
Elina melangkah ragu memasuki sebuah rumah makan mewah bintang lima bernuansa Eropa yang berada di pusat kota. Ini adalah kali pertama Elina pergi bersama keluarga lengkapnya setelah sekian lama. Dan juga pertama kalinya ia menghadiri acara fine dining bersama keluarga lain. Tangan gemetar Elina tak bisa disembunyikan. Ibunya segera meraih tangan mungil itu untuk menenangkannya.
"Sayang, jangan khawatir ya.. Sekarang kamu bisa mengandalkan ibu. Ibu tak akan mengacuhkan kamu lagi. Andai ibu bisa membeli kembali kepercayaan itu, pasti akan ibu beli berapapun itu. Kamu adalah berlian ibu yang berharga"
Elina menatap wajah cantik ibunya yang diterpa cahaya lampu terang serambi restoran. Tersirat sebuah ketulusan di wajahnya.
"Collin juga akan selalu berada di sisi kakak!" Tangan kecil berusia sepuluh tahun ikut menggenggam tangan kiri Elina.
Perasaan hangat terasa di lubuk hati Elina. Ia pun kembali melangkah tanpa perasaan ragu. Dua orang yang ia rindukan telah kembali padanya. Selama ini Collin sangat menyayangi kakaknya, namun terhalang karena waktunya yang direbut oleh ibunya.
...-Acara Fine Dining-...
"Selamat datang!"
Sambut keluarga lain yang tiba lebih dulu dari mereka. Empat orang itu berdiri menyambut kedatangan Elina dan keluarganya. Seorang kepala keluarga mengenakan setelan jas rapi yang disampingnya ada seorang wanita cantik dengan rambut kecoklatan yang digelung anggun khas seorang bangsawan. Di sisi kiri wanita itu, ada seorang pemuda yang juga ikut mengenakan setelan senada dengan ayahnya. Dan di kursi terakhir ada seorang anak perempuan berusia delapan tahun mengenakan gaun selutut dengan rambut sedikit gelombang berwarna sama dengan ibunya.
"Terimakasih.." ucap ayah Elina.
"Stella!!" suara ceria wanita itu memecah suasana canggung diantara mereka. Bu Laura menghampiri Bu Stella.
Mereka berpelukan erat melepas rindu satu sama lain. Mereka bertingkah bak anak kecil yang sudah lama tidak bertemu.
"Ehm.." suara Pak Smith, ayah Dimas menyadarkan mereka.
"Eh, maaf.. Ayo Stella kita duduk"
Keduanya kembali ke tempat duduk masing-masing. Elina duduk berhadapan dengan Dimas. Hatinya berkata akan ada suatu hal yang terjadi malam ini.
Elina menoleh menangkap mata ibunya. Ibunya menganggukkan kepala dan menggenggam tangannya, tanda semua akan baik-baik saja.
"Stella, putrimu cantik sekali.." ucap Bu Laura.
"Sama seperti induknya.."
"Eh? Hahahahahah"
"Mah, ssstt" Pak Smith menowel lengan istrinya.
"Ah, maaf-maaf."
Bu Laura mengangkat tangan, isyarat memanggil seorang server restoran. Sang server kembali menghampiri meja itu dan memberikan buku menu pada mereka.
"Silahkan kalian memilih menu yang kalian suka" ucap Bu Laura.
"Kami terserah kamu saja.." ucap Bu Stella.
"Yakin?"
"Iya.."
"Baiklah. Apakah ada rekomendasi menu untuk hari ini?" tanya Bu Laura pada seorang server.
"Menu rekomendasi hari ini adalah Japanese Western Food......." Seorang server menjelaskan dengan detail rekomendasi menu pada customer di meja itu.
"Stella.. Bagaimana dengan ini?"
Bu Stella melirik sekilas pada suami dan anak-anaknya yang dibalas dengan anggukan setuju oleh mereka.
"Oke, pesan ini dan tambah beberapa menu spesial" ucap Bu Laura.
"Baik, Nyonya" Server tersebut segera pergi dan menyiapkan pesanan.
...
Satu per satu makanan pembuka mulai berdatangan. Mereka menikmati hidangan sambil sesekali berbincang ringan.
"Stella, kamu belum memperkenalkan kami pada keluargamu"
"Ah iya, maaf"
"Elin, Collin, kenalkan ini adalah tante kalian, tante Laura. Kalian belum pernah bertemu dengannya karena dia selalu sibuk di luar negeri. Baru kali ini setelah belasan tahun, dia bisa bertemu dengan ibu lagi, juga dengan kita.."
