
...♡—————♡—————♡—————♡—————♡...
^^^Malang, 09 September 2015^^^
Teruntuk putraku yang sangat kurindukan,
Dimas Arsene Claes..
.
Anakku.. Bagaimana kabarmu? Apa kamu masih ingat dengan ibu? Ibu disini selalu merindukan kamu, sayang.. Kamu pasti sudah besar ya sekarang? Ibu sangat rindu sekali denganmu..
Ibu sudah bebas 5 tahun yang lalu nak.. Sekarang ibu membuka usaha toko kue kecil-kecilan di tepi kota..
Pertama kali ibu keluar dari sel, kamu adalah orang pertama yang ibu cari. Ibu berjalan kesana-kemari demi mendapatkan sebuah petunjuk.
Akhirnya setelah pencarian selama kurang lebih 1 minggu, ibu dapat menemukan rumahmu berkat alamat yang diberikan oleh salah satu teman SD mu... Rumahmu bahkan lebih tepat disebut istana, daripada sekedar rumah. Begitu megah dan mewah. Pasti kamu bahagia ya, sayang? Alhamdulillah ibu lega ketika melihatnya..
Saat langkah kaki ibu semakin tak bisa dihentikan untuk segera melihatmu, tiba-tiba kaki ibu mematung saat ibu melihat wanita yang menjebak ibu keluar dari rumahmu. Apakah dia sekarang menjadi orang tuamu, sayang? Kenapa dia keluar dari rumah yang kamu tinggali dengan menggandeng lengan ayahmu menuju taman samping dengan saling melepas senyum? Mereka terlihat sangat bahagia..
Ibu memberanikan diri bertanya pada pak satpam yang ada di depan rumahmu. Ternyata benar, dia sudah menjadi keluargamu..
Ibu bahkan belum pernah melihatmu secara langsung saat kamu tumbuh dewasa. Ibu hanya bisa melihat fotomu di sosial media yang ditunjukkan oleh salah satu temanmu.
Ibu tertegun melihat kamu telah tumbuh begitu gagah, dan tampan. Kamu memiliki lesung pipi yang sama dengan ibu..
Ibu rindu sekali denganmu, nak..
Dimas, Ibu sebenarnya memiliki nomormu dari temanmu yang memberikan alamatmu pada ibu.. namun ibu tak berani menghubungimu. Dia memberitahu ibu banyak hal tentangmu. Gara-gara ibu, kamu menanggung beban psikis yang sangat berat.. menjadi bahan cemooh orang-orang setiap hari. Ibu tak sanggup melihatmu menghindar dan berkata bahwa kamu membenci ibu. Meski ibu tahu, kamu mungkin sangat membenci ibu. Maafkan ibu ya, nak.. Ibu belum bisa menjadi orangtua yang baik untuk Dimas..
Ibu sangat mencintaimu dan selalu merindukanmu...
Nak.. Kalau kamu mendapatkan surat ini, berarti ibu sudah tiada. 3 tahun terakhir, ibu mengidap penyakit parkinson. Suatu gangguan sistem syaraf pusat dimana ibu kehilangan keseimbangan, kepala yang sering merasakan sakit, dan tubuh gemetar. Semakin lama kekuatan otot tubuh ibu semakin berkurang. Bahkan untuk berjalan saja susah. Mumpung tangan ibu masih bisa menggerakkan pena ini meski sulit, ibu berusaha keras menulis di atas kertas ini untuk terakhir kali. Ingatkah kamu saat ibu memegang tanganmu untuk membantumu menulis pertama kali, sayang? Sekarang tangan yang pernah menyelimutimu sudah sangat lemah, nak..
Dimas, jika kamu mendapatkan surat ini dari seorang anak perempuan, dia adalah adikmu yang ibu lahirkan di dalam sel. Mungkin kamu dan ayahmu tak pernah tahu kalau ibu sedang hamil saat masuk kedalam jeruji seram itu, karena wanita itu telah menutup informasi dari pihak polisi tentang keadaan ibu.
