
Avera tidak percaya ia benar-benar menikahi seorang pria asing yang hidup sebatang kara. Namun kini, melihat Cal dalam jas berwarna putih yang serasi dengan gaun Avera sendiri, mau tak mau membuat Avera percaya. Dan kagum pada dirinya sendiri karena berhasil hingga sejauh ini.
Semua hal berjalan lancar. Avera berhasil mengambil alih kekuasaan perusahaan ayahnya dan mengalahkan Jill. Avera bahkan memiliki sebuah proyek besar yang berhasil dimenangkannya dalam usaha untuk menutupi kerugian perusahaan karena pembatalan pernikahannya dengan Dion sebelumnya. Satu hal tersisa yang harus dilakukannya hanyalah bertahan dalam pernikahan ini selama satu tahun.
"Kau terlihat cantik, Avera," ucap sebuah suara dari belakang Avera.
Avera membalikkan tubuh dan berhadapan langsung dengan Daniel.
"Apakah itu pujian?" tanya Avera.
Daniel mengangkat bahu. "Aku hanya mengatakan sebuah kejujuran," jawabnya datar.
Avera tertawa pelan. Temannya itu memang tidak berubah. Ditambah fakta bahwa kini ia berprofesi sebagai pengacara hanya membuat Daniel terlihat semakin kaku. Namun Avera tahu, Daniel adalah pria baik. Salah satu dari sedikit orang yang masih mendapat kepercayaan Avera.
"Aku harap kau akan baik-baik saja," ujar Daniel sejurus kemudian. "Tentu. Aku akan baik-baik saja. Sejauh ini semua berjalan lancar,
bukan? Aku sudah berhasil memenangkan posisi pemimpin perusahaan," sahut Avera ringan.
Daniel mengangguk. "Aku hanya ingin kau lebih berhati-hati. Jill tidak akan tinggal diam. Ia pasti akan mencari cara untuk mengubah keadaan ini.
Aku tidak ingin kau terluka."
Secara otomatis mata Avera beralih pada Jill yang sedang berbincang dengan seseorang dari jajaran dewan direksi. Avera yang paling tahu betapa berbahaya Jill. Kakaknya itu akan melakukan apa pun untuk menghancurkannya. Semua ini baru saja dimulai, karena perang sesungguhnya sedang menantinya begitu pesta pernikahan ini selesai.
"Dan kau harus lebih berhati-hati pada pria itu, Avera. Aku tidak memercayainya. Entah mengapa aku memiliki firasat bahwa ia akan menyakitimu," lanjut Daniel.
Avera tersentak mendengar kalimat Daniel. Avera sudah biasa mendengar nada serius dari Daniel, namun Avera tidak pernah mendengar Daniel secemas itu.
"Kau tahu dengan jelas isi perjanjian itu, Daniel. Ia tidak akan bisa menyakitiku. Percayalah padaku," sahut Avera.
Daniel tidak menjawab. Ia juga tidak mengangguk atau memberikan respons apa pun. Hanya menatap Avera dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu beranjak pergi.
Avera kembali mendesah. Denting gelas juga suara perbincangan di sekitarnya mulai membuatnya merasa pusing. Tanpa melihat sekelilingnya, Avera mulai melangkah menuju pantai. Membutuhkan usaha yang sulit, mengingat orang-orang begitu sibuk memberinya ucapan selamat juga memuji kesempurnaan pestanya, namun akhirnya Avera berhasil keluar dari hiruk-pikuk dan berdiri di tepi pantai.
Avera merasa kembali tenang melihat hamparan air berwarna biru di hadapannya. Sementara benaknya mencoba menghapuskan kecemasan akibat ucapan Daniel, Avera membiarkan percikan ombak membasahi bagian bawah gaunnya. Ini adalah salah satu caranya untuk menenangkan diri. Tiba-tiba saja semuanya terasa begitu berlebihan dan Avera hanya ingin sendirian selama beberapa saat.
"Oh, ayolah. Kita baru saja menikah selama lima jam dan kau sudah berencana untuk melarikan diri? Aku tidak menyangka kau selemah itu."
Sontak Avera membalikkan tubuh. Matanya menyipit demi mendengar ucapan Cal, namun Avera tidak mengatakan apa pun. Setelah beberapa saat saling menatap dalam diam, Avera menemukan sesuatu yang ganjil pada ekspresi Cal.
"Apa ada yang salah?" tanya Avera.
Cal menggeleng, lalu mengalihkan pandangannya pada laut.
Avera tetap memperhatikan Cal. Karena entah mengapa, Avera merasa Cal sedang menanggung rasa sakit. Ada sesuatu yang disembunyikan pria itu.
"Apa yang terjadi? Kau. . . aku tidak tahu, namun aku merasa ada sesuatu yang mengganggumu," lanjut Avera.
