
Dua bulan telah berlalu namun Naila masih terlelap dalam tidurnya. Ayah dan ibu Kaysen masih berada di Australia, namun sesekali ayahnya pulang ke rumah untuk mengurus pekerjaannya di kantor. Alvan memutuskan tinggal di rumah Kaysen sementara waktu sampai keluarga Kaysen berkumpul kembali.
"Van, menurutmu apakah aku jahat jika pergi merayakan ulang tahun Elina?" tanya Kaysen.
"Kays.. Kamu berhak melakukan apa yang kamu ingin. Jangan memenjarakan dirimu dalam kesedihan. Kita semua juga sedang mencoba yang terbaik untuk Naila, sisanya biar Tuhan yang memutuskan.."
Malam itu, sebelas hari setelah bulan Juli adalah hari dimana Kaysen akan memberikan hadiah pertama untuk Elina.
Hadiah yang dulu telah Kaysen siapkan untuk Elina sebagai tanda persahabatan masih tersimpan rapi di sudut almari miliknya. Ia bermaksud memberikannya hari ini.
Kaysen telah menyiapkan 2 hadiah untuk kekasihnya. Pertama adalah hadiah persahabatan yang dulu ia siapkan untuknya, yaitu buku diary berkunci. Dan hadiah kedua adalah sebuah kalung dengan pita cantik bermata biru tosca sebagai liontinnya.
Kaysen memilih kemeja polos berwarna coklat susu dipadukan dengan celana hitam sebagai style-nya. Sedangkan Elina mengenakan baju putih dibalut dengan overall panjang berwarna cream dan jilbab berwarna senada dengan overallnya. Warna yang selaras antar keduanya.
Kaysen menjemput Elina di pertigaan komplek diantara rumah mereka. Ia terlihat sangat resah dan gugup. Berulang kali ia menenangkan diri, namun debaran di dadanya tidak mau diajak berkompromi. Debaran itu semakin kencang saat Elina datang menghampiri Kaysen.
"Kak.. kita mau kemana?" tanya Elina.
"Jalan-jalan, hehe... Kamu cantik sekali hari ini."
"Ooh biasanya nggak cantik?"
"Eh. M-maksudku hari ini lebih cantik..."
"Iyaa, berarti kemarin nggak cantik."
"Kamu selalu cantik kok..."
"Nggak.. tadi bilangnya aku hari ini cantik, berarti kemarin-kemarin enggak"
"Elina Alisha Lethaa....." panggil Kaysen.
"Eh? I-iya?" Elina merasa gugup saat tiba-tiba ada orang yang memanggil nama lengkapnya. Biasanya hal seperti itu terjadi ketika seseorang ingin berbicara serius kepadanya. (kecuali saat di absen di kelas)
"You're always beautiful in my eyes. However, whenever.. Kamu juga memiliki kecantikan hati yang tidak semua orang memilikinya"
"Hmm.." Elina menunduk malu.
"Yuk kita berangkat" ajak Kaysen.
"Iya..."
Sebuah ruang kesedihan di hati Kaysen perlahan terisi dengan debaran kebahagiaan. Meski tak sepenuhnya bahagia, namun dia harus tetap melanjutkan hidup dan perannya dengan orang-orang disekitarnya.
"Kak... Anginnya kalo di motor terasa kenceng ya, kakak dengar aku tidak?" tanya Elina.
"Iya, ini dengar kok.."
"Kak.. Emang kakak gak capek habis kuliah seharian terus jalan-jalan?"
"Justru karena itu, aku ingin refreshing bersamamu..... Emang Elina gak suka ya?"
"Emm suka sih... tapi..."
"Tapi...??"
"Hehe nggak jadi"
Kaysen mengajak Elina pergi ke sebuah museum angkut di kota apel. Sebuah tempat wisata modern dan museum transportasi yang jalanannya di desain khas dari berbagai benua mulai dari benua Asia, Eropa, hingga Amerika.
Elina mengagumi setiap sudut ruangan yang dihiasi dengan lampu-lampu eksotis dan banyaknya koleksi mobil dari berbagai negara dan waktu di zona pertama atau hall utama museum.
"Kak.. tempat ini sangat keren..!" matanya berbinar menatap pemandangan didepannya.
"Syukurlah kalau kamu suka.." Kaysen tersenyum, menatap lembut Elina.
"Waah tempat ini indah sekali.. Ada menara eiffel juga..!" ucap Elina saat mereka tiba di zona Eropa.
"Mau aku foto?"
"Aku malu"
"Kenapa harus malu?"
"Aku tidak biasa foto, apalagi difoto.."
"Terkadang sesekali kita harus mengabadikan momen.. Kamu yakin gak akan menyesal suatu saat nanti?"
"Eh mmm"
"Keadaan bisa saja berubah, namun foto tidak akan berubah. Bisa saja suatu saat tempat ini berganti menjadi tempat yang lain. Apakah kamu yakin tidak akan menyesal?"
