
"Elina maaf, sepertinya hari ini kita tidak bisa berlama-lama dulu. Aku harus pulang. Aku gak tau apa yang terjadi pada adikku. Ibuku hanya menangis di telfon, tanpa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi" ucap Kaysen panik.
"Iya kak.. gapapa. Sekarang kakak harus fokus pada kak Naila."
"Oh, iya kak. Nanti tolong beritahu aku juga ya.. Tentang apa yang terjadi pada kak Naila.." tambah Elina.
"Iya pasti.. Ayo kuantar"
Kaysen mengantar Elina sampai pertigaan komplek. Hanya butuh waktu 3 menit dari pertigaan untuk sampai rumah Elina. Kaysen merasa seluruh udara disekitarnya sedang menerkamnya sampai rasanya sangat sesak. Ia tak tau apa yang terjadi, namun hatinya berlari ingin menemui sang adik.
...****************...
Pesan terakhir yang dikirim Naila sebelum ia lepas landas memenuhi pikiran Kaysen. Perkataan dan perlakuan adiknya yang tak ingin berpisah dengannya mengusik hati dan pikirannya hingga ia merasa asupan oksigen di kepalanya berkurang. Pak Agus yang menyadari Kaysen mulai limbung, segera menangkap tubuhnya.
"Den, anda sakit?"
"Ah, tidak. Dimana ibu?"
"Ibu didalam. Mari saya antar."
Suara tangis dan lantunan Al-Qur'an terdengar bahkan dari pagar rumah. Semua keluarga dan kerabat berkumpul di rumahnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pak?"
"A-anda silakan masuk dulu. Biar ibu anda yang menjelaskan. Hati-hati jalannya.."
Kaysen menghambur mencari sosok ibu diantara saudara dan keluarganya.
"Assalamu'alaikum... Dimana ibu..?"
"Nak..." ibunya berlari memeluk anaknya.
"Ada apa bu? Kenapa orang-orang berkumpul di rumah kita? Kenapa ibu menangis?"
"Nak.. Adikmu... mengalami kecelakaan didalam pesawat. Ibu baru mendapat kabar dari guru sekolahnya"
"Apa??!" Wajah Kaysen memucat. Matanya terbelalak tak percaya. Baru saja kemarin adiknya berkata untuk tak ingin meninggalkan kakaknya.
Kaysen buru-buru mengecek ponselnya. Mengecek berita yang ada pada sosial media. Menyalakan tv dan radio untuk mencari informasi tentang pesawat jatuh. Namun hasilnya nihil.
"Nak.. kamu tenang dulu. Pesawat yang ditumpangi Naila tidak jatuh.."
"Apa? Lalu apa maksudnya Naila mengalami kecelakaan pesawat?"
"Pesawat yang ditumpangi adikmu mengalami turbulensi yang sangat kuat. Saat itu, adikmu sedang berada dalam toilet. Saat ia menyadari pesawat terguncang sangat kuat, adikmu takut dan bertekad untuk kembali ke kursinya. Namun belum sempat memasang sabuk pengaman, pesawat itu naik turun tanpa terkendali. Adikmu terbanting keatas kebawah beberapa kali...." Ibunya tak kuasa menahan air mata yang menyeruak ingin keluar dari sumbernya.
"La-lalu bu? Naila baik-baik saja kan? Naila masih hidup kan bu??"
"Sebuah keajaiban dari Tuhan.. Pesawatnya berhasil mendarat di bandara lain. Namun dokter yang menangani adikmu mengatakan bahwa Naila mengalami luka hebat di kepalanya. Dan kemungkinan dia akan sadar sangat minim..."
Kaysen merasa dadanya sangat sesak. Ia merasa udara disekitarnya tak mau memasuki paru-parunya. Air panas dari dalam matanya mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Pandangannya mengabur. Ia merasa lingkungan disekitarnya semakin menggelap.
"Kaysen!! Nak..! Bangun nak.." suara keras ibunya mengagetkan semua orang.
Orang-orang berlari menuju ke arahnya. Alvan, sepupu Kaysen yang seumuran dengannya, segera mengangkat tubuh Kaysen ke sofa di dekatnya. Ia mengecek denyut nadi kemudian mengoleskan minyak kayu putih di bagian dekat hidung Kaysen, dan menggoyangkan tubuhnya beberapa kali.
Kaysen sadar. Dia terbangun dalam kondisi sangat tidak baik. Dia terlihat sangat pucat dengan air mata yang tak kunjung berhenti. Dia ingin melihat adiknya. Dia ingin menjemput adiknya.
"Kaysen.. Naila masih hidup. Tenangkan dirimu, mohon ampun pada Tuhan. Dan mari kita berdoa bersama setelah keadaanmu membaik" ujar Alvan.
