
Sesampainya di rumah, Elina segera membersihkan diri dan tak sabar ingin segera membuka kado dari kekasihnya.
"Elii.. Kenapa tadi nak Kaysen nggak disuruh mampir dulu?" tanya nenek Aisyah.
"Mm dia sedang buru-buru nek.. Soalnya hari juga sudah malam, hehe."
"Nak... Selalu ingat pesan nenek ya.. Nenek mengizinkanmu pergi bersamanya karena nenek percaya. Jangan patahkan kepercayaan nenek ya.."
"Iya nek, siap.."
"Lain kali ajak dia ke toko nenek, nenek akan membuatkan salad buah spesial untuknya."
"Hehehe tapi Elina dibuatin juga ya.."
"Kamu bisa membantu memotongkan buahnya"
"Ih neneekkk..!!! Oh iya nek, apakah ayah dan ibu masih di luar kota?"
"Iyaa, mungkin satu minggu lagi mereka pulang.. Nenek akan sering-sering kesini menjagamu"
"Aahh makasiihhh nek..!" Elina menghambur ke pelukan nenek Aisyah.
Selama ini Elina selalu tidak bisa mengekspresikan dirinya meskipun di rumah sendiri. Ia tumbuh menjadi gadis dingin yang tidak memiliki kehangatan sama sekali. Tetapi nenek Aisyah dan Kaysen mampu menghangatkan bongkahan es yang membeku di tengah badai salju itu.
"Nak.. Selamat ulang tahun yah.."
"Hah?? Bagaimana nenek bisa mengingatnya?"
"Hehe sebenarnya nenek nggak ingat"
"Laah, trus???"
"Tadi nak Kaysen mampir ke rumah nenek untuk meminta izin mengajakmu pergi."
"Hah?? Aduhh..." wajah Elina memerah tersipu malu.
(Cepat sekali mereka berdua akrab) batin Elina.
"Nenek sudah buatin berbagai olahan ayam kesukaaanmu. Nenek tau kamu tidak suka daging, kan?" ucap Nenek sambil menarik lembut lengan Elina menuju ruang makan.
"Ne-nenek membuat ini semua??" Elina terperangah melihat meja makan dipenuhi dengan berbagai olahan ayam kesukaannya.
"Enggak.. Nenek tadi dibantu sama mbak-mbak yang bekerja di toko kue nenek"
"Nenek.... Nenek memang yang terbaik..! Aku sayang nenek..!" Elina kembali menghambur kedalam pelukan neneknya.
"Bahkan orang tuaku saja tidak mengingat hari ulang tahunku.." ucap Elina lirih.
"Emm nak.. Apa kamu sudah makan?"
"Tadi Elina sempat diajak mampir ke sebuah restoran sama kak Kaysen. Tapi kalau ada ayam lagi, Elina tak akan anggurin...!"
"Hahahaha cucuku..."
Kedua orang itu makan malam bersama berdua. Elina sangat senang bersama satu orang yang menghargainya daripada bersama banyak orang namun seperti pajangan.
"Elina.. Sudah malam. Besok kamu sekolah kan??"
"Masih jam 10 nek.."
"Emang kamu mau nunggu ganti hari baru tidur??"
"Hehe, setidaknya Elina bisa sesekali tidur jam 00.01"
"Hus. Gaboleh..! Nanti kamu punya mata panda trus Kaysen takut sama kamu gimana?"
"Ih nenek mah... Sekali doang atuh, gapapa kan.."
"Tidak nak.. Pokoknya Elina harus segera tidur. Kalau kamu menyia-nyiakan kesempatan tidur ini, kamu bisa saja menyesal saat besar nanti"
"Elina kan sudah besar, nek?"
"Hmm maksudnya kalau Elina sudah kuliah semester akhir atau sudah bekerja.."
"Hmm iyakah??"
"Iyaa sayang. Ayo tidur sekarang. Apa mau nenek temenin?"
"Eh kapan-kapan aja nek, hehe.. Sekarang Elina ingin tidur di kasur yang luass seluas kasih sayang nenek untuk Elina.." Elina mencari alasan agar ia bisa membuka kado dari Kaysen.
"Yaudah.. ayo nenek anterin.. Kalau kamu nggak mau tidur sekarang, nenek nggak akan menemani kamu lagi."
"Ih nenek mana bisa jauh dari Elina.. Hihihi" goda Elina.
Nenek Aisyah tersenyum melihat cucunya bahagia. Ia pun mengantar cucunya sampai depan kamar.
"Selamat malam cucuku yang paling cantik.."
"Selamat malam juga nenekku pewaris kecantikan turun temurun.."
"Ada-adaa aja kamu ini"
"Lah? Kamar nenek kan disebelahmu Elll..."
"Hihihi iya iya bercanda.."
......................
Elina menutup pintu kamar saat ia melihat neneknya telah tiba di kamarnya. Ia masih tak percaya dengan ulang tahunnya di hari ini.
"Aku senang sekali hari ini. Terimakasih ya Rabb.." gumam Elina.
