Two Introverts

Two Introverts
22. Kehancuran Sandra



Jari-jemari itu mencengkeram kuat pada jeruji besi yang membelenggu dirinya. Dengan mata sayu penuh dendam, ia berharap sosok ayahnya akan datang menjemputnya. Ia yakin bahwa ayahnya sangat sayang pada dirinya dan tak mungkin membiarkan anak semata wayangnya mendekam di kurungan hitam tersebut.


Dibelakangnya, ada seorang wanita yang tak lain adalah ibu Sandra, sedang meringkuk memeluk lututnya dan memandang kosong lantai sel.


Suara langkah kaki datang mendekat ke arah ruang tahanan yang ditempati oleh Sandra dan ibunya. Sandra sontak mendongakkan kepalanya dengan kondisi rambut dan pakaian kacau berantakan.


"Ayah! Ayah!" seru Sandra pada seseorang bertubuh tinggi besar yang sangat berwibawa namun terlihat muram.


"Ayah! Ayah percaya Sandra kan? Ayah akan mengeluarkan Sandra dan ibu dari sini kan?" rengek Sandra pada ayahnya.


"Putriku..." lontar ayah Sandra.


"Ya? Ayah?"


"Kamu harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu.."


"Apa? Ayah.. Sandra sedang dijebak. Sandra tidak pernah melakukan kejahatan. Sandra adalah putri ayah yang polos.."


"Berhenti membohongi ayah, nak!"


"A-ayah? Apa maksudnya?"


Ayahnya menunjukkan sebuah cuplikan video Sandra yang sedang menampar Elina di rumah Kaysen.


"Apa? Darimana ayah mendapatkan video ini?"


"Kaysen sudah memiliki kekasih?" tanya ayahnya tanpa memperhatikan pertanyaan anaknya sebelumnya.


"..." Sandra terdiam tak menjawab pertanyaan ayahnya.


"Selama ini kamu menganiaya kekasih Kaysen?"


"Hmn bukan yah.. Itu Sandra sedang membalas tamparan Elina pada Sandra."


"Gadis itu menamparmu?"


"Iya, yah.. Saat Sandra bertemu lagi dengannya di rumah Kaysen, dia kembali bersifat sombong dan Sandra hanya membalas tamparannya.."


"Benarkah?"


"Iya, ayah.."


"Bukan karena kamu merebut Kaysen darinya?"


"B-bukan, yah"


"Baik. Mari kita besarkan volumenya dan putar videonya lebih lengkap"


"Vo-volume? Lebih lengkap?" tanya Sandra panik.


Dalam video tersebut tampak Elina baru saja pergi terpisah dari Kaysen, lalu Sandra segera menangkapnya dan membantingnya ke sofa hingga Elina terlihat kesakitan. Berulang kali Sandra mencengkeram lengan Elina dan lehernya sambil membisikkan sebuah ancaman padanya. (episode : 13)


Sandra diam mematung menatap layar ponsel ayahnya. Potongan demi potongan memori bermain dalam benaknya. Ia ingat segalanya yang telah ia perbuat pada gadis itu di rumah Kaysen. Ia tak menyangka bahwa tindakannya terekam oleh CCTV. Setahu dia, tak ada CCTV terpasang di rumah Kaysen.


Sandra tak berani mendongakkan kepalanya pada ayahnya. Ia sangat takut akan kemarahan dan kekecewaan yang mengakar di hati ayahnya.


"Zola.." panggil ayah Sandra pada istrinya.


Wanita itu tak merespon panggilan suaminya sama sekali.


"Zola.."


"Zola.."


Tak ada respon dari istrinya. Ayah Sandra pun berjalan ke sisi lain sel dan mendekati istrinya.


"Sayang.." erangnya pada istrinya.


Sandra segera mendekati ibunya dan menggoyangkan tubuhnya.


"Ibu.."


Ibunya menatap dua orang itu bergantian dengan tatapan kosong. Tak tersirat sebuah kasih sayang sama sekali di sorot matanya.


"Ibu.. Ibu kenapa? Ibu sedih? Sandra juga bu.. Tapi ibu jangan diam seperti ini.." rengek Sandra.


"Ibu.. Jawab Sandra bu. Kenapa ibu tak memeluk Sandra? Biasanya ibu selalu memeluk Sandra saat Sandra dalam kesulitan.."


Ibunya tetap terdiam tanpa mengucap kata sepatahpun, bahkan tak ada ekspresi yang tergambar dalam wajahnya saat ini.


Sandra kembali berkata "Bu, sekarang kita sama-sama dalam kesulitan. Izinkan Sandra memeluk ibu duluan ya bu?"


Sandra setengah berdiri mendekat dan bertekad memeluk ibunya. "Ibuu.."


Aaahhhkkk..!!!!!


Suara teriakan tiba-tiba mengejutkan orang-orang yang berada di sana. Ibu Sandra mendorong Sandra sampai terjatuh.


