Two Introverts

Two Introverts
4. Hadiah yang Tertunda



Elina masih larut dalam pikirannya memikirkan perkataan Kaysen.


"Elina, kamu cari buku apa?"


"El, apa kamu suka komik?"


"Apa sekalian kita beli buku sekolah untukmu? Mumpung kita disini."


"Oh ya, kamu suka novel nggak?"


Kaysen memilah - milah buku dan menghujani banyak pertanyaan pada Elina. Namun tak ada tanggapan sedikitpun dari gadis itu. Kaysen berbalik. Betapa terkejutnya mereka saat mata mereka saling bertatapan. Elina pun tersadar dari lamunannya.


"Ah, maaf kak Kays.. Aku telah memikirkan hal lain. Tadi kakak bilang apa ya? Hehe"


"Apa kamu sakit?"


"Eh, nggak kok.."


"Lalu?"


"Hehe, gapapa"


"Dasar sarden. Haha"


"Hah? Sarden? Maksudnya?"


"Kamu tau nggak? Sarden kalau dijual dalam botol kaleng kan nggak ada kepalanya"


"Lalu?"


"Artinya, kalau ada orangnya tapi pikirannya di tempat lain itu jadi kayak ikan sarden.."


"Ih, apaan sih.. Masa di samain sama ikan"


"Hahaha tuh kan kalau cemberut mirip kayak ikan, hahahaha"


"Ih awas ya.. Udah ah"


"Kamu mau cari buku apa?" tanya Kays.


"Emm aku cari buku yang berhubungan dengan astronomi dan misterinya kayak blackhole, wormhole, dimensi waktu, dll"


"Waah kamu ilmiah sekali yaa.. Ku pikir kamu suka buku dengan genre romance"


"Ah, itu aku juga suka si. Tapi yang tertentu aja. Kalau kakak cari buku genre apa?"


"Aku cari buku action sama anime si. Hahaha". Jawab Kaysen sambil berlalu mencari buku kesukaannya.


Ditengah perbincangan mereka tangan Elina tidak sengaja bersentuhan dengan tangan seorang gadis bertubuh tinggi, kulit sawo matang, dan memiliki lesung pipi di wajah ovalnya yang sedang tersenyum tipis pada Elina.


"Ah maaf. Silahkan buat kakak saja bukunya" ucap Elina.


"Eh enggak, buat kamu aja.. Kan kamu duluan yang pegang bukunya"


"Sungguh?"


"Iyaa hehe. Kamu imut sekali.. Kamu kelas berapa?"


"Eh sa - salam kenal kak. Saya Elina. Saat ini saya duduk di kelas IX SMP" Elina mengulurkan tangan.


Sarah spontan membalas uluran tangan Elina. Belum sempat Sarah memperkenalkan dirinya, terdengar suara yang sangat dia kenali..


"El, kamu dimana? Apa sudah ketemu bukunya?" teriak Kaysen.


"Ah iya, aku di rak kedua barisan belakang kak!" balas Elina.


Kaysen berjalan menghampiri Elina..


"Sudah nemu be...?" pertanyaan Kaysen terhenti saat melihat sosok perempuan yang berada di hadapan Elina.


Kaysen terbelalak. Tidak menyangka akan bertemu dengan mantan pacarnya. Ah, tidak.. Lebih tepatnya mantan crush. Karena Kaysen memiliki prinsip untuk tidak berpacaran seperti orang - orang pada umumnya..


Orang tua Kaysen mendidik anaknya untuk tidak memberi harapan kepada seorang perempuan sebelum benar - benar sudah siap. Namun, Kaysen pernah memberi harapan pada perempuan tersebut.


"Kays?" ucap Sarah.


"Sarah? A - apa kabar?"


Sarah ingin menjawab pertanyaan Kaysen dengan jawaban yang lebih spesifik. Namun niatnya terhenti saat mengingat dia memanggil nama El yang tak lain adalah Elina, orang yang berada di hadapannya sekarang.


"Alhamdulillah, baik. Kamu?" jawaban umum yang akhirnya di lontarkan oleh Sarah.


"Sehat, Alhamdulillah"


Elina menyeletuk "Eh, kalian saling kenal?"


Sarah ngin membuka suara, namun didahului oleh Kaysen.


"I - iya, dia Sarah. Dia adalah teman dari temanku. Kami dulu teman dekat" jawab Kaysen dengan sedikit terbata - bata.


Entah mengapa Kaysen merasakan perasaan aneh. Padahal Elina hanyalah sahabat dari adiknya yang baru - baru ini menjadi teman dekatnya.


"Oohh gitu.. Yaudah kita cari buku sama - sama yuk? Ngomong - ngomong kak Sarah kesini sama siapa?" tanya Elina antusias.


"Aku kesini sendiri karena kebetulan rumahku dekat dengan toko ini. Apa kamu mau mampir ke rumahku?" ajak Sarah.


"Yang benar kak? Wah aku mau sih tapi aku tanya kak Kaysen dulu"


Kaysen tidak menyangka Elina dengan cepatnya akrab dengan orang lain setelah mendapat sedikit nasihat darinya tadi.


Begitupun Elina, dia juga tidak menyangka bisa bersosialisasi dengan mudah pada orang asing secepat ini.. Untuk teman yang sudah lama dikenalnya saja belum tentu Elina bisa dengan leluasanya berbincang. Memang ada sedikit niat untuk terbuka pada orang lain dan tidak menutup diri. Tapi untuk kali ini berbeda. Elina hanya merasa teman baik dari teman dekatnya adalah teman baik Elina juga. Itu adalah pikiran polosnya yang belum mengerti sepenuhnya tentang dunia luar..


"Hmm b - boleh" balas Kaysen ragu - ragu.


...****************...


