarnya sangat sejuk memasuki rongga dadanya. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Suara gemricik air mancur kecil di halaman rumahnya ikut andil meningkatkan ketenangan dan kedamaian dalam dirinya.


Elina melirik ponselnya. Ia mengetik sebuah balasan pesan untuk orang yang dicintainya.


"Alhamdulillah.. Semoga kak Naila segera diberikan kesembuhan dan bisa berkumpul kembali seperti dulu.. Aamiin. Oh iya kak, ada hal yang ingin ku sampaikan. Tapi sebelum itu, apakah kakak sedang sibuk?"


Tak butuh waktu lama, balasan pesan dari Kaysen pun segera datang ke ponselnya.


"Enggak kok. Aku disini hanya menjaga keluargaku dan tidak mengerjakan tugas yang lain. Ada apa El? Apakah Dimas dan Sandra membuat ulah?"


"Mereka kemarin mengunjungiku ke rumah" balas Elina.


"Apa?!"


Belum sempat Elina mengetik balasan lagi, Kaysen lebih dulu meneleponnya.


Elina menceritakan seluruh kejadian dengan detail, kecuali tentangnya yang menemui psikiater. Kaysen yang berada di seberang telepon tampak sangat marah.


Setelah berbincang kurang lebih satu jam, Kaysen segera menghubungi Alvan. Ia meminta bantuan pada sepupunya.


......................


Sore hari, Alvan berkunjung ke rumah Elina untuk memenuhi janjinya kemarin. Mereka tidak bertemu di luar karena nenek Aisyah tidak mengizinkan Elina untuk keluar rumah sementara waktu.


Alvan sudah mendengar beberapa hal tentang Dimas dan Sandra dari Kaysen, dan ia sudah menyusun rencana dengan Kaysen untuk berjaga-jaga bila Sandra melakukan hal buruk pada Elina saat berada di pesta perayaan ulang tahun Sandra nanti.


Elina berdecak kagum mendengar penjelasan rencana yang telah mereka susun. Namun sebelum itu, ia harus mengatasi mentalnya terlebih dahulu. Ia tak ingin lemah di hadapan Sandra.


Dokter Elsa rutin mengunjungi Elina setiap sore guna memeriksa perkembangan kesehatan mental Elina.


Dari situ Alvan mengetahui sesuatu. Namun Elina memintanya untuk tutup mulut terhadap Kaysen tentang ia yang menemui seorang psikiater. Elina tak ingin membuat Kaysen khawatir saat ini.


......................


...- Hari Ulang Tahun Sandra -...


Pesta perayaan ulang tahun Sandra dilaksanakan di sebuah gedung milik keluarganya.


Tema fashion yang diangkat oleh Sandra adalah glamorous casual. Semua orang yang datang mayoritas memakai baju kasual elegan. Baik yang berkerudung maupun tidak, mereka sama-sama diguyur ke-glamoran dengan riasan tebal dan berbagai perhiasan melekat di tubuh mereka.


Meskipun Elina berasal dari keluarga berada, ia tak pernah sekalipun datang ke acara mewah ulang tahun anak dari teman orang tuanya.


Untungnya Elsa telah menyiapkan segala hal mulai dari pakaian, tas, sepatu, hingga riasan.


Elsa merias wajah Elina senatural mungkin namun terlihat berkelas.


Elina mengenakan midi overall dress berwarna coral dipadu dengan kemeja baby pink yang memiliki rempel kecil di bagian lengan atas dibawah pundak yang menambah kesan imut.. Juga legging berwarna senada dengan overallnya. Ditambah sepatu boots berwarna hitam yang menambah kesan elegan untuk Elina. Elsa juga menambahkan bros kombinasi bunga-bunga kecil dan dedaunan berwarna silver dibagian kanan kerudung Elina untuk menambah kesan glamor.


Elina memandang dirinya didepan cermin.


(Apakah sungguh itu aku? Apa aku yakin akan percaya diri berpenampilan seperti ini? Bagaimana kalau kak Sandra berniat jahat padaku?) batin Elina.


Elina menatap lekat dirinya didepan cermin.


(Aku pasti bisa. Bismillah..) desis Elina.


...


Elina melangkahkan kakinya menuju ruangan yang dipenuhi dengan gemerlap cahaya kuning mewah.


Tak ada satupun yang menyambutnya. Namun semua mata tertuju padanya karena aura kecantikan elegan yang dia pancarkan.


"Waah siapa itu?"


"Cantik sekali"


"Fashionnya kerenn"


"Riasannya cocok. Ah harusnya aku nggak usah berdandan setebal ini!"


"Ini trend fashion make up baru.."


"Eh dia ramah juga"


"Apakah dia model?"


"Wajahnya seperti barbie"


Desas-desus orang-orang terdengar sampai ke telinga Sandra. Ia pun penasaran siapa orang yang bisa menarik perhatian tamunya melebihi dirinya.


Sandra membelah lautan tamu yang hadir di acaranya. Ia terperangah menangkap sosok fashionable bertubuh tinggi, kulit terang, dan berwajah cantik tersebut.