Dimas yang berada di luar segera berlari menuju ruang tahanan. Ibu Sandra tak segan-segan mencengkeram leher Sandra dengan mata melotot.


Mereka sontak kaget melihat tingkah laku nyonya Zola. Berulang kali ayahnya memanggil-manggil nama istrinya. Berulang kali pula Sandra mengerang dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan lemah ibunya di lehernya.


"Ayah?? Kenapa dengan ibu? Apa ibu kerasukan?"


"K-kerasukan?" ayahnya tercengang mendengar pertanyaan anaknya.


"Tunggu sebentar.. Akan saya panggilkan polisi penjaga disekitar sini." tutur Dimas.


Dimas berlari mencari sosok penjaga yang sedang berada di ruang makan. Ia menceritakan dengan singkat dan jelas apa yang terjadi di salah satu ruang tahanan.


"Oh! Tadi saya juga dengar teriakan itu.. Saya pikir hanya teriakan biasa dari orang-orang seperti mereka. Mari kita segera kesana!" ucap seorang polisi.


Ayah Sandra berusaha memisahkan istri dan anaknya melalui sela-sela jeruji besi. Beliau mencoba meraih mereka, namun hal tersebut tak berhasil.


Cengkeraman bu Zola semakin kuat dengan emosinya yang semakin meninggi. Saat polisi datang, kondisi Sandra sudah sangat parah. Terlihat memar merah mulai menghiasi lehernya. Tangannya pun dipenuhi dengan darah akibat gigitan ibunya. Sedangkan wajah Sandra dipenuhi oleh bekas cakaran ibunya.


"Ayah.." rintih Sandra.


"Nak.." ayahnya berusaha menangkap tubuh lemah Sandra dari balik sel, namun hal itu tak bisa dilakukan akibat tingkah laku istrinya yang tiba-tiba berubah seperti singa.


"Segera telepon rumah sakit jiwa dan panggilkan dokter! Urgent!" ucap seorang polisi pada rekannya.


"Rumah sakit jiwa?" tanya ayah Sandra.


...


Akhirnya Sandra bisa lepas dari genggaman kuat ibunya. Ia berusaha menarik napas dalam untuk membiarkan oksigen memasuki paru-paru nya. Namun ia merasa dadanya sangat sakit seperti ditusuk oleh benda runcing. Ia pun terbatuk-batuk sebelum akhirnya pingsan. Dokter yang menangani Sandra mengatakan bahwa Sandra harus segera di bawa ke rumah sakit terdekat.


Ibu Sandra memberontak keras kepada para petugas rumah sakit jiwa dan polisi. Butuh beberapa orang agar mereka bisa memasukkan ibu Sandra ke dalam mobil. Mereka mengikat tangan dan memplester mulutnya karena saking liarnya tindakan bu Zola. Hal tersebut menyebabkan mereka ikut mengikat kakinya.


Dimas menenangkan pak Sandi. Pak Sandi sangat tertekan akibat kejadian yang sama sekali tak pernah beliau duga. Dua orang yang beliau sayangi sedang berada dalam situasi berat.


Mobil Dimas berjalan beriringan dengan mobil polisi yang mengawal Sandra. Suasana hati pak Sandi hari ini sangat kacau. Dimas berusaha mengajak pak Sandi berkomunikasi untuk menjaga keadaan pak Sandi agar tetap sadar dan tidak depresi.


...


Dokter yang menangani Sandra keluar dari ruang UGD. Pak Sandi berlari menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan keadaan putrinya. Sandra telah berhasil ditangani dan akan dipindah ke ruang rawat inap.


Gurat wajah tak tega dan kekalutan terukir jelas pada wajah pak Sandi. Dimas tak tau harus melakukan apa saat ini. Untuk sejenak, dia memilih menemani pak Sandi di rumah sakit.


......................


Usai acara pesta ulang tahun Sandra, Elsa dan Alvan mengantar Elina pulang.


Elsa bermaksud mengajak Elina ke suatu tempat untuk menenangkan kondisi mental Elina. Namun ayah dan ibu Elina telah kembali dari luar kota.


"Elina.. Kakak menawarkan dulu padamu. Apa kamu ingin langsung pulang atau jalan-jalan sama kakak dulu?"


"Hmm sepertinya aku langsung pulang saja kak.. Selain menyambut ayah dan ibu, Elina juga ingin segera beristirahat dan menelepon kak Kaysen hehe.."


"Cielahh yang taken ciee.." goda Alvan.


"Eh.. Mmm itu, maksudnya..." Elina tersipu malu.


"Hehehe yasudah kalau begitu.. Kakak lega kalau kamu akhirnya menemukan tempat pulang. Kaysen benar-benar hebat." ungkap Elsa mengingat pertama kali Elina dapat menaklukkan kepribadiannya saat acara wisuda. (episode : 8)


...****************...