
Naila telah menjalin komunikasi dengan Sandra sebelum ia dekat dengan Elina.
Sandra mencari Naila saat ia tau bahwa adik Kaysen bersekolah di tempatnya mengajar pramuka. Naila tidak pernah ikut pramuka. Ia tak suka kegiatan fisik berlebih. Sandra bertanya segala hal tentang Naila pada adik-adik pramukanya. Setelah mendapatkan informasi yang cukup, ia mulai mencari Naila.
"Aww..." ringkih Sandra.
"Ahh, ma-maaf kak.. Sa-saya tidak sengaja. Saya tidak tahu kalau ada orang lain dibelakang saya.."
"Iyaa, gapapa kok.." Sandra tersenyum.
"Kamu suka baca novel ya?" imbuh Sandra.
"Hehe.. Iya, begitulah. Eh apa kakak tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?"
"Ah enggak kok.. aku gapapa. Mau temenin kakak cari buku nggak? Kamu masuk kelas jam berapa?"
"Boleh.. Saya baru saja istirahat, saya masuk kelas 30 menit lagi."
"Baiklah kalau begitu. By the way bicara santai saja yaa dek.. aku bukan guru kok, hihi"
"Emmm.. tapi.."
"Udahh gapapa.. yuk kita cari bukunya."
Setelah Sandra dan Naila mendapatkan buku yang mereka inginkan, mereka keluar perpustakaan bersama. Sepanjang perjalanan mereka berbincang sampai berada tepat di depan kelas Naila.
"Dek, namamu siapa? Lupa ya tadi belum kenalan? Hihi"
"Oh iyaa sampai lupa. Nama saya, eh maksudnya namaku Naila."
"Namamu cantik. Aku Sandra.. aku kakak pramuka di sini."
"Ahh iya kah? Aku gatau, hehe"
"Kamu gak suka ekskul pramuka?"
"Iyaa, aku gak suka panas-panasan dan bermain di alam liar."
"Hmm... padahal itu termasuk healing alami loh."
Keduanya asik bercakap di depan kelas hingga tak terasa bel masuk telah berbunyi. Naila segera masuk kelas. Dan Sandra pergi ke ruang pramuka.
Sandra merasa ada yang terlupa. Ia berbalik menuju jendela kelas Naila. "Dek, apa kamu akhir pekan ini ada kegiatan?"
"Ada.. acara keluarga seperti biasanya sih.. Kenapa kak?"
"Humm, kira-kira acara itu selesainya jam berapa?"
"Sore udah selesai kok kak biasanya."
"Sore?? Sebenarnya aku ingin mengajakmu bermain ke cafe yang baru saja di bangun di dekat sekolah ini.. Tapi pasti kamu lelah setelah seharian beraktivitas."
"Ooh gitu.. aku bisa kok kak, nanti kita kabar-kabar yaa"
"Waah benarkah?? Boleh aku minta nomormu?"
"Iyaaa"
Sandra merasa rencana awalnya untuk mendekati adik Kaysen berhasil. Ia tersenyum bangga dengan pencapaiannya..
......................
Hari itu pun datang. Naila dan Sandra mengobrol di sebuah cafe bak negeri dongeng dengan spot foto dan pemandangan yang sangat cantik.
"Kakak sekarang kuliah dimana?"
"Aku.. kuliah di Universitas Rach."
"Universitas Rach? Benarkah? Kakak jurusan apa?"
"Manajemen pendidikan, hehe"
"Hah? Yang benar??? Kakakku juga kuliah disana loh..! Dia juga ambil jurusan manajemen pendidikan.. Kakak angkatan berapa?" tanya Naila antusias.
"Hah? Sumpah? Kakakku juga..! Nama kakakku adalah Kaysen.. Apa kakak mengenalnya?"
"Kaysen??? Dia satu kelas denganku..! Ahhh tapi.."
"Tapi apa kak?"
"Kamu jangan pernah bilang Kaysen yaa kalau kamu kenal sama aku."
"Kenapa? Padahal aku bermaksud menceritakan ini pada kakakku nanti."
"Jangan... pokoknya jika suatu saat aku dan teman-teman yang lain ke rumahmu untuk kerja kelompok, kamu harus pura-pura tak mengenaliku dulu yaa.."
"Tolong...." Sandra memohon.
Naila mengangguk menuruti perkataan Sandra. Keduanya asik bercerita dan menikmati momen bersama. Sandra selalu menahan sikap aslinya agar tidak sampai ketahuan. Dia ingin terlihat baik di hadapan Naila. Dia juga ingin Naila menjadi mata-mata untuknya dan menjadi boomerang untuk bisa dekat dengan Kaysen.
...****************...
Sandra seorang perempuan licik berhasil mendekati dan mempengaruhi Naila, adik Kaysen.
Sandra menyukai dan mengejar Kaysen semenjak mereka masih menjadi mahasiswa baru. Namun Kaysen tak pernah jatuh dalam perangkapnya. Kaysen tak pernah jatuh hati kepadanya.