Keheningan merebak setelah itu. Hanya terdengar suara-suara dari pesta di kejauhan juga deburan ombak. Ketika Avera bersiap untuk pergi, Cal mengucapkan kalimat yang membuat Avera mematung sepenuhnya.
"Adikku menikah di resort ini akhir tahun lalu. Kau tahu, tepat sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku melihat banyak hal hari ini juga mengingat banyak hal. Aku hanya merasa sedikit lelah."
Avera merasa napasnya tercekat. Ada begitu banyak luka dalam pengakuan itu dan Avera tidak tahu harus mengatakan apa untuk membalasnya. Jika saja Avera tahu, ia tidak akan mengusulkan untuk melangsungkan pernikahan di resort ini. Avera tidak bisa membayangkan sedalam apa luka yang Cal rasakan saat ini; berdiri sendirian di pesta pernikahannya tanpa satu pun keluarga. Dan Avera membuatnya menjadi lebih buruk dengan melakukan pernikahan itu di tempat ini. Kini, Avera mulai mengerti obsesi Cal yang bersikeras menginginkan resort-nya.
Belum sempat Avera keluar dari zona berpikirnya, cipratan air mengenainya dengan telak dan membasahi bagian depan gaunnya dengan sempurna. Avera mendongak. Terkejut ketika menemukan seulas senyum jahil terukir di wajah Cal.
"Aku tidak percaya kau melakukan ini!" pekik Avera kesal, mengundang tawa geli dari Cal.
Tanpa berpikir panjang, Avera mendorong Cal sekuat tenaganya. Avera tidak menyangka Cal akan benar-benar jatuh, namun sepertinya tenaga Avera lebih kuat dari yang diperkirakannya karena kini Cal sama basahnya dengan dirinya.
Avera tenggelam dalam gelak tawa. Ekspresi terkejut Cal sungguh menghiburnya. Lalu dalam satu gerakan cepat Cal bangkit berdiri dan berusaha menarik Avera. Beruntung refleks Avera cepat, hingga gadis itu berhasil menghindar meski tetap tidak bisa menghentikan tawanya. Avera berusaha melarikan diri, namun dengan gaunnya yang basah, Avera hanya mampu meraih dua langkah sebelum Cal berhasil menangkapnya dari belakang dan membawanya kembali ke dalam air.
"Seperti permintaanmu," balas Cal seraya melepaskan tangannya dari tubuh Avera dan membiarkan gadis itu jatuh.
Avera segera berdiri dan mencipratkan air ke arah Cal, lalu berusaha mendorongnya lagi. Pergulatan itu terus berlangsung dan baik Avera maupun Cal tidak sadar bahwa suara tawa mereka menarik perhatian separuh tamu undangan. Para fotografer bahkan sudah sibuk mengabadikan momen mereka itu dari berbagai angle yang berbeda. Namun Avera dan Cal masih berada dalam gelembung suka cita mereka, karena mereka sama sekali tidak menyadarinya.
Hari itu, kala matahari terbenam dengan diiringi derai tawa juga deburan ombak yang menenangkan, sebuah kenangan telah terbekukan dengan sempurna.
Kenangan tentang Avera Daelan yang tertawa lepas dalam pelukan Calvert Ellegra di hari pernikahan mereka.
Suara gaduh yang berasal dari dapur berhasil menyentak Cal keluar dari keseriusannya bermain game. Cal mematikan iPad-nya, bersiap menyaksikan pertunjukan rutin yang selalu dilakukan Avera sepulangnya dari kantor.
Hari ini genap tiga minggu mereka menikah-bukan berarti Cal menghitungnya, Cal hanya mengingatnya-dan setiap hari sejak mereka menikah Avera selalu menghabiskan waktunya di kantor. Setelah malam berubah larut, gadis itu akan pulang dengan wajah lelah juga tubuh yang nyaris ambruk. Karena itu tidak mengherankan setiap kali bergerak Avera akan menimbulkan keributan.
Dan Cal sangat suka melihatnya. Dalam diam. Bersama senyum yang tak mampu diukir wajahnya, namun perlahan mewarnai binar matanya.
Kembali terdengar suara benda yang jatuh, disusul pekik kesal Avera. Tak lama kemudian ponsel Avera berdering dan gadis itu mengatur napas sebelum menjawabnya.
Cal berusaha tidak mendengar percakapan Avera, namun pada akhirnya Cal mengerti inti percakapan itu. Tidak sulit mengingat Avera sudah berurusan dengan hal yang sama; masalah pembangunan sebuah perumahan elit dengan taman rekreasi eksklusif di dalamnya. Proyek itu adalah proyek terbesar Avera yang pertama dengan jabatannya sebagai CEO, sehingga bebannya menjadi dua kali lipat lebih berat.