Perkataan Bu Stella terhenti sementara. Beliau menatap Bu Laura yang dibalas anggukan olehnya.
"Ellin, Collin.. tante Laura bukan saudara kandung ibu. Dulu waktu kami masih bayi, kami tertukar saat di rumah sakit. Dan kami baru bertemu keluarga kandung masing-masing saat kami berusia 15 tahun. Meski begitu, kami selalu bersama dan berhubungan baik. Karena kami sebelumnya adalah sahabat dekat.."
"Apakah nenek Aisyah....??" belum sempat Collin melanjutkan pertanyaan, Bu Laura menyahut. "Ibu Aisyah! Bagaimana kabar ibu, Stella?"
"Iya.. Aku pun berhutang budi pada ibu Aisyah. Beliau telah merawatku dari kecil.."
"Hehe"
"Aku ingin sekali bertemu dengan beliau!" ucap Bu Laura antusias.
"Boleh.."
Obrolanpun mengalir begitu saja. Bu Laura juga sempat mengambil alih pembicaraan untuk memperkenalkan balik anggota keluarganya pada keluarga Bu Stella.
"Nah, karena ini pertama kalinya tante bisa bertemu dengan ponakan-ponakan tante yang manis ini, tante akan memenuhi apapun permintaan kalian selama tante berada di negeri ini.."
"Benarkah? waahh asiikkkk" jawab Collin antusias.
"Eh?"
"Ya? Kenapa sayang?"
"Kenapa kak Dimas tidak...?" tunjuknya pada Dimas.
Obrolan mereka terjeda saat seorang server mengambil piring kotor bekas appetizer.
"Kenapa kak Dimas tidak ikut tinggal di luar negeri? Kan enak disana ada salju" ucap Collin melanjutkan pertanyaan.
"Haha, Collin suka salju? Mau ikut dengan tante tidak?"
"Collin sukaa banget sama salju. Tapi Collin belum pernah merasakan salju asli yang turun langsung dari langit.."
"Hahaha. Kapan-kapan Collin ikut tante, oke?!"
"Boleh?"
"Tentu saja.."
"Asiiikkk"
"Huh!" sebuah dengusan kecil terdengar dari mulut Agatha, adik Dimas.
Hidangan main course yang dibawa oleh beberapa server mengalihkan perhatian mereka. Makanan Eropa yang dikombinasikan dengan resep bumbu masakan Jepang ataupun sebaliknya, membuat siapapun yang melihatnya ingin mencicipinya.
"Selamat makan!" ucap Bu Laura saat masing-masing dari mereka telah mendapatkan makanannya.
Main course. Elina yakin, kali ini pembicaraan akan mengarah padanya. Hawa dingin merayapi tubuhnya. Perlahan ia menggosokkan kedua telapak tangannya. Karena merasa tidak nyaman, ia izin pamit sebentar.
Di kamar mandi, Elina memeriksa ponsel. Terpampang delapan pesan dan tiga kali panggilan tak terjawab dari Kaysen. Dan juga dua panggilan tak terjawab dari Elsa. Ia pun segera membalas pesan teks panjang pada Kaysen. Dan juga Elsa.
...
Elina melangkah berat mendatangi kembali meja makan itu.
"Stella, putrimu sekarang kelas berapa?"
(Tepat sasaran. Pasti kali ini mereka akan membicarakan inti pertemuan ini) batin Elina.
"Elina sayang?" sapa Bu Laura.
"I..ya, tante?"
"Hehe.. Mulai saat ini kamu dan adikmu boleh memanggilku 'mama'.."
Pandangan Elina refleks menatap Bu Laura. Suasana hening menyergap meja itu. Ia melirik sekilas ke arah Dimas. Tampak pipi dan telinganya yang putih memerah.
"Eh mmm.. Kenapa? Apa ini terlalu cepat?" ucap Bu Laura lagi.
"Ma.." cegah Dimas.
"Memanggil 'mama'??" tanya Bu Stella.
"Stella, aku sudah memikirkan hal ini beberapa kali. Aku ingin kita menjadi 'keluarga' lagi. Dan aku berpikir bahwa menjodohkan anak kita adalah hal yang baik.."
Petir keras tak kasat mata menghantam relung hati Elina. Dadanya terasa perih dan perutnya sakit. Ia sudah bersiap untuk ini saat ibunya mengatakan akan mengajaknya pergi menghadiri 'pertemuan dua keluarga', namun mentalnya masih sangat lemah untuk mendengarnya secara langsung.
...****************...