Two Introverts

Two Introverts
18. Waspada



"Hei bocah..! Kamu tadi bersama Kaysen di sini?!" tanya Sandra dengan menahan suaranya agar tidak menarik perhatian orang-orang di bandara.


Elina segera memakai masker untuk menutupi wajahnya yang penuh dengan air mata.


Alvan dengan sigap menghalangi Sandra yang ingin menghampiri Elina.


"Elina.. mari ku antar pulang" ajak Alvan.


"Ooh jadi gini.. Disaat Kaysen pergi, kamu ganti haluan sama sepupunya.. Pinter juga ya kamu bocah.!"


"Dasar nenek lampir! Hujat terus aja kerjaanmu..!" serang Alvan.


Sandra terperangah.


(Aneh. Harusnya aku semakin marah.. Kenapa malah sekarang amarahku berkurang? Padahal dia memanggilku 'nenek lampir') pikir Sandra.


Alvan segera membelah jalan dan mengantar Elina pulang.


(Sekarang Elina adalah tanggung jawabku. Aku harus menjaganya demi Kaysen) batin Alvan.


"Hei! Tunggu aku..!"


Sandra berlari mengikuti langkah mereka.


Alvan meminta Elina untuk berjalan didepannya, karena Alvan akan menjaganya dari belakang. Ia tidak mungkin menggandeng tangan Elina.


Sandra berhasil menghadang mereka di dekat tempat parkir. Ia menarik tangan Elina dengan kasar.


"Kamu gak dengar ya?! Aku bilang tunggu ya tunggu!"


"Maaf. Ada perlu apa ya?" suara serak Elina.


Sandra menarik kesal masker yang melekat pada wajah Elina.


"Nenek lampir.!!!" bentak Alvan.


Alvan bermaksud menghentikan Sandra, namun Elina memberikan isyarat untuk mundur sementara.


"Apa yang ingin kakak bicarakan dengan saya?" tanya Elina.


"Jauhi Kaysen dan jangan pernah temui dia lagi..! Kaysen itu hanya milikku..!"


"Apakah perasaan bisa dipaksakan? Jika memang kak Kaysen menyukai kakak, aku akan menjauhinya."


"Haha! Tau apa kamu soal perasaan, hah?!" Sandra menunjuk kening Elina.


"Aku sudah lebih dulu menemaninya dan menyukainya. Aku lebih berhak bersamanya daripada kamu! Ngerti?!" tambah Sandra.


"Hanya karena lebih dulu menyukai, bukan berarti berhak untuk memiliki.. Aku rasa kakak sudah tau tentang hal seperti ini.."


"Dasar bocah sialan!"


PLAK!!!


Sandra melayangkan tamparan keras pada Elina.


Alvan yang berada sedikit jauh dari mereka segera berlari untuk memisahkan keduanya. Namun langkahnya kalah cepat dengan langkah seseorang.


PLAK!!!


Dimas tiba-tiba muncul dan menampar Sandra.


"Apa yang kamu lakukan??!!" bentak Dimas dengan muka merah padam.


"D-Dimas??! Kenapa kamu bisa disini?! Dan kenapa kamu menamparku?!"


Dimas tak menghiraukan pertanyaan Sandra dan beralih menghadap Elina. "Elina.. apa kamu terluka?"


Alvan yang berada di samping Elina segera menepis tangan Dimas.


"Jangan sentuh dia.!"


"Apa?! Siapa kamu?!"


"Pak.. Saya izin pulang dulu ya.." ucap Elina pada Dimas.


Elina segera berbalik dan memberi isyarat pada Alvan untuk pulang. Alvan mengangguk.


"Sandra!! Ikut aku..!"


Dimas menarik tangan Sandra kasar.


"Awh, sakit Dim!" rintih Sandra.


"Sakit?!"


"Dimas! Kenapa kamu marah sungguhan?! Ku pikir tadi kamu bersikap seperti itu hanya untuk menarik perhatian bocah itu..!"


Dimas berbalik.


"Aku memang berniat seperti itu.. Namun aku tidak akan mengampunimu jika kamu melakukan kekerasan kepadanya.! Ingat itu!"


"Hah?? Kamu lupa rencana awal kita?!"


"Rencana awal kita adalah untuk mendapatkan tujuan kita masing-masing! Namun aku tak segan-segan untuk menyelakaimu jika kamu berlaku buruk pada Elina!"


"Ih!" Sandra menggertakkan giginya. Tangannya mengepal namun tidak bisa melampiaskan kemarahannya pada Dimas.


......................


Elina menarik napas berat. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Ia ingin segera memeluk neneknya..


"Kak, terimakasih banyak ya sudah mengantar saya.."


"Sama-sama. Oh iya, ini nomorku El.. Pasti Kaysen sudah menjelaskan tentangku padamu kan..?? Jangan merasa nggak enak untuk minta bantuan padaku ya.. Aku akan lebih merasa bersalah jika aku tidak memenuhi permintaan sepupuku."


"Terimakasih banyak ya kak.. Oh iya kak, mari mampir dulu.." ajak Elina.


"Hmm iya lain kali saja, hehe.."


...


"Nek..." ucap lirih Elina.


Elina tidak bisa menceritakan tentang Sandra pada neneknya. Ia takut akan menambah beban pikiran orang yang sangat dia sayangi.


"Ada apa nak?? Cerita sama nenek.."


"Apakah nenek akan pergi ke toko? Apa nenek bisa menemani Elina istirahat sebentar saja di kamar?"


Nenek Aisyah mengelus kepala cucunya.