Saat giliran rumah Kaysen yang menjadi tempat selanjutnya untuk mengerjakan tugas, Sandra telah menyiapkan berbagai rencana liciknya agar bisa memiliki hati Kaysen bagaimanapun caranya. Sandra membawa banyak sekali makanan ke rumah Kaysen. Selain untuk konsumsi kelompok tentunya untuk diberikan kepada keluarga Kaysen juga dengan maksud tertentu. Ia mendekati Naila dan juga ibu Kaysen.. Membantu menyapu, mencuci piring, merawat tanaman, menjadi teman bercerita Naila, memberi hadiah-hadiah kecil pada Naila, dll.
...****************...
Dimas, teman SMA Kaysen. Ia mengenal Elina berawal dari ia yang ditolong Elina saat ia jatuh dari motor akibat balapan liar di suatu komplek. Elina menemaninya di rumah sakit hingga beberapa saat sampai keluarganya datang. Elina.. Seorang gadis cantik dengan mata coklat muda, bertubuh tinggi, kulit kuning langsat dan memiliki tutur kata yang lembut membuat Dimas ingin berkenalan lebih lanjut dengannya.
Dimas dan Kaysen dulunya adalah sahabat baik. Mereka adalah dua orang yang termasuk dalam list cowok favorit di kalangan para siswi perempuan. Namun keduanya memiliki sifat yang berkebalikan. Kaysen si pendiam, dan Dimas si temperamental. Meski begitu, mereka bisa menjadi sahabat dalam waktu 2 tahun.
......................
Usai acara gladi bersih kelulusan kelas XII sebelum wisuda.. Kaysen dan Azka berjalan menuju ruang band.
"Kamu lusa datang sama siapa?" tanya Azka, seorang anak berkacamata teman sekelasnya.
"Sepertinya sama ibu.." jawab Kaysen.
"Waahh asiknyaa.. kalau aku, datang sama ayah.. Aku ingin sekali ibuku bisa melihatku memakai toga diatas panggung."
Kaysen terkejut saat sebuah bola basket menggelinding ke arahnya, "Kak, maaf bisa tolong lemparkan kembali bolanya?" teriak salah satu anak.
"Tentu."
Setelah Kaysen melempar bola tersebut, ia menanggapi pernyataan Azka, "Memang dimana ibumu?"
Menyadari tak ada jawaban dari Azka, Kaysen pun menoleh. Tiba-tiba sebuah pukulan mendarat ke wajah Kaysen. Ia terkejut saat melihat Dimas dengan kondisi wajah yang memerah dan terlihat sangat kesal. Azka yang tadi berada disampingnya sedang dipanggil oleh guru saat Kaysen melempar bola.
Dimas sangat membenci ibunya dan menjadi sangat sensitive saat orang bertanya tentang sosok ibu. Ibunya sedang berada di penjara karena tuduhan menggelapkan uang sekolah. Padahal beliau orang baik. Hanya saja sedang dijebak oleh seseorang yang sekarang menjadi ibu tirinya. Namun Dimas tak pernah mengetahui hal itu dan tetap membenci ibu kandungnya. Dimas yang selama ini tumbuh dengan cacian dan makian dari saudara, teman, dan juga tetangganya membuatnya tumbuh menjadi anak berhati keras. Seorang anak yang mudah emosi, mudah berkelahi, dan mudah memiliki musuh. Ia tak ingin mendengar penjelasan apapun dari sececah bagian yang telah didengarnya. Baginya apa yang dia dengar, itulah kebenarannya.
Teman-temannya yang menyadari ada keributan segera berkumpul. Kaysen telah terjatuh ke tanah dengan wajahnya yang berlumuran darah akibat pendarahan di hidungnya.
"Dimas..? Ada apa? Mengapa kamu memukulku?" tanya Kaysen.
Dimas tak menjawab pertanyaan Kaysen dan segera berlalu meninggalkannya. Ia terlihat sangat kesal.
Azka berlari menuju Kaysen dan segera mengantarnya ke UKS.
"Kays, kenapa tadi? Apa kamu bertengkar dengan Dimas?" tanya Azka.
"Enggak.... Aku gak tau kenapa tiba-tiba dia memukulku."
"Kukira tadi kamu ada disampingku." tambah Kaysen.
"Aku dipanggil bu guru sebentar tadi untuk mengkonfirmasi uang kas kelas kita.."
...****************...
Hubungan Naila dan Elina telah merenggang saat Naila memarahinya via telepon. Elina yang selama ini jarang bisa berbalas pesan dengannya sangat senang saat Naila tiba-tiba menghubunginya. Ia begitu rindu padanya. Namun tak disangka Naila sangat marah besar dan memutus persahabatan mereka begitu saja. Naila yang saat itu berada di luar negeri, menerima kabar dari Dimas bahwa Elina dan kakaknya sedang memiliki kedekatan lebih dari teman. Naila yang mengetahui hal itu merasa dikhianati oleh kakak dan juga sahabat kecilnya. Sehingga ia berusaha bagaimanapun caranya agar kakaknya dan Sandra bisa bersama.
...****************...