Theatrical Love

Theatrical Love
Syarat Yang Gila



Cal pun tidak tahu mengapa gadis itu terlihat mempesona di matanya. Namun satu hal yang Cal tahu, gadis itu baru saja mengubah sesuatu dalam dirinya.


Karena kini, untuk pertama kalinya sejak hidupnya berubah hampa, Cal menemukan sesuatu yang dapat disebutnya indah. Gadis itu terlihat indah baginya.


Ombak kembali menghempas tubuh gadis itu. Menciptakan hujan air di sekelilingnya. Perlahan, tangan gadis itu terangkat dan berhenti tepat di dada kirinya. Gadis itu memejamkan mata. Membiarkan waktu kembali berjalan, sementara ia terhanyut dalam rengkuhan mentari juga semilir angin. Beberapa saat kemudian, gadis itu membuka mata dan melangkah pergi.


Meninggalkan Cal yang masih terpaku dan hanya mampu memandangi kepergiannya dengan satu pertanyaan besar.


Mengapa gadis itu terlihat penuh luka?


Belum juga pertanyaannya terjawab, Cal mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Trey datang mengingatkannya tentang pertemuan dengan pemilik resort ini. Cal tidak tahu apa yang telah membuat sang pemilik resort berubah pikiran dan Cal tidak peduli. Baginya yang terpenting hanyalah membeli resort ini, lalu membuat film sesuai janjinya pada Kelly. Cal bahkan sudah mempersiapkan cek dengan jumlah uang yang sangat besar. Karena Cal sungguh akan melakukan apa pun, bagaimanapun, agar resort ini menjadi miliknya.


Ketika Cal sampai di restoran yang terletak di sisi barat resort, seorang pelayan mengarahkan Cal untuk menaiki tangga hingga lantai tiga. Pelayan itu membuka pintu ganda yang menyimpan ruangan berdinding kaca di dalamnya. Ruangan itu bermandikan cahaya matahari dan ada sebuah meja di sudut kirinya.


Cal dipersilakan masuk, sementara langkah Trey ditahan. Meski bingung, Cal menuruti instruksi pelayan itu dan meninggalkan Trey berdiri di depan pintu. Begitu pintu tertutup, Cal melanjutkan langkah menuju meja di sudut kiri ruangan.


Dan Cal terkejut ketika melihat orang yang menunggunya adalah gadis


itu.


Ya, gadis yang berdiri di bibir pantai beberapa saat yang lalu. Kini gadis itu telah berganti pakaian dengan gaun formal berwarna biru tua. Rambut hitamnya digelung sempurna hingga tak memperlihatkan sedikit pun semburat merahnya yang menganggumkan. Wajahnya tak menampilkan ekspresi apa pun, sementara mata kelamnya menatap Cal tanpa ragu. Segala hal yang Cal anggap indah dalam diri gadis itu menguap; gadis itu telah ber-metamorfosa menjadi gadis tangguh.


Gadis itu berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang mungil.


"Avera Daelan," ucapnya singkat tanpa senyum sedikit pun.


"Aku akan menjual resort ini dengan satu syarat," ucap gadis itu tegas.


Cal mengangguk, mengisyaratkan gadis itu untuk melanjutkan. Cal sudah mempersiapkan dirinya untuk segala kemungkinan. Cal akan melakukan apa pun. Cal sudah siap. Namun ketika gadis itu kembali membuka suara, Cal sama sekali tidak siap untuk mendengar syarat gadis itu.


Syarat yang hanya berupa satu kalimat dan terdiri dari dua kata, namun terdengar begitu mustahil. Syarat yang membuat Cal mematung seutuhnya.


"Menikahlah denganku."


Avera mengepalkan tangan yang berada di pangkuannya kuat-kuat. Jantungnya berdentam begitu keras hingga terasa menulikan pendengarannya. Namun Avera tidak khawatir tentang itu, karena pria di hadapannya tak terlihat akan bersuara dalam waktu dekat. Avera tahu syaratnya terdengar begitu gila, apalagi diucapkan kepada seseorang yang benar-benar asing, namun Avera tidak memiliki pilihan lain.


Avera berusaha menjaga ekspresinya untuk tetap datar. Meskipun hatinya gelisah luar biasa, Avera tidak akan mundur. Avera sudah melangkah sejauh ini dan Avera akan menyelesaikan langkahnya hingga akhir jalan.


.


.


.


.


Selamat membaca, jangan lupa tinggal kan jejak,like n rate nya maksasih:-)