"Nenek akan menemanimu sepanjang hari.."


...


Dibawah terik matahari, Dimas yang masih mengenakan jas almamater berhasil menemukan alamat rumah Elina berbekal alamat yang diberikan oleh teman sebangku Elina. Ia membawakan sekeranjang buah dan beberapa minuman bervitamin untuk Elina.


Sandra mengikuti gerak-gerik Dimas tanpa sepengetahuannya. Ia bersembunyi di samping rumah milik Elina.


"Ooh jadi ini rumah bocah itu.. Sialan! Rumahnya dekat dengan rumah Kaysen, huh!"


Sandra tidak sengaja menjatuhkan pot bunga yang berada di halaman rumah Elina. Dimas yang mendengar suara itu mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu.


Sandra sangat panik dan berlari secepat kilat, namun Dimas berhasil menangkapnya.


"Sandra?! Kamu mengikutiku?"


"Mm aku... Aku hanya ingin meminta maaf pada Elina.." ucap Sandra mencari alasan.


"Kamu pikir aku percaya kata-katamu?"


"Dimas.. Aku hanya ingin Kaysen, dan kamu hanya ingin Elina kan... Aku sudah keterlaluan bersikap sangat jahat pada Elina.. Jadi aku akan meminta maaf padanya" Sandra memasang wajah memelas.


"Benarkah? Hanya itu tujuanmu?"


Sandra mengangguk.


"Aku tidak percaya. Lebih baik kamu pulang saja! Atau aku akan melaporkanmu pada ayahmu!"


"Dimas.. Aku hanya ingin meminta maaf pada Elina mu" bujuk Sandra.


Dimas terkejut dengan perkataan 'Elina mu'. Akhirnya ia menyetujui Sandra untuk ikut dengannya.


Tok tok tok!


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumussalam.." jawab nenek Aisyah.


"Eh? Kalian siapa?"


"Perkenalkan nama saya Dimas. Saya adalah salah satu guru PPL yang sedang mengajar Elina. Saya kesini karena tadi tidak sengaja berpapasan dengannya di bandara dalam keadaan tidak baik-baik saja"


Nenek Aisyah memandang Dimas dan Sandra bergantian lalu mempersilakan mereka masuk.


"Elina sekarang sedang istirahat.. Tapi sebentar saya cek dulu.."


"Oh tidak usah bu, biar Elina istirahat saja.." cegah Dimas.


"Saya membawa sedikit buah dan vitamin. Semoga Elina bisa kembali ke sekolah dalam keadaan sehat." tambah Dimas sambil menyodorkan bawaannya.


"Nek...?? Nenek..???"


Suara Elina mengagetkan mereka. Mata sembab Elina terlihat sangat jelas meski dari jarak jauh. Dimas spontan berdiri dan ingin menghampirinya.


"Ah, ada tamu? Maaf" Elina berlari menuju kamar.


Nenek Aisyah segera menjemput Elina. "Nak... Mereka tamu kamu, nenek tadi tidak tega mau membangunkanmu. Tapi kebetulan kamu sekarang sudah bangun, kamu temui mereka ya nak.. Ini jilbabnya dipakai dulu ya.. Nenek akan siapkan minuman dan camilan ringan untuk mereka.."


Elina berjalan menuju ruang tamu. Ia sangat terkejut saat melihat tamu yang disamping Dimas adalah Sandra. Sandra yang menyadari hal itu segera menarik lembut tangan Elina agar Elina tidak kembali ke kamarnya.


"Elina..." ucap lembut Sandra.


Sandra meminta maaf atas kejahatan yang telah ia perbuat. Ia mengaku baru saja telah mendapatkan pelajaran berharga dan ingin memperbaiki diri.


Elina merasa sangat ganjil. Ia tidak menemukan ketulusan didalam tatapan Sandra padanya.


(Mengapa tiba-tiba meminta maaf? Padahal baru saja dia mengancamku. Dan sekarang tiba-tiba berubah 180 derajat? Ia pun kesini bersama pak Dimas?) pikir Elina.


Elina memilih mengikuti alur mereka dan melanjutkan percakapan.


Di akhir, Sandra menyodorkan sebuah undangan perayaan ulang tahunnya yang ke-21 yang akan diadakan 5 hari lagi. Elina terperanjat mendengarnya. Begitupun Dimas.


"Ulang tahun? Mengundang saya?" tanya Elina memastikan.


"Iya.. Sebagai tanda permintaan maafku, aku ingin kamu hadir di acara spesialku.. Kamu mau kan cantik?"


"Mm Insya Allah kak"


Sandra memegang tangan Elina lembut. Ia berusaha membangun kepercayaan untuk Elina.


"San? Sudah?" panggil Dimas.


"Oh, iya. Elina.. Kami pamit dulu ya.. Kamu beristirahatlah dan jangan lupa makan ya.. Kamu jangan sakit-sakit, nanti Dimas badmood kalau nggak ketemu kamu di sekolah, hehe."


"Apaan sih San?... Elina.. Kami pamit ya. Kamu bisa menghubungiku kalau perlu sesuatu. Ini nomorku.." Dimas menyodorkan sebuah kartu nama.


"I-iya.. Terimakasih banyak ya pak, kak.." Elina menatap mereka bergantian.


Sandra memberi pelukan perpisahan pada Elina. Elina memandangi punggung mereka yang semakin menjauh dan membalas lambaian tangan mereka.


"Aku harus memberitahukan hal ini pada kak Kays dan kak Alvan.." gumam Elina.


...****************...