Theatrical Love

Theatrical Love
Kenyataan



Jakarta


Avera melarikan jari telunjuknya di bibir gelas dengan ekspresi bosan. Semua anggota keluarga Daelan yang duduk mengelilingi meja makan- dalam acara makan malam yang diadakan rutin setiap bulan di rumah Avera-saling mengobrol dengan antusias. Ayahnya berada di ujung meja dan terlibat pembicaraan serius dengan dua saudaranya; Joshua dan Jonathan. Sementara sepupunya yang lain sibuk bersenda-gurau dan sesekali tertawa. Genan sedang menggoda Larevta-kekasihnya- sementara Patricia mendukungnya dan mendatangkan tawa dari Ivander juga Sienna.


"Aku akan segera kembali," bisik Dion, tunangan Avera selama satu tahun terakhir, sebelum meninggalkan meja makan.


Avera hanya mengangguk. Matanya kembali menyusuri meja makan dan berhenti pada Jill. Gadis itu berusaha menarik perhatian Ivander, yang sejauh ini selalu gagal karena adik dari Genan itu membenci Jill sama besarnya dengan Avera. Setelah beberapa saat mendapat pengabaian sempurna, akhirnya Jill berdiri dan pergi dari meja makan.


Di keluarga Daelan, tidak ada sosok ibu yang tersisa kecuali ibu Avera. Istri Jonathan meninggal karena kanker, sementara Joshua bercerai tak lama setelah Ivander lahir.


Sejak perceraian itu Riana-mantan istri Joshua-tidak pernah menunjukkan wajahnya, meskipun ia hidup tak jauh dari pusat kota. Bahkan anak-anaknya pun tidak pernah menemuinya, entah karena tidak ingin atau dilarang. Maka dari itu, ketika seluruh sepupu Avera tahu alasan depresi yang menyebabkan ibu Avera tinggal di panti rehabilitasi, Jill tidak memiliki siapa pun di pihaknya kecuali ayahnya.


"Avera, bagaimana perkembangan proyek pembangunan perumahan eksklusif itu? Apakah ada kemajuan dengan Bobby Syachril?" tanya


Joshua.


Bobby Syachril adalah salah satu taipan kaya asli pribumi yang memiliki banyak pengaruh dalam aspek perekonomian. Tidak hanya di Indonesia, namun juga di Asia. Ia terkenal sebagai pengusaha yang memiliki sentuhan magis, karena seluruh usaha yang dibangunnya selalu memberikan keuntungan yang tidak sedikit. Khususnya di bidang properti. Maka dari itu, membangun kerjasama dengannya amat sulit jika tidak dikatakan mustahil.


"Belum ada perkembangan. Aku masih berusaha mencapai kesepatakan dengannya, Paman," jawab Avera.


"Aku mampu melakukannya, Ayah," balas Avera.


Sejak ayahnya pensiun dari kedudukannya sebagai pimpinan perusahaan empat bulan yang lalu, Avera dan Jill terlibat dalam persaingan ketat demi meraih jabatan itu.


Jika sebelumnya mereka bertempur dengan tangan kosong, kini mereka benar-benar bertempur dengan segala senjata yang ada. Bagi Avera sendiri, ia sungguh berharap bisa segera menemukan bom nuklir hingga pertempuran itu bisa selesai dalam satu ledakan.


Avera tidak menyadari keheningan yang membalut ruang makan setelah balasannya, hingga Sienna datang dengan napas terengah dan berbisik di telinganya.


"Kamar mandi utara lantai dua. Kau tidak akan menyukainya, namun kau harus melihatnya," bisik Sienna dengan nada mendesak.


Avera mengerutkan kening pada sepupunya itu, namun melihat ekspresinya yang serius, Avera tidak memiliki pilihan lain selain berdiri dan meninggalkan ruang makan. Avera tidak tahu apa yang harus ia harapkan ketika sampai di depan pintu kamar mandi, namun satu detik setelah membuka pintu, Avera tahu ia seharusnya sudah bisa menebak.


Dion sedang sibuk meraba sesuatu di balik gaun yang dikenakan Jill. Bibir mereka saling berpagutan dengan liar. Napas keduanya berkejaran dan mereka tidak sadar bahwa kini mereka memiliki penonton yang berdiri kaku di bingkai pintu.


Avera tidak percaya Dion mampu melakukan hal serendah itu. Setelah satu tahun penuh persiapan untuk pesta pernikahan megah-keinginan Dion, bukan Avera-inilah yang Avera dapatkan; sebuah pengkhianatan. Seakan hal itu belum cukup buruk, Dion melakukannya dengan Jill. Bagi Avera, kata buruk itu berubah menjadi menjijikkan.