"I-iya, yaudah tolong fotoin ya kak"
"Oke siap."
Kaysen sibuk mencari angle yang pas untuk Elina. Elina merasa tak nyaman dirinya disorot oleh kamera.
"Elinaa.. jangan kaku, santai saja"
"Mm maaf"
Belum sempat Elina menjawab Kaysen telah mendekat padanya dengan sedikit space lalu mengambil foto mereka berdua.
"Hmm lumayan. Sekarang giliran satu per satu ya.. Elina dulu atau kakak dulu?"
"Kakak dulu.. Elina yang fotoin"
"Oke"
Kaysen mengajari Elina cara untuk mengambil gambar dari sudut pandang yang bagus. Elina adalah gadis pintar yang mudah untuk diajari. Ia mulai mengambil beberapa foto Kaysen.
"Waah sebagian besar angle nya pas. Hasilnya juga bagus.. Kamu pandai sekali.. Sekarang giliran kamu yang ku foto ya.." puji Kaysen.
"Iya..."
Elina mulai terdorong untuk mengambil foto dirinya. Kaysen mengarahkan Elina mengenai pose dan titik sudut dimana Elina harus berada. Kaysen memotretnya dengan sangat totalitas. Mulai dari berdiri, duduk, jongkok, hingga tengkurap di jalan, semua itu Kaysen lakukan untuk mengambil foto Elina.
"Kakak.. aku di foto dengan biasa aja gapapa kok"
"Hahaha aku hanya ingin mendapatkan foto yang menarik.. Coba lihat hasilnya.." Kaysen menyodorkan kameranya pada Elina.
"Aahhh aku kelihatan cantik..!"
"Kan emang cantik"
"Mm maksudku spot dan pengambilan angle nya profesional banget.. Kayak orang-orang di pinterest.."
"Hahahaha"
"Kak kesana yuk.." ajak Elina antusias. Mereka pergi ke zona gangster town & broadway street.
"Kak boleh tolong fotoin di jalan ini? Aku ingin dengan pose seperti sedang menyeberang jalan"
"Boleh banget. Dengan senang hati akan aku fotoin"
Kaysen dengan sigap memotret Elina dan menunjukkan hasilnya.
"Kyaaa kerennn..! Terimakasih kak sudah mengajakku ke tempat ini.."
Kaysen tersenyum ke arahnya. Mereka kembali berjalan-jalan menyusuri zona edukasi, sunda kelapa & batavia, istana buckingham, las vegas, dll.
Saat mereka tiba di zona pasar apung, Kaysen segera mencari tempat yang tidak begitu ramai orang. Namun tetap terlihat pemandangan perahu pasar apung.
"Elina.. Kamu suka?"
"Suka.. sukaa banget. Aku baru tau ada tempat seindah ini di malam hari"
Tiba-tiba suara kembang api muncul memeriahkan suasana malam di tempat itu.
"Waahh cantik.." Elina mendongakkan kepalanya.
"Happy Birthday Elina..! Selamat ulang tahun.. Maaf aku bukan orang pertama yang mengucapkannya.."
Elina menoleh cepat pada Kaysen. Ia menatap terharu seolah tak percaya Kaysen mengingat hari ulang tahunnya ditengah kesedihannya akan Naila.
"T-terimakasih kak.. Aku tidak menyangka ternyata kakak akan ingat"
"Mengapa aku tidak ingat? Kamu adalah orang yang penting dalam hidupku.. Dan ini pertama kalinya kita merayakan ulang tahunmu.."
"Kak....."
"Elina.. aku ada hadiah buatmu. Aku harap kamu menyukainya meski bukan hadiah yang mahal.." ucapnya sambil menyodorkan sebuah kado dari dalam tasnya.
"Kak.. Menghabiskan waktu bersama saja aku sangat bahagia.. Ucapan selamat pun sudah sangat lebih dari cukup. Apalagi hadiah.." Air mata haru menetes dari mata coklatnya.
"Aku senang kalau kamu suka.. Elina tetap berada di sisiku ya.."
"Pasti. Mm ngomong-ngomong apakah aku boleh membuka kado ini?"
"Jangan.. nanti saja di rumah"
"Kenapa? Lagian di tempat kita sekarang sedang tidak banyak orang berlalu-lalang.."
"Mm.. Pokoknya jangan, nanti saja buka nya di rumah.." wajah Kaysen memerah.
"Hmm baiklah..."
Sebelum pulang, Kaysen mengajak Elina untuk mampir ke sebuah restoran yang terletak didekat tempat wisata. Elina menemukan kebahagiaan dan penghargaan yang belum pernah ia rasakan selama ini.
Kaysen mengantar Elina sampai depan rumahnya. Ia merasa hari sudah malam dan akan berbahaya jika Elina berjalan seorang diri. Dan kebetulan orang tua Elina sedang tidak di rumah.
"Terimakasih banyak ya kak untuk hari ini.."
"Terimakasih kembali Elina.. Segera masuk dan istirahat ya.."
...****************...