Two Introverts

Two Introverts
14. Masa SMA



Elina seorang siswi berprestasi mendapat beberapa undangan dari beberapa SMA favorit di kotanya. Ia bisa memilih ingin bersekolah dimanapun tanpa jalur tes.


Ia pun memutuskan mengambil undangan dari sebuah sekolah berlabel madrasah sekaligus negeri. Ya, Madrasah Aliyah Negeri. Elina tak ingin ketinggalan pelajaran bahasa arabnya. Namun ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya belajar di sekolah favorit.


Elina ingin mengembangkan bakatnya dan mengalahkan ketakutannya. Ketakutan untuk tampil di hadapan banyak orang, public speaking, menyampaikan pendapat dll. Ia ingin menaklukkan kepribadian introvertnya menjadi sebuah kelebihan dalam hal-hal positif.


Waktu masuk sekolah masih dua minggu lagi, Elina sangat cemas memikirkan tentang kehidupan seperti apa di sekolah barunya.


Bagaimana sebenarnya sekolah favorit itu? Seperti apa kehidupan disana? Apakah ada pembully-an disana? Apakah ada sistem kasta? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu pun menari-nari di benak Elina.


"Stop!. Jangan overthinking lagi..! Kamu harus berubah Elina..!" Elina berbicara dengan dirinya sendiri didepan cermin kamarnya.


...****************...


Masuk sekolah telah tiba. Elina dan murid-murid baru yang lain melaksanakan MOS (Masa Orientasi Siswa). Tidak ada teman SMP nya disana, apalagi teman SD. Ia benar-benar sendirian namun tidak pernah khawatir dengan hal tersebut. Karena sebelumnya pun dia juga memang selalu sendirian.


Masa-masa orientasi yang memakan waktu selama dua minggu itu, berhasil ia lewati dengan lancar dengan sosoknya yang baru. Ya, Elina yang baru. Elina yang tidak lagi memikirkan dalam-dalam perkataan orang. Elina yang mulai berani tampil di hadapan orang. Elina yang berani menyampaikan pendapat. Elina yang tidak takut akan ditinggalkan seorang teman.


Selain karya ilmiah, ia juga mengikuti beragam ekstrakurikuler sosial seperti PMR, jurnalis, dan band. Semakin hari ia disibukkan dengan segala kegiatan-kegiatan positif. Ia banyak bertemu teman baru, pengalaman baru, dan suasana baru.


Elina dan Kaysen tidak pernah putus komunikasi. Mereka saling berbagi cerita tentang kesibukan masing-masing. Meskipun mereka tidak bisa sering keluar bersama lagi, namun keduanya bisa saling melepas rindu saat berada di lembaga studi. Walaupun hanya dengan saling memandang.


"Elina.. Jangan lupa pesanku waktu itu" ucapnya saat mereka berpapasan.


"Apa kak??"


"Dimas. Kamu harus berhati-hati dengannya."


Elina mengangguk. "Kakak juga berhati-hati ya dengan kak Sandra.. Pokoknya kita jangan sampai putus komunikasi ya kak ♡"


...****************...


Satu bulan setengah telah berlalu. Sekolah Elina di datangi oleh beberapa mahasiswa yang sedang magang. Ada yang sedang PPL, ada juga yang sedang KKN. Dimas, seseorang yang pernah menjadi sahabat Kaysen salah satunya. Ia mendapat tugas PPL di sekolah Elina.


"Ehh... adek!"


Elina menoleh. "Aah kakak yang waktu itu.."


"Kamu masih mengenaliku?"


"Tentu saja"


"Terimakasih ya untuk yang waktu itu. Karena kamu menolongku, aku bisa segera mendapatkan perawatan.."


"Sama-sama kak.. Eh kakak dari universitas rach?"


"Iyaa aku kuliah disana. Kamu tau kampus itu?" tanya Dimas berpura-pura tak mengetahui bahwa Elina dekat dengan Kaysen.


"Iya saya tau kak.. Eh maaf, 'pak' maksudnya"


"Haha kamu boleh memanggilku kakak.. Oh iya btw kita belum pernah kenalan ya? Kenalkan aku Dimas, aku dari jurusan fisika. Meskipun dari sikap dan perilaku ku gak menunjukkan bahwa aku anak fisika. Haha" Dimas mengulurkan tangan.


Elina mengatupkan kedua tangannya didepan dada sebagai ganti uluran tangan. "Perkenalkan saya Elina.. saya murid baru disini jurusan MIPA"


Dimas menarik kembali tangannya. "Ah maaf aku gak tau hehe.."


"Hmm nama yang cantik." tambah Dimas.


"Terimakasih.."


"Btw jurusan MIPA? Kita berpeluang besar sering bertemu dong.."


"Hehe iya.." Elina menjawab singkat.


"Mau ke kantin bareng nggak? Aku traktir.."