Elina melihat ke arah Sandra. Ia pun segera menghampirinya dan mengundang tatapan semua orang.


"Wah Sandra hebat ya.. Bisa punya teman secantik dia.."


"Iyaa, ramah lagi"


"Bagaimana kalau nanti kita ajak dia bicara?" desis orang-orang yang bahkan terdengar oleh Sandra.


(Harusnya aku yang jadi bintang disini!) gerutu Sandra dalam hati.


Sandra semakin geram. Ingin rasanya dia segera mempermalukan dan mengusir Elina dari acara pestanya.


Sandra menarik napas dalam. Berusaha menetralkan emosi yang bergejolak di pikirannya. Ia tak ingin citra dirinya hancur di hadapan teman-temannya.


"Kak Sandra.. Selamat ulang tahun ya..!" sapa Elina riang dengan menyodorkan sebuah kado bermotif batik.


"Elinaa.. Kamu cantik sekali sayang. Btw terimakasih banyak yaa udah repot-repot.. Hehe"


Sandra memeluk formal Elina. Elina pun membalas pelukan Sandra.


Selain sebagai dokter untuk Elina, Elsa juga telah mengajarinya beberapa hal terkait tata krama dan tata perilaku dalam bergaul dengan orang-orang lingkungan kelas atas.


"Kamu kesini sendiri?"


"Hehe iyaa"


Suara testing microphone mengejutkan keduanya. Acara pesta perayaan ulang tahun akan segera dimulai. Sandra segera kembali ke tempatnya. Sedangkan Elina mulai sibuk menerima sapaan dari teman-teman Sandra.


...


Pembukaan dan sambutan telah memakan waktu selama kurang lebih 30 menit. Kini saatnya acara memotong kue. Semua orang kompak menyanyikan lagu perayaan ulang tahun.


Sandra memotong kue pertama yang kemudian ia hadiahkan untuk ayah dan ibunya. Semua orang bertepuk tangan meriah.


Ibu Sandra sempat melirik Elina dan tersenyum sinis kepadanya. Sandra kembali memotong beberapa kue untuk di berikan kepada orang-orang terdekatnya.


Terakhir, dia memotongkan kue untuk Elina. Semua orang di ruangan itu tercengang. Selama ini sosok Elina tidak pernah muncul dalam acara pesta Sandra. Namun tiba-tiba Sandra memotongkan kue khusus untuknya.


"Siapakah sebenarnya gadis ini?" pikir orang-orang.


Sandra menyuapkan kue itu pada Elina. Semua mata tertuju padanya. Mau tak mau Elina harus membuka mulut. Ia meyakinkan dirinya bahwa Sandra tidak mungkin menaruh sesuatu didalam kue tersebut di situasi sekarang ini.


Elina pun membuka mulutnya dengan sedikit ragu. Semua orang yang hadir kompak memberikan tepuk tangan untuk Sandra dan Elina.


"Aah pedass" ujar Elina.


Ia mengibaskan tangannya karena panik. Semua orang tertegun. Bagaimana bisa ada cabai didalam kue? Sedangkan keluarga Sandra yang ikut memakannya tak merasakan sensasi pedas sedikitpun?


"Elinaa.. Kamu kenapa?" tanya Sandra berpura-pura.


"P-pedas kak.. Ada cabai didalam kuenya"


"Apa?!! Tidak mungkin El.. Keluargaku barusan memakannya juga tidak ada yang merasakan pedas"


"T-tapi, ini.." Elina kembali mengibaskan tangannya.


"Kalau benar ada cabai.. harusnya ayah, ibu dan saudara-saudaraku yang lain ikut merasakannya kan? Karena kue yang kalian makan adalah satu kue yang sama.."


Elina mencoba mengunyah kue itu dengan benar dan menyisakan cabainya. Meski sebagian kue itu telah bercampur dengan isi dari cabai yang telah meletup.


"Kalau benar ada cabai, coba kamu muntahkan sekarang juga"


Elina diam tak bergeming. Semua orang terperanjat dengan apa yang dikatakan Sandra. Mata Elina mulai mengeluarkan air mata akibat letusan cabai yang tadi sempat ia kunyah terlalu lama berada di mulutnya.


"Ayo.. Ini.." Sandra menarik sebuah ember yang telah ia siapkan.


"SANDRA!!" panggil Dimas dengan nada tinggi.


Pandangan orang-orang beralih ke sosok Dimas, teman mereka. Suasana mencekam itu berhasil di patahkan olehnya. Ia datang bersama seorang kepala koki keluarga Sandra yang memasak kue tersebut.


"D-dimas?? Kamu baru datang? K-kenapa kamu datang bersama koki rumahku?"


"Untungnya aku tidak sepenuhnya mempercayai tindakanmu kemarin yang diam-diam mengikutiku, lalu kabur. Kemudian kamu berpura-pura meminta maaf pada Elina karena kehadiranmu ketahuan olehku.. Setelah menganiayanya di hadapan publik, kamu masih ingin mempermalukannya juga?"