Suasana di dalam toko buku terasa suram, ada kecanggungan diantara Kaysen dan Sarah. Elina polos yang sibuk mencari buku incarannya sedikit menyadari hal itu.


(Katanya mereka teman dekat, tapi kenapa canggung seperti ini ya?) pikir Elina yang belum sepenuhnya mengetahui situasi.


Elina buru - buru mencari buku dan ingin segera keluar untuk mencari udara segar dari aura badai petir yang ia rasakan diantara Kaysen dan Sarah. Dia menyadari sesuatu. Ada pertarungan dalam keheningan.


"Iya, sudah" jawab Kaysen dan Sarah bersamaan. Mereka saling menatap. Lalu kembali membuang muka satu sama lain.


Elina semakin menyadari situasi itu. Lalu, ia pun pamit sebentar untuk pergi ke kamar mandi.


Akhirnya tinggal Kaysen dan Sarah di ruangan itu. Sarah mencoba membuka percakapan.


"Kays..."


"Ya?"


"Apakah karena gadis kecil itu kamu melepasku?"


"Apa maksudmu?"


"Mengapa kamu memutus hubungan kita begitu saja? Bukankah aku sudah menjelaskan bahwa aku dan mereka tidak ada hubungan apa - apa?"


"Sar.. aku lelah."


"Tapi Kays..."


"Sudah. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Kita tidak bisa bersama lagi."


"Jadi, karena gadis itu?"


"Kenapa?" Kaysen membalas singkat dan tidak menjelaskan bahwa sebenarnya Elina adalah sahabat dari adiknya. Dia tak ingin lagi memberi harapan pada Sarah.


Sementara di ruangan lain, Elina sibuk mencari cara untuk membatalkan acara pergi ke rumah Sarah. Elina buru - buru mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Kaysen..


"Kak, apa kakak tidak nyaman? Apa sebaiknya kita batalkan saja acara pergi ke rumah kak Sarah?"


Kaysen yang menerima notif di ponselnya pun langsung membalas pesan Elina. Ia merasakan sesak dan sudah merasa tidak nyaman berada lebih lama di dekat Sarah.


"Kalau kamu ingin, gapapa. Aku akan ikut denganmu" balas Kaysen pada chat Elina.


"Apa kakak ingin mengunjungi rumah teman dekat kakak?"


"Aku tidak tahu"


Elina mengerti situasi tersebut dan ia bertekad untuk membatalkan acara pergi ke rumah Sarah.


Lima menit kemudian, Elina keluar dari kamar mandi dan ingin mengungkapkan niatnya tadi. Tapi tiba - tiba saja dia tidak bisa berkata apapun saat memandang wajah Sarah, seolah tersekat begitu saja. Padahal sebelumnya tadi mereka lumayan akrab satu sama lain.


Mereka bertiga pun berjalan menuju kasir dan segera keluar menghirup udara segar taman kota.


Elina terpikir sesuatu..


"Kak Sarah, maaf sepertinya untuk kali ini saya tidak bisa ikut ke rumah kakak dulu. Karena saya baru teringat, saya harus pergi untuk membeli kostum pentas drama untuk adik saya"


"Aku akan mengantarmu" Kaysen menimpali.


"Yaah sayang sekali.. Okelah. Mungkin lain kali. Sebelum itu, apa aku boleh minta nomormu?"


"Saya?"


"Iyaa cantik" Sarah menyodorkan ponselnya.


...****************...


"Terimakasih.. Senang bertemu kalian hari ini. Hati - hati di jalan" ucap Sarah tersenyum sambil memberi pelukan perpisahan pada Elina.


"Jaga Kaysen ya" bisik Sarah.


"A...??" respon Elina yang tidak mengerti maksud Sarah.


"Sampai bertemu lagi.. Kaysen, Elina." Sarah berlalu sambil melambaikan tangan pada keduanya.


"Hati - hati dijalan kak" balas Elina sambil membalas lambaian tangan Sarah.


(Apa maksud kak Sarah? Memang kak Kays kenapa harus dijaga?) pikir Elina.


...****************...


"Mau pergi beli kostum sekarang?" tanya Kaysen memecah keheningan.


"Ah, tidak kak. Aku tadi hanya mencari cara untuk membatalkan pergi ke rumah kak Sarah"


"Kenapa?"


"Karena aku merasa ada kecanggungan yang tidak aku mengerti diantara kalian"


Kaysen menghembuskan napas kasar. Melepas semua penat dan beban dalam pikiran dan hatinya.


"Kita pulang yuk" ajak Elina.


"Mau pulang sekarang?" tanya Kaysen.


"Iyaa, memang ada tempat lain yang ingin kakak kunjungi lagi?"


"Hmm, enggak sih. Yasudah, ayo pulang bersama"


"Bersama?"


"Iya, kenapa?"


"Apa tidak apa - apa kita pulang bersama?"


"Aku akan mengantarmu sampai depan komplek. Nanti kita berpisah disana agar orang - orang tidak menyadari kalau kita pulang bersama. Aku akan menitipkan motorku di rumah temanku sementara. Aku akan berjalan di belakangmu, jadi tenang saja tidak akan ada yang mengganggumu"


"Kok aku merasa jadi seperti tuan putri di cerita - cerita kerajaan yang selalu dikawal oleh pengawalnya ya?"


"Hahahaha, aku hanya ingin mengantarmu sampai rumah dengan aman tanpa ketahuan orang lain dan orang tua kita.."


"Hehehe baiklah. Terimakasih banyak untuk hari ini ya kak.."


Kaysen mengangguk dan membalas dengan senyuman.


Pada akhirnya, Kaysen tidak jadi memberi hadiah persahabatan yang telah ia siapkan karena kondisi mood Kaysen hari ini yang sedang tidak baik..


...****************...