Theatrical Love

Theatrical Love
Episode 5



Bertahun-tahun kemudian, Leo datang dengan pengakuan bahwa ia mencintai Kelly. Melihat ekspresi wajah Leo yang begitu cemas dan bahasa tubuhnya yang gelisah, Cal tahu Leo mengira dirinya akan marah. Namun bagaimana mungkin Cal merasa seperti itu ketika segala hal yang ia harapkan terjadi? Bagi Cal, tidak ada satu orang pun yang akan ia percaya untuk menjaga Kelly selain Leo. Tidak ada yang membuat Cal lebih bahagia selain melihat saudari kembarnya berbagi hidup dengan sahabatnya.


Kini, di tengah kegelapan juga keheningan, Cal termenung dalam lamunannya. Ia bertanya-tanya, bagaimana hidup mampu mempermainkannya dengan begitu mudah? Demi Tuhan, ia sedang menggenggam kesempurnaan ketika hidup berbalik menghancurkannya. Cal memiliki keluarga yang bahagia, karir yang cemerlang, juga jaminan bahwa hidupnya akan berjalan sempurna. Namun dalam waktu beberapa detik, atas alasan kesalahan teknis yang mengakibatkan pesawat sialan itu jatuh dan hancur berkeping-keping dalam prosesnya, Cal kehilangan segalanya. Cal mendapati hidup merenggut seluruh kebahagiaannya.


Namun Cal tidak akan menyerah. Demi satu janji terakhir yang dibuatnya, ia akan terus berjuang. Satu janji yang membuatnya sanggup menghadapi detik demi detik hidupnya yang penuh siksaan. Satu janji yang berhasil menahannya tetap utuh di luar, meski tak terselamatkan di dalam.


Cal bangkit berdiri, lalu bersiap dan pergi menuju kantor meski saat ini ia tidak memiliki proyek apa pun. Faktanya, Cal menghabiskan seluruh waktunya selama beberapa bulan terakhir untuk membeli sebuah resort yang tidak dijual. Resort tempat Kelly melangsungkan pernikahannya; resort yang Cal janjikan akan menjadi latar dari filmnya.


Awalnya Cal berusaha meminta izin untuk menyewa resort itu selama beberapa bulan, namun begitu tahu Cal menyewanya untuk syuting sebuah film, pemiliknya menolak. Kemudian Cal mengubah strategi untuk membelinya. Cal sudah meminta orang kepercayaannya-Trey-untuk memberikan apa pun yang diminta pemilik resort itu asalkan resort itu berpindah tangan menjadi miliknya. Namun hingga hari ini, Cal masih belum menemukan titik terang.


Cal tidak mengerti apa yang salah dengan penawarannya. Cal tahu resort itu memiliki nilai jual yang tinggi dan Cal bersedia membayar dua kali lipat dari harga aslinya. Bahkan jika harus, Cal akan membayar tiga kali lipatnya. Apa pun asal resort itu menjadi miliknya. Namun pemiliknya selalu menolak, dengan jawaban yang sama; resort itu tidak dijual. Cal sungguh tidak mengerti, mengapa pemiliknya selalu menolak?


Ponselnya berdering menandakan telepon masuk. Begitu melihat nama Trey tercantum di layarnya, Cal segera menjawab.


"Bagaimana?" tanya Cal langsung.


"Seperti biasa, pemiliknya menolak," jawab Trey.


Cal melepaskan serangkaian helaan napas kesal, lalu berkata, "Kau sudah memeriksa latar belakangnya? Mungkin ia memiliki hutang atau semacamnya. Pasti ada satu hal yang akan membuatnya berubah pikiran. Aku tidak peduli cara apa yang kau gunakan, aku ingin resort itu menjadi milikku."


"Aku sudah memeriksanya dan ia sempurna. Terlahir dari keluarga kaya, menjalankan bisnis keluarga, dan akan menikah akhir tahun ini. Tidak ada kelemahan sedikit pun," sahut Trey.


Cal terdiam. Otaknya sibuk berpikir.


"Kau tidak akan menyerah, bukan?" tanya Trey akhirnya. "Tidak," jawab Cal tanpa ragu.


Trey menghela napas, lalu berkata, "Baiklah. Aku akan terus berusaha."


Cal memutuskan sambungan, lalu menatap lemari kaca setinggi langit- langit kantornya yang penuh berisi berbagai penghargaan juga piala. Dulu, setiap kali melihatnya, Cal akan tersenyum puas dan berbagai ide tentang film baru akan bermunculan di kepalanya. Namun kini, Cal hanya merasakan kehampaan. Tak ada apa pun.