Kalau kamu sudah bertemu adikmu, maukah kamu menjaganya untuk ibu, nak? Dia adalah adik kandungmu. Namanya adalah Dea Arsenia Claes. Dia berbeda 9 tahun denganmu. Dia perempuan kuat dan mandiri meski umurnya masih belia. InsyaAllah dia tidak akan merepotkanmu.. Ibu ingin kalian berdua akur dan hidup berdampingan..
Sepanjang hari, adikmu selalu menenangkan ibu karena ibu tak bisa menahan air mata deras yang sangat merindukan anak laki-laki ibu. Ibu sudah tidak sesehat dulu. Saat kepala ibu sangat sakit, ibu sering meracau tidak jelas dan menimbulkan keributan. Ibu benar-benar gagal menjadi orang tua, Maafkan ibu..
Mungkin kamu tak pernah tahu cerita aslinya kenapa ibu bisa ada di jeruji besi mengerikan itu, tapi kalau kamu bertanya pada orang yang menjadi ibu keduamu, mungkin ia akan menjawabnya suatu saat nanti. Meski tidak sekarang.
I Love You My Beloved Son and My Beloved Daughter 💚
^^^Zefira Callista,^^^
^^^Ibu yang selalu merindukanmu^^^
...♡—————♡—————♡—————♡—————♡...
Kedua alis Dimas saling bertaut. Keningnya mengernyit membaca tulisan tangan yang pernah ia kenal sewaktu kecil. Ada sedikit kerinduan dibalik kebenciannya. Tak sadar, air mata mulai menggenang di kelopak matanya. Dimas segera menatap langit-langit dan menyeka air matanya.(Apa maksudnya? Apa hubungan ibu dan mama?) pikirnya.
"Pak, kenapa surat ini ada di tangan bapak?"
"Seorang anak perempuan menitipkannya saat di rumah sakit"
"Kenapa dia tak memberikannya sendiri?"
"Saya juga kurang tahu.. Saya hanya membantu gadis malang itu"
"Dimana gadis kecil itu sekarang?"
"Dia tidak mau memberitahukan alamatnya"
"Kenapa bapak bisa bersama mereka?"
"Kami ke lokasi kejadian saat ada laporan tabrak lari dari warga, dimana korbannya adalah seorang anak perempuan dan seorang wanita berkursi roda."
"Anak perempuan itu sekarang masih hidup kan, pak?"
"Iya, masih"
"Lalu, wanita yang berkursi roda?"
"Beliau sudah berpulang. Mungkin pemakaman akan dilaksanakan sekitar 1-2 jam lagi. Coba kamu hubungi pihak rumah sakit"
Dimas merasa sangat terpukul saat polisi itu berkata bahwa wanita itu telah berpulang, meski Dimas sudah mengetahuinya dari surat yang ia baca. "Baik, terimakasih banyak pak"
Dimas berbalik dan dengan segera kembali ke rumah sakit dengan perasaan gusar. Tangannya menggenggam erat surat dari mendiang ibunya.
"Semoga saja mereka masih disana" gumamnya.
Dimas berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit. Pak Sandi yang kebetulan sedang mengurus administrasi dan melihat tingkah Dimas, berhasil menangkap lengan pemuda itu.
"Ada apa Dimas? Kenapa kamu berlari?"
"Ibu saya pak"
"Ibu? Nyonya Laura?"
"Bukan"
"Bu Zefira?"
"Iya," terpasang raut suram di wajah Dimas yang menyiratkan rasa menyesal yang teramat dalam. Wajah putihnya sangat merah saat ia menahan air matanya untuk tidak tumpah. Selama ini dia tak pernah mencari tahu keberadaan dan keadaan ibunya. Dia bahkan sama sekali tak pernah menjenguknya lagi setelah terakhir kali ia ikut mengunjunginya bersama ayahnya di sel tahanan.
"Bukankah kamu sangat membenci wanita itu? Bahkan untuk menyebut namanya?"
Dimas menatap sendu wajah Pak Sandi. Namun ia kembali teringat bahwa kedua keluarganya kemungkinan besar masih ada di sekitar sini.
"Pak, nanti saya jelaskan. Sekarang saya harus segera menemukan mereka"
"Mereka?" tanya Pak Sandi dengan dirinya sendiri saat Dimas telah berlari jauh meninggalkannya.
