
Usai pulang dari acara 'pertemuan dua keluarga', Dimas pergi mengunjungi tempat Sandra dan Pak Sandi berada.
Seperti rembulan, yang bercahaya namun tidak dapat memancarkan cahayanya sendiri. Begitulah Dimas terkurung selama ini dibawah naungan keluarga barunya. Dimas menengadahkan wajahnya menatap gugusan bintang yang berada tepat disamping satelit bumi. Ia ingin sekali menjadi bintang, bukan rembulan. Namun dia tak bisa sepenuhnya melepas cahaya yang membuatnya bersinar selama ini. Karena berkat cahaya itu, ia dihargai sebagai seorang 'tuan muda'.
Langit gelap yang menemani, angin sepoi yang memeluknya, dan suara binatang malam yang senantiasa membersamai. Dimas melangkahkan kaki panjangnya menuju rumah sakit tempat Sandra dirawat.
Tatkala ia sampai di sebuah lorong rumah sakit, ia berpapasan dengan seorang pasien yang tengah kritis. Beberapa suster yang membawanya berlari cepat menandakan pasien itu harus segera mendapatkan tindakan. Dibelakangnya, seorang laki-laki berseragam polisi, ikut berlari mengikutinya.
Dimas menolehkan kepalanya melihat wajah sang pasien. Namun sebagian wajahnya tertutup oleh sebuah kerudung polos berwarna kuning cerah yang dikenakannya.
Dimas kembali fokus berjalan ke arah ruangan Sandra. Dilihatnya Pak Sandi sedang duduk termenung menatap kosong lantai rumah sakit.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam Dimas.." Pak Sandi refleks berdiri menyambut kedatangan tamu pentingnya.
"Silahkan duduk saja Pak.. Bagaimana keadaan Sandra?"
"Sandra masih belum sadar sejak tadi Dim.."
"Bagaimana kalau kita sama-sama mendoakan Sandra?"
"Astaghfirullah! Bapak lupa belum sholat isya'!"
"Hehe.."
...
Usai melaksanakan serangkaian ibadah dan mendoakan Sandra, mereka kembali ke kamar Sandra. Mereka terkejut saat melihat suster dan dokter yang berada di dalam kamar Sandra sedang membawa sepasang alat pacu jantung di tangannya. Dokter berulang kali menggosokkan sepasang alat itu dan meletakkannya di dada Sandra.
Pak Sandi dengan mata sembab, mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Deraian air mata mulai membasahi wajah sayunya.
Pada garis lurus yang terpampang pada layar patient monitor, perlahan garis itu membentuk beberapa segitiga-segitiga kecil yang artinya tekanan darah, denyut jantung, saturasi oksigen, dan frekuensi napas mulai kembali normal.
Perasaan lega menyelimuti hati Pak Sandi. Beliau tak henti-hentinya mengucap rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.
Sandra telah melewati masa kritis. Dan hanya menunggu waktu ia akan bangun.
...
Sandra membuka matanya perlahan, ia mengejapkan mata beberapa kali akibat silau dengan cahaya yang sudah berjam-jam tak memasuki retinanya.
Sandra memutar bola matanya melihat sekeliling. Ruangan berdinding creame ringan, dengan tabung oksigen yang berada disamping ranjangnya, dan juga selang oksigen yang terhubung ke hidungnya, membuat wanita itu berteriak kecil. Ia mengangkat tangannya dan mendapati banyak bekas luka serta beberapa perban, juga sebuah infus di tangan kirinya.
"Sandra.. Kamu sudah sadar nak?" Ayahnya yang tertunduk disamping tempat berbaring putrinya, terbangun saat mendengar suara teriakan kecil dari putrinya.
"Ayah.. Kenapa Sandra ada disini?" Sandra mencoba mendudukkan badannya.
"Jangan banyak bergerak dulu nak.."
"Ayah.. Sandra haus.."
"Haus? Oh iya, sebentar ya.. Tunggu 10 menit dulu ya nak"
"Baiklah"
"Ayah, siapa itu yang sedang duduk di dekat kamar Sandra?"
"Itu.. Dimas"
Mata Sandra terbelalak mendengar namanya. "Dimas?" Rasa benci dan sakit karena dikhianati menguasai hatinya. Ia sangat marah dengan sosok Dimas.
"Nak.. Dimas yang membantu ayah melepaskanmu dari jeratan ibumu. Dia juga yang menemani ayah, dan membantu ayah mengantarmu kesini. Bahkan dia kembali kesini untuk memastikan keadaanmu."
"Ayah.. Sandra ingin berbicara dengan Dimas"
"Sekarang?"
"Iya"
"Kamu baru saja siuman, jangan banyak mengeluarkan tenaga dulu"
"Memangnya Sandra mau ngapain yah, sama Dimas? Lomba lari?"
"Hhmmm..."
"Hihihi. Sandra hanya ingin berbicara dengan Dimas, yah"
"Hmm yasudah. Awas aja kalau kalian baku hantam! Ayah nggak akan tinggal diam!"
"Hehe apakah Sandra sebrutal itu yah?"
"Ayah panggil Dimas dulu ya" pamit sang ayah sambil mengelus kepala putrinya. Ayahnya berjalan keluar dan memberitahukan apa yang diinginkan putrinya.
...
Dimas melangkah pelan memasuki kamar Sandra. Ia tak berani menatap sorot tajam mata Sandra.
"Hei, pengkhianat!" suara lemah Sandra membuatnya ingin menatapnya.