Avera menaiki tangga, yang Cal asumsikan menuju kamarnya, namun tak lama kemudian gadis itu kembali turun. Kini dengan tangan yang dipenuhi berbagai berkas. Cal mengerutkan kening, lalu membuka suara tanpa berpikir lagi.
"Kau akan pergi?" tanya Cal.
"Ya. Aku harus kembali ke kantor," jawab Avera tanpa menghentikan kesibukannya memeriksa isi tas.
"Ini sudah larut malam," sahut Cal.
"Beritahu aku sesuatu yang tidak aku tahu," balas Avera. Suaranya keluar lebih tajam dari yang diinginkannya, namun Avera tidak peduli. Ia sudah memiliki cukup banyak masalah.
"Mungkin kau tidak tahu bahwa manusia memiliki batas. Kau tidak bisa bekerja dua puluh empat jam sehari. Ini sudah larut. Kau bisa kembali ke kantor besok pagi."
"Dan mungkin kau tidak tahu bahwa tidak semua orang bisa bersantai tanpa memikirkan bagaimana harus hidup. Aku tidak bisa bersikap acuh sepertimu. Tidak setelah segala hal yang aku lakukan untuk mencapai posisi ini."
Keheningan merebak setelahnya. Avera tetap berdiri dengan tatapan tajam, sementara Cal masih duduk di sofa dengan sebelah alis terangkat. Bertentangan dengan Avera yang memasang ekspresi kaku, Cal justru menunjukkan wajah heran. Cal menolak menjadi yang pertama memecah keheningan, namun ia sama sekali tidak menyangka ucapan Avera selanjutnya akan membuatnya kehilangan ketenangan.
Avera berkata, "Kau tidak akan pernah mengerti tentang tanggung jawab. Kau tidak tahu beban yang berada di bahuku. Karena kau hanya sibuk membuat dunia impian di layar kaca. Kau tidak tahu seperti apa hidup sesungguhnya."
Tidak tahu?
Seketika ingatan Cal terlempar pada keluarganya. Pada segala sesuatu yang ia kira akan ia miliki selamanya. Segala sesuatu yang paling berharga baginya, namun terpaksa harus ia lepaskan atas satu alasan tak terbantahkan. Dan itulah hidup sesungguhnya.
Dalam satu gerakan cepat Cal berdiri dan menghampiri Avera. Berbagai emosi melintasi wajahnya, namun Cal tidak membiarkan Avera membacanya, karena Cal membalas ucapan Avera dengan telak.
"Setidaknya aku mampu hidup dengan menjual impian itu. Aku tidak perlu mengorbankan segalanya. Karena pada intinya, kita berdua sama saja. Sama-sama seorang pelayan yang selalu mengikuti keinginan klien. Perbedaan antara kau dan aku hanya setipis benang; aku merasa bahagia, tidak tersiksa selama prosesnya. Sedangkan kau harus hidup dalam neraka yang kau ciptakan sendiri."
Avera terpaku. Tak lagi mampu memikirkan sesuatu untuk membalas Cal. Karena jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Avera menyadari kebenaran ucapan Cal itu.
Hanya saja Avera tidak mengira perasaan yang mengikuti kesadaran itu akan begitu menyakitkan.
Enam hari berlalu dengan ketegangan maksimal antara Cal dan Avera. Jika sebelumnya interaksi mereka terbatas pada tatapan mata dan anggukan kepala yang singkat, kini mereka menguranginya hingga ke tahap tidak memedulikan satu sama lain.
Pernah sekali waktu, Avera menjatuhkan berkas-berkas setinggi gunung yang dibawanya ketika menuruni tangga, namun Cal hanya terus melangkah tanpa melirik Avera sedikit pun. Dan kemarahan Avera yang berada di puncak semakin memaksa Avera untuk menambah ketinggiannya hingga menjadi super marah. Avera tahu tindakannya kekanakan, namun Avera tidak bisa melupakan perkataan Cal saat itu.
Avera enggan untuk mengakuinya, karena Avera tahu Cal benar. Itulah tepatnya yang membuat Avera menjadi seorang pengecut, dan hanya semakin menambah rasa pahit dalam hati Avera.
Sejak perdebatan itu, Avera merasa hidupnya semakin berat dan tidak menyenangkan.
Sungguh lucu, bukan? Seseorang yang hampir tidak dikenalnya berhasil memengaruhi hidupnya hingga sedemikian rupa. Dirinya, Avera Daelan, yang selalu memegang kendali penuh atas hidupnya kini mulai mempertanyakan banyak hal hanya karena kehadiran seorang Calvert Ellegra.
Hal serupa juga dirasakan oleh Cal. Ia berusaha mempertahankan aksi diamnya, namun kebiasaannya untuk memperhatikan Avera tidak bersedia absen. Cal mendapati dirinya semakin khawatir, karena Avera semakin sibuk dan terlihat semakin tertekan belakangan ini.