"Ah nggak sabar mau buka kado ini.."
Elina sangat antusias membuka kadonya.
"Bismillah..."
"Loh? Kok ada lapisan lagi? Duuhh kak Kays suka ngerjain aku ya.. Ini sudah keberapa lapis ya tadi.." Elina berbicara dengan dirinya sendiri.
Saat tiba di lapisan ke sebelas, tangan Elina berlumuran pasir. Ia terkejut melihatnya karena ia tak hati-hati saat membukanya. Sehingga sebagian pasir menyelimuti lantai Elina.
"Ah iya, tadi lapisan ini kan berbeda dari lapisan-lapisan sebelumnya.. Hmm pasir?"
Elina melanjutkan unboxing. Terlihat buku diary berkunci dengan motif love ringan dan satu kotak berwarna baby blue yang dikemas cantik dengan siraman pasir didalamnya dan juga beberapa rumah keong unik sebagai tambahan hiasannya.
"Waah cantik sekali.. Apa ini?"
Matanya berbinar melihat kado dari Kaysen.
"Aku mau buka buku diary ini dulu"
Di halaman pertama Kaysen menorehkan sebuah ucapan selamat, beberapa kalimat motivasi dan alasannya memberi buku itu. Kaysen ingin Elina bisa menuliskan apapun beban di hatinya jika ia sedang tak ada seorangpun untuk diajak bicara.
"Kak Kays...." Elina terharu saat membaca tulisan Kaysen.
"Dia benar-benar tulus padaku. Mengapa kemarin-kemarin aku meragukannya dan ingin berpisah darinya? Hmm"
Elina memeluk buku itu. Ia sangat bahagia karena ternyata ada orang yang benar-benar mengerti tentang dirinya.
"Ah iya, ada satu lagi"
"Warnanya soft sekali, family biru warna kesukaanku.."
Elina membuka kotak itu dengan hati-hati. Ia terperangah saat melihat pantulan cahaya dari permata liontin itu. Kilauan berwarna biru tosca, warna yang paling indah menurutnya. Sebuah kalung. Tangannya refleks mengambil kalung itu dan meletakkannya di lehernya. Ia memandangi dirinya didepan cermin.
"Cantik sekali" gumamnya.
"Tunggu.. Kak Kays memberiku sebuah kalung? Kalung liontin? Apa ini tidak berlebihan? Aduh gimana ini?" Elina bergumam dan overthinking sendiri.
Ia segera meraih ponselnya dan mengetik sebuah pesan untuk Kaysen.
"Kak Kays ♡.. Aku sudah membuka kadonya. Aku sangat terkejut saat kumpulan pasir membanjiri tangan dan lantai ku.. Aku tidak berhati-hati saat membukanya, hehe. Terimakasih banyak buat buku diarynya, kakak benar-benar memahamiku. Sebenarnya aku tidak pandai menulis, namun aku akan mencobanya. Dan terimakasih juga atas kalung liontin cantik biru tosca ini. Tapi.. apakah ini tidak apa-apa???"
"Hai Elinn ♡.. Haha iya maaf ya.. Aku iseng memberi taburan pasir, namun tak memikirkan dampaknya.. Aku senang kalau kamu suka. Tak perlu pandai untuk mengutarakan kisah atau masalah pribadi. Setidaknya dengan menulis, itu akan mengurangi beban yang mengganjal pada hati dan pikiran kita. Dan apa maksudnya 'tidak apa-apa'???"
"Maksudku apakah memberikan kalung tidak berlebihan? Aku senang, tapi..."
"Elina.. Kamu layak mendapatkan hadiah itu. Kamu lebih berharga daripada kalung itu.."
Belum sempat Elina membalas, Kaysen mengirim pesan lagi..
"Elina.. kamu segera istirahat ya.. Besok kan kamu harus sekolah. Barusan ayahku meneleponku, sepertinya ada yang mendesak.. Jadi kita lanjut chattingan besok yaa. Semoga mimpi indah ♡"
......................
Keesokannya, Elina bangun dan mengecek ponselnya. Ia lupa kalau semalam ponselnya lowbat. Ia pun segera mengisi daya baterai ponselnya.
Elina bersiap untuk pergi ke masjid dengan neneknya. Setelah itu, dia sibuk membantu neneknya menyiapkan sarapan. Saat akan berangkat ke sekolah, ia hanya sempat mencabut charger tanpa menghidupkan ponselnya.
"Nenek.. Elina berangkat yaa.. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati ya nak.."
Elina berjalan keluar namun belum sempat ia sampai di pintu depan, suara ketukan keras mengejutkan dirinya.
"Assalamu'alaikum.. Elina.. Tolong buka pintunya.. Ini aku Alvan, sepupu Kaysen.."
Elina berlari menuju sumber suara.
"Wa'alaikumussalam. A-ada apa kak? Kenapa kakak terengah-engah?"
"Elina.. Kaysen."
"Kak Kaysen kenapa kak??"
"Kaysen sekarang sedang berada di bandara"
"Apa???!!!"
...****************...