Dimas melangkah cepat mengikuti kata hatinya. Pikiran benci yang terpupuk selama bertahun-tahun akan ibunya sudah terhempas begitu saja dari pikirannya.
Dimas menuju ruang jenazah. Disana ada seorang anak perempuan dan beberapa suster yang sedang mendorong brankar jenazah.
Dimas terhenti sesaat, dan hatinya berdetak sangat cepat. Ia belum siap melihat wajah ibunya. Namun hatinya berlari untuk segera menghampiri mereka.
"Permisi" tangan Dimas menghentikan langkah mereka.
"Ya? Ada yang bisa kami bantu?"
"Apa boleh saya melihat jenazah ini sebentar saja?"
Suster itu menoleh menatap gadis kecil di belakangnya.
"Hanya melihat wajahnya saja sus, tolong sebentar saja" Dimas memohon.
"Baiklah"
Anak perempuan yang sedari tadi ikut mengantar, terlihat pasrah saja saat salah satu anggota keluarganya dilihat oleh orang asing.
Suster itu perlahan membuka kain penutup yang ada pada kepala jenazah disampingnya.
Hati Dimas semakin berdetak kencang tak beraturan.
Perlahan suster itu membuka tabir penutup. Detak jantungnya semakin cepat tak terkendali. Kedua alisnya bertaut serius menatap fokus jenazah itu.
Tabir penutup telah terbuka. Bagai petir keras yang menyambar tanpa hujan. Jenazah itu ternyata adalah seorang laki-laki paruh baya dengan luka bekas kecelakaan di dahinya.
"Oh, bukan.. Maaf saya salah" ucap Dimas sambil mengatupkan kedua tangannya didepan dada.
"Baik, tidak apa-apa" Suster itu kembali menutupkan kain. Mereka hendak melanjutkan tugas mereka. Namun tangan Dimas menghentikan mereka lagi.
"Maaf, apakah tadi disini ada jenazah seorang ibu yang salah satu keluarganya adalah anak kecil berumur sekitar 12 tahun dan diikuti oleh seseorang berseragam polisi?"
"Oh, mereka sudah pulang 15 menit yang lalu"
"Boleh saya tau dimana alamat mereka?"
"Apakah anda keluarga atau saudara mereka?"
"I-iya.." jawab Dimas terbata-bata namun mampu meyakinkan perawat-perawat itu.
"Baik. Coba anda bertanya pada bagian front office dengan menunjukkan beberapa kartu identitas yang dibutuhkan"
(Kenapa aku tadi tidak bertanya dulu saat didepan? Padahal aku tadi sempat berhenti karena dihentikan oleh Pak Sandi) batin Dimas dengan menepuk dahinya.
"Baik. Terimakasih banyak ya sus. Maaf merepotkan dan maaf telah menghalangi jalan kalian" ucap Dimas sopan.
Dimas melesat sekencang angin menuju bagian front office. Beberapa pasang mata memandanginya dan ada pula yang menegurnya. Namun ia tak memedulikan semua itu. Yang terpenting baginya adalah melihat ibunya untuk yang terakhir kali dan menemukan adiknya.
Saat tiba di bagian front office, Dimas dengan semangat membara bertanya dan menjelaskan waktu dan ciri-ciri orang yang sedang ia cari. Dimas menunjukkan sebuah KTP untuk menunjang bukti bahwa ia adalah keluarga dari orang yang sedang ia cari. Namun saat di crosscheck semua informasi yang disampaikan oleh Dimas, ternyata ada catatan khusus dari pihak pasien agar mengunci informasi tentang mereka.
"Mohon maaf, pihak pasien telah memblokir informasi. Jadi kami tidak ada izin untuk menyebarkannya pada orang lain."
Dunia Dimas hancur. Hatinya sangat sesak. Ia merasa meyesal yang teramat dalam. Namun ia tak menyerah. Ia mencoba dengan cara kotor, yaitu dengan menyuap pihak front office agar mau membuka informasi. Namun mereka menolak dengan tegas apa yang Dimas lakukan.
...****************...