"Ah saya mau ke perpustakaan"


"Hmm begitu? Aku juga mau lihat perpustakaan disini si.. Boleh ikut bareng?"


"Ah, oh boleh silakan" Elina terpaksa mengiyakan permintaannya.


Elina dan Dimas pergi ke perpustakaan bersama. Beberapa murid perempuan yang berpapasan dengan Dimas menjerit histeris karena terpesona dengan ketampanan dirinya.


"Aah bapak cogan!!" salah satu dari mereka mendekati Dimas. Elina hanya terdiam menyaksikan tingkah laku mereka.


"Ya? Ada apa?" Dimas sudah biasa dipanggil cogan oleh beberapa orang.


"Bapak mau kemana? Boleh saya temani? Saya akan mengajak bapak berkeliling setiap sudut sekolah ini!"


"Maaf, saya sudah bersama kenalan saya."


Dimas mengajak Elina segera pergi meninggalkan tempat itu. Dalam sekejap Dimas mampu menarik perhatian para murid perempuan.


"Elina maaf ya, kamu pasti tidak nyaman"


"Eh ng-enggak kok pak. Saya biasa saja"


"Haha. Yaudah yuk"


Keduanya memasuki perpustakaan bersama lalu menyusuri jalan laboratorium fisika dan laboratorium kimia sebelum akhirnya bel masuk berbunyi.


"T-tidak usah pak.. Saya bisa sendiri"


"Aku juga ingin melihat kelasmu"


"Ooh gitu"


Dimas sengaja mendekati Elina. Selain karena menaruh perasaan, dia juga ingin membalas sakit hatinya pada Kaysen.


...****************...


Setiap pagi Dimas selalu mengunjungi kelas Elina hanya untuk memastikan kehadirannya.


"Selamat pagi, El" ucap Dimas.


"Pagi.."


"Hari ini aku akan mengajar di kelas ini"


"Benarkah?"


"Iyaa, suka nggak?"


"Maksudnya?"


"Oh enggak, gak jadi"


(Elina susah sekali untuk di dekati. Bagaimana caranya Kaysen mendekatinya ya?) pikir Dimas.


"Waah ada bapak ganteng..!"


"Bapak mengajar di kelas kita?"


"Kyaa... Boleh minta foto nggak pak?" teriak histeris para fans Dimas.


Dimas hanya menanggapi mereka asal-asal an.


"Anak-anak, silakan kembali ke tempat masing-masing. Pelajaran pertama hari ini akan kita mulai" ucap Dimas saat mengetahui rekan bertugasnya telah datang.


"Kyaaaaa"


Dimas menjelaskan materi dengan telaten namun tegas dan terkesan galak. Ia tidak bisa bersikap lemah lembut seperti orang lain.


Namun saat ia menyadari Elina mengalami kesulitan dan ketakutan, Dimas segera menghampirinya.


"El.. Ada apa?"


"T-tidak apa-apa kok pak"


"Apa aku terlalu keras dalam mengajar? Kamu takut?"


"Eh emm iya sedikit"


"Maaf ya.. Aku akan berusaha lebih baik lagi.."


Dimas berbalik ke papan tulis dan berkata pada anak didiknya. "Anak-anak, maaf ya.. bapak terkesan seperti guru killer saat mengajar.."


"Tidak pak..! Bapak tetap ganteng kok.." teriak fans Dimas.


"Haahhhh??!!!"


"Anak-anak, sekali lagi bapak minta maaf. Sebenarnya bapak sedang berproses menjadi orang yang lebih baik. Dan bapak bukan sedang marah. Hanya belum bisa bersikap lembut saja.."


"Tapi kok bapak barusan bisa bersikap lembut pada Elina?"


"Iya, kenapa bisa begitu pak? Bapak seperti berkepribadian ganda..!" ungkap murid yang lain.


"Kalau Elina pengecualian" jawab Dimas sambil melirik Elina.


"Apaaaaa????!!!!!"


"Hehe enggak-enggak.. bercanda kok. Sudah-sudah, mari kita kembali ke pelajaran kita. Fokus ya anak-anak. Awas nanti post-test gak bisa jawab..!"


"Kalau gak bisa jawab gimana pak? Apa ada bimbingan privat?"


"Tentu saja..."


"Waah asikkk..."


"... untuk Elina" tambah Dimas.


"Ihh bapak!!!"


Suasana di ruang kelas MIPA menjadi semakin hidup dengan adanya Dimas. Hampir semua menyukai Dimas. Meskipun dia terkesan seram dan galak, namun ketampanannya berhasil mematahkan kesan itu.


Setiap hari Dimas terus mendekati Elina. Dari kode keras sampai berterus terang pun tak dapat meluluhkan hati Elina. Bukannya menyerah, sikap Elina yang demikian malah membuatnya semakin tertantang untuk terus mendekatinya.


...****************...