"A-apa maksudmu?" tanya Sandra.


"Aku tau kamu sekarang ingin menjebak Elina dengan mengundangnya kesini karena kamu memiliki dendam pribadi padanya."


"A-apa maksudmu Dim?"


"Pak kepala koki..!" seru Dimas pada kepala koki untuk menunjukkan kejadian yang sebenarnya di dapur.


Sandra berkeringat dingin. Tangannya mengepal menahan marah dan malu. Sorot matanya tajam menatap koki tersebut.


Kepala koki itu menunjukkan sebuah rekaman CCTV dimana Sandra dan ibunya sedang mengunjunginya di dapur untuk mencampurkan sebuah cabai rawit merah di salah satu bagian kue yang diberi tanda tertentu.


(Berani-beraninya kau, pak tua!) ucap Sandra dalam hati.


"Sandra?! Bisa-bisanya dia seperti ini?"


"Wanita jahat!"


"Ooh ternyata dia sengaja mengundangnya untuk melampiaskan amarahnya, pantesan selama ini nggak pernah lihat. Tapi apa hubungan mereka?"


"Eh aku pernah lihat, gadis cantik itu sering jalan bersama Kaysen. Mereka berdua terlihat cocok sekali.."


"Benarkah? Ah, apa karena itu ya? Sandra kan ditolak Kaysen beberapa kali.."


Umpatan orang-orang saling bersahutan. Suasana semakin kacau.


"Berani-beraninya kalian menggunjing anakku seperti ini!" murka ibu Sandra.


"Cukup!!" gertak ayah Sandra.


Semua orang di ruangan tersebut terdiam. Wajah ayah Sandra memerah padam. Sorot matanya tajam menatap Sandra dan istrinya bergantian. Semua orang di ruangan tersebut bergidik ngeri.


"Sandra?! Cepat minta maaf pada gadis ini!" bentak ayahnya marah.


"A-apa? Ayah? K-kenapa aku harus meminta maaf pada perempuan yang telah mempermalukan keluarga kita?"


"Kamu! Yang telah mempermalukan keluarga kita!" tunjuk ayah Sandra.


"Tidak ayah.. Mereka semua telah bersekongkol.."


"Bicara apa kamu?!"


Sandra tertegun. Ia tak kuasa menahan rasa takut, malu, dan marahnya dihadapan teman-teman dan juga keluarganya.


"Cepat minta maaf!"


Elina yang tak tahan dengan rasa pedas di mulutnya akhirnya membuka suara dengan sedikit menutupi mulutnya dengan tangan. Namun sebuah benda kecil merah itu tetap terlihat karena ukurannya yang terbilang besar dibanding cabai rawit pada umumnya.


"M-maaf, Sa-saya permisi dulu.. Saya tidak tahan dengan rasa pedas ini. Terimakasih dan mohon maaf atas kehadiran saya disini.."


(Kenapa tiba-tiba pak Dimas yang datang? Bukannya kak Elsa atau kak Alvan?) pikir Elina.


"Tunggu nak.." cegah ayah Sandra.


Dimas yang mengetahui hal itu segera mengikuti langkah Elina.


Elina diantar oleh salah satu pembantu di keluarga Sandra menuju kamar mandi. Di seperempat perjalanan, pembantu itu memberikan sebuah minuman untuk Elina atas perintah Dimas.


"Maaf Nona, ini silahkan diminum dulu.."


Elina mengernyit. "Bukankah tadi kulihat minuman belum dikeluarkan sama sekali?" tanya Elina heran.


"Mm sudah.. tapi kami diminta untuk menarik kembali minuman saat acara pemotongan kue berlangsung. Kami mohon maaf, Nona.." ucap pembantu itu dengan menundukkan kepala.


"Tidak usah, gapapa. Nanti kalian di marahi oleh majikan kalian karena memberikan minuman padaku.."


"Emm ini.. minuman dari den Dimas"


Elina terperangah. "Apa?!"


"Minumlah El.. Tak ada racun di minuman itu.." ucap Dimas yang mengikuti mereka.


Elina menoleh. "Pak Dimas? Anda mengikuti saya?"


...


Di kamar mandi, Elina dengan sigap membersihkan mulutnya dari rasa pedas yang sangat menyiksanya.


Elina menyentuh hiasan bros cantik di kerudungnya.


(Mengapa mereka tidak datang?) tanya Elina pada dirinya sendiri di depan cermin.


Usai dari kamar mandi, Elina segera berkemas dan berjalan cepat keluar dari gedung itu untuk menemui Elsa atau Alvan.


(Apa terjadi sesuatu dengan kak Elsa atau kak Alvan? Kemana mereka?) tanya Elina dalam hati.


Namun langkah Elina dihentikan oleh sosok Dimas yang berada di ambang pintu keluar.


"Elina..!!" teriak Alvan dan Elsa dari luar yang berlari ke arahnya.


......................


To be continued guys :)