"San.. maaf"
"Jika dari awal kamu tidak berada di pihakku, kenapa kamu menawarkan diri?"
"Kita dari awal memiliki tujuan yang sama"
"Hahah bohong!"
"Kamu ingin mendapatkan Kaysen, dan aku mendapatkan Elina"
"Lalu? Kenapa kamu berkhianat?"
"Berkhianat bagaimana?"
"Kamu mempermalukanku didepan semua orang dan sama sekali tak melindungiku! Bahkan kamu pernah menamparku hanya karena bocah itu?!"
"San.. memiliki tujuan yang sama bukan berarti aku harus memihakmu. Aku sudah bilang, aku tak akan tinggal diam kalau kamu menyakiti Elina"
"Huh dasar!" Sandra mendengus kesal.
"Eh apakah aku sekarang bebas? Kemana penjaga itu? Bukankah aku harusnya dikawal?" ucap Sandra celingukan mencari sosok penjaga.
"Ayahmu nanti yang akan memberitahumu"
"Hmm.." Sandra memandangi bekas gigitan yang ada pada lengannya. "Buas sekali.." gumamnya.
"Apa ada hal lain yang masih ingin kamu bicarakan denganku?"
"Katakanlah"
"Aku ingin berbicara dengan Kaysen."
"Lalu?"
"Lalu apa?! Pinjamkan ponselmu!"
"Aku tak memiliki kontaknya."
"Aku hafal nomornya!"
"Aku sudah memblokirnya."
"Apa?! Tadi katanya kau tidak punya kontaknya!"
"Sekali ini saja, aku minta tolong.. Setelah itu kamu jangan masuk ke dalam urusanku lagi!" tambah Sandra.
"Ooh gitu.. Sekarangpun aku juga nggak mau tuh berurusan denganmu"
"Iih maksudku setelah ini kita tak usah bekerja sama lagi! Sekali ini saja.. please!" Sandra memohon.
"Hahahaha" Dimas tertawa kecil melihat tingkah laku Sandra.
"Apa yang lucu?! Jangan bilang kamu beralih haluan menyukaiku?"
"Stagaa.. pede banget kamu. Yaudah, nih!" ucapnya sambil menyodorkan ponselnya.
"Eh? Pakai akun milikmu?"
"Iya"
"Bukankah kamu bilang, memblokirnya?"
"Iya, sudah ku unblock"
"Kenapa?"
"Gapapa, udah cepet pake!"
Sandra mencoba menghubungi Kaysen, dan betapa terkejutnya ia saat telepon darinya langsung diangkat olehnya.
"Ha-lo?" suara ragu Kaysen dari seberang terdengar.
"Halo.."
"Eh? Maaf ini siapa ya?"
"Aku... Sandra"
"Ah, ada apa San?"
"Gapapa, pengen denger suara kamu aja"
"Kenapa kamu memakai ponsel Dimas?"
"Memangnya kenapa?"
"Apa yang kalian rencanakan untukku dan Elina?"
"Eh, apa sih Kays?? Ini aku pinjam karena ponselku rusak. Aku hanya sekedar rindu padamu dan ingin mendengar suaramu.."
"Gausah berpura-pura kalian!"
"Nggak, Kays.. Kalau kamu nggak percaya, coba deh telfon ayahku"
"Hmm.. Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"
"Tidak ada.."
"Tidak ada? Yasudah kalau gitu, aku akhiri ya"
"Eh Kays, tunggu..." Sandra menatap layar ponsel itu, saat Kaysen memutus sambungan telepon dengannya. Sandra tampak kesal dan ingin membanting ponsel yang berada di genggamannya. Namun tindakannya berhasil di cegah oleh Dimas.
"Eh eh, main banting-banting aja. Hp orang, tahu!" Dimas merebut ponselnya dari Sandra.
Sandra menatap lesu Dimas. "Bagaimana hubunganmu dengan bocah itu?"
Dimas terdiam sesaat, mendengar pertanyaan Sandra. "Mamaku menjodohkan aku dengannya."
Mata Sandra membesar tak percaya. "Apa? Mama Laura?"
Dimas mengangguk dengan senyum tipis tersipu. "Iya"
"Lalu? Apakah ibumu sudah tau?"
Dimas mengernyit. "Siapa itu?! Aku hanya punya mama, tidak punya ibu!" ucapnya dengan nada kesal.
Drrrtt.. drrrtt... Ponsel Dimas bergetar.
"Halo?"
"Halo. Apakah ini dengan saudara Dimas Arsene Claes?"
"Ya? Saya sendiri. Ini siapa ya?"
"Ini dari kantor polisi. Mohon saudara kesini secepatnya dengan membawa kartu identitas"
"Kantor polisi? Ada apa ya pak?"
"Nanti saudara akan mengetahuinya sendiri. Mohon segera kesini ya! Alamatnya di Jl. Anggrek No. 11"
"Baik, pak. Saya akan segera kesana.."
Ada sesuatu yang tak beres. Tapi ia yakin bahwa itu bukan hal buruk tentang dirinya. Entah mengapa hatinya berdegup kencang dengan hebat sampai rasanya sedikit ngilu.
"Ada apa Dim?" tanya Sandra.
"Aku juga belum tau San.."
"Apa jangan-jangan...?"
Dimas tersentak dan berlari kencang keluar rumah sakit. Ia melangkahkan kaki lebar-lebar seperti sedang dikejar oleh binatang buas. Padahal ia sangat membenci 'wanita' itu, tapi kenapa hatinya berlari sekuat tenaga seperti ini?
...****************...