Cal tidak tahu apakah ia akan sanggup membuat film seperti yang ia janjikan pada Kelly. Namun satu hal yang Cal tahu adalah ia tidak akan menyerah sampai ia berhasil memenuhi janjinya.


Bahkan jika itu berarti Cal harus menghabiskan seluruh hidupnya untuk berusaha.


Jakarta


"Aku akan segera kembali," bisik Dion, tunangan Avera selama satu tahun terakhir, sebelum meninggalkan meja makan.


Avera hanya mengangguk. Matanya kembali menyusuri meja makan dan berhenti pada Jill. Gadis itu berusaha menarik perhatian Ivander, yang sejauh ini selalu gagal karena adik dari Genan itu membenci Jill sama besarnya dengan Avera. Setelah beberapa saat mendapat pengabaian sempurna, akhirnya Jill berdiri dan pergi dari meja makan.


Di keluarga Daelan, tidak ada sosok ibu yang tersisa kecuali ibu Avera. Istri Jonathan meninggal karena kanker, sementara Joshua bercerai tak lama setelah Ivander lahir.


Sejak perceraian itu Riana-mantan istri Joshua-tidak pernah menunjukkan wajahnya, meskipun ia hidup tak jauh dari pusat kota. Bahkan anak-anaknya pun tidak pernah menemuinya, entah karena tidak ingin atau dilarang. Maka dari itu, ketika seluruh sepupu Avera tahu alasan depresi yang menyebabkan ibu Avera tinggal di panti rehabilitasi, Jill tidak memiliki siapa pun di pihaknya kecuali ayahnya.


"Avera, bagaimana perkembangan proyek pembangunan perumahan eksklusif itu? Apakah ada kemajuan dengan Bobby Syachril?" tanya


Joshua.


Bobby Syachril adalah salah satu taipan kaya asli pribumi yang memiliki banyak pengaruh dalam aspek perekonomian. Tidak hanya di Indonesia, namun juga di Asia. Ia terkenal sebagai pengusaha yang memiliki sentuhan magis, karena seluruh usaha yang dibangunnya selalu memberikan keuntungan yang tidak sedikit. Khususnya di bidang properti. Maka dari itu, membangun kerjasama dengannya amat sulit jika tidak dikatakan mustahil.


"Belum ada perkembangan. Aku masih berusaha mencapai kesepatakan dengannya, Paman," jawab Avera.


"Jika kau tidak bisa mengatasinya, seharusnya kau berikan proyek itu pada Jill. Ia pasti mampu menyelesaikannya dalam waktu tiga bulan," sela ayahnya dingin.


"Aku mampu melakukannya, Ayah," balas Avera.


Sejak ayahnya pensiun dari kedudukannya sebagai pimpinan perusahaan empat bulan yang lalu, Avera dan Jill terlibat dalam persaingan ketat demi meraih jabatan itu.


Jika sebelumnya mereka bertempur dengan tangan kosong, kini mereka benar-benar bertempur dengan segala senjata yang ada. Bagi Avera sendiri, ia sungguh berharap bisa segera menemukan bom nuklir hingga pertempuran itu bisa selesai dalam satu ledakan.


Avera tidak menyadari keheningan yang membalut ruang makan setelah balasannya, hingga Sienna datang dengan napas terengah dan berbisik di telinganya.


"Kamar mandi utara lantai dua. Kau tidak akan menyukainya, namun kau harus melihatnya," bisik Sienna dengan nada mendesak.


Avera mengerutkan kening pada sepupunya itu, namun melihat ekspresinya yang serius, Avera tidak memiliki pilihan lain selain berdiri dan meninggalkan ruang makan. Avera tidak tahu apa yang harus ia harapkan ketika sampai di depan pintu kamar mandi, namun satu detik setelah membuka pintu, Avera tahu ia seharusnya sudah bisa menebak.


Dion sedang sibuk meraba sesuatu di balik gaun yang dikenakan Jill. Bibir mereka saling berpagutan dengan liar. Napas keduanya berkejaran dan mereka tidak sadar bahwa kini mereka memiliki penonton yang berdiri kaku di bingkai pintu.


Avera tidak percaya Dion mampu melakukan hal serendah itu. Setelah satu tahun penuh persiapan untuk pesta pernikahan megah-keinginan Dion, bukan Avera-inilah yang Avera dapatkan; sebuah pengkhianatan. Seakan hal itu belum cukup buruk, Dion melakukannya dengan Jill. Bagi Avera, kata buruk itu berubah menjadi menjijikkan.