"Kaysen.. Nak.." Ibunya berlari menuju Kaysen sambil membawa secangkir teh hangat yang ia siapkan untuk anaknya.
"Nak.. mari ibu antar ke kamarmu. Kamu istirahat dulu ya nak"
"Tidak bu. Kaysen mau mendoakan Naila. Kaysen permisi dulu ya bu"
Alvan mengikuti langkah Kaysen dibelakangnya. Takut jika Kaysen pingsan lagi.
"Terimakasih ya Van,"
Kedua orang itu pun mengambil wudhu dan mengirim doa untuk kesembuhan Naila.
Hati Kaysen sudah lebih tenang dari tadi. Ia kembali ke ruang keluarga dimana sudah disiapkan acara untuk mendoakan Naila bersama. Kaysen melihat air mata memenuhi rumah mereka.
"Naila.. begitu banyak orang yang menyayangimu.." gumamnya.
...****************...
Kabar kecelakaan Naila telah sampai ke telinga tetangga, juga ke Elina dan neneknya.
"Elina..... Kamu tidak apa-apa?"
"Neneek.. kak Naila..!" tangis Naila pecah di pelukan neneknya.
"Masih ada harapan hidup. Dia masih hidup nak.. Mari kita mendoakan Naila ya.. Dia anak baik, dulu dia sering ke toko nenek bersamamu"
Elina menuruti saran neneknya. Saat ia tengah membacakan doa untuk kesembuhan Naila, Kaysen meneleponnya. Nenek Aisyah menyuruhnya untuk mengangkatnya.
"Ha-halo kak.."
"Halo.. Elina, aku ingin memberitahumu. Tapi kamu jangan kaget ya" suara serak Kaysen terdengar bahkan dari balik telepon.
Kaysen menceritakan apa yang telah menimpa adiknya. Elina mematung dengan air mata yang tak mau menghentikan alirannya.
"Apa kakak akan disana sampai kak Naila pulih?"
"Tidak.. Ayah dan ibuku melarangku kesana. Aku harus disini untuk menuntaskan kuliahku.. Aku hanya diizinkan kesana saat libur semester. Namun aku harap Naila sudah sadar saat itu"
Elina menguatkan Kaysen meski sebenarnya dia sendiri tidak kuat. Elina tidak pernah membenci Naila meski Naila telah berperilaku buruk padanya.
Suara serak bu Isma membuat Kaysen berbalik.
"Elina, nanti ku telfon lagi ya" Kaysen menutup telepon.
"Ibu, ibu sedang tidak baik-baik saja. Apa sebaiknya Kaysen saja yang pergi?" bujuk Kaysen.
"Tidak nak, ibu baik-baik saja. Kamu hati-hati ya di rumah.. Semoga adikmu segera diberikan kesembuhan dan kita bisa pulang ke rumah bersama."
"Kaysen. Kamu jaga rumah ya.. Nanti ayah akan menghubungi Sandra agar kamu tak sendirian di rumah." ujar ayahnya.
"Tidak perlu. Saya bisa menjaga diri saya"
Ayahnya sangat geram pada anaknya. Namun tak bisa melampiaskan emosinya karena banyaknya orang.
Orang tua Kaysen memesan tiket pesawat untuk besok saat itu juga. Orang-orang menyuruh mereka untuk segera beristirahat. Tengah malam saudara-saudara Kaysen telah kembali ke rumah masing-masing. Kini rumah itu kembali sepi dengan udara suram.
"Kaysen, aku akan disini sampai keadaanmu membaik"
"Tidak Alvan. Kamu boleh pulang dan melanjutkan rutinitasmu.."
"Tidak, Kays."
...****************...
Waktu malam terasa sangat panjang bagi mereka yang ingin segera pergi menemui Naila. Dan terasa sangat singkat bagi Kaysen yang sekalipun tak bisa terlelap.
"Ibu, ayah, hati-hati ya. Sampaikan salamku untuk Naila jika ia sudah bangun"
Ibunya tertegun. Kecil harapan untuk Naila segera sadar. Ia terdiam dan segera memeluk anaknya.
"Kaysen. Nanti kalau ayah sudah kembali namun ibu belum kembali, kamu boleh ke sana sebentar untuk melihat kondisi adikmu" ujar ibunya.
Kaysen dan Alvan mengantar mereka sampai bandara. Ia menunggu sampai pesawat lepas landas. Hatinya ingin sekali berada di dalam badan burung besi itu untuk menemui adiknya.
"Kaysen. Apakah kamu kenal perempuan itu?" Alvan menunjuk dengan lirikan pada seorang gadis bertubuh tinggi dengan mata coklat khasnya dan seorang wanita tua disampingnya.
...****************...